Tampilkan postingan dengan label #melatihkemandiriananak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #melatihkemandiriananak. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Maret 2017

T10 Level #3 Day #4 Fitri Purbasari Depok

Tantangan 10 Hari Projek Keluarga
Kuliah Bunda Sayang IIP Level 3

PISCOKJU by Chef Rafifa

Hari ini Kakak memilih membuat piscokju (pisang keju coklat) karena memang sudah lama tak bikin cemilan itu. Hehe. Tujuan dari kegiatan ini selain menghilangkan "ke-jijik-an"nya terhadap yang lengket-lengket, juga sebagai kegiatan mengisi waktu sekolahnya yang dia lewatkan karena masih dalam masa penyembuhan sakit mata. Yaah, sejak​ Sabtu dia terkena sakit mata lalu menular kepada kami semua. ๐Ÿ˜ท Semoga besok sudah pada sehat. Aamiin.

Kakak sebagai chef meminta bantuan saya menyiapkan alat dan bahannya. Abi dan adiknya adalah pelanggan utama. Hehe karena mata abinya masih cukup parah. Jadi dia harus rehat dan tak bisa membantu kami. Sementara itu sang Adik seperti biasa, sedang tidur. ๐Ÿ˜

Saya mencontohkan cara mengupas lisang da memotongnya. Kakak mengikuti. Awalnya dia enggan mengupasnya, karena pisang kepoknya yang buruk rupa. ๐Ÿ˜‚ Tapi saya support dia agar mencobanya. Berhasil, meski cuma 2 buah. Hahaha. Di bilang, "Umi aja yang ngupas, kakak yang motong ya." Baiklah... Itu yang terjadi selanjutnya. Setelah semua pisang dipotong, saya yang pergi ke dapur untuk memanggang pisang di atas tefon. Then, Kakak sangat antusias, karena bagian menghias pisaaang!! Yeay! ๐Ÿ™Œ Saya inisiasi menyusun pisang dengan tema orang, lalu dia terinspirasi. Dia bikin pisang pelangi. Bentuknya saja.. hihii.. dikasih toling keju dan meses. Walaaa. This is it! Piscokju! ๐Ÿ˜


So far, dari sekian projek yang kami lakukan, saya melihat, Kakak (5 th) itu orang yang detail, perfectionist, creative and confident. Dia selalu punya alasan dengN pilihannya. Kadang saya suka keceplosan membandingkannya dengan selera saya hehehe dan itu membuatnya kemudian tak pede. Ini..disini saya harus lebih bisa menahan diri. ๐Ÿ˜€

Eh, jujur saya lupa. Kenapa fokusnya ke Kakak saja yaa..hihiii. Bismillah besok mulai projek sama dedek Fatimah (1,5 th) juga deh. ๐Ÿ˜‚

Salam Ibu Proesional

Kamis, 16 Maret 2017

Cemilan Rabu #4 Level #2 Kuliah Bunsay

๐ŸŽ๐Ÿ๐ŸŒCemilan Rabu #4๐ŸŒ๐Ÿ๐ŸŽ

Materi 2 : Melatih Kemandirian Anak

*Mandiri dan Tanggung Jawab*

Kemandirian dan tanggung jawab adalah dua hal yang saling mengikat dan tidak dapat dipisahkan. Karena salah satu hasil dari kemandirian itu adalah bertanggung jawab.

Tanggung jawab berarti:
1. Melakukan hal-hal yang benar semata-mata karena prinsip bukan karena orang lain yang memaksa untuk melakukannya
2. Membuat pilihan dengan bijaksana, setelah menimbang semua pilihan
3. Membuat diri dapat dipercaya dan diandalkan atas tindakan-tindakan yang dilakukan sendiri

Mengapa tanggung jawab pada anak itu penting? Ingatlah, tujuan akhir dari keseluruhan upaya yang kita lakukan dalam mendidik anak adalah memungkinkan anak-anak kita hidup tanpa kita. Bagaimana pun sayangnya dan berkuasanya kita, kita tidak bisa menjamin bisa mendampingi anak-anak sepanjang hidupnya. Suatu saat kita harus rela melepaskan anak pergi “mengepakkan sayap” mereka dan terbang meraih dunianya sendiri.

Maka dengan melatih kemandirian kepada mereka, secara tidak langsung sebenarnya orang tua juga sedang mengajarkan tanggung jawab sedikit demi sedikit sesuai dengan berjalannya waktu perkembangan anak.  Keterampilan kemandirian yang dilakukan dengan konsisten, kontinyu, disertai dengan rasa ikhlas akan menumbuhkan tanggung jawab pada anak. Orang tua yang konsisten melatih kemandirian kepada anaknya sejak dini, akan mendapatkan sebuah perjalanan hidup yang menyenangkan pada diri anaknya dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Orang tua akan menikmati proses langkah benar dan salah langkah sepanjang kehidupan anaknya, karena setiap tahapan yang dilalui membawa anak ke tingkat kemandirian dan tanggung jawab yang lebih tinggi.

Bila kita melihat kasus-kasus mengenai anak-anak yang "bermasalah", maka kita akan ditunjukkan bahwa sebenarnya anak-anak seperti itu kurang mempunyai akuntabilitas. Mereka tidak memahami apa artinya bertanggung jawab terhadap tindakan-tindakan mereka dan akibat-akibat yang harus ditanggung dari tindakan itu. Ketika seorang anak harus mempertanggungjawabkan tindakan-tindakannya, dia belajar lebih dari sekedar menyadari bahwa perilakunya  mempunyai konsekuensi bagi dirinya dan orang lain. Dia juga belajar bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri di dunia ini, mereka saling membutuhkan satu sama lain, mereka saling memiliki ketergantungan. Bila kita bertanggung jawab terhadap segala tindakan yang kita lakukan, sesungguhnya kita telah membuat sebuah perubahan dalam hidup ke arah yang lebih baik. Bukankah sebuah perubahan besar dimulai dari hal kecil? Maka mulailah melakukan hal kecil dalam kehidupan buah hati kita yaitu dengan membangun kemandiriannya.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

๐Ÿ“šSumber Inspirasi:

William Sears, M.D., Anak Cerdas: Peranan Orang Tua dalam Mewujudkannya, Emerald Publishing, Jakarta 2004

Marcus Rio Y., Cara Menumbuhkan Kemandirian dan Tanggung Jawab Pada Anak (2-6). www.antonrio.wordpress.com, 2010

Tri Pujistutik, S.Pd., Perilaku Mandiri, www.4stoety.wordpress.com, 2014

REVIEW T10 LEVEL #2 BUNDA SAYANG MELATIH KEMANDIRIAN ANAK

_Review Tantangan 10 Hari Kelas Bunda Sayang #1 Materi #2_

*MELATIH KEMANDIRIAN ANAK*

Bunda, terima kasih sudah menyelesaikan tantangan 10 hari tentang “MELATIH KEMANDIRIAN ANAK”.

Pekan ini kita akan review berbagai pola kemandirian yang telah Bunda lakukan bersama dengan anak-anak di rumah.

 Yang pertama, kami akan mengapresiasi bunda semua  yang sudah komitmen melakukan tantangan 10 hari ini :

๐ŸŽ– Selamat untuk para Bunda, yang berhasil menyelesaikan tantangan 10 hari ini sampai dengan tanggal 11 Maret 2017, dengan berbagai kondisi, ada yang konsisten setiap hari, lompat-lompat,maupun dirapel dan minta dispensasi.

Bunda berhak  memperoleh badge *YES,  I CAN*๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช

๐ŸŽ–๐ŸŽBagi  Bunda  yang berhasil menyelesaikan tantangan di game level #2 ini sampai tgl 11 maret 2017 , praktek setiap hari dan baru bisa posting / dikumpulkan portofolionya dengan cara dirapel atau lompat-lompat,

 Bunda berhak mendapatkan tambahan badge

*You’re EXCELLENT*

Alfa Adistia Afandy
Andi Sri Astiana
Anugrah Fadreny Zab
Aprillia Rhamadhany
Arifatul Wahyu
Arrissa Fauzia Rachman
Ayrisni
Azwita Healthy
Betty Arianti
Citra Ray Sanky Augustin
Damayantie Arsan
Defi Sulistyana
Desy Kusuma Dewi
Dina Riandani
Dineu Maulani
Dwi Indah
Dyas Purnamasari
Efi Femiliyah
Eka Susanti
Endah Tri Hastuti
Enny Prima Putri
Ety Wahyuni
Evi Kumala Kusumastuti
Farida Ariyani
Fahrina Misbah
Fatkhiatur Rohmah
Febrin Nur Aisyah
Fiena Rifanty Arifin
Finny Hiraini Noor Azizah
Fitri Purbasari
Fitriana Utami Hatta
Fitriani Sri Winarsih
Friska ike pratama
Gina Hendraswati
Handayani Retno Hapsari
Hardianti Asri
Henny Wilda
Heryuni
Ida Rezeki B Butarbutar
Iis Rahmawati
Ilva Nur Indah Sari
Ingrid Maisaroh
Insania Zakiyah
Intan Dwiningtyastuti
Irma Puspitasari
Irma Suryani lubis
Ismi Fauziah
Ismiaty Fadliha
Izzatul Muafiroh
Karina Nastiya
Kartika
Kartika Rizki Dwijayanti
Kishartati
Lendy Kurnia Reny
Liya Wahyuni
Maharani Purnamasari
Maya O. Rismala
Mekarisma Fatmasari
Milfa Yeni
Mustika Amalia Wardaty
Nesri Baidani
niken Marettika Konrat
Nina Rokayah
Nourma Devita Pratiwi
Novy Novita Pandansari
Nur Hadijah Yunianti
Nur Hayati
Nur'aini
Nurhalita Diny
Prajwalita Cininta Nareswari
Prima Dona Dewi Yanuari
Puspaning Dyah FC
Putri Nur An Nissa
Ratna Palupi
Ratna Zahara
Ria Arianty
Ria Nurfitriani Dewi
Rifa Srihidayati
Rima Melanie Puspitasari
Rini Mardia
Risa Ferina Nita Budiarti
Rizki Senen
Sapta Handayani
Saroh Darojah
Savira Mega Putri
Shanty Irawati
Shofiyah Nashirotul Haq
Sinardi
Siti Aisah
Siti Khoiriyah
Siti Rohmahwati
Sri Prihatiningsih
Sri Wahyuningrum
Sri Wulandari
Srieheny Kania Dewi
Susi Firdausa
Tahiyatur Ratih
Tamia Dian Ayu Faniati
Tri Putri Yuniarti
Trian Sukma Ramdhani
Tsalits Najatul Baroroh
Ummi Haajiroh Mustajab
Uswatun Hasanah
Wahyu Lissetiarani
Wenny Wahyuningrum
Widitra Maulida
Windhy Pratiwi
Wiwik Wulansari
Yessy Liana Putri
Yulianti
Yusrika Syarif
Zaenab Dwi Ujiani
Zuhriyyah Hidayati


๐ŸŽ–๐ŸŽ๐ŸŽ Daaan…inilah Bunda-Bunda yang berhasil konsisten menjalankan tantangan 10 hari secara berturut-turut sampai akhir, baik praktek maupun mempostingnya setiap hari tanpa jeda,

Bunda berhak menyematkan badge

*You’re OUTSTANDING PERFORMANCE*

Fadilla Febrina Hayatussalam
Fitrah Syawaliyah
Putri Kunanti
Shakina Daulika Prusdani
Sindu Atmalia
Tika Rosida Yuliati
Vivi Ermawati

Selamaat, selain dapat bagde tambahan,  tulisan anda juga berhak untuk diikutkan di seleksi tulisan bunda sayang tingkat nasional, daaan satu lagi dapat kesempatan menjadi narasumber untuk share kesuksesan di grup lain.


Sekali lagi KONSISTENSI masih diperlukan di tahap bunda sayang ini, karena Konsistensi adalah sebuah usaha untuk terus menerus melakukan sesuatu sampai  tercapai tujuan akhir.

Sikap/sifat yang gigih dan rajin ini akan menjadikan seseorang yang biasa-biasa menjadi luar biasa.


KEMANDIRIAN erat sekali kaitannya dengan KONSISTENSI, seberapa konsisten kita melatih anak-anak untuk mandiri, akan berpengaruh pada  seberapa besar tingkat keberhasilan kita melatih anak-anak untuk menghadapi kehidupannya kelak tanpa bergantung pada orang lain.


Anak mandiri adalah anak yang mampu berpikir dan berbuat untuk dirinya sendiri.

Seorang anak yang mandiri biasanya aktif, kreatif, berkompeten di bidangnya, tidak tergantung pada orang lain dan tampak spontan. Inilah beberapa  life skill yang perlu dimiliki oleh anak.


Ketika hari ini bunda bersusah payah melatih kemandirian anak-anak kita, maka

*_Jangan pernah menyerah, walau kadang kita merasa lelah_*


Hasilnya akan bunda lihat dalam beberapa tahun mendatang, tidak seketika. Sehingga hal inlah kadang yang menggoda keteguhan kita untuk bersungguh –sungguh mendidik kemandirian anak kita.


Karena kalau kita berhenti melatih kemandirian anak akan muncul perilaku negatif yang dapat menjauhkan anak dari kemandirian di usia selanjutnya.


Gejala-gejala tersebut seperti contoh di bawah ini:
a. *Ketergantungan disiplin kepada kontrol luar, bukan karena kesadarannya sendiri* Perilaku ini akan mengarah kepada perilaku  tidak konsisten.

b. *Sikap tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya, anak mandiri bukanlah anak yang lepas dari keluarganya melainkan anak yang tetap memiliki ikatan batin dengan keluarganya tetapi tidak bergantung pada keluarganya*


c. *Sikap hidup kompromistik tanpa pemahaman dan kompromistik dengan mengorbankan prinsip* Gejala masyarakat sekarang yang meyakini segala sesuatunya dapat diatur adalah bentuk ketidakjujuran berfikir dan bertindak serta kemandirian yang masih rendah.


Kalau melihat gejala-gejala di atas, menyelesaikan tugas kemandirian anak  sekarang, sifatnya menjadi wajib dalam membangun peradaban dunia ini. Karena merekalah nanti yang disebut generasi penerus pembangun peradaban.


Berikut beberapa indikator yang bisa bunda lihat untuk melihat tingkat keberhasilan anak-anak kita secara global.

☘Ciri khas kemandirian anak :
a. *Anak mandiri mempunyai kecenderungan memecahkan masalah daripada berkutat dalam kekhawatiran*

b. *Anak mandiri tidak takut dalam mengambil resiko karena sudah mempertimbangkan hasil sebelum berbuat*

c. *Anak percaya terhadap penilaian sendiri, sehingga tidak sedikit-sedikit bertanya atau minta bantuan*

d. *Anak memiliki  kontrol yang lebih baik terhadap kehidupannya*


Menurut Masrun dkk dalam bukunya jurnal kemandirian anak, membagi kemandirian dalam lima komponen sbb :

a. *MERDEKA*, anak bertindak atas kehendak sendiri, bukan karena orang lain dan tidak bergantung orang lain

b. *PROGRESIF*, berusaha mengejar prestasi, tekun, terencana dalam mewujudkan harapannya.

c. *INISIATIF* , mampu berpikir dan bertindak secara original, kreatif dan penuh inisiatif


d. *TERKENDALI DARI DALAM*,  individu yang mampu mengatasi masalah yang dihadapi, mampu mengendalikan tindakannya serta mampu mempengaruhi lingkungan .

e. *KEMANTAPAN DIRI*, memiliki harga diri dan kepercayaan diri, percaya terhadap kemampuan sendiri, menerima dirinya dan memperoleh kepuasan dari usahanya.


Kemandirian-kemandirian tersebut di atas akan sangat penting kita persiapkan hari ini, karena anak-anak kita nanti akan memasuki pendidikan abad 21, yang memerlukan ketrampilan kemandirian yang  lebih untuk mencapainya.

_Sumber Bacaan :_
_Masrun dkk, Jurnal Kemandirian Anak, diakses melalui www.lib.ug.co.id, pada tanggal 13 Februari 2016_

_Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Melatih Kemandirian Anak, Gaza Media,2016_

_Trilling dan Fadel, 21st century skills, 2009_

Rabu, 08 Maret 2017

Cemilan #3 Melatih Kemandirian Anak

๐Ÿฎ๐Ÿ“๐ŸตCemilan Rabu #3๐Ÿต๐Ÿ“๐Ÿฎ

Materi 2 : Melatih Kemandirian Anak

*Ayah Bunda, Biarkan Anakmu Berproses*

Jika anak kerap meminta secara berlebihan dan selalu ingin dilayani, layaknya kita waspada. Apa yang terjadi pada diri anak kita kemungkinan sinyal bahwa ia tidak tumbuh menjadi anak yang mandiri. Namun jangan pula terburu-buru menyalahkan anak. Sebab apa yang terjadi tak lepas dari bagaimana kita mendidiknya.

Melatih anak mandiri memang bukan persoalan gampang. Seringkali orang tua bersikap *ambivalen* dalam menghadapi anak. Di satu pihak mereka menuntut anak menjadi mandiri, namun di sisi lain orang tua kurang berteguh hati untuk memberikan kesempatan pada anaknya untuk mencoba. Padahal keyakinan diri anak-anak tumbuh ketika mereka menyelesaikan aktivitas  kemandirian mereka. Bagi anak, dengan memberikan kontribusi dalam keluarga, mereka melihat dirinya sebagai anggota yang penting dari "tim" keluarga. Di samping itu, ketika mereka menguasai keterampilan baru mereka merasa berkompeten.

Sikap bijaksana orangtua memang sangat diperlukan dalam membentuk kemandirian anak. Orang tua tidak perlu bersikap terlalu melindungi. Berikanlah anak kebebasan untuk mengungkap segala keinginan dan pikirannya. Orang tua juga tidak perlu malu atau gengsi jika anak melakukan kesalahan.

Ukuran kebenaran bagi anak tidak dapat dilihat dari kacamata orang dewasa. Lagi pula dari kesalahan itu, anak akan belajar lebih banyak. Ingatlah, bahwa orang tua tidak selalu ada di samping anak untuk membantunya seumur hidup. Karena itu, ketika anak belajar mandiri, tunjukkanlah bahwa orang tua memperhatikan hal-hal yang mereka lakukan. Pujian dan dorongan akan memotivasi anak dan membuat mereka merasa bangga.

Anak-anak senang ketika mereka diliputi kehangatan yang mengalir dari persetujuan orang tua yang selalu mereka cari. Anak juga berharap orang tua memberikan tanggung jawab kepada mereka, Karena bila larangan itu hadir, kelak anak akan menjadi bingung dan kehilangan respek terhadap orang tua yang tidak memberikan kepercayaan dan tanggung jawab.
Maka Ayah Bunda biarkanlah anak  mandiri dan bertanggung jawab, meskipun hasilnya belum maksimal, terus fokus mendampingi anak berproses secara bertahap.


Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/


๐Ÿ“šBahan Inspirasi :

_Nina Chairani & Nurachmi W., penyunting. Biarkan Anak Bicara, Jakarta. Republika, 2003_

_William Sears, M.D., Anak Cerdas: Peranan Orang Tua dalam Mewujudkannya, Emerald Publishing, Jakarta 2004_

Selasa, 07 Maret 2017

T10_Level2_Fitri Purbasari_Depok_Day#9

Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian
Kuliah Bunda Sayang IIP Level #2

ADEK, KAKAK, WOW!

Mulai dari cerita Kakak Rafifa (5 th) dulu aah... Hari Selasa ini, Kakak bikin sarapan sendiri loh, yaitu roti meses. Kakak juga bikin roti sekalian untuk bekal ke sekolah. Semoga semangatnya terus terpelihara ya, Kak. ๐Ÿ˜‹


Pekan ini adalah pekan skill kedua bagi kakak, setelah fokus pada "Aku Senang Mandi Sore". Dalam melatih Kakak menyiapkan makannya sendiri, saya disarankan oleh suami agar bertahap, misal satu kali dulu sehari pas sarapan. It's good idea! Ide inipun mengingatkan saya juga agar tak sekedar fokus pada prakteknya tok, tapi menyertainya dengan memberikan motivasi baik secara langsung maupun tidak mengenai kenapa Kakak harus bisa menyiapkan makan sendiri. Strategi storytelling dari buku atau based on pengalaman dari sumber sekitar sangat ampuh bagi Kakak. Secermat mungkin saya harus bisa mengkaitkan peristiwa yang muncul di lingkungan agar dia mandiri dalam skill yang sedang dilatihkan maupun yang sudah. Ini akan menjadi motivasi sekaligus penguatan.

Sekarang tentang Dedek Fatimah (1,5 th). Wow! Dia sedang asyik dengan kakinya. Dia pengen tahu gimana kalau kakinya menginjak makanan di piring. hihihiii. Sayang saya gak bisa ambil fotonya karena harus riweuh mengatasinya. hehe.. Ya begitulah, ada saja tingkah anak ini yang sekilas tentu bisa menaikan tensi, tapi kalau dilihat dengan mata hati dan akal sehat ini adalah hal yang amazing. Dia hanya ingin tahu segala sesuatu. That's so natural! Kita yang harus mengakomodir dan mengarahkan rasa ingin tahunya itu dengan baik dan benar. Semoga Allah senantiasa membimbing saya agar sabar, ikhlas dan waras. ๐Ÿ˜‚

Salam Ibu Profesional!

Minggu, 05 Maret 2017

T10_Level2_Fitri Purbasari_Depok_Day#7

Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian
Kuliah Bunda Sayang IIP Level #2

Dedek Bosan Pake Sendok


Lihat, Moms! Fatimah (1,5 th) yang sedang belajar makan sendiri sedang bosan memakai sendok. Saya baru ngeuh selama ini saya sodorin dia makan pakai sendok atau garpu, mau itu makanan kering maupun kuah. ๐Ÿ˜ Di hari ketujuh ini, dia rupanya penasaran menyendok nasi berkuah pakai tangannya. hihihiii..seru ya, Dek? ๐Ÿ˜ƒ Yah, again saya perkuat mental melihatnya. hahahaha.. Dia sedang bereksplorasi. Kalau dia tak mencoba, mana dia tahu, kan? ๐Ÿ˜‹

Moms, dalam mengeksekusi tantangan "Makan Sendiri" buat Fatimah ini, ada konsekuensi yang harus ditanggung. Biasanya, Fatimah ganti baju maksimal 3 kali sehari, yakni 2x mandi & 1x bangun tidur siang kalau baju basah oleh keringat. Tapi selama training makan sendiri ini yah minimalnya jadi 6 kali sehari. ๐Ÿ™ˆ ๐Ÿ˜‚
But, that's OK, Moms! No problemo! Pengalaman yang didapatnya sungguh lebih berharga daripada baju-baju yang kotor itu. Bukan hanya pengalaman bagi Fatimah saja, tapi pelajaran berharga juga bagi saya. Ini adalah training konsistensi atas ilmu dan hidayah yang Allah berikan pada saya. Semoga Allah memudahkan saya mengemban amanahNya. Do'a yang sama juga buat Moms semua. ๐Ÿ˜Š

Well, apa yang dilakukan Kakak Rafifa (5 th) hari ini? Yup, dia mulai melakukan latihan kemandirian untuk menyiapkan makannya sendiri. Bukan masak sendiri ya, Moms. Skill ini belum saya mulai, hehehe. "Menyiapkan Makan" yang saya maksudkan adalah setiap waktu makan, Kakak akan mengambil alat makan sendiri, lalu mengambil nasi dari magic com dan mengambil lauk yang sudah saya siapkan di dapur. Karena selama ini dia langsung menerima makanan "siap saji"nya dari saya. Inilah yang akan menjadi fokus saya pekan ini. Seolah-olah aktivitas ini begitu mudah ya Moms, sepele ya?? Padahal cukup sering juga ya anak-anak malas makan hanya karena malas mengambilnya sendiri. This is based on my childhood experience. hihiii ๐Ÿ˜ Komitmen ini berlaku juga untuk camilan, bukan hanya makan berat saja. Jadi saya katakan padanya, "Kalau Kakak mau biskuit atau snack lainnya, ambil sendiri di box atau di kulkas ya." Hari ini baru hari perkenalan hehe.. But so far, Kakak sudah OK banget bikin susu sendiri, karena dia merasa kalau sama saya atau abinya suka kurang enak katanya. hehhe.. It's a good point! ๐Ÿ˜‚

Salam Ibu Profesional.




T10_Level2_Fitri Purbasari_Day6

Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian
Kuliah Bunda Sayang IIP Level #2

 Hari Sabtu Ini, Ummi Ngaji
Dedek Makan Jelly, Kakak Tak Mandi

Bagus kan pantunnya? hehehe.. Ya, hari Sabtu ini jadwal ngaji kelompok saya di rumah. Saya membuat jelly nut**jell untuk snack ngaji. Dedek Fatimah (1,5 th) pun senang mendapat jelly sebagai camilannya. Ini kali keberapa dia makan jelly. Tapi biasanya saya suapin. Dia seneng banget saat saya sodorkan wadah berisi jelly hijau bening itu. Sampai dia gak sabar merebut si garpu saat saya potong-potong jellynya. Dia memilih pakai garpu saat saya tawari sendok. Karena tekstur jelly yang kenyal dan licin, dia cukup kesulitan menggarpu jellynya. Saya cukup gemes ga sabar pengen membantunya. Tapi,,ingat dong sama materi Adversity Quotient yang masih hangat. hehehe.. tahan diri, dia harus berani mengatasi tantangan itu. Dedek pasti bisa! Dan, yeay! Alhamdulillah meski sambil manyun-manyun, dia sukses menggarpu dan melahap jellynya! ๐Ÿ˜‹ ๐Ÿ™† Coba deh lihat disini videonya.


Kakak Rafifa (5 th) hari Sabtu ini lagi anget badannya. Ini hari kedua dia sakit. Malam Jum'at dia demam. Kami pikir dia mau pilek lagi karena kemaren ada ingusnya. Tapi ternyata mungkin karena dia panas dalam. Kami dapati sariawan di bibir bawahnya. Karena merasa tak enak badan, Kakak minta untuk absen dulu mandi sore. "Kakak mandi siang aja ya, Mi. Kalau sore dingin. Tapi tolong bikinin air angetnya.", katanya. Akhirnya hari Sabtu ini dia mandi cuma sekali, yaitu jam 11 siang. Alhamdulillah Si Kakak ini anak yang mudah dikondisikan. Kalau melenceng-melenceng dikit, ya saya dan abinya perlu meluangkan waktu spesial untuk berbicara dengannya dari hati ke hati, dan dikuatkan dengan storytelling. Dan dia pun akan kembali on the track. It's such a great blessing! ๐Ÿ’–  Besok insyaAllah besok kakak mulai masuk ke skill menyiapkan makan sendiri, karena selama ini masih saya sodorkan.



Jumat, 03 Maret 2017

T10_Level2_Fitri Purbasari_Depok_Day5

Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian
Kuliah Bunda Sayang IIP Level #2

"Tak Usah Dibantu, Ummi!"

Mungkin itu kalimat yang bisa saya terjemahkan dari gerakan tangan Fatimah (1,5 th) yang menghalau tangan saya saat saya megangin mangkoknya agar tak geser-geser. Alhamdulillah di hari kelima ini dia sudah semakin enjoy makan sendiri. Setiap kali waktunya makan dan saya sudah siap menyajikan piringnya, dia antusias meraih piring makannya itu. Seolah dia sudah faham bahwa makan sendiri adalah tanggung jawabnya. ๐Ÿ˜Š

Sebenarnya anak-anak batita itu memang senang bereksplorasi ya. Apa-apa maunya sendiri. Cuma..emaknya saja yang seringkali tak tega. Lebih tepatnya mungkin tak tega kalau saya harus kembali membersihkan lantai dan mengganti baju anak yang berantakan oleh makanannya. ๐Ÿ˜€
Jadi sesungguhnya, melatih batita makan sendiri itu adalah melatih kesungguhan dan kesabaran Sang Emak dalam menyiapkan anaknya untuk mandiri, terampil dengan urusan pribadinya. Anak sangat cepat belajar dalam hal ini, sedangkan sang Emak seringkali masih tergantung mood yang berhembus. Hadeuuh!! Ini indikator emak yang labil. hahahaha. Aahh..ini tak boleh berlaku lagi kalau ingin menjadi Ibu Profesional. Ibu harus cerdas mengendalikan mood agar selalu berada dalam kondisi HAPPY, BAHAGIA. Mom's Happy, Kid's Happy, Dad's Happy! ๐Ÿ’–


Kakak Rafifa (5 th) pun sudah OK dengan aktivitas mandi sorenya. InsyaAllah besok akan mulai dengan list selanjutnya: Menyiapkan makan sendiri. ๐Ÿ’ƒ

Salam Ibu Profesional.



Kamis, 02 Maret 2017

T10_Level#2_Fitri Purbasari_Depok_Day4

Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian
Kuliah Bunda Sayang IIP Level #2

Emak, Jangan Lelah!

Ini hari keempat, pagi-pagi emak masih in a good mood. Mendampingi Dedek sarapan pisang dan minum susu kotak. Seperti biasa, Dedek dibimbing baca do'a sebelum makan dan diminta memegang makanan dengan tangan kanan. 

Hari ini udara terik sekali saat kami pulang dari lembaga tahsin naik ojek muslimah (Ojesy) dan menjemput Kaka dari TK. Saat sampai di rumah, badan saya sudah sangat lelah. Rasanya pengen tidur....tapi bocil masih ON! ๐Ÿ˜‘
Saya yang sudah rebahan di kasur tak bisa memejamkan mata dengan tenang. Saya gak bisa meninggalkan tidur Fatimah (1,5 th) yang masih aktif bermain. Bisa-bisa terjadi hal yang tak diinginkan. 

Akhirnya saya pun tetap berjuang untuk melawan rasa kantuk yang berat. Tapi...kemudian tingkah polah anak-anak mengusik voltage ku ⚡. Ternyata badmood karena kelelahan membuat pandangan waras terganggu. Waktunya Fatimah makan pun serasa menguji Iman. Sikap dia seolah memancing di air keruh. Astaghfirulloh.. Atmosphere emak yang negative membuat reaksi negatif pula dari anak-anak. Astaghfirulloh hari ini, again, saya diingatkan bahwa Emak harus menghindari kelelahan fisik, karena bisa menyulut emosi jiwa. Harus cari strategi nih. ๐Ÿƒ

Rabu, 01 Maret 2017

T10_Level#2_Fitri Purbasari_Depok_Day#3

Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian
Kuliah Bunda Sayang IIP Level 2

Makan Sendiri Itu Asik!


Ini hari ketiga fokus melatih diri membuat anak mandiri. Hari Rabu ini seperti biasa, Bu Septi menyuguhkan cemilan enak, judulnya Kemandirian Anak dan Adversity Quotient. Pernah dengar tentang Adversity quotient? hemmh.. Saya rasa saya pernah mendengar istilah ini atau mungkin baca yaa..tapi baru kali ini saya memahaminya. Adversity quotient menurut Paul G. Stoltz adalah kecerdasan menghadapi kesulitan atau hambatan dan kemampuan bertahan dalam menghadapi segala kesulitan dan tantangan dalam hidup. So, ini merupakan kecerdasan yang wajib dimiliki manusia agar bisa bertahan hidup dengan sukses, karena hidup kan penuh tantangan. Berdasarkan materi ini, orang tua harus melatih anak agar memiliki kecerdasan yang satu ini dengan level tertinggi, yaitu level dimana anak akan memandang setiap kesulitan itu bersifat sementara dan mereka mampu mengendalikan setiap kesulitan yang dihadapi agar tidak meluas pada aspek yang lain. Anak harus memiliki rasa percaya diri dalam menghadapi dan menaklukan tantangan apapun. Anak akan menjadi pembelajar seumur hidup dan memiliki jiwa pendaki yang visioner.

Dalam hal mendampingi Fatimah (1.5 th) yang sedang belajar makan sendiri, saya harus menahan diri untuk tak cepat-cepat membantunya jika dia sulit menyendok makanannya ataupun saat makanan itu jatuh berkali-kali dari sendoknya saat menuju mulutnya. Gemes yaa?? Hihihi.. tapi tahaan.. anak akan tetep semangat dengan sabar ko mengambil makanannya berulang kali. Ingat, anak sedang menaklukan tantangan! So far, alhamdulillah Fatimah sudah bisa makan sendiri makanan keringnya dalam arti tak berkuah. Besok, nampaknya saya harus membiarkannya menikmati makanan berkuah. Are you ready, Miss Fitri? hehe karena tantangannya sepertinya lebih condong ke saya. ๐Ÿ˜„

Hahahaha..tau gak pemirsa? barusan kan saya pause menulis ini karena Fatimah bangun dan pas abinya pulang. Saya siapin dulu makan keduanya dengan menu sop baso. Pas saya mau suapin Fatimah, eeeh dia minta makan sendiri, mangkoknya ditarik-tarik. Sontak ketarik juga perasaan saya pada kalimat yang saya tulis diatas. hehee.. Ya sudah deh, rencana besok jadi dimulai malam ini. Saya persilahkan dia makan sop sendiri. Sambil memperhatikan keasyikan dia makan sop dengan kostum siap tidur, saya menghujani diri dengan kalimat-kalimat penguatan:
"Tenang, baju basah bisa diganti."
"Kalem, belepotan lengket kemana-mana bisa dilap, dibersihkan!"
"Yang paling penting dia bisa mandiri makan sendiri."
"Ingat, ini demi kemampuannya mengatasi tantangan hidup!" ๐Ÿ˜‚


Video lucunya bisa dilihat disini.

Alhamdulillah, cara Allah memang unik. Niat melatih anak agar bisa makan sendiri, eeeh dikasih terus jalannya. Hehehe.. Juga jalan menjadi emak konsisten dan penyabar tentunya. ๐Ÿ˜‰

Salam Ibu Profesional!



Selasa, 28 Februari 2017

T10_Level2_Fitri Purbasari_Depok_Day#2

Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian
Kuliah Bunda Sayang IIP Level #2

Messy is Fine!

Saat mempelajari sesuatu tentu kita tak langsung mahir, tak langsung rapi, begitu juga dengan Dedek Fatimah (1,5 th) yang sedang belajar makan sendiri. Hemmmhhhh.. tarikan nafas panjang sang emak yang menghirup kesadaran dan kesabaran menghiasi momen makan princess yang satu ini. It's OK to be messy while you are learning! Hihii seperti kata iklan mah "Gak kotor, Gak belajar!". Wong Kalo lantai kotor mah bisa dilap. Well, hari kedua emak sukses sadar dan mengapresiasi Dedek dengan tepuk tangan dan pujian. "Yee, dedek hebat bisa makan sendiri!". Kemarin dia makan nasi ketan serundeng. Saya biarin dia makan sendiri makanan yang tidak berkuah. Kalau yang berkuah masih saya suapin.


Hari kedua fokus membuat Kakak Rafifa (5th) agar senang mandi sore cukup take time to negotiate. Again, sang emak menjaga agar tak bersumbu pendek. Kalimat-kalimat productive diluncurkan. Tapi mungkin dia lelet karena dia yang disuruh mandi duluan sore itu, sedangkan saya mandi sorenya di siang hari sepulang menjemputnya dari sekolah dan adiknya akan mandi setelah dia. Saya evaluasi begitu dan mencoba strategi lain untuk besok hari. Saya akan menyiapkan piyama favorit nya sebelum mandi. Semangat, IBU pembelajar!!! ๐Ÿ˜

Senin, 27 Februari 2017

T10_Level2_Fitri Purbasari_Depok_Day1

Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian
Kuliah Bunda Sayang IIP Level #2

Dedek Makan Sendiri Dan Kakak Senang Mandi Sore

Well, setelah mengernyitkan kening berhari-hari memilih keterampilan hidup apa yang masuk daftar utama tantangan level kedua ini, akhirnya sampai pada judul setoran ini. Ya untuk pekan ini saya memutuskan mendampingi Fatimah sang dedek (1,5 th) fokus bisa makan sendiri tanpa bantuan dan untuk sang Kakak Rafifa (5 th) saya akan membantunya agar konsisten mandi sore.

Sejujurnya, untuk menanamkan kemandirian pada batita memang saya rasakan agak berat hehehe..Yaa jelas sekali masalahnya ada pada diri saya yang kurang pede. Padahal sejatinya anak itu sangat cerdas. Diajarin mah pasti bisa. Mereka benar-benar good imitator. Jadi, saya mulai langkah ini dengan Bismillah... berusaha selalu berpikiran waras dan positif. Toh, kita tak akan selalu bersamanya, jadi melatihnya mandiri adalah bekal penting bagi anak-anak kita. Semangat, dedek!! InsyaAllah Umi bisa!! ๐Ÿ™Œ

Dan mengenai sang kakak, alhamdulillah di usia 5 tahunnya ini dia sudah cukup mandiri: bangun subuh, merapikan tempat tidur, sholat subuh, mengaji, mandi pagi, memilih baju sendiri, makan sendiri, belajar, merapikan buku dan mainannya setelah digunakan, dan alhamdulillah dia sudah minta menyetrika. Benar kata gurunda Bu Septi, membuat anak mandiri itu bukan sekedar melatih melainkan memberinya kesempatan.  Saya sangat bersyukur dengan ini semua. Tinggal konsistensinya saja di beberapa skill dasar yang perlu ditingkatkan seperti mandi sore dan gosok gigi sebelum tidur malam. Untuk pekan pertama ini saya ambil poin mandi sore dulu. Karena sore hari sering hujan dan cuaca jadi dingin, kadang kami malas mandi sore.hehehhee.. Ini menjadi tantangan bersama juga. So, indikatornya bukan sekedar mandi sore, tapi semangat dan senang melakukannya. ๐Ÿ˜‰

Rabu, 22 Februari 2017

Melatih Kemandirian Anak

๐Ÿ“’ *Resume Diskusi Materi "MELATIH KEMANDIRIAN ANAK"* ๐Ÿ“’
*Kelas Bunda Sayang Kordi*
Narasumber : Bu Septi Peni Wulandani
Senin, 20 Februari 2017
Pukul 20.00 - 21.00 WIB
➖➖➖➖➖➖➖
Institut Ibu Profesional
Materi Bunda Sayang Sesi #2
MELATIH KEMANDIRIAN ANAK

Mengapa melatih kemandirian anak itu penting?
Kemandirian anak erat kaitannya dengan rasa percaya diri. Sehingga apabila kita ingin meningktkan rasa percaya diri anak, mulailah dari meningkatkan kemandirian dirinya.
Kemandirian erat kaitannya dengan jiwa merdeka. Karena anak yang mandiri tidak akan pernah bergantung pada orang lain. Jiwa seperti inilah yang kebanyakan dimiliki oleh para enterpreneur, sehingga untuk melatih enterpreneur sejak dini bukan dengan melatih proses jual belinya terlebih dahulu, melainkan melatih kemandiriannya.
Kemandirian membuat anak-anak lebih cepat selesai dengan dirinya, sehingga ia bisa berbuat banyak untuk orang lain.
Kapan kemandirian mulai dilatihkan ke anak-anak?
Sejak mereka sudah tidak masuk kategori bayi lagi, baik secara usia maupun secara mental. Secara usia seseorang dikatakan bayi apabila berusia 0-12 bulan, secara mental bisa jadi pola asuh kita membiarkan anak-anak untuk selalu dianggap bayi meski usianya sudah lebih dari 12 bulan.
Bayi usia 0-12 bulan kehidupannya masih sangat tergantung pada orang lain. Sehingga apabila kita madih selalu menolong anak-anak di usia 1 th ke atas, artinya anak-anak tersebut secara usia sudah tidak bayi lagi, tetapi secara mental kita mengkerdilkannya agar tetap menjadi bayi terus.
Apa saja tolok ukur kemandirian anak-anak?
☘Usia 1-3 tahun
Di tahap ini anak-anak berlatih mengontrol dirinya sendiri. Maka sudah saatnya kita melatih anak-anak untuk bisa setahap demi setahap meenyelesaikan urusan untuk dirinya sendiri.
Contoh :
✅Toilet Training
✅Makan sendiri
✅Berbicara jika memerlukan sesuatu
๐Ÿ”‘Kunci Orangtua dalam melatih kemandirian anak-anak di usia 1-3 th  adalah sbb :
๐Ÿ‘จ๐Ÿ‘ฉ๐Ÿ‘ฆ๐Ÿ‘ฆ Membersamai anak-anak dalam proses latihan kemandirian, tidak membiarkannya berlatih sendiri.
๐Ÿ‘จ๐Ÿ‘ฉ๐Ÿ‘ฆ๐Ÿ‘ฆ Mau repot di 6 bulan pertama. Bersabar, karena biasanya 6 bulan pertama ini orangtua mengalami tantangan yang luar biasa.
๐Ÿ‘จ๐Ÿ‘ฉ๐Ÿ‘ฆ๐Ÿ‘ฆKomitmen dan konsisten dengan aturan
Contoh:
Aturan berbicara :
Di rumah ini hanya yang berbicara baik-baik yang akan sukses mendapatkan apa yang diinginkannya.
Maka jangan pernah loloskan keinginan anak apabila mereka minta sesuatu dengan menangis dan teriak-teriak.
Aturan bermain:
Di rumah ini boleh bermain apa saja, dengan syarat kembalikan mainan yang sudaj tidak dipakai, baru ambil mainan yang lain.
Maka tempatkanlah mainan-mainan dalam tempat yang mudah di ambil anak, klasifikasikan sesuai kelompoknya. Kemudian ajarilah anak-anak, ambil mainan di tempat A, mainkan, kembalikan ke tempatnya, baru ambil mainan di tempat B. Latih terus menerus dan bermainlah bersama anak-anak, jadilah anak-anak yang menjalankan aturan tersebut, jangan berperan menjadi orangtua. Karena anak-anak akan lebih mudah mencontoh temannya. Andalah teman terbaik pertama untuknya.
☘Anak usia 3-5 th
Anak-anak di usia ini sedang menunjukkan inisiatif besar untuk melakukan kegiatan berdasarkan keinginannya
Contoh :
✅ Anak-anak lebih suka mencontoh perilaku orang dewasa.
✅Ingin melakukan semua kegiatan yang dilakukan oleh orang dewasa di sekitarnya
๐Ÿ”‘Kunci Orangtua dalam melatih kemandirian anak di usia 3-5 th adalah sbb :
๐Ÿ‘จ๐Ÿ‘ฉ๐Ÿ‘ฆ๐Ÿ‘ฆHargai keinginan anak-anak
๐Ÿ‘จ๐Ÿ‘ฉ๐Ÿ‘ฆ๐Ÿ‘ฆJangan buru-buru memberikan pertolongan
๐Ÿ‘จ๐Ÿ‘ฉ๐Ÿ‘ฆ๐Ÿ‘ฆ Terima ketidaksempurnaan
๐Ÿ‘จ๐Ÿ‘ฉ๐Ÿ‘ฆ๐Ÿ‘ฆ Hargai proses, jangan permasalahkan hasil
๐Ÿ‘จ๐Ÿ‘ฉ๐Ÿ‘ฆ๐Ÿ‘ฆ Berbagi peran bersama anak
๐Ÿ‘จ๐Ÿ‘ฉ๐Ÿ‘ฆ๐Ÿ‘ฆ Lakukan dengan proses bermain bersama anak
Contoh :
✅Apabila kita setrika baju besar, berikanlah baju kecil-kecil ke anak.
✅Apabila anda memasak, ajarkanlah ke anak-anak masakan sederhana, sehingga ia sdh bisa menyediakan sarapan untuk dirinya sendiri secara bertahap.
✅Berikanlah peran dalam menyelesaikan kegiatannya, misal manager toilet, jendral sampah dll. Dan jangan pernah ditarget apapun, dan jangan diberikan sebagai tugas dari orangtus.Mereka senang mengerjakan pekerjaannya saja itu sudah sesuatu yang luar biasa.
☘Anak-anak usia sekolah
Apabila dari usia 1 tahun kita sudah menstimulus kemandirian anak, mka saat anak-anak memasuki usia sekolah, dia akan menjadi pembelajar mandiri. Sudah muncul internal motivation dari dalam dirinya tentang apa saja yang dia perlukan untuk dipelajari dalam kehidupan ini.
⛔Kesalahan fatal orangtua di usia ini adalah terlalu fokus di tugas-tugas sekolah anak, seperti PR sekolah,les pelajaran dll. Sehingga kemandirian anak justru kadang mengalami penurunan dibandingkan usia sebelumnya.
๐Ÿ”‘Kunci orangtua dalam melatih kemandirian anak di usia sekolah
๐Ÿ‘จ๐Ÿ‘ฉ๐Ÿ‘ฆ๐Ÿ‘ฆJangan mudah iba dengan beban sekolah anak-anak sehingga semua tugas kemandirian justru dikerjakan oleh orangtuanya
๐Ÿ‘จ๐Ÿ‘ฉ๐Ÿ‘ฆ๐Ÿ‘ฆIjinkan anak menentukan tujuannya sendiri
๐Ÿ‘จ๐Ÿ‘ฉ๐Ÿ‘ฆ๐Ÿ‘ฆPercayakan manajemen waktu yang sudah dibuat oleh anak-anak.
๐Ÿ‘จ๐Ÿ‘ฉ๐Ÿ‘ฆ๐Ÿ‘ฆKenalkan kesepakatan, konsekuensi dan resiko
Contoh :
✅Perbanyak membuat permainan yang dibuatnya sendiri ( DIY = Do It Yourself)
✅Dibuatkan kamar sendiri, karena anak-anak yang mahir mengelola kamar tidurnya, akan menjadi pijakan awal kesuksesan ia dalam mengelola rumahnya kelak ketika dewasa.
☘Ketrampilan-ketrampilan dasar yang harus dilatihakan untuk anak-anak usia sekolah ini adalah sbb:
1⃣Menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya
2⃣Ketrampilan Literasi
3⃣Mengurus diri sendiri
4⃣Berkomunikasi
5⃣Melayani
6⃣Menghasilkan makanan
7⃣Perjalanan Mandiri
8⃣Memakai teknologi
9⃣Transaksi keuangan
๐Ÿ”ŸBerkarya
☘3Hal yang diperlukan secara mutlak di orangtua dalam melatih kemandirian anak adalah :
1⃣Konsistensi
2⃣Motivasi
3⃣Teladan
Silakan tengok diri kita sendiri, apakah saat ini kita termasuk orangtua yang mandiri?
☘Dukungan-dukungan untuk melatih kemandirian anak
1⃣Rumah harus didesain untuk anak-anak
2⃣Membuat aturan bersama anak-anak
3⃣Konsisten dalam melakukan aturan
4⃣Kenalkan resiko pada anak
5⃣Berikan tanggung jawab sesuai usia anak
Ingat, kita tidak akan selamanya bersama anak-anak.Maka melatih kemandirian itu adalah sebuah pilihan hidup bagi keluarga kita
Salam,
/Tim Fasilitator Bunda Sayang/
Sumber bacaan:
Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang, antologi, gaza media, 2014
Septi Peni, Mendidik anak mandiri, pengalaman pribadi, wawancara
Aar Sumardiono, Ketrampilan dasar dalam mendidikan anak sukses dan bahagia, rumah inspirasi
➖➖➖➖➖➖➖
*PERTANYAAN*
1⃣ Anak saya kembar umur 3 th 2 bulan. Skrg lg saya latih utk tidur sendiri terpisah dr saya. Sebelumnya hanya terpisah tempat tidurnya saja tp masih dalam 1 kamar. Skrg saya latih utk tidur di kamar mereka. Sblmnya saya menidurkan mereka dulu dgn membaca dongeng, setelah mereka tidur baru saya pindah ke kamar saya. Gak apa2 bu anak umur segitu saya latih tidur sendiri? Kadang di hati saya masih suka bertanya apakah ini terlalu cepat? Takutnya mereka merasa kehilangan atau diasingkan (atau sebenernya saya yg kehilangan ya bu๐Ÿ˜‚) tp di sisi lain saya ingin melatih kemandirian mereka. Setiap hari saya komunikasikan bahwa mereka sudah besar jdi tidurnya di kamar mereka. Pagi2 ketika mereka bangun saya apresiasi dgn bilang "anak bunda sudah bangun. Tdi malam tidur sendiri di kamar karin kiran ya? Hebat anak bunda" betulkah bu cara yg saya lakukan?
Sukma - IIP Pekanbaru
*JAWABAN*
1⃣ Mbak Sukma betul perkiraan mbak, ketika ada pertanyaan "takutnya mereka merasa kehilangan" itu sebenarnya lebih ke kitalah yang merasa kehilangan. Maka melatih untuk tidur sendiri di usia 3-5 th, kalau berhasil bagus banget. Tetapi kalau belum maka masih ada waktu di usia sekolahnya nanti. Yang tidak boleh adalah sampai besarpun tetap satu kamar dengan kita.  karena sejatinya anak sedang belajar mengelola rumah tangganya kelas dengan mengelola kamarnya saat ini. ✅
----------
*PERTANYAAN*
2⃣ Ibu, bagaimana menyelesaikan tahapan kemandirian yang belum selesai di usia sebelumnya?
Apakah ada batas waktu menyelesaikan ketertinggalannya?
Nur'aini - IIP Bandung
*JAWABAN*
2⃣ Teh Nuraini, apabila ada yang tertinggal sebaiknya dituntaskan sebelum aqil baligh, setelah aqil baligh tinggal menyempurnakan saja, bukan lagi dari nol✅
----------
*PERTANYAAN*
3⃣ Assalaamu'alaykum bu septi..
Sy defi dari solo.
1. Alhamdulillaah anak sulung saya (2th 7bln) termasuk anak yg saya rasa mandiri bahkan terasa dr sejak bayi.
Makin kesini, sy berusaha memberi tugas2 harian sprti memasukkan baju ke mesin cuci, mengambil beras utk dicuci, merapikan mainan, mengembalikan piring dan gelas stlh makan.
Seperti ini apakah berlebihan utk skala umur segitu bu? Soalnya misal bumer dtg liat cucunya pas sy suruh2 gt, sy sllu dblg "ra mesakne tho ndhuk..."
2. Utk hal lain memotong sayur dg gunting, lalu dimasukkan ke plastik utk stok kulkas, sy upah 1000/2000 (ini apakah boleh bu, anak diupah?, apa akan menjadikannya malas bekerja klo tdk diupah? Bagaimana cara yg benar dlm pemberian upah agr tdk terjadi hal sprti itu? Apa malah tdk perlu upah ibu?)
Matursuwun bu, atas waktunya utk sharing..
๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’
*JAWABAN*
3⃣ Mbak Defi, memberikan tugas ke anak-anak usia 1-3 th itu harus seperti bermain, tidak boleh menjadi rutinitas dan kewajiban anak-anak sehari-hari. Maka kalimat yang kita pakaipun bukan " ibu minta tolong nyuci beras ya nak" melainkan "Ibu mau mencuci beras, apakah kakak/adik mau ikut?
Sedangkan untuk pemberian upah sebaiknya dihindari, karena hal tersebut akan mendidik anak berperilaku buruk, mereka akan terbiasa melakukan sesuatu karena ada external motivation, padahal di usia sekolah anak-anak harus muncul yang namanya internal motivation. Sehingga kita akan terkaget-kaget saat memasuki usia sekolah nanti, apabila dari usia 5 tahun ke bawah, motivasinya karena upah. ✅
----------
*PERTANYAAN*
4⃣ Assalaamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh Bu Septi..
Mohon penjelasannya y ibu ๐Ÿ™๐Ÿป
Untuk proses kemandirian anak ini, wajar nggak sih bu kalau anak mengalami fase kemunduran? Padahal sebelumnya bisa dibilang, anak sudah cukup mandiri. Anak saya yang berusia 4 tahun, sekarang sering meminta tolong untuk hal-hal kecil dan dia sedang dalam kondisi santai, misalnya minta untuk dibalikkan baju (bagian dalam baju posisinya diluar).
Lalu bagaimana kiat supaya fase ini terlewati bu?
Satu lagi y bu ☺
kalau kita berikan tanggung jawab tidak menyesuaikan dengan usia anak, tetapi berdasarkan hasil pengamatan kita bahwa anak mampu diberikan tanggung jawab lebih, kira-kira ada efek samping yang negatif nya nggak bu?
Terima kasih banyak y ibu atas jawabannya ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜
Tamia - IIP Kalbar
*JAWABAN*
4⃣ Mbak Tamia, anak-anak mengalami fase kemunduruan dalam kemandirian itu sangat mungkin. Hal tersebut biasanya disebabkan beberapa faktor. kalau anak di usia sekolah biasanya karena faktor beban tugas di sekolah. Kalau anak di bawah 5 tahun, biasanya fastor psikis, seperti punya adik lagi, perlu kasih sayang ibu/bapaknya dll.
Maka carilah penyebab utama mengapa anak kita mundur kemandiriannya. bahkan kalau saya, ketika anak-anak sakitpun, pasti ada faktor psikologis yang menyebabkan daya tahan tubuhnya turun. Sehingga pengobatan awal tidak buru-buru ke dokter melainkan menyelesaikan urusan psikisnya terlebih dahulu. Karena secara alamiah anak yang bahagia, imunitas tubuhnya  naik, sehingga jarang sakit.
Anak yang sering sakit juga akan berpengaruh terhadap kemandiriannya, karena kita terlalu melindunginya.
Efek samping memberikan tanggung jawab anak yang tidak sesuai dengan usianya, biasanya akan membuat anak-anak tersebut tidak mau mengerjakan tanggung jawab tersebut tepat di usia yang seharusnya. Maka apabila hasil pengamatan mbak tamia melihat anak tersebut mengerjakan tanggung jawabnya karena internal motivation, silakan dilanjut, apabila bukan , mohon dipertimbangkan kembali✅
----------
*PERTANYAAN*
5⃣ Assalamualaikum, ibu . Ijin bertanya. Anak saya usia 5 menjelang 6thn. Akhir2 ini menjadi segala sesuatu ingin bersama bunda seperti mandi, makan minta disuapin, tidur harus diusapan. Padahal sdh bisa mandiri. Bagaimana saya kembali menerapkan kemandirian?
Lalu kalau ada sesuatu yang kurang berkenan mudah sekali menangis, jika bertengkar dg sang kakak reaksinya cpt memukul. Namun setelah menyesal dan bermain lagi seperti biasa.
B. Untuk sang kakak yang berusia 8thn bagaimana melatih kemandirian nya? Kadang konsisten dg tugas yg diberikan, kadang sama sekali tidak mau bergerak kalau lihat adik tdk membantu.
Terima Kasih ibu๐Ÿ™๐Ÿป
Tika - IIP Karawang
*JAWABAN*
5⃣ Mbak Tika, carilah penyebab utama mengapa adik bersikap seperti itu. Ada baiknya kita tidak buru-buru menyalahkan si adik, mungkin banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Selesaikanlah faktor penyebabnya terleboh dahulu. Inilah pentingnya kita belajar mendiagnosis permasalahan anak, tidak buru-buru mencari jalan pintas.
Kemudian untuk kakak, jadikanlah ia assisten bunda untuk menjadi buddy adik-adiknya, buddy itu adalah orang yang selalu ada di saat sedih maupun suka. Sehingga kakak tidak akan bergantung pada adik. Ini pentingnya berbagi peran, bukan menyamakan peran✅
----------
*PERTANYAAN*
6⃣ Point ke-5 dari dukungan-dukungan untuk melatih kemandirian anak adalah berikan tanggung jawab sesuai usia anak. Contoh tanggung jawab nya seperti apa ya yg sesuai usia anak?
Fitrah - IIP Bogor
*JAWABAN*
6⃣ Mbak Fitrah, seperti yang sudah saya sampaikan di materi, bahwa anak usia 1-3 th adalah saatnya mengontrol diri, maka latihlah toilet training, makan sendiri dan berbicara baik-baik, dll ( ini tugas utama mereka) jangan dibebani tugas yang lain, karena anak-anak harus selesai dengan ketrampilan yang berkaitan dengan dirinya terlebih dahulu, baru belajar ketrampilan untuk melayani orang lain.
Usia 3-5 tahun, saatnya ia muncul inisiatif untuk melakukan aktivitas sesuai dengan keinginannya dan meniru aktivitas orang dewasa sangat tinggi. Maka ijinkanlah anak-anak usia ini untuk mengerjakan pekerjaan orang dewasa yang dia ingin lakukan. Karena kalau kita larang, maka start usia 3-5 tahun inilah anak-anak akan mulai kecanduan game, karena aktivitas meniru orang dewasa makin berkurang dan aktivitas bermain dengan orangtuanya mulai tidak seru.
Usia sekolah ( 6-18 th)
Mulailah dengan menjalankan 10 ketrampilan dasar yang harus diikuasai anak-anak setahap demi setahap , seperti yang saya tuliskan di materi.
Usia 18 tahun ke atas
Saatnya mereka menjadi orang dewasa, tanpa tuntunan kita lagi✅
----------
*PERTANYAAN*
7⃣ ๐Ÿ™‹๐Ÿป ass bu septi..saya risni iip payakumbuh, mau bertanya
1. Bagaimana cara melatih kemandirian ank usia 3th7bln untk tdk minum susu dgn botol lg.. saat anak berhenti asi usia 2 thn, diganti dg mnum susu dg botol..sampe sekarang blm mau minum susu dg gelas.mhon pencerahannya bu..
2. Si kakak usia 6 th..sangat suka melakukan apa yg saya lakukan...seperti memasak..ada 1 kejadian pas usia 5th,dia mau bantu saya saat sya goreng ikan.. Eh ternyata kenak ciprat minyak panas.. Semenjak saat itu jdi takut klo liat saya lg goreng2. Gmna cra mengatasi traumanya buk??
Mksi buk.
*JAWABAN*
7⃣ Uni Risni,
1. lakukan upacara pembuangan botol, katakan pada anak kita, bulan depan kita lakukan upacara pembuangan botol ya, agar adik bersiap-siap secara mental. Ini saya lakukan ke enes dulu, dan berhasil. Dia buang sendiri botolnya, kemudian dia sapih dirinya dari botol. Gelisah di hari pertama, saya perbanyak dengan minum susu kotak waktu itu, karena selain susu botol dia paling suka susu kotak. Tapi waktu mau tidur sangat gelisah, saya temani untuk menghadapi rasa itu, dan 3 hari selesai.
2. Kenalkan pada resiko, dulu ketika usia 3-5 th, anak-anak berusaha untuk masak sarapan sendiri. Maka sebelum mereka memasak saya siapkan segala peralatannya, seperti tangga kayu kecil yang kokoh, agar mereka sampai ke kompor, dan tidak jatuh. Salep dan terigu dingin saya siapkan di dekat kompor dan di kulkas, untuk jaga-jaga, apabila kena minyak maka::
a. matikan kompor
b. oleskan salep/ambil terigu dingin yang ada di kulkas, masukkan tanganmu kesana.
Apabila ada telur pecah:
a. ambil lap
b. bersihkan telur
c. kemudian buang ke tempat sampah
d. ambil pel + pewangi
e. pel sampai bersih
Apabila ada gelas /piring pecah
a. Ambil sandal, pakai
b.Ambil sapu dan pengki
c. Sapu serpihan kaca yang besar-besar
d. Ambil lap basah
e. Bersihkan serpihan kecil-kecil
f. Buang selap-lapnya ke tempat sampah
Pengenalan resiko ini membuat anak-anak makin PD menjalankan aktivitasnya dan kita tidak panik apabila ada kejadian/kecelakaan✅
----------
*PERTANYAAN*
8⃣ 1. Bu septi saya teringat akan pemaparan ibu mengenai jika kita berhasil di anak pertama (role model) maka anak kedua dan selanjutnya akan lebih mudah karena bisa meniru kakanya. Nah yang terjadi saat ini dengan anak-anak saya adalah Aa (6th) mulai bisa diajak Mandiri mengerjakan tugas ringan sendiri seperti menyimpan kembali mainannya tapi adiknya (4th) malah jadi berkesan mengandalkan kakanya, pertanyaannya bagaimana agar Kakak dan adik ini bisa menerapkan konsep Mandiri seutuhnya sesuai usianya sehingga sikap saling mengandalkan ini tidak muncul pada adik?
2. Pemilihan Diksi yang bisa memunculkan motivasi untuk mandiri seperti apa yang tepat untuk diterapkan  kepada anak? Apakah "ayo a rapikan lagi bukunya supaya enak rapi kamarnya" atau kah 'aa kemarin rajin merapikan buku, hari ini juga yaa' Mengingat kedua anak saya tingkat motivasi nya lumayan berbeda aa lebih mudah tersentuh sedangkan adiknya agak cuek.
Fiena_Bandung
*JAWABAN*
8⃣ Teh Fiena,
1. Ini pentingnya memberikan peran ke adik dan kaka secara bergantian. kalau umurnya berbeda jauh, berikan peran sesuai kategori umurnya, kalau umur berdekatan maka berikanlah peran yang berbeda setiap pekan. Misal pekan ini kakak menjadi direktur mainan, memastikan semua yang bermain mengembalikan pada tempatnya. Si adik menjadi direktur sampah, memastikan semua sampah berada pada tempatnya. Kemudian di putar peran tersebut.
2. Kalimat yang efektif adalah bukan menyuruh, melainkan mengajak melakukan bersama. Seperti yang saya lakukan dulu ke anak-anak, ketika mainan berantakan
"Wow mainannya kemana-mana, seperti gula yang bertebaran"
"Oke Ibu akan jadi semut besar, kalian jadi semut kecil" kita akan berlomba untuk mengambil gula-gula yang berserakan"
"Siapa yang lebih dulu selesai, akan jadi juara malam ini"
Kamar berantakan
"Mas, kamarmu artistik sekali, bagaimana kalau kita rapikan bersama, ibu bagian meja, mas bagian kasur ya, kapan kira-kira siapnya? ibu dikabari ya. Dengan pola komunikasi yang bukan sok bossy, membuat anak-anak lama-lama sadar dengan sendirinya. Itu yang saya lakukan dan bekerja ke anak-anak. maka pahami anak-anak ya teh, Komunikasi seperti apa yang paling produktif✅
----------
*PERTANYAAN*
9⃣ Ibu Septi yg baik, contoh kemandirian apa sajakah yg sudah mulai dikenalkan utk bayi 0-12 bulan?
Dulu saya sempet denger, ibu mulai men-toilet training anak2 ibu sejak usia < 12 bulan, bisa diceritakan prosesnya/langkah2nya gmn bu?
Ketika ibu sedang mengandung Ara, kemandirian apa saja yg ibu kenalkan pd mba Enes dan apa saja yg dipersiapkan utk menyambut kelahiran adik?
Ria - IIP Bandung
*JAWABAN*
9⃣ ๐Ÿ€Teh Ria, bayi 0-12 bulan baru taraf sensomotorik, masih bergantung semuanya ke orang lain. Sehingga jangan buru2 diminta mandiri, kecuali memang anak kita yg sudah minta.
๐Ÿ€Mengebai toilet training,  kampanye saya di materi kemadirian anak ini  sebenarnya secara implisit adalah "HENTIKAN PEMAKAIAN POSPAK" ( popok sekali pakai) ke anak usia 1-3 th.
saya adalah ibu yang anti pospak sejak punya anak. Sehingga sejak anak-anak usia 6 bulan, sudah mulai saya latih toilet training dengan cara ditatur ( istilah jawa), secara periodik, membawa anak ke kamar mandi, dan bilang "ssst...ssst"  sampai dia pipis sendiri. Bahkan saat 1/3 malam, saya bangunkan untuk di tatur lagi....
Sehingga anak-anak tidak pernah mengompol, saat pup pun disesuaikan dengan bioritme tubuhnya. kalau mereka sudah bisa merangkak, saya letakkan bebek-bebekan toilet anak, di depan kamar mandi, dan saya mulai memperagakan. Kalau mau pup, pegang perut, maka merangkak ke depan kamar mandi, dan duduk di atas bebek ya. terus menerus seperti itu, sehingga saat 1-3 tahun sudah merdeka untuk urusan yang satu ini.
Sedih kalau lihat ada anak, dibiarkan berdiri, mengejan sampai merah, kemudian ibunya tenang-tenang saja.
Saat saya tanya " kenapa anaknya dik?"
"Nggak papa bu, udah biasa, itu sedang pup" huuffft....kebayang betapa orangtuanya malas untuk melatih anak-anak.
Setelah selesai, saya datangkan elan, untuk cerita tentang bagaiman dia melatih kucing usia 1 bulan, pup dan pee di tempatnya. Anak kucing saja bisa dilatih, lha kok kita menurunkan kemuliaan anak manusia.
๐Ÿ€Ketika mengandung ara, saya hanya full bermain dg enes, bermain adik-adikan, ibu-ibuan, shg saat adiknya lahir, kita berdua seperti punya mainan adik-adikan.
Enes sdh lihai mengganti popok unt bobekanya, memandikan bonekanya.
Shg ketika ara lahir, dia berpikir ibunya sdg main boneka seperti dirinya.
Untuk menyambut sang adik, jauh2 hari kita ajak enes mempersiapkan segala keperluan adik.
Kemudian saat ara lahir, saya hanya menyusui ara, kemudian ara saya minta bapaknya yg pegang, setelah itu saya harus full dg enes.
Saat banyak orang menengok ara, saya minta enes yg membuka kado, sambil saya kampanye kl nengok anak ke dua, berikan kado ke kakaknya bukan ke adiknya✅
----------
*PERTANYAAN*
๐Ÿ”Ÿ Assalamu'alaikum bu Septi, ada yang ingin saya tanyakan...
1. Mulai tahun ini, saya sudah menstimulasikan anak sy laki2 (12 th) utk membuat jadwal harian, yg isinya semua aktivitas yg dia lakukan sehari2. Saya amati memang sudah mulai ditepati, tetapi ada beberapa kegiatan (seperti membaca) yang memang di masukkan ke dalam  jadwal sesuai anjuran saya (aslinya rada malas membaca, bu). Kalo diingatkan, selalu jawabannya "kan, mama yang nyuruh... ๐Ÿ˜Š" Gimana ya, bu supaya anak senang membaca. Padahal saya dan suami senang baca. Dan di rumah juga sengaja saya sediakan banyak sekali bahan bacaan...
2. Apakah memberi uang saku mingguan atau bulanan, termasuk melatih kemandirian dalam keuangan? Gimana teknik pelatihan yang terbaik?
Terimakasih
Sri Prihatiningsih - IIP Cirebon
*JAWABAN*
๐Ÿ”Ÿ Mbak Sri Prihatiningsih
๐Ÿ€ Semua anak yang berbicara, pasti bisa membaca. Permasalahannya adalah saat awal dulu stimulus membaca anak-anak itu apakah di dril?dipaksa atau bagaimana? Karena membuat anak BISA membaca itu mudah, membuatnya SUKA membaca itu baru tantangan.
kalau stimulus awalnya sudah menarik, maka tahap berikutnya lihat gaya belajarnya
Mengenail pertanyaan mbak sri ini nanti ada kuncinya semua di bunda sayang, sampai ke kecerdasan finansial anak, jadi mohon bersabar yaaa....
Sampai jumpa di tahap-tahap berikutnya
----------selesai----------

Resume Diskusi: Desain Global Sekolah Unggul

 Bismillah.. alhamdulillah malam ini bisa bergabung di diskusi online Kelas 100 Guru PAUD berjudul Desain Global Sekolah Unggul. Pematerinya...