Tampilkan postingan dengan label #komunikasiproduktif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #komunikasiproduktif. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Februari 2017

Rasa Kompro Bagi Seorang Fitri Purbasari

Aliran Rasa #1 Komunikasi Produktif
Kuliah Bunda Sayang IIP


KOMUNIKASI PRODUKTIF, IT'S A WOW WAY!

Astaghfirullah, Subhanallah, Masyaallah..
Kata-kata itulah yang mengiringi saat saya menyimak materi yang disajikan dalam kuliah Komunikasi Produktif di IIP ini. Juga saat saya dengan tertatih menjalankannya dalam berkomunikasi dengan orang-orang tercinta, terutama anak-anak saya yang masih kecil (5 th & 1,5 th).
There Is NO FAILURE, only WRONG RESULT, so we have to CHANGE OUR STRATEGY!
Kalimat keren ini yang sekarang menjadi moto baru hidup saya. Hasil komunikasi adalah sepenuhnya tanggungjawab kita. Jadi tak boleh lagi mencari kambing hitam atau merasa jengkel ketika orang lain tidak memahami maksud dari komunikasi yang kita lakukan. 

Sebelum mengikuti kuliah komunikasi produktif, ketika berkomunikasi dengan suami seringkali saya berada pada ego anak-anak. Faktor arkeopsikis cukup dominan dalam diri saya. Sehingga tak jarang, transaksi komunikasi silang lah yang terjadi. Alhamdulillah setelah mengunya pembahasan dalam kuliah, sekarang transaksi kami bergeser ke arah transaksi komplementer. Saya merasa sudah bisa mengimbangi suami yang selalu dalam ego state dewasa. Saya belajar bersikap logis. Naah sedangkan dalam berkomunikasi dengan anak, sebelumnya saya sangat dominan dalam ego state orang tua. Maka tak heran jika transaksi silang juga yang terjadi, dan ini cukup menguras emosi dan energi. Akhirnya saya pun sekarang lebih waras dan mencoba semakin cerdas dalam menyampaikan dan menerima komunikasi dengan dan dari anak. 

Rumus-rumus komunikasi produktif seolah berseliweran setiap saat menjaga agar ego state saya sesuai dengan yang dibutuhkan, agar komunikasi saya dengan orang-orang terkasih menjadi lebih baik. Pikiran positif, kalimat produktif, FoR/FoE kita, Nalar panjang, clear & clarify, Kaidah 7-38-55, KISS, diksi positif, intonasi ramah, eye contact, the right time, I'm responsible for my communication result, strategi baru atas 12 gaya populer, dan yang paling renyah adalah rumus gaya bahasa cinta. 😄

Saya baru tahu kalau manusia memiliki bahasa cinta dalam berkomunikasi. Ada 5 cara anak-anak dan manusia dalam memahami dan mengekspresikan cinta menurut Gary Champan & Ross Champbell, MD (The Five Love Languages of Children): sentuhan fisik, kata-kata mendukung, waktu bersama, pemberian hadiah, dan pelayanan. Berdasarkan pengamatan saya, anak pertama saya (5 th) memiliki semua gaya itu. Tetapi saat saya tanyakan kepadanya secara langsung dengan pilihan keempat gaya vs gaya waktu bersama.
"Ka, lebih suka belajar bareng umi atau dikasih hadiah?"   "Belajar bareng umi."
"Ka, lebih seneng dipuji atau ngaji sama umi?"   "Ngaji sama umi."
"Ka, lebih seneng disuapi umi atau main lego sama umi?"   "Main lego sama umi."
"Kaka lebih seneng baca buku sama umi atau dipeluk umi?" Dia mikir lalu jawab sambil teriak, "Baca buku sambil dipeluk!" 😂 😆
Kemudian, dapat saya simpulkan bahwa bahasa cinta yang dominan dalam anak sulung saya itu adalah waktu bersama. Sedangkan suami saya dominan dengan gaya pelayanan. Saya sendiri, hemmmhh apa ya? Saya cenderung lebih suka kata-kata mendukung yang dilengkapi sentuhan fisik. hehehe.. Mood booster saya adalah pelukan. So, sentuhan fisik mungkin yang dominan ya.. 😃


Honestly, tantangan paling besar yang saya hadapi adalah berkomunikasi dengan anak-anak yang masih kecil ini. Sangat menguras emosi. Tapi, kata guru tercinta, Bu Septi, "Jangan pernah menyerah meski kadang merasa lelah!" Maka, mari taklukkan tantangan yang menghadang dengan strategi cemerlang. Alhamdulillah setelah hampir satu bulan ini mempraktekkan ilmu kompro, sumbu saya lebih panjang dari sebelumnya. 😅

Saat ini saya masih berada dalam tahap heteronomi. Tanda-tanda awal dalam indikator komunikasi produktif sudah terlihat dalam diri saya, namun saya masih belum konsisten menuliskannya. InsyaAllah saya akan berusaha terus untuk meningkatkan kualitas komunikasi produktif dalam keluarga khususnya. Jika saya sudah terampil berkomunikasi produktif dalam keluarga, insyaAllah saya akan lebih luwes dalam berkomunikasi di ring yang lebih luas.

Alhamdulillah..rasa syukur sangat membuncah dalam diri saya saat berinteraksi dalam IIP ini. Semoga Allah memudahkan saya meraih cita menjadi ibu profesional dan semoga Allah senantiasa memberkahi keluarga founders dan para fasilitator IIP atas ilmu yang bermanfaat ini. Aamiin..

Salam. 👰


Kamis, 09 Februari 2017

Komprod T10 Day#10 FITRI PURBASARI Depok/Jabar

Level 1: Tantangan 10 Hari Berkomunikasi Produktif
Kuliah Bunda Sayang IIP

Mensiasati Kebiasaan Menasehati & Mengancam

Dari 12 gaya populer yang menghambat komunikasi kita dengan anak, dua gaya ini yang cukup membuat saya mengernyitkan dahi. hehehe.. dan tertohok juga tentunya. 

Menasehati, seolah-olah bagus yaa, sangat baik, tapi ternyata nasihat yang disampaikan dengan cara, porsi dan waktu yang tidak tepat bisa berbahaya. Hmmm..empati main disini, kita juga kan kalo sering dinasehati orang atas apa yang kita lakukan suka kagak enak juga yaa..heu..mungkin anak akan merasakan hal yang sama. Jangan mentang-mentang kita guru/guru ngaji, kita main ceramahin anak dengan kalimat nasehat. hehehe (#selfnote). Baiklah, setelah tahu bahwa keseringan menasehati itu kurang baik, saya mencoba memakai strategi lain dalam "meluruskan" sikap anak. Cukup menantang, banget, hehehe. Refleksi dari pengalaman saya dan pengalaman dia adalah the closest way. Selain itu, mengaitkannya dengan kisah nabi dan cerita teladan lain. Baru itu yang saya lakukan dalam mensiasati cara menasehati yang keliru.

Hemm.. lalu cara mengancam. Untuk ancaman negatif, alhamdulillah saya sudah paham, tapi ternyata saya masih memberikan ancaman meskipun tujuannya baik. Contohnya. "Ayo kaka mandi dulu ya, kalo tidak, kaka tak boleh nonton kartun." Sebenarnya saya masih bingung, redaksi seperti ini boleh atau tidak. Tapi hati saya merasa tak nyaman mengungkapkan kalimat seperti itu. So, saya harus cari cara lain yang bersifat lebih baik, tidak mengancam. Yang sudah saya temukan adalah cara konsekuensi. Seperti ini, "Kaka mandi sekarang ya. Kalau tidak mandi, Kaka bisa gatal-gatal seperti kemarin." Again, mencari kalimat KISS cukup menantang. hehehe,, yaiyalaah.. kan ini program tantangan, dan hidup penuh tantangan heheh.. Semangaaat!!!! 😃

Alhamdulillah tiap hari semakin banyak belajar dan sedikit-sedikit berubah menjadi lebih baik. Setiap hari jadi lebih melek tantangan komunikasi dan semangat mencari the better strategy

Terima kasih, IIP.
Salam.

Rabu, 08 Februari 2017

Komprod T10 Day#9 FITRI PURBASARI Depok/Jabar

Level 1: Tantangan 10 Hari Berkomunikasi Produktif
Kuliah Bunda Sayang IIP

Komunikasi Produktif Dengan Batitaku

Selama ini saya fokuskan menerapkan materi komprod kepada suami dan anak sulungku (5th). Saya baru sadar beberapa hari ini ketika memperhatikan batitaku (1,5 th) yang sudah mulai banyak tingkah 😁. Ternyata kompro akan sangat bermanfaat jika mulai kuterapkan pada si bungsu sejak dini. hemh..tapi dia kan belum bisa diajak diskusi? deeeng!! saya bingung caranya. hahaha.. mulailah sy brainstorming dengan rekan-rekan di grup IIP. Yes, banyak pencerahan. 

Yaa..mungkin si dedek (1,5 th) belum mengerti banyak perkataanku, tapi dia tak akan salah meniru. Itu quote yang sangat aku suka akhir-akhir ini 😊. Baiklah..saya mencontohkan banyak kebiasaan baik padanya, seperti biasa sih, tapi kali ini dengan kesadaran bahwa ini bagian dari komunikasi produktif, aseeek. hehe.. Saat dia sakit kemarin, saat dia mulai lincah lagi dan memberantakan makanan ataupun mainan, saat dia bolak-balik kabur ke kamar mandi, atau saat dia naik kursi atau meja atau memasukkan apapun ke mulutnya pas saya meleng dikit,, waw.. diksi positif, KISS, intonasi, dan tatapan ramah serta doa minta kemudahan adalah senjata yang saya gunakan untuk memberinya pengertian. 

Alhamdulillah..semoga aplikasi ilmu ini segera menjadi kebiasaan baikku. Thanks a lot, bunda Septi dan rekan-rekan sayang di IIP. Semoga ALLAH SWT selalu merahmati kita semua. Salam ibu pembelajar! 😊


Kamis, 02 Februari 2017

Komprod T10 Day#5 FITRI PURBASARI Depok/Jabar

Level 1: Tantangan 10 Hari Berkomunikasi Produktif
Kelas Bunda Sayang IIP

Mengendalikan EGO sebagai Orang Tua

Saya masih sering merasa jengkel kalau keinginan saya tidak dituruti anak. Seperti pada kasus kasur tadi malam. Sang Kaka (5 th) seperti biasa kalau menjelang malam, dia akan menggelar kasur di tengah rumah: kasur normal dan kasur kecilnya. Dia sedang suka tidur disana karena langsung kena AC. Berhubung beberapa hari ini hujan lebat terus, maka saya perlu memasukkan jemuran baju yang besar ke dalam rumah. Diletakkanlah si jemuran yang penuh baju tepat di dinding bawah AC di ruang tengah kami yang tidak besar. Posisi sang jemuran tentu mengambil space kasur kecil yang biasa digelar disitu. Saya arahkan anak agar kali ini mengubah posisi si kasur kecil, dari yang tadinya di sebelah kiri kasur besar menjadi di sebelah kanannya. Karena kalau tetap di sebelah kiri kasur besar, si kasur kecil akan berada di kolong jemuran yang penuh baju. Menurut saya itu tidak indah, tapi ternyata menurut si Kaka itu lebih seru, "Kan jadi kaya tenda, Mi.", gitu katanya. Naaah mulailah kami berargumen. Saya keukeuh ingin dia mengikuti arahan saya, dia sambil bercucuran air mata ingin tetap pada kebiasaaannya atas si kasur. Mana adiknya (1,5 th) lagi agak demam, makin geramlah hati saya. Tapi saya berusaha menahan amarah. Saya mencoba mengunyah situasi itu sambil menyusui si adik dan melirik sang Kaka yang sedang membereskan ulang kasur yang sudah saya set pada posisi yang saya inginkan sebelumnya. "hemmh..ini bukan hal yang prinsip, ngapain berdebat, mau kasur disini, disana, gak dosa, ndak bahaya juga, toh baju-baju di jemurannya ga basah, karena sudah dikeringkan di mesin cuci. It's totally safe!. OK deh, tak usah memaksakan kehendak." batin saya.

Selesai menyusui si adik, saya menghampiri sang Kaka, dia mengajak bercanda tapi saya masih ogah tersenyum. Astaghfirulloh, kemudian saya menyesal saat melihat ekspresinya yang menyiratkan sesuatu. Saya harus mengendalikan ego saya sebagai orang tua. Pada hal yang tak melawan prinsip Islam, be flexible. Laa taghdob walakal jannah.

Aaaah..besok harus lebih baik!! Tantangan ini sungguh besar, tapi insyaAlloh bisa dikuasai. Allohumma yassir.

Selasa, 31 Januari 2017

Komprod T10 Day#4 FITRI PURBASARI DEPOK/JABAR

Level 1: Tantangan 10 Hari Berkomunikasi Produktif


Berpikir Sebelum Berucap

Praktek komunikasi produktif saya hari ini seputar seni pemakaian diksi yang positif. Sesadar mungkin menghindari kalimat dan pikiran negatif. Saya kemudian mentransfernya saat berkomunikasi dengan adik tercinta. Alhamdulillah semoga menjadi contoh yang baik.

Well, dengan anak, seni komprod yang terus dilatih masih seputar KISS (tentu bersinergi dengan seni diksi), intonasi dan bahasa tubuh yang ramah. Subhanalloh, setiap hari ada saja scene yang menjadi medan tempur saya dengan senjata komprod itu. hehehe.. Ya tentu saja itu semua di setting Allah sebagai fasilitas meraih keterampilan berkomunikasi produktif. hihiii.. so, senyumin saja. 😊

Pada forum keluarga, saya menceritakan episode siang tadi. Saya sampaikan betapa membanggakannya Sang Kaka saat tanggap terhadap adik yang kesulitan membuka kalung saat umi sedang sholat. Juga betapa kerennya kaka menemani adik bermain di kamar, saat umi sedang ngeles di ruang tengah. Saya curhat kepada suami bahwa saya memang harus kerja keras merecall materi komprod sebelum mengeluarkan kata-kata. Menggunakan kaidah 7-38-55. Friendly body language works better than words. Mikiiir dulu, baru ngomong. 😄 

Hemmh..mencoba menganalisis suasana harian kami di rumah: Suasana nyaman berkomunikasi dengan anak didapat jika Ibu sudah selesai dengan urusan dapur lebih dini.. hihiii.. So, saya harus disiplin melakukan jadwal yang sudah dibuat sejak matrikulasi. 
Bismillah..


Sabtu, 28 Januari 2017

Komprod T10H Day#2 FITRI PURBASARI Depok/Jabar

Level 1: Tantangan 10 Hari Berkomunikasi Produktif

ANAK CAPER

Di forum keluarga kami malam ini, saya meminta maaf kepada kedua anak tercinta. Saya menyesali sikap saya seharian ini yang cenderung kurang bersahabat pada mereka. Entah karena tingkah mereka yang over dari biasanya, atau karena saya yang kurang tidur semalam. Tapi sepenuhnya saya sadari itu karena kelemahan saya. 

Sore tadi adalah jadwal pengajian kelompok saya di rumah. Entah karena teman sebayanya tidak datang, Si Kaka (5 th) jadi caper alias cari perhatian kepada teman-teman ngaji saya. Saya merasa kalimat dan tingkah capernya itu agak mengganggu forum kami, maka beberapa kali saya memandangnya tajam sambil memperingatkannya dengan kalimat agak tegas, "Ka, tolong! Umi lagi ngaji dulu yaa, kaka di kamar dulu mewarnai atau main ya!" Si Kaka agak enggan, tapi mungkin berusaha mengalihkan perhatian ke mainannya agar tak mengganggu forum uminya. Selanjutnya, saya berusaha untuk tak menghiraukannya. Hemmh.. saya cukup menyesal bersikap demikian, dan tak antisipatif dengan sikapnya yang seperti itu. 

Selain itu, penyesalan pun saya rasakan dari pelitnya saya mengucapkan terima kasih pada Si Kaka. Padahal kuingat-ingat, hari ini dia cukup banyak membantu saya mengurus persiapan ngaji dan menghandle adiknya. Saya hanya bilang sekilas, "Ka, maafin umi ya tadi agak kasar ke kaka." Dan dijawabnya pula, "Iya mi, maafin Kaka juga yaa.". Sampai barusan dia tertidur cepat karena tidak bobo siang, saya belum bersikap ramah seperti seharusnya karena sibuk menjawab pesan yang masuk di hp. hemmh..menyesallah saya saat melihat raut wajahnya yang sudah terlelap.

Pun kepada adiknya. Barusan pas ngelonin Dede (1,5 th), saya minta maaf padanya atas sikap saya yang kasar tadi siang. Dia yang semakin aktif meraih ini itu, jumpalitan sana sini membuat saya kewalahan. Beberapa kali saya menariknya dengan kasar tadi siang, disertai nada tinggi yang menyakiti. Astaghfirulloh..

Sikap saya yang minus ini tak boleh terulang lagi besok. InsyaAlloh besok lebih baik lagi... lebih waras lagi.

Selasa, 24 Januari 2017

Komprod_T10H_day1_FITRI PURBASARI_DEPOK/JABAR

Level 1: Tantangan 10 Hari Berkomunikasi Produktif

KOMUNIKASI KELUARGAKU

Alhamdulillah selama ini, kami sudah memiliki forum keluarga setiap malam setelah suami sampai di rumah. Dan dengan ilmu komunikasi produktif dari Bunda Sayang ini insyaAllah akan semakin mengokohkan forum keluarga kami. 😊

Pada hari ini, alhamdulillah Allah memberi tantangan yang menjadi jalan saya mempraktekkan ilmu bunsay kali ini. Begini ceritanya. deng deng deng....
Sepulang sekolah, Si Kakak mengambil kertas kosong dan spidolnya. Katanya mau bikin peta mencari binatang. Mulailah dia menggambar. Daaan seperti biasa, Sang Adik ikut-ikutan. Adik mengambil satu spidol dan ikut menggambar di kertas kakaknya. "IIIIH ADEEEE!!" teriak Si Kakak. Dia marah, tak ridho, lalu mulai histeris. Saya pun beraksi. Saya perhatikan intonasi dan merangkai diksi dengan KISS. Saya sampaikan "Kakak sayang, ade pengen bantu kakak, ade pengen sama-sama gambarnya. Mungkin ade pengen belajar gambar sama kakak karena gambar kakak bagus." tentu dengan suara tenang sambil mengalihkan perhatian adiknya agar menjauh dari Si Kakak "Yuk, ade disini aja yaa gambarnya. Niih umi buatkan bunga." Si Kakak cukup tenang tapi ingin menngganti kertasnya dengan yang baru. Dan lima menit berlalu. Sang Adik menghampiri kakaknya lagi. Dan..cret! Dia mencoret lagi gambar kakaknya. Again... Sang Kakak teriak dan histeris lagi. Kali ini lebih kesal dari yang tadi. "ARRRRRRGHH ADEEEE! IHH SEBELLL!" sambil meremas kertasnya. Again pula saya menyampaikan ulang kalimat-kalimat babak pertama. Tapi Kakak udah kesel banget sama adiknya. Si Kakak memelukku dan menangis. Jurus kedua, saya peluuuuk dia dengan tulus, kali ini tak ada rasa emosi hehehe.. Saya ajak dia mendekat ke dinding yang penuh coretan yang Kakak buat waktu dia berumur 2 tahun. Saya ajak dia mengenang masa itu. "Adek itu lagi pengen belajar nulis, Ka. Sama kayak Kakak dulu. Kakak suka nulis di buku ngaji umi, umi biarin. Niih, ini gambar kakak waktu kecil. Kakak seneng bikin lolipop, umi biarin kakak belajar nulis di dinding ini, karena nanti bisa dicat lagi. Lihat, gambarnya kaya coretan kan ya? ini karena kakak baru belajar. Sama kaya ade sekarang. Jadi gak apa-apa yaa kalo adek mau belajar gambar sama kakak. Biar ade juga pintar kaya kakak. ok? Yuk gambar lagi, nanti umi bantuin." And..alhamdulillah..dia sangat menerima ucapanku. Dia pun mengambil kertas baru dan memulai lagi gambar ketiganya denga perasaan tenang meski nanti Adik nyamperin lagi. 😉



So, hari ini saya belajar merubah sumbu emosi saya. Kali ini lebiiih panjang. Komunikasi saya kali ini cantik dengan intonasi kedamaian dan diksi yang positif. Alhamdulillah. 😍

Pas suami pulang, saya ceritakan kejadian menarik ini kepadanya. Dan memberikan apresiasi kepada Kakak yang sudah bersikap baik seharian ini. Perbincangan kami berlanjut pada kegiatan kakak siang tadi di sekolah. Lalu saya mengajarinya mendongeng dari balik gorden dengan boneka-boneka kecil. She loves storytelling! Setelah itu, dengan perasaan positif, anak sulung kami bersiap tidur, meminta diselimutin dan dicium keningnya. Tak lupa ritual baca shiroh Muhammad Teladanku sebagai pengantar tidurnya. 

Alhamdulillah..it was so beautiful!  

Resume Diskusi: Desain Global Sekolah Unggul

 Bismillah.. alhamdulillah malam ini bisa bergabung di diskusi online Kelas 100 Guru PAUD berjudul Desain Global Sekolah Unggul. Pematerinya...