Tampilkan postingan dengan label #tantangan10hari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #tantangan10hari. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 April 2017

Game #4 Day #3 Gaya Belajar Anak Fitri Purbasari Depok

Tantangan 10 Hari Gaya Belajar Anak
Kuliah Bunda Sayang IIP Level 4

Gaya Visual Sederhana

Masih mengamati sang Kakak (5y4m) saja karena adik masih sakit. Semoga adik segera sehat dan aktif kembali yaaa.. 😘


Kegiatan harian kakak tergambar dalam foto diatas. Mengaji adalah kegiatan wajib tiap pagi dan petang. Yaa, kadang sangat semangat, kadang enggak. Hehe.. Makanya game acak halaman selalu menjadi andalan. Dia sangat seneng kalo diajak quiz acak tersebut, untuk menjeda kebosanan atau sebelum melangkah ke materi baru yang notabene lebih sulit. Fyi, materi barunya kali ini adalah ketika tanwin ketemu hamzah washal, artinya ada nun yang ghaib, hehee..lumayan kan?! 😁 Quiznya adalah, sayaminta Kakak membuka halaman tertentu dan membaca baris tertentu. Misal, "Buka halaman 97! Baca baris ke 3." Begitu. Ini sekaligus mengajarkan angka padanya. Pujian dan bintang adalah rewardnya.

Lalu tahfidz. Belajar dark pengalaman Al Falaq kemarin, saya punya ide bikin buku hafalan buat dia dengan menuliskan ayat yang akan dihafal dengan spidol/pinsil warna. Kali ini bertujuan untuk menguatkan surah Al Ikhlas.

Setelah mengaji, Kakak mengerjakan LKS. Banyak LKS yang saya dan suami sediakan untuknya, mulai dari LKS yang biasa dipakai di TK sampai LKS entertainment yang seperti tabloid disney. Setiap hari kami meminta dia mengerjakan LKS agar kelak terbiasa punya waktu belajar di meja.

Dan, aktivitas yang hampir tak pernah dia lewatkan adalah menggambar. Di umur segini, Kakak sepertinya sudah agak bosan mewarnai gambar yang sudah ada. Dia jadi lebih senang menggambar sendiri lalu mewarnainya.

Saya berusaha agar setiap hari bisa ada kegiatan DIY yang mengasah kecerdasan kinestetik nya. Tapi hari ini, saya melewatkannya karena harus mengurus adiknya yang sedang rewel. Semoga besok lebih baik semuanya. Aamiin.

Minggu, 23 April 2017

Game #4 Day #1 Gaya Belajar Anak Fitri Purbasari Depok

Kuliah Bunda Sayang IIP Level#4
Gaya Belajar Anak

Day #1 Menghafal Dengan Contekan Dinding

Hari ini, Minggu 23 April 2017, saya baru mulai menyalakan mesin game level #4, hehe.. Kenapa saya baru mulai? Karena qadarullah beberapa hari ini si bungsu Fatimah (19 m) sedang sakit, demam dan batuk. Dia sedang cukup rewel sampai hari ini. Jadi untuk Fatimah, saya belum bisa mengamati kegiatannya hari ini, karena maunya dipangku terus. Si Kakak Rafifa lah (5y4m) yang diobservasi lebih dulu.

Pagi ini saya murajaah hafalan Al Quran Kakak, berdasarkan buku pegangan sekolahnya. Dia harus sudah hafal beberapa surat pendek termasuk Al Falaq. Nah, di Al Falaq ini dia masih agak macet, ketuker-tuker. Saya talqin beberapa kali, masih aja ketuker pas disuruh baca sendiri. Lalu saya iseng tuliskan huruf-huruf awalan dari kata yang dia lupa di dinding. Alhamdulillah dia sudah mau tamat buku iqra, jadi tidak masalah jika saya menuliskan huruf arab..

Saya suruh dia hafalkan, lalu kalau mau nonton/main harus setor hafalan Al Falaq dulu dengan lancar. Dia langsung semangat menghafak menghadap contekan dindingnya. Tring!! Dia membaca beberapa kali dan bilang, "Mi, siap setoran!". Dalam hati saya sempat underestimate, yah belum juga 5 menit. Tapi MasyaaAllah ternyata dia bisa melantunkan Al Falaq dengan lancar! 🎉🎉🎉🎉😋😍😘  Saat petang tadi, ketika dia minta main face deco untuk melukis wajah pada abinya, dia masih mampu melantunkan Al Falaq dengan lancar. Alhamdulillah hari ini, saya sebagai ibu sekaligus guru utamanya telah mendapat titik terang dalam strategi pembelajaran untuk Kakak Rafifa. Semoga saya semakin kreatif!

Well, sekarang mari lihat tabel pengamatan gaya belajar Kakak secara umum.

Berdasarkan tabel itu, Kakak punya gaya visual-kinestetik. Ya memang kelihatannya kakak memiliki gaya visual, tapi saat disuguhkan family project dengan kemasan praktek seperti membuat prakarya, memasak atau drama dari buku ceritanya, dia sangat berbinar-binar. Ya, dia sangat ketagihan dengan kegiatan seperti itu. 😊

Minggu, 02 April 2017

T10 Level 3 Day #10 Fitri Purbasari Depok

Tantangan 10 Hari Projek Keluarga
Kuliah Bunda Sayang IIP Level 3

Bergotong Royong 😍

Hari ini sang umi sudah mulai baikan. Tapi masih harus agak bedrest. Kebetulan kami sedang dikunjungi sang tante sejak hari Jum'at dan siang tadi harus kembali ke Bandung.

Saat menanyakan ulang kepada Kakak Rafifa (5 th) mau melakukan projek apa hari ini, Kakak jawab mau bikin bolu kukus. Tapi umi masih lemes dan tante harus balik lagi ke Bandung. Setelah mikir agak lama akhirnya dia memutuskan mengepel lantai luar. Setelah minta bantuan sang tante membawakan ember air nya, Kakak langsung membersihkan lantainya. Tapi karena si tante mungkin gemes lihat cara Kakak ngepel, dia pun mengambil alih dan Kakak bagian nyiramin air ke lantai. Hehee.. salah saya juga siih ga briefing dulu si tante. Hihii..

Setelah itu, Kakak nyiram tanaman. Ada pohon cabe yang sedang berbuah pas tumbuh di depan pintu, ada juga tanaman bumbu seperti kunyit, lengkuas, cabe dan kencur yang sengaja umi tanam di bawah tangga.

Lalu, abi keluar dengan Dedek Fatimah (1,5 th) membawa seember pakaian untuk dijemur. Kakak pun dengan segera membantu abi. Dedek pun tak mau ketinggalan membantu. Hari ini semua bergotong royong. Tapi si Kakak minta hadiah, minta izin makan yupi. Hehee.. yasudah deh boleeeh.. that's the reward! Sambil tak lupa saya mengucapkan terima kasih disertai pelukan dan ciuman di pipinya. 😘


Kamis, 30 Maret 2017

T10 Level 3 Day #7 Fitri Purbasari Depok

Tantangan 10 Hari Projek Keluarga
Kuliah Bunda Sayang IIP Level 3

Kakak Sayang Dedek

Hari ini masih dalam episode emak sakit. Qadarullah saya mering lagi sejak malam. Terbersit mau izin ke admin Kordi, tapi melihat si bungsu (1,5 th) diasuh dengan sangat baik oleh Kakak (5 th) dan abinya, saya sampaika ide agar Kakak bikin project ngasuh Dedek aja hari ini.

Saya bahagia pas saya dan Dedek bangun tidur siang, Kakak sudah membuatkan Dedek gambar binatang-binatang kesukaan Dedek, yaitu panda dan kucing dilengkapi kotak susu ultra mimi. Hehehe.. "Ini buat Dedek!", Seru Kakak menyambut sang adik bangun. 😍

Lalu Kakak dan abi membuat pesawat kertas. Sang Adik pun dengan antusias memainkannya meniru sang kakak. Sampe ditiup-tiup segala. 😂


Saya amati, empati Kakak cukup baik melihat uminya sedang sakit. Selain mengasuh adik, dia juga berberan sebagai dokter, menyiapkan obat, air minum dan mijitin. Dan sang adik adalah peniru ulung. Dia ngikutin aja apa yang kakaknya lakuin, terutama kalau kakaknya lompat-lompat di kasur. Aduuuhh, beberapa kali nada umi meninggi memperingatkan sang Kakak agar mainnya yang aman.

Beberapa hari ini suami pun tak masuk kerja karena matanya masih iritasi, dan hari ini plus menjaga anak-anak dan mengurus saya. Semoga Allah membalas kelelahannya dengan kebaikan melimpah.
Rabb, semoga besok saya sehat kembali agar bisa maksimal menjalankan peran. InsyaAllah besok projectnya adalah mendekor kamar.

Selasa, 28 Maret 2017

T10 Day #5 Fitri Purbasari Depok

Tantangan 10 Hari Projek Keluarga
Kuliah Bunda Sayang IIP Level 3

Dedek Punya Bis Mainan, Kakak Jadi Packing Manager

Hari ini kami masih dalam pemulihan sakit mata. Kepala saya dan suami masih pening. Jadi menawarkan projek sederhana saja ke anak-anak, "Ka, bikin bolu kukusnya nanti saja ya, soalnya umi masih pusing dan harus  bungkus paket buku pula buat besok. Gimana kalau bikin dekorasi kamar dari kokoru aja?", "Atau bungkus buku aja?", Timpal sang abi. Akhirnya kakak mau bantu umi mengemas paket buku pesanan. Jadilah dia the packing manager. Kali ini suami yang jadi timnya. Saya seksi dokumentasi. Sementara si Dedek (1,5 th) seperti biasa, jadi pengawas. 😁


Dedek Fatimah (1,5 th) dia sangat suka bis. Dan hari ini dia antusias banget buka buku bis, gak mau diganti buku lain. Mau nonton video lagu Wheels on the bus sambil joget. Terus diputar-putar lagunya. Dia minta bacain cerita bis, padahal buku yang dia bawa buku mewarnai hehehe. Ahasil umi abinya mengarang cerita deh. Akhirnya saya punya ide bikinin dia bis dari kotak madu. Saya tawarkan ke Kakak. Dan dia senang sekali. Ini project buat Adek. Tapi Kakak juga yang ngelakuin. Hehehe..

 

Nilai kasih sayang kelurga yang kami tekankan pada projek hari ini. Saling membantu dan menjaga, terutama saat keluarga ada yang sakit. Tak lupa saya memberi apresiasi dan ucapan terima kasih kepada kakak yang sudah banyak membantu orang tua hari ini. Kakak berhak mendapat reward pancake duren. Yeay!! 😍😅

Senin, 27 Maret 2017

T10 Level #3 Day #4 Fitri Purbasari Depok

Tantangan 10 Hari Projek Keluarga
Kuliah Bunda Sayang IIP Level 3

PISCOKJU by Chef Rafifa

Hari ini Kakak memilih membuat piscokju (pisang keju coklat) karena memang sudah lama tak bikin cemilan itu. Hehe. Tujuan dari kegiatan ini selain menghilangkan "ke-jijik-an"nya terhadap yang lengket-lengket, juga sebagai kegiatan mengisi waktu sekolahnya yang dia lewatkan karena masih dalam masa penyembuhan sakit mata. Yaah, sejak​ Sabtu dia terkena sakit mata lalu menular kepada kami semua. 😷 Semoga besok sudah pada sehat. Aamiin.

Kakak sebagai chef meminta bantuan saya menyiapkan alat dan bahannya. Abi dan adiknya adalah pelanggan utama. Hehe karena mata abinya masih cukup parah. Jadi dia harus rehat dan tak bisa membantu kami. Sementara itu sang Adik seperti biasa, sedang tidur. 😁

Saya mencontohkan cara mengupas lisang da memotongnya. Kakak mengikuti. Awalnya dia enggan mengupasnya, karena pisang kepoknya yang buruk rupa. 😂 Tapi saya support dia agar mencobanya. Berhasil, meski cuma 2 buah. Hahaha. Di bilang, "Umi aja yang ngupas, kakak yang motong ya." Baiklah... Itu yang terjadi selanjutnya. Setelah semua pisang dipotong, saya yang pergi ke dapur untuk memanggang pisang di atas tefon. Then, Kakak sangat antusias, karena bagian menghias pisaaang!! Yeay! 🙌 Saya inisiasi menyusun pisang dengan tema orang, lalu dia terinspirasi. Dia bikin pisang pelangi. Bentuknya saja.. hihii.. dikasih toling keju dan meses. Walaaa. This is it! Piscokju! 😍


So far, dari sekian projek yang kami lakukan, saya melihat, Kakak (5 th) itu orang yang detail, perfectionist, creative and confident. Dia selalu punya alasan dengN pilihannya. Kadang saya suka keceplosan membandingkannya dengan selera saya hehehe dan itu membuatnya kemudian tak pede. Ini..disini saya harus lebih bisa menahan diri. 😀

Eh, jujur saya lupa. Kenapa fokusnya ke Kakak saja yaa..hihiii. Bismillah besok mulai projek sama dedek Fatimah (1,5 th) juga deh. 😂

Salam Ibu Proesional

Minggu, 26 Maret 2017

T10 Level #3 Day #3 Fitri Purbasari Depok

Tantangan 10 Hari Projek Keluarga
Kuliah Bunda Sayang IIP Level 3

MAKING DONUTS!

Projek keluarga di hari ketiga ini sangat bersejarah. Hehee.. Kenapa? 1) tetap dilakukan dengan riang meski sedang terserang sakit mata, Kakak Sang Chef, Umi asisten chef, dan Dedek penyicip; 2) donat yang dibuat bisa dibilang sangat sukses menyerupai donat yang sesungguhnya. Hahaha karena biasanya donat yang saya bikin lebih tepat dibilang biskuit, kami menyebutnya donat crunchy. Hahaha..jangan dibilang gagal ya 😂. Karena ternyata masalanya hanya pada jenis tepung saja. 😋

Well, alat dan bahan terdiri dari baskom, sendok, 1/4 tepung segitiga, fermipan, gula pasir, garam, minyak sayur, setengah gelas air hangat, 1 btr telur ayam, margarin, meses, dan gula halus.

Kakak sangat antusias melakukan step by step pembuatan donat ini. Mulai memecah telur (meski masih ragu-ragu, gakpapa yah kak, makin sering makin mahir nanti, InsyaAllah 😘), mengaduk adonan, menguleninya, membantingnya, hingga mencetak adonannya. Yang paling saya garis bawahi adalah pada step menguleni adonan. Step itu sangat bermanfaat dalam hal AI nya dalam mengatasi rasa jijiknya terhadap yang lengket-lengket. 😂😋 Alhamdulillah. Yah step seperti ini sangat penting bagi keterampilan hidupnya. Lalu karena setelah lama dia uleni dan si adonan masih lengket, dia dapat menyimpukan sendiri "ini kebanyakan air nih, mi." 😍 Yes, di mampu mencari asal masalah. Alhamdulillah. Lalu saya kasih tahu "kalau begitu, tambah lagi tepungnya, ka."
Alhamdulillah pula, proses pembuatan donat ini disponsori oleh Dedek yang tidur. 😂 Dia bangun pas Umi mau menggoreng donatnya. Alhasil Sang Penyicip ikut menyicipi toping yang disiapkan Sang Chef.


Donat nya mengembang dengan memuaskan. Tak perlu lama-lama digorengnya. Waaah ini yang membuat saya amazed! 😍 Ini sejarah! Not only for Kakak, but also for her Umi! 😋

Setelah selesai menghias, lalu menikmatinya bersama Sang Dedek, Kakak mengirim beberapa buah donutnya ke tetangga disertai semangkuk kecil Dragon Jelly Ice yang dibuat di hari #1 projek. This is for her SI nya. Selalu saya tanamkan bahwa dalam rezeki yang kami terima pasti ada hak orang lain. Apalagi mengupload fotonya di medsos, hehee, tetangga kudu kebagian. 😊

In the last session, saya bertanya bagian mana yang paling dia senangi. Dia menjawab bagian menghiasnya. Karena dia paling suka mesesnya. Hehee. Tapi saya yakin, perasaan dia terhadap yang lengket-lengket semakin berubah baik. Hehee.. Dia mengajak saya membuat slime besok-besok. Dia pernah bikin itu di sekolah, jadi udah tau dan pengen nyoba bikin di rumah. Baiklah.. you are the captain! 😘

Minggu, 05 Maret 2017

T10_Level2_Fitri Purbasari_Depok_Day#7

Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian
Kuliah Bunda Sayang IIP Level #2

Dedek Bosan Pake Sendok


Lihat, Moms! Fatimah (1,5 th) yang sedang belajar makan sendiri sedang bosan memakai sendok. Saya baru ngeuh selama ini saya sodorin dia makan pakai sendok atau garpu, mau itu makanan kering maupun kuah. 😁 Di hari ketujuh ini, dia rupanya penasaran menyendok nasi berkuah pakai tangannya. hihihiii..seru ya, Dek? 😃 Yah, again saya perkuat mental melihatnya. hahahaha.. Dia sedang bereksplorasi. Kalau dia tak mencoba, mana dia tahu, kan? 😋

Moms, dalam mengeksekusi tantangan "Makan Sendiri" buat Fatimah ini, ada konsekuensi yang harus ditanggung. Biasanya, Fatimah ganti baju maksimal 3 kali sehari, yakni 2x mandi & 1x bangun tidur siang kalau baju basah oleh keringat. Tapi selama training makan sendiri ini yah minimalnya jadi 6 kali sehari. 🙈 😂
But, that's OK, Moms! No problemo! Pengalaman yang didapatnya sungguh lebih berharga daripada baju-baju yang kotor itu. Bukan hanya pengalaman bagi Fatimah saja, tapi pelajaran berharga juga bagi saya. Ini adalah training konsistensi atas ilmu dan hidayah yang Allah berikan pada saya. Semoga Allah memudahkan saya mengemban amanahNya. Do'a yang sama juga buat Moms semua. 😊

Well, apa yang dilakukan Kakak Rafifa (5 th) hari ini? Yup, dia mulai melakukan latihan kemandirian untuk menyiapkan makannya sendiri. Bukan masak sendiri ya, Moms. Skill ini belum saya mulai, hehehe. "Menyiapkan Makan" yang saya maksudkan adalah setiap waktu makan, Kakak akan mengambil alat makan sendiri, lalu mengambil nasi dari magic com dan mengambil lauk yang sudah saya siapkan di dapur. Karena selama ini dia langsung menerima makanan "siap saji"nya dari saya. Inilah yang akan menjadi fokus saya pekan ini. Seolah-olah aktivitas ini begitu mudah ya Moms, sepele ya?? Padahal cukup sering juga ya anak-anak malas makan hanya karena malas mengambilnya sendiri. This is based on my childhood experience. hihiii 😝 Komitmen ini berlaku juga untuk camilan, bukan hanya makan berat saja. Jadi saya katakan padanya, "Kalau Kakak mau biskuit atau snack lainnya, ambil sendiri di box atau di kulkas ya." Hari ini baru hari perkenalan hehe.. But so far, Kakak sudah OK banget bikin susu sendiri, karena dia merasa kalau sama saya atau abinya suka kurang enak katanya. hehhe.. It's a good point! 😂

Salam Ibu Profesional.




Jumat, 03 Maret 2017

T10_Level2_Fitri Purbasari_Depok_Day5

Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian
Kuliah Bunda Sayang IIP Level #2

"Tak Usah Dibantu, Ummi!"

Mungkin itu kalimat yang bisa saya terjemahkan dari gerakan tangan Fatimah (1,5 th) yang menghalau tangan saya saat saya megangin mangkoknya agar tak geser-geser. Alhamdulillah di hari kelima ini dia sudah semakin enjoy makan sendiri. Setiap kali waktunya makan dan saya sudah siap menyajikan piringnya, dia antusias meraih piring makannya itu. Seolah dia sudah faham bahwa makan sendiri adalah tanggung jawabnya. 😊

Sebenarnya anak-anak batita itu memang senang bereksplorasi ya. Apa-apa maunya sendiri. Cuma..emaknya saja yang seringkali tak tega. Lebih tepatnya mungkin tak tega kalau saya harus kembali membersihkan lantai dan mengganti baju anak yang berantakan oleh makanannya. 😀
Jadi sesungguhnya, melatih batita makan sendiri itu adalah melatih kesungguhan dan kesabaran Sang Emak dalam menyiapkan anaknya untuk mandiri, terampil dengan urusan pribadinya. Anak sangat cepat belajar dalam hal ini, sedangkan sang Emak seringkali masih tergantung mood yang berhembus. Hadeuuh!! Ini indikator emak yang labil. hahahaha. Aahh..ini tak boleh berlaku lagi kalau ingin menjadi Ibu Profesional. Ibu harus cerdas mengendalikan mood agar selalu berada dalam kondisi HAPPY, BAHAGIA. Mom's Happy, Kid's Happy, Dad's Happy! 💖


Kakak Rafifa (5 th) pun sudah OK dengan aktivitas mandi sorenya. InsyaAllah besok akan mulai dengan list selanjutnya: Menyiapkan makan sendiri. 💃

Salam Ibu Profesional.



Kamis, 09 Februari 2017

Komprod T10 Day#10 FITRI PURBASARI Depok/Jabar

Level 1: Tantangan 10 Hari Berkomunikasi Produktif
Kuliah Bunda Sayang IIP

Mensiasati Kebiasaan Menasehati & Mengancam

Dari 12 gaya populer yang menghambat komunikasi kita dengan anak, dua gaya ini yang cukup membuat saya mengernyitkan dahi. hehehe.. dan tertohok juga tentunya. 

Menasehati, seolah-olah bagus yaa, sangat baik, tapi ternyata nasihat yang disampaikan dengan cara, porsi dan waktu yang tidak tepat bisa berbahaya. Hmmm..empati main disini, kita juga kan kalo sering dinasehati orang atas apa yang kita lakukan suka kagak enak juga yaa..heu..mungkin anak akan merasakan hal yang sama. Jangan mentang-mentang kita guru/guru ngaji, kita main ceramahin anak dengan kalimat nasehat. hehehe (#selfnote). Baiklah, setelah tahu bahwa keseringan menasehati itu kurang baik, saya mencoba memakai strategi lain dalam "meluruskan" sikap anak. Cukup menantang, banget, hehehe. Refleksi dari pengalaman saya dan pengalaman dia adalah the closest way. Selain itu, mengaitkannya dengan kisah nabi dan cerita teladan lain. Baru itu yang saya lakukan dalam mensiasati cara menasehati yang keliru.

Hemm.. lalu cara mengancam. Untuk ancaman negatif, alhamdulillah saya sudah paham, tapi ternyata saya masih memberikan ancaman meskipun tujuannya baik. Contohnya. "Ayo kaka mandi dulu ya, kalo tidak, kaka tak boleh nonton kartun." Sebenarnya saya masih bingung, redaksi seperti ini boleh atau tidak. Tapi hati saya merasa tak nyaman mengungkapkan kalimat seperti itu. So, saya harus cari cara lain yang bersifat lebih baik, tidak mengancam. Yang sudah saya temukan adalah cara konsekuensi. Seperti ini, "Kaka mandi sekarang ya. Kalau tidak mandi, Kaka bisa gatal-gatal seperti kemarin." Again, mencari kalimat KISS cukup menantang. hehehe,, yaiyalaah.. kan ini program tantangan, dan hidup penuh tantangan heheh.. Semangaaat!!!! 😃

Alhamdulillah tiap hari semakin banyak belajar dan sedikit-sedikit berubah menjadi lebih baik. Setiap hari jadi lebih melek tantangan komunikasi dan semangat mencari the better strategy

Terima kasih, IIP.
Salam.

Senin, 06 Februari 2017

Komprod T10 Day#8 FITRI PURBASARI Depok/Jabar

Level 1: Tantangan 10 Hari Berkomunikasi Produktif
Kelas Bunda Sayang IIP

Oww! Memerintah Lagi

Astaghfirulloh, sangat sulit mengeliminasi kebiasaan populer yang satu ini. Memerintah, the fastest way agar anak cepat melakukan apa yang kita mau. Hari ini saya gagal mengendalikan diri dari kalimat seru yang tak bersahabat. Salah satu scenenya, saat si kaka ingin berdiplomasi untuk menambah jam mainnya, dengan cepat saya menolaknya dengan mengeluarkan perintah, "Nggak! Mau maghrib". Hemmh.. meski maksudnya baik agar anak menghormati waktu sholat dan bersiap diri untuk sholat maghrib, tapi ternyata saya menyesal meluncurkan kalimat itu. It means, I have done a wrong way of speaking.
Aduuuh,,,tak boleh lagi deh saya melakukannya. Saya pikir kebiasaan memerintah ini harus menjadi fokus di hari-hari selanjutnya. Again, ini menyangkut diksi dan intonasi. Yaah, secara gitu loh, kita juga gak nyaman dengan kelimat-kalimat perintah yang tak bersahabat disertai body language yang sok tegas padahal galak. heu 😧 So, mari berusaha menenpatkan diri dalam posisi orang lain, tenggang rasa.. hehee itu istilahnya yaa kalo gak salah. 

Hemmh.. di forum keluarga kami malam ini, selain ngobrol seperti biasa, kami juga mengizinkan si kaka untuk memillih mainan di online shop sebagai reward atas 40 bintang yang diraihnya dalam seminggu ini. 1 bintang mewakili 1 aktivitas harian yang dia lakukan sendiri. Di star chart nya kami mencantumkan 14 aktivitas/hari, termasuk mandi pagi-sore, makan, ngaji pagi-malam, sholat 5 waktu, membaca shiroh nabi, dan belajar. Alhamdulillah star chart nya cukup efektif membangun kemandirian si kaka. Cuma umminya saja yang kadang konsistensinya terganggu hehehe.. Semoga besok lebih baik.

Minggu, 05 Februari 2017

Komprod T10 Day#7 FITRI PURBASARI Depok/Jabar

Level 1: Tantangan 10 Hari Berkomunikasi Produktif
Kelas Bunda Sayang IIP

Kompro Ketika Anak Sakit

Well, setiap ibu mungkin akan merasakan kecemasan ketika anaknya sakit, apalagi anak yang baru berusia 1,5 tahun. Kenapa? Karena mereka belum bisa ngomong bagian mana yang sakit, atau apa yang dirasakannya. Bisanya cuma nangis. Ini terjadi dua hari ini pada si bungsu (1,5 th). Dia terserang demam batuk pilek. Baru kali ini dia sampe rewel, tidak mau makan, lemes banget, mata sayu, dan maunya tidur dipelukan saya. Jujur saya sangat cemas. Tapi, berbekal inspirasi dari ilmu komunikasi produktif, saya berusaha untuk tetap tenang. Saya lakukan kaidah 7-38-55. Saya berusaha menanamkan dalam benak saya, bahwa saya harus lebih sabar dan bugar meskipun lelah melanda, karena nyatanya si Dedek tentu lebih lelah dan tak nyaman dengan sakitnya daripada kami yang tidak sakit. Saya berusaha membuat dia senyaman mungkin dengan bisikan do'a, kata-kata penuh kasih, pijatan lembut dan belaian serta pelukan hangat baginya.

Selain itu, yang juga tak boleh luput dari perhatian adalah sikap saya terhadap suami dan si sulung yang tidak sedang sakit. Biasanya, karena perhatian dan energi saya tersita oleh yang sedang sakit, efek samping kelelahan berupa sikap emosional tertumpah kepada mereka yang bukan pasien. Naah, alhamdullillah saya sadar lebih awal kali ini sehingga saya pun berusaha adil dan menggunakan diksi positif, intonasi dan body language yang baik kepada suami dan si sulung (5 th). Terutama bagi si sulung, saya berusaha menjaga agar dia tak merasa kehilangan perhatian saat adiknya sedang sakit. Saya memberinya pengertian tentang kondisi yang sedang terjadi dan memintanya dengan tulus agar sama-sama menciptakan suasana yang nyaman buat adik yang masih kecil. Tapi sayang, saya masih belum bisa mengurangi sikap "memerintah & menasehati". Diksinya masih perlu diolah lebih cerdas nih.

Alhamdulillah momen anak sakit kali ini sungguh dirasa berbeda bagi kami. Suasana sabar tanpa panik, komunikasi yang baik terutama dari saya, dan ilmu tentang tritmen yang tepat bagi si pasien membuat everything run well, sepertinya. Alhamdulillah, si bungsu pun sekarang sudah mulai membaik dan sudah mulai mau makan dan bermain lagi. Hemmmh.. sungguh weekend yang tetep asik meski ada yang sakit. 😊


Sabtu, 04 Februari 2017

Komprod T10 Day#6 FITRI PURBASARI Depok/Jabar

Level 1: Tantangan 10 Hari Berkomunikasi Produktif
Kelas Bunda Sayang IIP

Jangan Lupa, Clear & Clarify!

Sabtu pagi tadi kami baru bisa berfamily forum, saya dan suami. Saya membuka pembicaraan tentang rencana investasi dan pembelian rumah. Tapi kemudian saya mengungkapkan kegalauan saya akan hal lain jika kami mengambil rumah saat ini. Ada satu hal yang menurut saya urgent untuk diatasi berkaitan dengan masalah keuangan ekstern. Bla..bla..bla..bla..bla.. saya mengemukakannya panjang lebar. Masalah ini sebenarnya cukup sering saya ungkapkan pada suami. Tapi ternyata ada satu hal yang salah dipahami suami, masalah yang urgent itu belum dipahami suami secara detail. Oleh karenanya, selama ini suami menganggap kegalauanku akan masalah tersebut agak "lebay". Tetapi setelah memahami utuh masalah urgent itu, suami jadi agak bengong. heuheu.. Dan diapun merasakan kegalauan yang sama dengan saya. Hemmh..disitu saya baru sadar, ternyata selama ini cara saya mengkomunikasikan masalah urgent itu pada suami kurang menyertakan kaidah 2C, clear & clarify

Selanjutnya kami mencoba mencari solusi terbaik untuk kondisi saat ini. Alhamdulillah bahasan yang biasanya sensitif ini berjalan damai dan nyaman. Pokoknya, dalam pernikahan itu: masalah aku, masalah kamu, adalah masalah kita! Use the right words in the right time! 😉

Senin, 30 Januari 2017

Komprod T10 Day#3 FITRI PURBASARI Depok/Jabar

Level 1: Tantangan 10 Hari Berkomunikasi Produktif

Aku, Kamu Jadi Kita

Berkomunikasi dengan suami selalu menyenangkan. Saya bersyukur bisa mencurahkan segala hal kepada laki-laki yang sabar, penuh perhatian serta pengertian ini. Kami sudah menikah selama 6 tahun. So far, komunikasi kami sangat produktif. Cuma tantangan yang selalu membawa warna tersendiri adalah komunikasi menyangkut urusan keuangan ekstern. Seperti yang menjadi bahasan Ahad malam kemarin. Saya selalu galau memikirkan masalah keuangan yang membelit orang tua saya. Secara individu, saya belum bisa membantu, maka suami lah yang selalu menjadi harapan saya. Di saat seperti itu, saya selalu merasa inferior karena belum bisa mandiri dalam hal penghasilan. Alasan inilah yang kemudian membuat saya selalu bercucuran air mata saat membuka pembicaraan menyoal keuangan ekstern. Tapi alhamdulillah dengan niat baik membicarakan semuanya, hati yang siap menerima apapun keputusan sang imam, saya feel free menyampaikan segala kegalauan. Saya berbicara dengan bahasa yang baik setelah menemukan timing yang tepat. Saya membuka pembicaraan dengan pelukan. Suami membalas dengan belaian lalu menyimak dengan sabar dan penuh perhatian kalimat per kalimat yang meluncur dari lisan saya. Selanjutnya beliau mengajak saya brainstorming, baru mengemukakan pendapatnya yang selalu logis dan bijak. Alhamdulillah, pembicaraan menghasilkan kedamaian, sakinah selalu bersamanya. 😊

Mengkomunikasikan masalahku, masalahmu, menjadi masalah KITA, kami selalu berusaha menanamkan dalam benak dan jiwa bahwa kami adalah tim yang solid, harus siap menghadapi situasi apapun bersama-sama. 

Sabtu, 28 Januari 2017

Komprod T10H Day#2 FITRI PURBASARI Depok/Jabar

Level 1: Tantangan 10 Hari Berkomunikasi Produktif

ANAK CAPER

Di forum keluarga kami malam ini, saya meminta maaf kepada kedua anak tercinta. Saya menyesali sikap saya seharian ini yang cenderung kurang bersahabat pada mereka. Entah karena tingkah mereka yang over dari biasanya, atau karena saya yang kurang tidur semalam. Tapi sepenuhnya saya sadari itu karena kelemahan saya. 

Sore tadi adalah jadwal pengajian kelompok saya di rumah. Entah karena teman sebayanya tidak datang, Si Kaka (5 th) jadi caper alias cari perhatian kepada teman-teman ngaji saya. Saya merasa kalimat dan tingkah capernya itu agak mengganggu forum kami, maka beberapa kali saya memandangnya tajam sambil memperingatkannya dengan kalimat agak tegas, "Ka, tolong! Umi lagi ngaji dulu yaa, kaka di kamar dulu mewarnai atau main ya!" Si Kaka agak enggan, tapi mungkin berusaha mengalihkan perhatian ke mainannya agar tak mengganggu forum uminya. Selanjutnya, saya berusaha untuk tak menghiraukannya. Hemmh.. saya cukup menyesal bersikap demikian, dan tak antisipatif dengan sikapnya yang seperti itu. 

Selain itu, penyesalan pun saya rasakan dari pelitnya saya mengucapkan terima kasih pada Si Kaka. Padahal kuingat-ingat, hari ini dia cukup banyak membantu saya mengurus persiapan ngaji dan menghandle adiknya. Saya hanya bilang sekilas, "Ka, maafin umi ya tadi agak kasar ke kaka." Dan dijawabnya pula, "Iya mi, maafin Kaka juga yaa.". Sampai barusan dia tertidur cepat karena tidak bobo siang, saya belum bersikap ramah seperti seharusnya karena sibuk menjawab pesan yang masuk di hp. hemmh..menyesallah saya saat melihat raut wajahnya yang sudah terlelap.

Pun kepada adiknya. Barusan pas ngelonin Dede (1,5 th), saya minta maaf padanya atas sikap saya yang kasar tadi siang. Dia yang semakin aktif meraih ini itu, jumpalitan sana sini membuat saya kewalahan. Beberapa kali saya menariknya dengan kasar tadi siang, disertai nada tinggi yang menyakiti. Astaghfirulloh..

Sikap saya yang minus ini tak boleh terulang lagi besok. InsyaAlloh besok lebih baik lagi... lebih waras lagi.

Selasa, 24 Januari 2017

Komprod_T10H_day1_FITRI PURBASARI_DEPOK/JABAR

Level 1: Tantangan 10 Hari Berkomunikasi Produktif

KOMUNIKASI KELUARGAKU

Alhamdulillah selama ini, kami sudah memiliki forum keluarga setiap malam setelah suami sampai di rumah. Dan dengan ilmu komunikasi produktif dari Bunda Sayang ini insyaAllah akan semakin mengokohkan forum keluarga kami. 😊

Pada hari ini, alhamdulillah Allah memberi tantangan yang menjadi jalan saya mempraktekkan ilmu bunsay kali ini. Begini ceritanya. deng deng deng....
Sepulang sekolah, Si Kakak mengambil kertas kosong dan spidolnya. Katanya mau bikin peta mencari binatang. Mulailah dia menggambar. Daaan seperti biasa, Sang Adik ikut-ikutan. Adik mengambil satu spidol dan ikut menggambar di kertas kakaknya. "IIIIH ADEEEE!!" teriak Si Kakak. Dia marah, tak ridho, lalu mulai histeris. Saya pun beraksi. Saya perhatikan intonasi dan merangkai diksi dengan KISS. Saya sampaikan "Kakak sayang, ade pengen bantu kakak, ade pengen sama-sama gambarnya. Mungkin ade pengen belajar gambar sama kakak karena gambar kakak bagus." tentu dengan suara tenang sambil mengalihkan perhatian adiknya agar menjauh dari Si Kakak "Yuk, ade disini aja yaa gambarnya. Niih umi buatkan bunga." Si Kakak cukup tenang tapi ingin menngganti kertasnya dengan yang baru. Dan lima menit berlalu. Sang Adik menghampiri kakaknya lagi. Dan..cret! Dia mencoret lagi gambar kakaknya. Again... Sang Kakak teriak dan histeris lagi. Kali ini lebih kesal dari yang tadi. "ARRRRRRGHH ADEEEE! IHH SEBELLL!" sambil meremas kertasnya. Again pula saya menyampaikan ulang kalimat-kalimat babak pertama. Tapi Kakak udah kesel banget sama adiknya. Si Kakak memelukku dan menangis. Jurus kedua, saya peluuuuk dia dengan tulus, kali ini tak ada rasa emosi hehehe.. Saya ajak dia mendekat ke dinding yang penuh coretan yang Kakak buat waktu dia berumur 2 tahun. Saya ajak dia mengenang masa itu. "Adek itu lagi pengen belajar nulis, Ka. Sama kayak Kakak dulu. Kakak suka nulis di buku ngaji umi, umi biarin. Niih, ini gambar kakak waktu kecil. Kakak seneng bikin lolipop, umi biarin kakak belajar nulis di dinding ini, karena nanti bisa dicat lagi. Lihat, gambarnya kaya coretan kan ya? ini karena kakak baru belajar. Sama kaya ade sekarang. Jadi gak apa-apa yaa kalo adek mau belajar gambar sama kakak. Biar ade juga pintar kaya kakak. ok? Yuk gambar lagi, nanti umi bantuin." And..alhamdulillah..dia sangat menerima ucapanku. Dia pun mengambil kertas baru dan memulai lagi gambar ketiganya denga perasaan tenang meski nanti Adik nyamperin lagi. 😉



So, hari ini saya belajar merubah sumbu emosi saya. Kali ini lebiiih panjang. Komunikasi saya kali ini cantik dengan intonasi kedamaian dan diksi yang positif. Alhamdulillah. 😍

Pas suami pulang, saya ceritakan kejadian menarik ini kepadanya. Dan memberikan apresiasi kepada Kakak yang sudah bersikap baik seharian ini. Perbincangan kami berlanjut pada kegiatan kakak siang tadi di sekolah. Lalu saya mengajarinya mendongeng dari balik gorden dengan boneka-boneka kecil. She loves storytelling! Setelah itu, dengan perasaan positif, anak sulung kami bersiap tidur, meminta diselimutin dan dicium keningnya. Tak lupa ritual baca shiroh Muhammad Teladanku sebagai pengantar tidurnya. 

Alhamdulillah..it was so beautiful!  

Resume Diskusi: Desain Global Sekolah Unggul

 Bismillah.. alhamdulillah malam ini bisa bergabung di diskusi online Kelas 100 Guru PAUD berjudul Desain Global Sekolah Unggul. Pematerinya...