Minggu, 30 April 2017

T10 D8 Fitri Purbasari Depok

Kuliah Bunda Sayang IIP Level 4
Gaya Belajar Anak

Fatimah's Day Out to Bogor

Hari ini Fatimah (20m) pergi liburan nyusul abi dan Kakak ke Bogor. Kakak Rafifa (5y4m) sudah berangkat duluan pagi tadi karena harus survey lokasi orojek pekerjaan abi.
Sementara Fatimah dan saya ikut acara Milad YTI dulu sampai dhuhur. Lalu jam 15.00 kami sudah berada di stasiun Depok Baru untuk menuju Stasiun Bogor. Ini kali pertama kami jalan hanya berdua. Hehe.. dan Fatimah sedang asik-asiknya kesana kemari, begitu pun di kereta. Lalu di pelataran stasiun Bogor saat kami menunggu dijemput abi dan Kakak, Fatimah sangat heboh. Ya mungkin karena ini pertama kalinya juga sejak dia "ngerti". Wow, dia seakan melihat semuanya menakjuban. Ya semuanya menarik bagi dia. 😍 Kulayani setiap ajakannya. Ya, dia sedang Belajar! Belajar mengalami hiruk pikuk diluar rumah.


Langit, burung, kupu-kupu, orang-orang, mobil, motor, kereta, jalan raya, jembatan penyeberangan yang tinggi, angin, panas, bunyi klakson, restaurant, hotel, lift, kasur, telepon, semuanya menyenangkan baginya. Semuanya membuat Fatimah berbinar-binar. Belajar bisa dimana saja dan kapan saja. Anak giman orang tuanya. Orang tua harus jeli, kreatif, dan sabar memanfaatkan situasi, agar anak bisa mendapat ilmu dan pengalaman uang bermanfaat. Semoga emak ini semakin sabar dan bugar mendampingi anak-anak cerdas ini. Aamiin.


Sabtu, 29 April 2017

T10 Day7 Fitri Purbasari Depok

Kuliah Bunda Sayang IIP Level 4
Gaya Belajar Anak

Learning By Doing

Hari ini hari Sabtu, Kakak Rafifa (5y4m) libur sekolah. Ada Mora, teman sekolahnya, main ke rumah. MasyaaAllah kegiatannya hari ini sungguh beragam hehee.. banyak yang bisa saya amati.

Bermain bersama kali ini sungguh pelajaran yang memuat banyak nilai keterampilan: menghormati tamu, berbagi, menyampaikan perasaan, menyampaikan pendapat/keinginan, bekerja sama, menyelaraskan selera, dan meminta maaf. Membersamai mereka adalah saat yang tepat menyisipkan nilai-nilai baik untuk menyempurnakan keterampilan tersebut tapi tanpa intervensi atas kreativitasnya, hanya sebagai wasit hehee.


Kreatif dan imajinatif, sifat itu yang diasah dalam kegiatan bermain. Seru sekali menyimak percakapan mereka, terutama dalam bermain peran. Hehe. Salah satu yang lucu yang adalah ketika ceritanya mereka sedang bermain mencari harta karun dan bingung mencarinya dimana, Mora bilang "Gini aja, Raf, kita tanya aja sama bapa-bapa. Pa, jalan ke harta karung (πŸ˜‚) kemana ya?" πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Selain itu, Kakak bercerita dengan semangat tentang iblis dan Mora menyimaknya dengan antusias dan takut. 😁 Lihat videonya disini.

Lalu mereka juga main lukis muka. Kakak agak kesel karena Mora mau main ini terus sementara Kakak udah bosen. Hehehe.. tapi dengan bujukan halus, Kakak pun mau menemani Mora bermain spidol wajah itu untuk kedua kalinya. Tapi kali ini Kakak mengutek kuku saja, dan Mora merias muka kucing di wajahnya. Merasa puas dengan karya nail art nya, Kakak menawarkan jasa nail art ke Mora. Dan Mora bersedia. Hihiii.

Mereka juga meronce manik-manik membuat gelang. Karena gak sabar, Mora meminta 1 gelang yang sudah Kakak buat untuk dijual nanti ke teman-teman sekolahnya. Tapi Kakak baru bikin 2, buat Ghaziya dan Anisah. Buat Mora belum sempat dibikin. Mora minta salah satu dari gelang itu. "2 ribu ya Mor. Itu kan aku jual" "Aah besok aja yaa uangnya." "Yaah." Wasit bertindak, "Udah kasih aja ke Mora, kak, kan mora udan main kesini." "Emmh, ok deh, gratis aja itu buat kamu. Karena kamu udah main kesini." Top!! Hahaha. 😊

Oia, mereka juga bikin tenda dan pura-pura​ lagi kemping. Asik punya rumah tenda, mereka berjoget. Hahaha.. lihat nih. Mereka gelar karpet diluar tenda untuk melihat bintang. Sambil ngemil, mereka bercerita kesana-kemari. πŸ˜‚

Di akhir episode, hehe, ada sedikit drama. Si Kakak karena sudah ngantuk mungkin, moodnya terganggu. Dia tak bisa menahan diri dan meluapkan kekesalannya saat Mora tak mengikuti apa yang dia mau. Saat itu, Kakak mau Mora jawab quiz flashcard Al Ikhlas yang kemarin-kemarin dia pakai. Tapi Mora karena belum tau, dia pengen lihat semua flashcardnya. Hehe. Dan si Kakak tak setuu itu. Saya dan abinya memberi Kakak pengertian bahwa Mora belum tahu, tapi Kakak gak nerima. Ini berimbas pada momen-momen selanjutnya, sampai Mora bilang, "Kamu kok gitu mulu sih!". Saya dan abinya memberi Kakak penjelasan tentang bagaimana sebaiknya ia bersikap. Ia menangis, Mora pun semakin terlihat tak nyaman. Saya membawa Kakak ke ruangan lain untuk bicara. Namun yaa karena mungkin sudah sangat ngantuk, nasihat memang tak bisa diterima. Dan ayah Mora pun datang menjemput. Pulang deh Moranya. Saya berlanjut menasehati Kakak dengan berbagai ilustrasi. Dia terlihat sudah liyep liyep mau tidur. Saya janjikan 5 bintang, untuk melengkapi perburuan Bintang sepedanya, jika Kakak meminta maaf ke Mora dengan baik via voice note. "Kan sahabat!" Dia pun mengangguk setuju, dan tertidur..... Setelah bangun dan fresh, saya mengingatkan janji tersebut, dan dia melakukannya. 🌟🌟🌟🌟🌟

Bermain melibatkan seluruh panca indera, maka jelas ini masuk ranah kinestetik. Learning by doing is really amazing! 😍

Pada petang hari Kakak bermain game shopping di hp abi. Saat itu saya sedang meralihkan kasur di dekatnya. Saya dengar dari game itu, "We don't need this!". Iseng saya tanya, "apa artinya, Ka?". "Kita gak membutuhkannya.", Katanya. Wow, MasyaAllah, amazing!! Saya belum mengajarkan sejauh itu loh! Hehe. It means this game gives her something! "Naah, gitu dong, Ka, meski main game, Kakak dapat ilmu!" "Iya, mi, ini kan game belajar." Alhamdulillah. Dan ini memang saya dan suami kondisikan. Kami tidak mengizinkan dia main game yang tidak ada unsur edukasinya. Game, audio-visual. Nah, dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa Inggris, saya pun melihat vocabulary game sungguh sangat efektif. Saat ini saya memakainya menjadi main tool dalam les privat bahasa Inggris yang saya kelola di rumah.


Di malam hari dia mengambil buku Komik Palestina. Sabtu lalu, saat kami ke Gramedia, saya sempat tunjukkan buku-buku Kecil Kecil Punya Karya agar ia termotivasi menjadi penulis. Nah, dia ingat momen itu dan bilang, "Mi, kakak mau bikin komik ya, umi yang ngetik!" "Ok!" Lalu dia pun mengamati buku komik yang di tangannya. Barusan sebelum tidur malam, dia meminta saya membacakan komik itu. Sang adik, selalu mengikuti. 😁 Buku, gaya visual, menjadi makanan mereka. Alhamdulillah.




Jumat, 28 April 2017

T10 D6 Fitri Purbasari Depok

Kuliah Bunda Sayang IIP Level 4
Gaya Belajar Anak

Tampil... 

Anak-anak sangat suka dengan aktivitas ini, tampil di panggung. Jadi, InsyaAllah akan sangat bagus dijadikan sarana belajar bagi anak bergaya kinestetik. Selain itu juga, gaya manggung ini diharapkan bisa melatih public speking skill nya. Hehe..

Petang ini Kakak sedang semangat nyanyi lagu-lagu Islami, mungkin karena di sekolah sedang latihan untuk akhirussanah. Hehe.. manfaatin saja latihan tampilnya untuk murajaah hafalan juz amma. 😁


Kakak Rafifa (5y4m) memulai penampilannya dengan surat Al Fatihah, lanjut Al Fiil, lalu Al Falaq. Video terakhir bisa dilihat di wall facebook saya, klik saja disini.

Apapun gaya belajar anak kita, asalkan baik, lanjutkanlah. Hehe... πŸ˜‰

Kamis, 27 April 2017

T10 D5 Gaya Belajar Anak Fitri Purbasari Depok

Kuliah Bunda Sayang IIP Level 4

Ya, Luaskan Makna Belajar!

Setelah membaca Cemilan Rabu dari gurunda Bu Septi kemarin, seakan tersadar lagi bahwa kita jangan pernah membatasi arti belajar hanya dengan duduk rapi depan meja mengahadap buku. Ya kita perluas makna belajar kita dan anak-anak, agar kecerdasan yang diperoleh pun semakin banyak.

Hari ini, saya mulai melakukannya dengan sadar, menanggapi setiap ucapan dan sikap anak-anak dengan gaya fasilitator. Saya harap mereka belajar sesuatu dari gerak gerik yang mereka lakukan.

Kedua anak saya tidak puas kalau muka saya tidak menatap mereka saat mereka bertanya atau memanggil. "Umi..." Maka saya harus setor muka dan badan ke arahnya. Hihihiii.. kalau tidak begitu, "Umii..Umii!" Si Bungsu Fatimah (20m) akan teriak-teriak dengan ekspresi kesal dan gigi gemeretak. Hahaha.. Si Kakak (5y4m) apalagi. Kalimatnya sudah kompleks, "Umi, lihat sini dong! Kaka mau tanya sebentar!" Ya..ya..yaa.. visual.

Di penghujung hari, Kakak minta diambilkan pompa untuk balonnya. Saya menyisipkan nilai bekerja sama dalam projek ini. Alhamdulillah, pelajaran tersampaikan dengan seru! Kakak mencoba memompa sendiri, ternyata dia rasa sulit. Dia pun meminta kami membantunya memegang balon sementara dia yang mompa. Sebelum kami bergerak, sang adik mengambil alih. Lihat deh videonya disini. πŸ˜‚
Lalu saya membantunya sambil menyampaikan beberala pertanyaan tentang kenapa kita perlu bekerja sama. Alhamdulillah dari kegiatan mompa balon ini, dia mendapatkan pengalaman bahwa dengan bekerja sama pekerjaan lebih cepat selesai dan lebih mudah dikerjakan. Maka, mari bekerja sama! πŸ˜‰ Kinestetik.



Rabu, 26 April 2017

T10 D4 Gaya Belajar Anak Fitri Purbasari Depok

Kuliah Bunda Sayang IIP Level 4

Visual-Kinestetik Mungkin Lebih Dominan

Malam ini alhamdulillah Dedek Fatimah (20m) mulai baikan. Sejak sore dia mulai mau melakukan aktivitas bermain. Diawali mainin pensil gambar, meski masih sambil manyun. Hehee.. barusan kira-kira sejak setelah isya, dia mulai ceria dan centil lagi. Ini pertama kalinya sejak sakit sepekan lebih. Fatimah, seperti kebanyakan anak batita, belum memiliki gaya belajar yang spesifik. Sedang masa-masanya eksplorasi segala hal. Tentu, paling asik kalau sudah menonton video lagu nursery rhymes. Cepat hafal gerakannya!


Petang ini, Kakak Rafifa (5y4m) belajar mengenal Al Ikhlas dengan flashcard potongan ayatnya. Flashcard nya saya tulis sendiri dengan pensil warna yang berbeda untuk tiap ayat. Diajakin game Baca Acak Ayat, Kakak cukup antusias.
Lalu, game berlanjut ke sambung ayat sambil kakak mewarnai gambar batik kombinasi segitiga yang dibuatnya. Ini,,,strategi baru yang tring di tengah jalan! πŸ˜‚ Keseruan bertambah saat Kakak salah menyambung ayat, bedak dioleskan ke wajahnya. Hihihiii.
Alhamdulillah. So, so far gaya Kakak yang Visual-Kinestetik mendominasi. Nampaknya gaya itu membuatnya enjoy the learning.

Cemilan Rabu Gaya Belajar Anak

πŸ“‘Fitrah BelajarπŸ“œ
-------------------------------

"Anakku malas belajar"
Pernah dapat keluhan ini dari teman-teman sejawat?, atau dari tetangga?Saudara? atau kita sendirilah yang mengeluhkan hal ini.

Benarkah anak-anak kita malas belajar?. Atau jangan-jangan kitalah yang terlalu mengkotak-kotakkan pengertian belajar, sehingga menjadi "duduk diam di meja belajar sambil baca buku atau menulis/menyalin".

Fitrahnya setiap anak adalah pembelajar sejati, bagaimana tidak?.
Setiap bayi yang lahir adalah pembelajar tangguh, bayi tidak memutuskan merangkak seumur hidupnya, namun ia menuntaskan belajar berjalan dengan gigih, sampai bisa berlari dan melompat. Setiap bayi yang dilahirkan adalah penjelajah yang penuh rasa ingin tahu (discoverer, curiousity)setiap sudut rumah jadi targetnya. Setiap bayi yang lahir juga penuh dengan daya imajinasi kreatif. Lihat saja, di tangan kanak-kanak kita, sangkutan baju jadi pesawat, kursi jadi kuda pacu, awan dicat berwarna ungu, matahari berubah pink (merah muda) dan lain sebagainya. Tugas kita hanya memberi kesempatan, ruang yang aman dan semangat.

 Lalu mengapa bisa berubah menjadi enggan atau malas belajar?. Jangan-jangan kitalah yang telah mengubur dan menyimpangkan fitrah belajarnya.

Apa saja yang bisa mencerabut fitrah belajar anak-anak kita?

1. pendidik (orangtua/guru) yang terlalu menyetir proses belajar anak, sehingga daya kreatif anak lumpuh.

2. pendidik yang terlalu banyak menyarikan materi, anak-anak tidak berkesempatan memaknai dan menemukan asosiasi antara ide-ide, sehingga daya pikirnya tidak terlatih

3. Buku teks yang digunakan tak mengandung ide-ide menggugah

4. Dipakainya kompetisi dan rasa takut sebagai pelecut belajar, sehingga anak-anak bukan belajar karena "rasa ingin tahunya".

*Kita tidak bisa memastikan buku mana yang akan menggetarkan jiwa seorang anak; lukisan atau komposisi mana yang akan memantik apresiasi seninya; kunjungan ke tempat historis mana yang akan membangkitkan kesadaran sejarahnya. Setiap anak akan memberi respon secara berbeda-beda sesuai keunikan minat dan kepribadian mereka. Yang bisa kita lakukan adalah membuka akses selebar-lebarnya untuk mereka pada seberagam mungkin ide yang berharga (Charlotte Mason)*

Banyak orang mengira, kemampuan manusia yang utama dalam belajar adalah adaptasi, padahal semua binatang dan tumbuhanpun, Allah ciptakan mampu beradaptasi. Demikian juga, jika kita menganggap kemampuan utama manusia itu adalah kompetisi, karena sesungguhnya hewan dan jin pun berkompetisi.

*Ketahuilah bahwa kemampuan manusia yang utama adalah mengelola, mengklasifikasi, menginovasi dan mewariskan pengetahuan sebagai produk dari potensi fitrah belajarnya.* Seribu kera bisa dilatih memancing ikan, namun tidak satupun dari mereka mampu menciptakan kail dan mewariskan pada anak-anaknya.

Sesungguhnya setiap anak yang lahir telah memiliki potensi fitrah belajar. Para orang tua/pendidik tidak perlu panik menggegas kemampuan belajar anak-anaknya. Anak-anak hanya memerlukan sebuah ruang terbuka di alam dan hati orangtuanya yang terbuka bagi imajinasi kreatifnya, bagi curiousity-nya, bagi ketuntasan eksplorasi belajarnya, bagi penjelajahan dan petualangan belajarnya, bagi kesempatan untuk semakin menjadi dirinya.

sumber bacaan:
Fitrah based Education, 2016, Harry Santosa, Yayasan Cahaya Mutiara Timur.
πŸ’ΎπŸ’ΎπŸ’ΎπŸ’ΎπŸ’ΎπŸ’ΎπŸ’ΎπŸ’ΎπŸ’ΎπŸ’Ύ

Selasa, 25 April 2017

Game #4 Day #3 Gaya Belajar Anak Fitri Purbasari Depok

Tantangan 10 Hari Gaya Belajar Anak
Kuliah Bunda Sayang IIP Level 4

Gaya Visual Sederhana

Masih mengamati sang Kakak (5y4m) saja karena adik masih sakit. Semoga adik segera sehat dan aktif kembali yaaa.. 😘


Kegiatan harian kakak tergambar dalam foto diatas. Mengaji adalah kegiatan wajib tiap pagi dan petang. Yaa, kadang sangat semangat, kadang enggak. Hehe.. Makanya game acak halaman selalu menjadi andalan. Dia sangat seneng kalo diajak quiz acak tersebut, untuk menjeda kebosanan atau sebelum melangkah ke materi baru yang notabene lebih sulit. Fyi, materi barunya kali ini adalah ketika tanwin ketemu hamzah washal, artinya ada nun yang ghaib, hehee..lumayan kan?! 😁 Quiznya adalah, sayaminta Kakak membuka halaman tertentu dan membaca baris tertentu. Misal, "Buka halaman 97! Baca baris ke 3." Begitu. Ini sekaligus mengajarkan angka padanya. Pujian dan bintang adalah rewardnya.

Lalu tahfidz. Belajar dark pengalaman Al Falaq kemarin, saya punya ide bikin buku hafalan buat dia dengan menuliskan ayat yang akan dihafal dengan spidol/pinsil warna. Kali ini bertujuan untuk menguatkan surah Al Ikhlas.

Setelah mengaji, Kakak mengerjakan LKS. Banyak LKS yang saya dan suami sediakan untuknya, mulai dari LKS yang biasa dipakai di TK sampai LKS entertainment yang seperti tabloid disney. Setiap hari kami meminta dia mengerjakan LKS agar kelak terbiasa punya waktu belajar di meja.

Dan, aktivitas yang hampir tak pernah dia lewatkan adalah menggambar. Di umur segini, Kakak sepertinya sudah agak bosan mewarnai gambar yang sudah ada. Dia jadi lebih senang menggambar sendiri lalu mewarnainya.

Saya berusaha agar setiap hari bisa ada kegiatan DIY yang mengasah kecerdasan kinestetik nya. Tapi hari ini, saya melewatkannya karena harus mengurus adiknya yang sedang rewel. Semoga besok lebih baik semuanya. Aamiin.

Game #4 Day #2 Gaya Belajar Anak Fitri Purbasari Depok

Kuliah Bunda Sayang IIP
Level 4 Gaya Belajar Anak

Warna oh Warna

Hari kedua pengamatan resmi, hehe, Kakak Rafifa (5y4m) masih berkutat dengan krayon wajah yang kemarin dibeli. Setelah tak berhasil merayu ummi abinya, akhirnya dia disarankan melukis wajah si Lion. Karena dianya sendiri tak mau wajahnya dilukis. Iyeee! Eh, umi abi tak mau wajahnya dilukis karena si Dedek Fatimah (19m) nangis jejeritan karena takut liat wajah yang dilukis. Hahaha. Jadi bukan karena tak mensupport yaa..hehee piiis! πŸ‘


So far, gaya belajar kakak lebih condong ke visual kinestetik. Dia tak pernah mau diem. Hehehe.. Kalau lagi asyik nonton video youtoube juga tangannya suka sambil ikut memperagakan. Dan dia dengan lancar selalu menceritakan kembali video yang ditontonnya. Kami membolehkan dia hanya menonton video yang edukatif dan inspiratif: origami, lego, upin ipin, adit sopo jarwo, lagu islami, diva, nursery rhymes, Kaycee and Rachel, dll.

Minggu, 23 April 2017

Game #4 Day #1 Gaya Belajar Anak Fitri Purbasari Depok

Kuliah Bunda Sayang IIP Level#4
Gaya Belajar Anak

Day #1 Menghafal Dengan Contekan Dinding

Hari ini, Minggu 23 April 2017, saya baru mulai menyalakan mesin game level #4, hehe.. Kenapa saya baru mulai? Karena qadarullah beberapa hari ini si bungsu Fatimah (19 m) sedang sakit, demam dan batuk. Dia sedang cukup rewel sampai hari ini. Jadi untuk Fatimah, saya belum bisa mengamati kegiatannya hari ini, karena maunya dipangku terus. Si Kakak Rafifa lah (5y4m) yang diobservasi lebih dulu.

Pagi ini saya murajaah hafalan Al Quran Kakak, berdasarkan buku pegangan sekolahnya. Dia harus sudah hafal beberapa surat pendek termasuk Al Falaq. Nah, di Al Falaq ini dia masih agak macet, ketuker-tuker. Saya talqin beberapa kali, masih aja ketuker pas disuruh baca sendiri. Lalu saya iseng tuliskan huruf-huruf awalan dari kata yang dia lupa di dinding. Alhamdulillah dia sudah mau tamat buku iqra, jadi tidak masalah jika saya menuliskan huruf arab..

Saya suruh dia hafalkan, lalu kalau mau nonton/main harus setor hafalan Al Falaq dulu dengan lancar. Dia langsung semangat menghafak menghadap contekan dindingnya. Tring!! Dia membaca beberapa kali dan bilang, "Mi, siap setoran!". Dalam hati saya sempat underestimate, yah belum juga 5 menit. Tapi MasyaaAllah ternyata dia bisa melantunkan Al Falaq dengan lancar! πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸ˜‹πŸ˜πŸ˜˜  Saat petang tadi, ketika dia minta main face deco untuk melukis wajah pada abinya, dia masih mampu melantunkan Al Falaq dengan lancar. Alhamdulillah hari ini, saya sebagai ibu sekaligus guru utamanya telah mendapat titik terang dalam strategi pembelajaran untuk Kakak Rafifa. Semoga saya semakin kreatif!

Well, sekarang mari lihat tabel pengamatan gaya belajar Kakak secara umum.

Berdasarkan tabel itu, Kakak punya gaya visual-kinestetik. Ya memang kelihatannya kakak memiliki gaya visual, tapi saat disuguhkan family project dengan kemasan praktek seperti membuat prakarya, memasak atau drama dari buku ceritanya, dia sangat berbinar-binar. Ya, dia sangat ketagihan dengan kegiatan seperti itu. 😊

Game Level #4

πŸŽ—GAME LEVEL 4πŸŽ—

*πŸ“– Gaya belajar anak πŸ“–*

Setiap anak itu cerdas. Hanya saja kemampuan anak untuk mengerti hal yang berbeda tergantung pada gaya belajar anak. Bisa dominan hanya pada 1 gaya belajar saja, namun bisa juga gabungan dari beberapa gaya belajar dengan urutan belajar yang berbeda.

Dengan mengetahui gaya belajarnya anak akan  lebih mudah mempelajari sesuatu.

πŸ”Pengamatan mendalam terhadap keseharian anak bisa membantu orangtua mengenali gaya belajar anak
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

*Tantangan 10 hari level 4*

πŸ“Bagi yang sudah mempunyai anak
1. Lakukan pengamatan terhadap anak pada saat kegiatan sehari-hari. Gunakan tabel untuk memudahkan pengamatan (tabel terlampir)
2. Tuliskan hasil pengamatan setiap harinya
3. Cermati gaya belajar anak berdasarkan hasil pengamatan

πŸ“Bagi yang single dan belum punya anak lakukan pengamatan terhadap diri sendiri ataw orang terdekat

πŸ“Bagi yang sudah berhasil menemukan gaya belajar anak dan diri sendiri bisa menuliskan hasil pengamatannya (dari mulai proses sampai berhasil menemukan gaya belajarnya)


#Tantangan10Hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP



Materi #4 Gaya Belajar Anak

_Institut Ibu Profesional_
_Kelas Bunda Sayang  Materi #4_

*MEMAHAMI GAYA BELAJAR ANAK, MENDAMPINGI DENGAN BENAR*

Dulu kita adalah anak/murid yang selalu menerima apa saja yang diberikan orangtua/guru kita, apabila ada hal-hal yang belum kita pahami, lebih cenderung diam, tidak berani untuk menanyakan kembali. Karena paradigma yang muncul saat itu, banyak bertanya dianggap bodoh atau mengganggu proses pembelajaran.

 Itu baru tingkat pemahaman, guru/orangtua kita sangat sedikit yang mau memahami bagaimana cara kita bisa belajar dengan baik, yang ada kita harus menerima gaya orangtua/guru kita mengajar.

 Sehingga  anak yang gaya belajarnya tidak sesuai dengan gaya mengajar guru/orangtuanya, akan masuk kategori “siswa dengan tingkat pemahaman rendah” dan kadang mendapat label “bodoh”.

Jaman berubah, dan terus akan berubah. Sudah saatnya kita harus mengubah paradigma baru di dunia pendidikan.

Dari sisi orangtua/pendidik:

*Apabila anak tidak bisa belajar dengan cara/gaya kita mengajar, maka kita harus belajar mengajar dengan cara mereka BISA belajar*

Dari sisi anak/siswa:

*Setiap anak/siswa PASTI BISA belajar dengan baik, setiap anak akan belajar dengan CARA yang BERBEDA*

Sudah saatnya kita belajar memahami gaya belajar anak-anak ( Learning Styles) dan memahami gaya mengajar kita sebagai pendidik ( Teaching Styles ) karena kedua hal tersebut di atas akan berpengaruh pada gaya bekerja kita dan anak-anak ( Working Styles ).

Karena kalau tidak, kita dan anak-anak akan masuk kategori masyarakat buta huruf abad 20, yang didefinisikan Alvin Toffler sbb :

*Mereka yang dikategorikan buta huruf di abad 20 bukanlah individu  yang tidak bisa membaca dan menulis, melainkan orang yang tidak mampu belajar, tidak mau belajar dan tidak kembali belajar*

Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang gaya belajar ada baiknya kita memahami terlebih dahulu untuk apa anak-anak ini harus belajar.


 Ada 4 hal penting yang menjadi tujuan anak-anak belajar yaitu :

a.Meningkatkan Rasa Ingin Tahu anak ( Intellectual Curiosity)

b. Meningkatkan Daya Kreasi dan Imajinasinya ( Creative Imagination)

c. Mengasah seni / cara anak agar selalu bergairah untuk menemukan sesuatu ( Art of Discovery and Invention)

d.Meningkatkan akhlak mulia anak-anak ( Noble Attitude)

Fokuslah kepada 4 hal tersebut selama mendampingi anak-anak belajar. Buatlah pengamatan secara periodik, apakah rasa ingin tahunya naik bersama kita/selama di sekolah? Apakah kreasi dan imajinasinya berkembang dengan bagus selama bersama kita /selama di sekolah? Apakah anak-anak suka menemukan hal baru, dan keluar *Aha! Moment*( teriakan “Aha! Aku tahu sekarang” atau ekspresi lain yang menunjukkan kebinaran matanya) selama belajar?

 Apakah dengan semakin banyaknya ilmu yang anak-anak dapatkan di rumah/di sekolah semakin meningkatkan akhlak mulianya?



Setelah memahami tujuan anak-anak belajar baru kita memasuki tahapan-tahapan memahami berbagai gaya belajar anak-anak.Gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar anak. Jika diberikan strategi yang sesuai dengan gaya belajarnya, anak dapat berkembang dengan lebih baik.


Gaya belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar. Artinya, setiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda.

Modalitas belajar adalah cara informasi masuk ke dalam otak  melalui indra yang kita miliki.

Tiga macam modalitas belajar anak:

☘Auditory  : modalitas ini mengakses segala macam bunyi, suara, musik, nada, irama, cerita, dialog, dan pemahaman materi pelajaran dengan menjawab atau mendengarkan lagu, syair, dan hal-hal lain yang terkait.

☘ Visual : modalitas ini mengakses citra visual, warna, gambar, catatan, tabel diagram, grafik, serta peta pikiran, dan hal-hal lain yang terkait.

☘ Kinestetik: modalitas ini mengakses segala jenis gerak, aktifitas tubuh, emosi, koordinasi, dan hal-hal lain yang terkait.
           

Mari kita pahami gaya belajar tersebut secara detil, kita pahami ciri-cirinya dan bagaimana strategi kita untuk mendampingi anak-anak dengan gaya belajarnya masing-masing.


πŸ“ŒGAYA BELAJAR VISUAL ( Belajar dengan cara melihat)

Lirikan keatas bila berbicara, berbicara dengan cepat. Bagi anak yang bergaya belajar visual, mata / penglihatan (visual) memegang peranan penting dalam belajar, dalam hal ini metode pengajaran yang digunakan ibu/guru sebaiknya lebih banyak / dititikberatkan pada peragaan / media, ajak mereka ke obyek-obyek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut, atau dengan cara menunjukkan alat peraganya langsung pada siswa atau menggambarkannya di papan tulis.

Anak yang mempunyai gaya belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya/ibunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video.


πŸ“Œ Ciri-ciri gaya belajar visual :

🌷Bicara agak cepat

🌷Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi

🌷Tidak mudah terganggu oleh keributan

🌷Mengingat yang dilihat, dari pada yang didengar

🌷Lebih suka membaca dari pada dibacakan

🌷Pembaca cepat dan tekun

🌷Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata

🌷Lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato

🌷Lebih suka musik

🌷Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya.

πŸ“ŒStrategi untuk mempermudah proses belajar anak visual :

πŸ“Gunakan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta.

πŸ“Gunakan warna untuk menghilite hal-hal penting.

πŸ“Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi.

πŸ“Gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video).

πŸ“Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar.


πŸ“ŒGAYA BELAJAR AUDITORI (belajar dengan cara mendengar)


Lirikan kekiri/kekanan mendatar bila berbicara. Anak yang bertipe auditori mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga ( alat pendengarannya ), untuk itu maka ibu/ guru sebaiknya harus memperhatikan siswa/anaknya hingga ke alat pendengarannya. Anak yang mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru/ibu katakan.

Anak auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi anak auditori dibandngkan dengan mendengarkannya.

Anak-anak seperi ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset.

           
πŸ“ŒCiri-ciri gaya belajar auditori :

🌷Saat bekerja suka bicara kepada diri sendiri

🌷Penampilan rapi

🌷Mudah terganggu oleh keributan

🌷Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat

🌷Senang membaca dengan keras dan mendengarkan

🌷Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca

🌷Biasanya ia pembicara yang fasih

🌷Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya

🌷Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik

🌷Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan Visual

🌷Berbicara dalam irama yang terpola

🌷Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara


πŸ“Œ Strategi untuk mempermudah proses belajar anak auditori :

πŸ“Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas maupun di dalam keluarga.

πŸ“Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras.

πŸ“Gunakan musik untuk mengajarkan anak.

πŸ“Diskusikan ide dengan anak secara verbal.

πŸ“Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan dorong dia untuk mendengarkannya sebelum tidur.


πŸ“Œ  GAYA BELAJAR KINESTETIK (belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh)


Lirikan kebawah bila berbicara, berbicara lebih lambat. Anak yang mempunyai gaya belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Anak  yang bergaya belajar ini belajarnya melalui gerak dan sentuhan


πŸ“Œ  Ciri-ciri gaya belajar kinestetik :

🌷Berbicara perlahan

🌷Penampilan rapi

🌷Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan

🌷Belajar melalui memanipulasi dan praktek

🌷Menghafal dengan cara berjalan dan melihat

🌷 Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca

🌷Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita

🌷Menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca

🌷Menyukai permainan yang menyibukkan

🌷Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada di tempat itu

🌷Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi.


πŸ“ŒStrategi untuk mempermudah proses belajar anak kinestetik:

πŸ“Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam.

πŸ“Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya (contohnya: ajak dia baca sambil bersepeda, gunakan obyek sesungguhnya untuk belajar konsep baru).

πŸ“Izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar.

πŸ“Gunakan warna terang untuk menghilite hal-hal penting dalam bacaan.


πŸ“ Izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik


Ketika belajar memahami anak-anak, sejatinya kita sedang belajar memahami diri kita sendiri. Apabila bunda semuanya bisa melihat gaya belajar anak-anak karena sering mengamati perkembangan mereka, maka kitapun akan dengan mudah mengamati gaya belajar kita, gaya mengajar kita dan gaya bekerja kita.


 Hal ini akan lebih membuat kita bahagia menjalankan proses belajar. Dijamin proses belajar juga tidak akan pernah berhenti dari buaian sampai ke liang lahat.



Anak-anak sangat menyukai bermain, karena energi yang dimunculkan ketika bermain tidak akan pernah habis. Apabila kita bisa memaknai belajar dan bekerja selayaknya anak-anak bermain, sudah dapat dibayangkan betapa asyiknya belajar dan bekerja dalam kehidupan ini. Karena setiap saat anak-anak akan menemukan energi yang terbarukan dalam proses belajarnya dan kita akan mendapatkan energi yang terbarukan dalam proses bekerja.


*Don’t Teach me , I Love to Learn*

 Salam Ibu Profesional,



/Tim Fasilitator Bunda Sayang/


πŸ“šSumber Bacaan:

_Gordon Dryden and JeanetteVos, The Learning Revolution, ISBN-13: 978-1929284009_

_Barbara Prashing, The Power of Learning Styles, Kaifa, 2014_

_Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Memahami Gaya Belajar Anak, GazaMedia, 2016_

Sabtu, 15 April 2017

Aliran Rasa Game Projek Keluarga Fitri Purbasari Depok

Aliran Rasa Game Projek Keluarga
Kuliah Bunda Sayang #3

Ini Kuliah Kerja Nyata!

Alhamdulillah, nilai utama yang saya dapat dari game #3 dalam Kuliah Bunda Sayang ini adalah Memaknai Aktivitas Keluarga. Kami memulai dengan kegiatan sederhana. Alhamdulillah si sulung Rafifa (5 th) ketagihan. Dia antusias mengusulkan projek tiap harinya. Saya belajar untuk mengesampingkan ego dan selera saya dalam memilih atau menjalankan projek nya. Hihihiii... Saya selalu mengaktifkan alarm bahwa family project ini spesial untuk anak-anak, bukan orang tuanya. Jadi aktornya ya mereka. Hehe..

Jujur saya masih meraba-raba makna dari setiap kegiatan yang kami lakukan, juga untuk bagian apresiasinya. Selan itu, tahap master mind nya masih belum sempurna. Semoga semakin hari semakin baik. Dan family project kami bisa diperluas scope nya agar lebih bermanfaat.

Saya pun masih mengunyah terus materi-materi keren yang disajikan. MasyaaAllah, semakin bikin kening berkerut. Hehee.. Ini benar-benar kuliah kerja nyata! 😍

Terima kasih, founders and team!
Semoga Allah membalas kebaikan Anda semua dengan kebahagiaan dunia-akhirat. Aamiin.

Review Game Family Project #2

_Review Game level  #3  Bagian 2_

*FAMILY PROJECT DAN KECERDASAN ANAK*

Setelah kita memahami secara detil tentang apa itu Family Project dan sudah menjalankannya dengan tantangan 10 hari, maka kali ini kita akan kembali membahas bagaimana  family project ini bisa menjadi sarana kita untuk melihat sisi-sisi kecerdasan anak yang harus kita amati.

*Family Project dan Kecerdasan Intellectual*

Family Project adalah sarana anak-anak belajar sesuatu, belajar hal baru melalui berbagai tema-tema yang kita kemas dalam berbagai project. Di dalam ilmu pembelajaran kita bisa mempelajarinya lebih lanjut tentang Project Based Learning.

Selama menjalankan Family project ini kita bisa melihat apakah :

a.  Apakah rasa Ingin tahu anak-anak terhadap sesuatu menjadi semakin tinggi?

b. Apakah Kreativitas dan Daya Imajinasinya menjadi semakin besar?

c. Apakah muncul gairah belajar dan inovasi baru yang anak-anak dapatkan selama menjalankan family project?

d. Bagaimana anak-anak menyikapi pengetahuan baru, pengalaman baru yang mereka dapatkan selama menjalankan Family Project?

e. Apakah anak-anak menemukan gairah untuk selalu berkarya dan menemukan hal baru demi kehidupan mereka yang lebih baik?

*Family Project dan Kecerdasan Emosional*

a. Apakah selama menjalankan Family Project muncul kesadaran diri secara penuh dari anak-anak?

b. Apakah anak-anak makin mengenal emosi yang muncul  ( senang, bahagia, sedih) selama menjalankan Family Project?

c. Apakah emosi anak stabil/meledak-ledak ketika menghadapi tantangan selama Family Project berjalan?

d.Apakah anak bisa mengerti perasaan dan kebutuhan orang lain, sehingga orang lainpun merasa senang dan dimengerti perasaannya?

e. Apakah anak sanggup mengelola emosi yang dia dapatkan dari orang lain, sehingga tercipta ketrampilan sosial yang tinggi?

*Family Project dan Kecerdasan Spiritual*

Family project sebagaimana kita tahu adalah pemberian makna yang mendalam terhadap aktivitas sehari-hari yang kita lakukan di rumah. Sehingga aktivitas keluarga sehari-hari + management dan organisasi = Family Project  = Aktivitas keluarga yang penuh makna.

Kecerdasan Spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna ( value), kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya.

Dengan menjalankan Family Project kita akan bisa melihat hal-hal sebagai berikut:

a. Apakah anak-anak bisa makin mengenal ciptaan Allah dan makin menyayangi antara sesama makhluk ciptaan Allah selama menjalankan Family Project ini?

b. Apakah anak-anak makin melihat dirinya dan keluarganya sebagai sesuatu yang unik yang diciptakan Allah berbeda dengan yang lain,  selama menjalankan Family Project ini?

c. Apakah rasa syukur anak-anak makin meningkat selama menjalankan Family Project?

d. Apakah anak-anak makin ridho dan konsisten dengan segala perintah dan laranganNya selama menjalankan Family Project?

e. Apakah anak-anak mendapatkan berbagai akhlak mulia yang bisa dia dapatkan untuk dipraktekkan selama menjalankan Family project?

f. Apakah anak-anak semakin tunduk dan taat terhadap kehendak penciptaNya, selama menjalankan Family Project?

g. Apakah anak-anak semakin bergairah untuk menebar benih manfaat di muka bumi ini, dan sadar perannya sebagai Khalifah di muka bumi ini, selama menjalankan Family project?



*Family Project dan Kecerdasan Menghadapi Tantangan ( AI)*

Selama menjalankan Family Project pasti kita dan anak-anak menghadapi berbagai macam tantangan dan cobaan. Dari sinilah kita paham seberapa kuat anak-anak kita menghadapi tantangan hidup.

a. Apakah selama menjalankan Family Project anak-anak mampu mengontrol dirinya ?

b. Bagaimana reaksi anak-anak ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan yang dia inginkan seama menjalankan Family project?

c. Apakah anak-anak sanggup membangun konsistensi dan komitmen terhadap kesepakatan yang sudah dia putuskan bersama selama menjalankan Family Project?

d. Apakah anak-anak menunjukkan inisiatif besar untuk aktivitas yang dia inginkan, dan sanggup menanggung semua resiko yang akan muncul selama menjalankan Family Project?

e. Bagaimana reaksi anak-anak setiap menjumpai “tantangan” selama family project berjalan, apakah mereka bisa mengubahnya menjadi sebuah peluang?

f. Apakah anak-anak tidak mudah putus asa?

g.Apakah anak-anak berani mengakui sebuah kesalahan dan mau belajar dari kesalahan yang dia buat selama menjalankan Family Project?

h.Apakah kemandirian anak mulai terlihat selama menjalankan Family project?

Dari berbagai kasus yang kita dapatkan selama menjalankan Family project ini sebenarnya selain untuk melihat kecerdasan anak-anak, kita juga bisa mengamati kecerdasan diri kita dan pasangan. Sehingga kita semakin paham bagaimana cara kita “memantaskan diri” agar semakin layak mendidik anak-anak hebat. Dan hal-hal apa saja yang harus kita tambahkan selama perjalanan di Universitas Kehidupan.

Salah satu contoh hal kecil ketika menjalankan tantangan 10 hari di Game –game kelas Bunda Sayang ini, kita mengalami kesulitan dalam mengatur waktu sehingga tidak sanggup menuliskan tantangan 10 hari tersebut secara berturut-turut, apakah kita langsung menyerah berhenti disini saja? Kalau iya kecerdasan menghadapi tantangan kita masuk kategori Quitters, Apakah kita cukup menuliskan poin-poin penting saja dan tidak usah menyempurnakannya, yang penting mengumpulkan tugas? Kalau iya, berarti ita tipe campers. Atau kita termasuk orang yang berusaha mengubah manajemen waktu kita, mencari strategi terbaik, membuat sistem penulisan, sehingga memudahkan kita untuk menuliskannya setiap hari? Kalau iya, selamat  berarti kecerdasan anda memasuki tahap Climbers.

Silakan amati kecerdasan-kecerdasan yang lainnya yang ada pada diri kita selama mengerjakan Tantangan-tantangan 10 Hari di kelas Bunda Sayang ini.

Dan untuk bisa mendapatkan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik ke anak - anak dan keluarga kita, mulailah dari diri kita terlebih dahulu

*for things to CHANGE, I must CHANGE first*

Salam Ibu Profesional,



_/Tim Fasilitator Bunda Sayang/_



πŸ“šSumber Bacaan:

_D.Paul Relly, “Success is Simple, Gramedia, Jakarta_

_Stoltz, Paul G, PhD, 1992, Adversity Intellegence, Mengubah  Hambatan Menjadi peluang_

_Melva Tobing. Mpsi, Daya Tahan Anak menghadapi Kesulitan, Jakarta, 2013_

_Materi Tentang Kecerdasan anak dan Kebahagiaan Hidup, IIP, bunda sayang_
https://www.youtube.com/watch?v=n9LNFH4TW7k

Review Game Family Project #1

_Review  Game Level  #3  Tantangan 10 Hari_
*Bagian 1*

*FAMILY PROJECT*

Selamat buat teman-teman yang sudah berhasil melampaui tantangan 10 hari di game level 3 ini tentang Family Project. Mulai dari bingung memahami apa itu family project, sampai akhirnya ada yang banyak ketagihan untuk memaknai setiap aktivitas menjadi  sebuah projek yang menyenangkan.


Family Project  adalah aktivitas  yang secara sadar dibicarakan bersama, dikerjakan bersama   oleh seluruh atau sebagian anggota keluarga dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara bersama pula.

Jangan terlalu berat memikirkan sebuah family project, mulailah dari aktivitas-aktivitas sehari-hari yang biasa kita kerjakan di rumah, kemudian tambahkan manajemen dan organisasinya, jadilah sebuah family project.

Sehingga rumusnya adalah sebagai berikut


*ACTIVITY + MANAGEMENT AND ORGANIZATION = PROJECT*



*MANFAAT FAMILY PROJECT*


☘Family Project merupakan salah satu sarana pendidikan bagi seluruh anggota keluarga. Saat ini semakin sedikit keluarga yang menerapkan konsep pendidikan di dalam rumahnya, banyak diantara mereka menjadikan rumah sebagai sarana berkumpulnya anggota keluarga saja tanpa adanya aktivitas pendidikan. Sehingga makna berkumpulnya menjadi hambar, sekedar kumpul dan  kadang berlalu begitu saja tanpa arti.



☘Family Project juga menjadi salah satu sarana untuk membangun “bonding” di dalam keluarga. Tercipta ikatan batin antar anggota keluarga, sehingga hubungan menjadi semakin indah dan harmonis.



☘Family Project bisa juga digunakan sebagai sarana “Check Temperature" keluarga kita. Apakah hubungan antar anggota keluarga dalam kondisi adem ayrm berada di suhu normal atau sedang ada gesekan-gesekan yang selama ini tidak terlihat,  sehingga ada tantangan kecil saja selama menjalankan family project, suhu sudah memanas.



☘Family Project sarana menguatkan core values keluarga. Core Values tidak bisa hanya dituliskan besar-besar di kertas dan di tempel di dinding rumah. Core Values harus diujikan untuk mendapatkan sebuah keyakinan bahwa hal tersebut layak diperjuangkan. Ujian itu lewat family project.



☘Family Project apabila dijalankan denga sungguh-sungguh maka akan menjadi pijakan kita dan keluarga ke surga Apabila keluarga kita memang sedang berjalan menuju surga, maka tidak perlu menunggu sampai di akherat untuk merasakannya, kita bisa merasakannya sekarang saat di dunia bersama keluarga kita.



*BAGAIMANA CARA MEMBESARKAN FAMILY PROJECT ANDA?*

Diperlukan 2 hal penting untuk membesarkan Family Project yaitu KONSISTENSI dan KOMUNIKASI



*KONSISTENSI*

Konsistensi itu sangat bergantung pada hal-hal berikut ini:

a. Apakah family project ini membahagiakan seluruh anggota keluarga? ( Fun)

b. Apakah family project sejalan dengan values yang sedang diperjuangkan di dalam keluarga kita? ( values)

c. Seberapa unik family project anda dibandingkan family project yang lain? ( uniqueness)

d. Apa alasan kuat dari salah satu, sebagian atau seluruh anggota keluarga untuk menjalankan family project ini? ( Reason)


*KOMUNIKASI*

Komunikasi menjadi hal yang utama dalam rangka memperbesar family project kita, karena akan sangat bermanfaat untuk memantau dan membesarkan perjalanan family project dan membangun portofolio keluarga dalam menjalankan family project. Ada komunikasi internal dan ada komunikasi eksternal. Di dalam kedua komunikasi tersebut diperlukan dua hal yaitu MEDIA dan KONTEN


_Komunikasi Internal_

*MEDIA KOMUNIKASI*

*FAMILY FORUM*


Family forum adalah forum-forum ngobrol keluarga yang dibangun untuk mengetahui hobi anak-anak, aktivitas harian mereka, tren pengetahuan dan berita yang ada saat ini, kebutuhan seluruh anggota keluarga dan masalah atau tantangan-tantangan apa saja yang dihadapi oleh seluruh anggota keluarga.

Family forum ini bentuknya bisa beragam mulai dari ngeteh bersama ( tea time), ngopi bersama ( coffee break), ngegame bersama ( play on), ngemil bersama ( snack time) dll.

*KONTEN KOMUNIKASI*

Kami perlu menekankan sekali lagi tentang konten komunikasi. Satu hal yang sangat perlu kita ingat adalah kalimat ini:

*LAKUKAN APRESIASI, BUKAN EVALUASI*

Anak-anak belum memerlukan evaluasi, yang kita lakukan hanya memberikan apresiasi saja, karena hal ini penting untuk menjaga suasana selalu menyenangkan dan  membuat anak senantiasa bersemangat dalam mengerjakan projek selanjutnya.

Apabila ada hal-hal yang kita rasa penting untuk diperbaiki atau diubah strateginya, maka cukup anda catat saja, simpan dengan baik bersama satu file catatan projek ini, dan buka kembali saat kita dan anak-anak akan merencanakan projek berikutnya. Hal ini akan lebih membuat perencanaan kita lebih efektif, karena anak-anak akan melakukan perubahan menjelang  melakukan projek, bukan diberitahu kesalahan setelah melakukan sebuah projek. Efek yang muncul akan sangat berbeda.



*BAGAIMANA CARA MENGAPRESIASI*


Perbanyaklah membuat forum keluarga saat sore ngeteh bersama, atau sepekan sekali saat akhir pekan. Di Ibu Profesional, forum keluarga seperti ini terkenal dengan nama

 *MASTER MIND*

Bagaimana cara menjalankan master mind, ciptakan suasana yang santai di rumah, kemudian tanyakan 3 hal saja:

a. Ada yang punya pengalaman menarik selama menjalankan projek ini?

b. Apa yang sudah baik?

c. Minggu depan hal baik apa yang akan kita lakukan?

Perbanyaklah apresiasi di forum-forum keluarga ini sehingga memunculkan inovasi-inovasi kecil yang dilakukan secara istiqomah di setiap kesempatan.

_Komunikasi Eksternal_

Family Project yang kita lakukan di dalam keluarga sebaiknya kita share kan ke dunia luar bisa via presentasi di depan para ahli yang memang kompeten di bidangnya. Di komunitas-komunitas keluarga yang selalu peduli terhadap perkembangan anak, maupun di media sosial yang kita miliki.

Proses berbagi mimpi dan inspirasi ini sangat bermanfaat untuk membesarkan family project kita dan proses bertemunya anak-anak dengan para sang maestro di bidangnya.

*AMATI ,TERLIBAT, TULIS*


Tantangan 10 hari yang sudah teman-teman lakukan ini sebenarnya membuat kita agar mau mendokumentasikan setiap aktivitas anak-anak, sehingga kita sebagai orangtua bisa mengamati perkembangan anak-anak dengan valid berdasarkan data dan tulisan kita.


Kita tidak akan pernah membandingkan anak-anak kita dan keluarga kita, dengan anak-anak orang lain dan keluarga orang lain. Karena diri kita sudah terlalu sibuk untuk mengamati diri sendiri, sehingga tidak ada lagi kesempatan untuk mengamati rumput tetangga.

Salam Ibu Profesional,


/Tim Fasilitator Bunda Sayang/


Sumber Bacaan:

https://padepokanmargosari.com/2017/04/02/catatan-perak-2017-1-family-project/

Cemilan Rabu Projek Keluarga Bag #2

Cemilan Rabu Materi #3
05 April 2017

POTENSI KECERDASAN MANUSIA DALAM MERAIH KESUKSESAN HIDUP (bagian 2-habis)
🏡

Ketika diskusi terkait kecerdasan, biasanya yang sering disebut adalah kecerdasan intelektual (IQ), dan emosional (EI). Apakah berbekal IQ dan EI saja anak mampu meraih sukses? Jawaban atas pertanyaan ini sungguh bersifat relatif, bergantung apa dan bagaimana ukuran serta definisi sukses. Jika kesuksesan seorang anak manusia dimaknai sebagai kemampuan menciptakan sesuatu yang berguna bagi umat manusia, maka berbekal IQ dan EI saja tidaklah cukup.

πŸ“ŒTahun 2000, Psikolog *Danah Zohar* dan suaminya *Ian Marshall* memunculkan kecerdasan “baru” yaitu *kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient/SQ)*. Apa itu Kecerdasan Spiritual? Melalui bukunya berjudul _SQ: Spiritual Intelligence, The Ultimate Intelligence_, yang diterbitkan di London Januari 2000, dan sudah diterjemahkan (dan diterbitkan) dengan judul _SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam Berpikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan_, oleh Mizan (2001), Danah Zohar dan Ian Marshall mendefiniskan *kecerdasan spiritual (SI)* adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna (value), yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. SI adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EI secara efektif. Bahkan SI merupakan kecerdasan tertinggi.

Menurut Khavari, ada beberapa  *aspek  yang menjadi dasar kecerdasan spiritual*, yaitu:
1. Sudut pandang spiritual-keagamaan, artinya semakin  harmonis relasi spiritual-keagamaan kita kehadirat Tuhan,  semakin tinggi pula tingkat dan kualitas kecerdasan spiritual kita.

2. Sudut pandang relasi sosial-keagamaan, artinya kecerdasan  spiritual harus direfleksikan  pada  sikap-sikap sosial yang  menekankan  segi kebersamaan dan kesejahteraan sosial.

3. Sudut pandang etika sosial.  Semakin beradab etika sosial  manusia semakin berkualitas kecerdasan spiritualnya.

Zohar mengidentifikasikan *sepuluh kriteria mengukur kecerdasan spiritual* seseorang, yaitu:
1. Kesadaran diri
2. Spontanitas, termotivasi secara internal
3. Melihat kehidupan dari visi dan berdaar nilai-nilai fundamental
4. Holistik, melihat sistem dan universalitas
5. Kasih sayang (rasa berkomunitas, rasa mengikuti aliran kehidupan)
6. Menghargai keragaman
7. Mandiri, teguh melawan mayoritas
8. Mempertanyakan secara mendasar
9. Menata kembali dalam gambaran besar
10. Teguh dalam kesulitan

*Ciri-ciri dari kecerdasan spiritual yang telah berkembang* dalam diri seseorang adalah sebagai berikut  (Zohar, 2001):
1) Kemampuan bersifat fleksibel
2) Tingkat kesadaran diri tinggi
3) Kemampuan menghadapi dan memanfaatkan penderitaan
4) Kemampuan menghadapi dan melampaui rasa sakit
5) Kualitas hidup diilhami visi dan nilai-nilai
6) Enggan menyebabkan kerugian yang tidak perlu
7) Kecenderungan untuk melihat keterkaitan berbagai hal
8)Punya kecenderungan bertanya “mengapa” atau “bagaimana jika" untuk mencari jawaban-jawaban yang mendasar.
9) Memiliki kemudahan untuk bekerja melawan hal yang umum.

Kecerdasan spiritual bersumber dari fitrah manusia itu sendiri. Kecerdasan ini merupakan aktualisasi fitrah manusia itu sendiri. Ia memancar dari kedalaman diri manusia, karena dorongan keingintahuan yang dilandasi kesucian , ketulusan, dan tanpa pretensi egoisme. Kecerdasan ini akan aktual jika manusia hidup berdasarkan visi dasar dan misi utamnya sebagai hamba Allah sekaligus khalifatullah di bumi.

Dari sini, bisa dipahami mengapa ulama-ulama besar zaman dahulu dengan teknologi yang masih sangat terbatas mampu melahirkan karya-karya yang tak lapuk besar yang tak lapuk dimakan zaman. Sebut saja Jabir Ibn Hayyan yang dikenal sebagai Bapak kimia. Ibn Sina yang karya fenomenalnya al-Qanun fi al-Tibbi menjadi rujukan utma ilmu kedokteran di Eropa selama berabad-abad.
Karya yang dihasilkan dari pancaran kecerdasan spiritual merupakan luapan pendaran cahaya dan karunia Ilahi dalam inti eksistensi diri manusia. Faktor-faktor eksternal hanyalah pendukung dari proses aktualisasi kecerdasan yang ada.

Namun pada zaman sekarang ini terjadi krisis spiritual karena kebutuhan makna tidak terpenuhi sehingga hidup manusia terasa dangkal dan hampa. Menurut Lisa Kumalanty, ada *tiga sebab yang membuat seseorang dapat terhambat secara spiritual*, yaitu (1) tidak mengembangkan beberapa bagian dari dirinya sendiri sama sekali,
(2) telah mengembangkan beberapa bagian, namun tidak proporsional, dan (3)bertentangannya/buruknya hubungan antara bagian-bagian.

Untuk mengatasi krisis spiritual menurut Danah dan Ian dengan memberikan *“Enam Jalan Menuju Kecerdasan Spiritual yang Lebih Tinggi” dan “Tujuh Langkah Praktis Mendapatkan SQ Lebih Baik”.*
Enam jalan tersebut yaitu
1) jalan tugas,
2) jalan pengasuhan,
3) jalan pengetahuan,
4) jalan perubahan pribadi,
5) jalan persaudaraan, dan
6)  jalan kepemimpinan yang penuh pengabdian.

Sedangkan Tujuh Langkah Menuju Kecerdasan Spiritual Lebih Tinggi adalah
(1) menyadari di mana saya sekarang,
(2) merasakan dengan kuat bahwa saya ingin berubah,
(3) merenungkan apakah pusat saya sendiri dan apakah motivasi saya yang paling dalam,
(4) menemukan dan mengatasi rintangan,
(5) menggali banyak kemungkinan untuk melangkah maju,
(6) menetapkan hati saya pada sebuah jalan,
(7) tetap menyadari bahwa ada banyak jalan.

*Kiat-kiat mengembangkan SI anak*
(1) Jadilah kita fasilitator dan teladan yang baik,
(2) bantulah anak merumuskan misi hidupnya,
(3) baca kitab suci bersama-sama dan jelaskan maknanya dalam kehidupan kita,
(4) diskusikan berbagai persoalan dengan perspektif ruhaniah,
(5) libatkan anak dalam kegiatan-kegiatan ritual keagamaan,
(6) bacakan kisah perjuangan tokoh spiritual
(7) bawa anak untuk menikmati keindahan alam,
(8) ajak anak berinteraksi dengan orang yang memiliki keterbatasan, dan
(9) ikutsertakan anak dalam kegiatan sosial.

Mereka yang mempunyai kecerdasan spiritual tinggi akan mampu memaknai setiap peristiwa dan masalah yang dihadapi dalam hidupnya, bahkan dalam penderitaan sekalipun. Dengan memberi makna yang positif, mereka akan mampu membangkitkan jiwanya untuk bersikap dan bertindak secara positif pula. Dan kecerdasan ini juga memungkinkan manusia untuk berpikir secara kreatif, berwawasan jauh kedepan, intuitif, tambah cerdas dan semakin berkesadaran.
Oleh karenanya, bagi mereka yang telah menggunakan kecerdasan spiritualnya, mereka akan menjadi pribadi yang kreatif, intuitif, bisa menerima segalanya secara apa adanya, dan hidupnya akan berbahagia.

πŸ“šSumber bacaan

2005, Ach Saifullah dan Nine Adien Maulana, Melejitkan Potensi Kecerdasan Anak, Yogyakarta: Katahati

https://www.google.co.id/amp/s/masthoni.wordpress.com/2012/01/25/kecerdasan-spiritual/amp

http://ummahattokkyo.tripod.com/duniaanak/kecerdasan_spiritual_anak.htm

http://www.kajianpustaka.com/2014/01/kecerdasan-spiritual.html

e-thesis.uin-malang.ac.id>08410107_Bab II

Selasa, 04 April 2017

T10 Level 3 Day #12 Fitri Purbasari Depok

Tantangan 10 Hari Projek Keluarga
Kuliah Bunda Sayang IIP Level 3

Pojok Baca

Malam ini Kami baru sempat melakukan project keluarga yang sangat sederhana namun bermakna. Karena memang "makna" kan yang jadi pesan penting dalam aktivitas family project ini. Kali ini kami membuat Pojok Baca. Spot yang nyaman di kamar untuk kami menikmati buku pavorit. Hehee..

Seperti biasa, Kakak Rafifa (5 th) is the leader. Dia desainer interior nya. Kakak mensetting bantal seperti sofa. Sungguh sangat simple tapi yang penting nyaman. Beberapa menit saja, taraaaa jadi deh!
Bergegas, dia ambil buku baru kesayangannya: Nabi Muhammad pun Bercerita. Dan Dedek Fatimah (1,5 th) memegang buku Nabi Sayang Binatang.


Setelah beberapa lama asyik menikmati buku masing-masing, umi pun diminta bercerita. Pertama, buku Dedek dulu. Lalu, bagian Kakak. Kakak memilih judul Tanda Kiamat.

Alhamdulillah, storytime ini merupakan bagian dari family forum yang sudah menjadi jadwal rutin di keluarga kami. Sungguh kebahagiaan yang tak terkira, melihat anak-anak begitu senang terhadap buku. Semoga menjadi orang yang berilmu dan beramal shaleh. Aamiin.

Senin, 03 April 2017

T10 Level 3 Day #11 Fitri Purbasari Depok

Tantangan 10 Hari Projek Keluarga
Kuliah Bunda Sayang IIP Level 3

Belajar Baca Yuk! 

Kakak Rafifa (5 th) sangat lelah hari inj. Di sekolah sudah berkegiatan latihan untuk outbound yang akan dilaksanakan pekan depan. Sepulang sekolah dia beristirahat sambil nonton video lagu nursery rhymes bersama adik.

Malam hari dia saya ingatkan bahwa hari ini belum mengerjakan projek. Laludia mengajak belajar baca saja dengan game yang didapatdari sekolah. Ada papan babibubebo dan puzzle harimau. Saya menerapkan aturan waktu saat bermain puzzle nya. Dari 60 detik lebih di per obaan awal, sampai dia bisa menyusun dengan baik dalam waktu 30 detik.


Semakin hari kakak semakin ingin cepat bisa baca. Ini karena saya stimulasi dia dengan sering-sering membacakan buku cerita. Apalagi buku cerita terbaru yang saya belikan: Nabi Muhammad pun Bercerita, dari Rumah Pensil. Kakak sangat antusias melahapnya. Sampai-sampai setiap kali storytime, dua judul pun tak cukup baginya. Ckckckck..yasudah saya motivasi saja agar dia makin rajin belajar bacanya biar segera bisa baca buku sendiri.

Minggu, 02 April 2017

T10 Level 3 Day #10 Fitri Purbasari Depok

Tantangan 10 Hari Projek Keluarga
Kuliah Bunda Sayang IIP Level 3

Bergotong Royong 😍

Hari ini sang umi sudah mulai baikan. Tapi masih harus agak bedrest. Kebetulan kami sedang dikunjungi sang tante sejak hari Jum'at dan siang tadi harus kembali ke Bandung.

Saat menanyakan ulang kepada Kakak Rafifa (5 th) mau melakukan projek apa hari ini, Kakak jawab mau bikin bolu kukus. Tapi umi masih lemes dan tante harus balik lagi ke Bandung. Setelah mikir agak lama akhirnya dia memutuskan mengepel lantai luar. Setelah minta bantuan sang tante membawakan ember air nya, Kakak langsung membersihkan lantainya. Tapi karena si tante mungkin gemes lihat cara Kakak ngepel, dia pun mengambil alih dan Kakak bagian nyiramin air ke lantai. Hehee.. salah saya juga siih ga briefing dulu si tante. Hihii..

Setelah itu, Kakak nyiram tanaman. Ada pohon cabe yang sedang berbuah pas tumbuh di depan pintu, ada juga tanaman bumbu seperti kunyit, lengkuas, cabe dan kencur yang sengaja umi tanam di bawah tangga.

Lalu, abi keluar dengan Dedek Fatimah (1,5 th) membawa seember pakaian untuk dijemur. Kakak pun dengan segera membantu abi. Dedek pun tak mau ketinggalan membantu. Hari ini semua bergotong royong. Tapi si Kakak minta hadiah, minta izin makan yupi. Hehee.. yasudah deh boleeeh.. that's the reward! Sambil tak lupa saya mengucapkan terima kasih disertai pelukan dan ciuman di pipinya. 😘


Sabtu, 01 April 2017

T10 Level 3 Day #9 Fitri Purbasari Depok

Tantangan 10 Hari Projek Keluarga
Kuliah Bunda Sayang IIP Level 3

Kakak Pendekor πŸ˜ŽπŸ˜˜πŸ˜…

Allah ternyata masih menghendaki saya untuk total beristirahat. Hari ini saya masih meriang fluktuatif. Jadilah family project nya yang sederhana, tanpa banyak bergerak. Padahal pengen banget di level ini kami jalankan projek berkebun. Tapi, qadarullah diuji sakit.

Well, Kami membuat dekorasi untuk satu pojok kamar Kakak (5 th) yang kosong karena poster binatang yang tadinya tertempel disitu sudah sobek.

Hiasan yang kami bikin terbuat dari kertas origami yang tersedia di rak buku. Memanfaatkan yang ada saja. Lalu mewarnai gambar hasil print juga.

Begini hasilnya.


Pengamatan saya, kakak semakin terampil menggunakan gunting meski masih belum mulus hasilnya. Lalu pas harus menempel item yang sangat kecil, dia langsung dapat ide untuk mengelem permukaan kertas dasarnya, bukan di item yang kecilnya. MasyaaAllah.. cerdas! Tapi hampir saja saya keceplosan menginstruksikan hal tersebut. Heheee..

Baiklah, itu kegiatan bermakna kami hari ini. Oia, sementara tugas suami dan Dedek (1,5 th) adalah menjadi asisten kami mengambilkan peralatan yang dibutuhkan.

Selamat beristirahat.. semoga besok sehat. Aamiin.

Resume Diskusi: Desain Global Sekolah Unggul

 Bismillah.. alhamdulillah malam ini bisa bergabung di diskusi online Kelas 100 Guru PAUD berjudul Desain Global Sekolah Unggul. Pematerinya...