Tampilkan postingan dengan label #membangunperadaban. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #membangunperadaban. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 November 2016

MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FITRAH (MATERI #4)

MATERI MATRIKULASI IBU PROFESIONAL SESI #4  DAN DISKUSI TANYA JAWAB*
_Selasa, 8 November 2016, Pukul 20.00-21.00_
_Matrikulasi IIP Depok Batch 2_
➖➖➖➖➖➖➖
*MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FITRAH*
Bunda, setelah kita memamahi bahwa salah satu alasan kita melahirkan generasi adalah untuk membangun kembali peradaban dari dalam rumah kita, maka semakin jelas di depan mata kita, ilmu-ilmu apa saja yang perlu kita kuasai seiring dengan misi hidup kita di muka bumi ini. Minimal sekarang anda akan memiliki prioritas ilmu-ilmu apa saja yang harus anda kuasai di tahap awal, dan segera jalankan, setelah itu tambah ilmu baru lagi. Bukan saya, sebagai teman belajar anda di IIP selama ini, maupun para ahli parenting lain yang akan menentukan tahapan ilmu yang harus anda kuasai, melainkan *_DIRI ANDA SENDIRI_*
Apakah mudah? TIDAK.  Tapi yakinlah bahwa kita bisa membuatnya menyenangkan. Jadilah diri anda sendiri, jangan hiraukan pendapat orang lain. Jangan silau terhadap kesuksesan orang lain. Mereka semua selalu berjalan dari KM 0, maka mulai tentukan KM 0 perjalanan anda tanpa rasa “galau”.
Inilah sumber kegalauan diri kita menjalankan hidup, kita tidak berusaha memahami terlebih dahulu apa“misi hidup” kita sebagai individu dan apa “misi keluarga” kita sebagai sebuah komunitas terkecil. Sehingga semua ilmu kita pelajari dengan membabi buta dan  tidak ada yang dipraktekkan sama sekali. Semua seminar dan majelis ilmu offline maupun online kita ikuti, karena kekhawatiran tingkat tinggi akan ketertinggalan ilmu kekinian, tapi tidak ada satupun yang membekas menjadi jejak sejarah perjalanan hidup anda.
Check List harian sudah anda buat dengan rapi di Nice Homework#2, surat cinta sudah anda buat dengan sepenuh hati  di Nice Homework #3. Bagi yg sudah menemukan misi hidup dan misi keluarga, Misi tersebut sudah kita tulis besar-besar di dinding kamar, tapi anda biarkan jadi pajangan saja. Maka “tsunami informasilah” yang anda dapatkan, dan ini menambah semakin tidak yakinnya kita kepada “kemampuan fitrah” kita dalam mendidik anak-anak. 
“ *Just DO It*”,
_lakukan saja meskipun anda belum paham, karena Allah lah yang akan memahamkan anda lewat laku kehidupan kita_.
Demikian juga dengan pendidikan anak-anak. Selama ini kita heboh pada _Apa yang harus dipelajari anak-anak kita_,  bukan pada _Untuk apa anak-anak mempelajari hal tersebut_ Sehingga banyak ibu-ibu yang bingung memberikan muatan-muatan pelajaran ke anak-anaknya tanpa tahu untuk apa anak-anak ini harus melakukannya. 
Ada satu kurikulum pendidikan yang tidak akan pernah berubah hingga akhir jaman, yaitu 
PENDIDIKAN ANAK DENGAN KEKUATAN FITRAH
Tahap yang harus anda jalankan adalah sbb:
a.Bersihkan hati nurani anda, karena ini faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan anda.
b. Gunakan Mata Hati untuk melihat setiap perkembangan fitrah anak-anak. Karena sejatinya sejak lahir anak-anak sudah memiliki misi spesifik hidupnya, tugas kita adalah membantu menemukannya sehingga anak-anak tidaka kan menjadi seperti kita, yang telat menemukan misi spesifik hidupnya.
c. Pahami Fitrah yang dibawa anak sejak lahir itu apa saja. Mulai dari fitrah Ilahiyah, Fitrah Belajar, Fitrah Bakat, Fitrah Perkembangan, Fitrah Seksualitas dll. 
d. Upayakan proses mendidik yang sealamiah mungkin sesuai dengan sunatullah tahap perkembangan manusia. Analogkan diri anda dengan seorang petani organik.
e. Selanjutnya tugas kita adalah MENEMANI, sebagaimana induk ayam mengerami telurnya dengan merendahkan tubuh dan sayapnya, seperti petani menemani tanamannya. Bersyukur atas potensi dan bersabar atas proses. 
Semua riset tentang pendidikan ternyata menunjukkan bahwa semakin berobsesi mengendalikan, bernafsu mengintervensi, bersikukuh mendominasi dsbnya hanya akan membuat proses pendidikan menjadi semakin tidak alamiah dan berpotensi membuat fitrah anak anak kita rusak.
f. Manfaatkan momen bersama anak-anak, bedakan antara WAKTU BERSAMA ANAK dan WAKTU DENGAN ANAK. Bersama anak itu anda dan anak berinteraksi mulai dari hati, fisik dan pikiran bersama dalam satu lokasi. Waktu dengan anak, anda dan anak secara fisik berada dalam lokasi yang sama, tapi hati dan pikiran kita entah kemana.
g. Rancang program yang khas bersama anak, sesuai dengan tahap perkembangannya, karena anak anda “very limited special edition” 
Bunda, mendidik bukanlah menjejalkan, mengajarkan, mengisi dsbnya. Tetapi pendidikan, sejatinya adalah proses membangkitkan, menyadarkan, menguatkan fitrah anak kita sendiri.
Lebih penting mana membuat anak bergairah belajar dan bernalar atau menguasai banyak pelajaran, lebih penting mana membuat mereka cinta buku atau menggegas untuk bisa membaca.
Jika mereka sudah cinta, ridha, bergairah maka mereka akan belajar mandiri sepanjang hidupnya. 
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

Sumber bacaan :
_Irawati Istadi, Mendidik dengan Cinta, Jogjakarta, 2013_
_Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016_
_Antologi, Komunitas Ibu Profesional, Bunda Sayang, Surakarta, 2014_
_Materi Matrikulasi sesi #3, Membangun Peradaban dari Dalam Rumah, 2016_
➖➖➖➖➖➖➖
➖➖➖➖➖➖➖
*Sesi Tanya Jawab*
1⃣ Bunda Wiwit :
utk materi ke 4 ini Mendidik dg Kekuatan Fitrah.
Welk noted utk KM0,Tsunami informasi,tahapan ilmu serta yg paling intinya
Pahami Fitrah yg dibawa anak sejak lahir: Fitrah Ilahiyah,Fitrah Belajar,Fitrah Bakat,Fitrah perkembangan,Fitrah seksualitas dll.
Saya ingin sekali bisa memahami aspek2 fitrah yg ada pada anak kita,krn saya msh awam.
Mohon berkenan utk penjelasannya lebih detail mengenai fitrah2 yg ada pada anak kita tsb msg2 :
Fitrah Ilahiyah,Fitrah Belajar,Fitrah Bakat,Fitrah perkembangan,Fitrah seksualitas dll.
Jazakillah khairan katsiraa 😊🙏🏼
1⃣bunda Wiwit
*Fitrah Ilahiyah (keimanan)*
meliputi spiritualitas, moralitas dan religiusitas. Setiap anak dilahirkan untuk mencintai Tuhannya yang selanjutnya akan membentuk karakternya (akhlakul karimah). Pada usia dibawah 7 tahun, fitrah ini sangat mudah dibangkitkan dengan imajinasi dan abstraksi tentang Allah, Rasul, kebaikan dan segala ciptaan-Nya.
*Fitrah belajar*
adalah keinginan untuk mempelajari sesuatu secara alami, tidak perlu diajarkan secara khusus.
Kita hanya perlu menemani dan mengarahkan, hal apa yang disukai anak. Jika anak suka sains, fasilitasi dengan buku, bisa juga melihat dan mengamati tumbuhan atau makhluk hidup disekitarnya.
Dalam bukunya Origins, Annie Murphy Paul membuktikan bahwa bayi selama 9 bulan dalam kandungan telah mampu menyerap apa yang terjadi diluar tubuh ibunya.
Dalam sebuah penelitian tahun 1999 di kawasan kumuh di India, dilakukan eksperimen dengan meletakkan sebuah komputer di tempat umum yang memungkinkan di sentuh anak-anak. Walau tanpa diajarkan, ternyata anak-anak itu mampu mengoperasikan komputer. Bahkan jika komputer itu menggunakan bahasa asing.
*Fitrah Bakat*
meliputi Talent, Passion & Strength. Setiap anak adalah unik dan memiliki sifat bawaan masing-masing yang kemudian akan berkembang menjadi karakternya. Dengan karakternya, akan berkembang bakat yang akan menjadi misi hidup yang spesifik untuk bisa berperan dalam peradaban.
Masa-masa keemasan untuk mengembangkan fitrah bakat ini adalah usia 10-14
Biasanya di usia ini anak sudah mulai menentukan satu bidang yg dia sukai dengan lebih serius.
*Fitrah Perkembangan*
Segala yang ada di muka bumi memiliki sunnatullah tahapan pertumbuhannya masing-masing yang berkorelasi dengan dimensi waktu dan dimensi kehidupan.
Ada masa dimana benih atau biji ditanam dan disemai, ada masanya benih bertunas, ada masanya tumbuh cabang dan daun, ada masanya berbunga, ada masanya berbuah begitu seterusnya.
Untuk setiap masa itu ada cara dan tujuannya masing-masing. Dalam sunnatullah perkembangan atau pertumbuhan ini maka tidak berlaku kaidah “makin cepat makin baik”, juga jangan terlalu terlambat untuk tiap tahapannya. Segala sesuatunya akan indah bila tumbuh pada saatnya.
*Analogikan diri anda seperti petani organik*
Petani organik itu tidak pernah menggegas dengan menambahkan berbagai macam hal2 yg tidak alamiah. Para petani ini ingin menemani tanaman itu tumbuh sesuai dgn kehendakNya. Tidak memaksakan proses sehingga hasilnya dipaksakan sesuai kehendak kita sang perawat.
*Fitrah Seksualitas*
Secara fitrah seksualitas, anak lelaki mulai lebih didekatkan kepada ayah agar tumbuh fitrah kelelakiannya secara alamiah, begitupula anak perempuan mulai lebih didekatkan pada ibu agar tumbuh fitrah keperempuanannya secara alamiah baik individu maupun sosial. Pada puncak tumbuhnya fitrah seksualitas ini, maka fitrah peran seksualitas ini akan menjadi adab pada orangtua, adab pada perannya sebagai lelaki, adab pada perannya sebagai perempuan dalam skala personal maupun komunal. ✅
2⃣ Bunda Laela
Mendidik anak sealamiah mungkin, saya blm begitu paham tentang itu, bisa dijelaskan lbh detil? Apakah yg dimaksud sealamiyah itu  sesuai tahapan nya jangan terlalu terburu buru mengajarkan ini itu atau bagaimana?
Trimakasih sebelumnya
2⃣bunda Laela
Betul..
buatlah pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan buat anak. Jangan pernah memaksa anak untuk bisa semua hal. Tapi kuatkan di bidang yg anak kuasai.. maka itu akan lebih bermakna.
"jangan paksakan anak burung untuk jago berenang, karena dia hanya jago terbang.
Dan jangan paksakan ikan untuk jago terbang, karena dia hanya jago berenang.
Jadi fokus pada kelebihan anak bukan pada kekurangannya.✅
3⃣ bunda Nira
pada point d mendidik anak dengan fitrah,  mendidik anak dengan sunatullah,  realnya seperti apa
3⃣ bunda Nira
Pertanyaannya sama seperti bunda Laela.
Saya tambahkan lagi ya..
Tugas kita sebagai orangtua hanya menemani proses pembelajarannya, tumbuh kembangnya.. Jika ingin melihat indikatornya, bandingkan dengan dirinya sendiri dimasa yg lalu. Jangan pernah membandingkan anak kita dengan anak yang lain.
Contoh: sekarang anak kita senang membaca buku. Padahal setahun yang lalu dia belum bisa membaca.
Sekarang anak kita sudah bisa merapihkan sepatunya sendiri. Padahal setahun yg lalu masih melepas sepatu sembarangan.
Bersyukur dan beri pujian atas pencapaiannya.
Buat hal2 yg ingin dicapai lebih baik lagi oleh anak kita tapi dimulai dari yang sederhana dulu dalam kegiatan sehari-hari sesuai usianya. Jangan terlalu memaksakan.✅
4⃣bunda Ika
Di poin G: Rancang program yang khas bersama anak.
Ini seperti apa ya? apakah setiap hari kita membuat aktivitas khusus untuk masing-masing anak? atau bagaimana ya? Terima kasih..
4⃣bunda Ika
Iya. Buatlah rencana kegiatan.. misal minggu ini kita mau main apa ya? Mau kemana dan nanti disana ada nilai pembelajarannya.
Karena sampai usia 12 tahun selama anak belum aqil baligh maka pasti anak akan senang bermain atau menghabiskan waktu bersama keluarga.
Dan setelah aqil baligh, biasanya anak tidak lagi selalu ingin berada disamping kita. Lanjutkan dengan menjadikan anak sebagai *sahabat* ✅
5⃣ Ibu insiyah
Mba saya ibu 3 anak,yg pertama 12 thn alhamdulillah msk pesantren,yg kedua umur 3 thn 10 bln,yg ketiga 4 bln.,yang ingin saya tanyakan apakah salah jika yang menentukan pilihan sekolah itu orang tua,anak saya yg kedua itu aktif banget makanya saya memasukkan sekolah TK dari umur 3 thn,apa itu terlalu dini?
5⃣bunda Insiyah
Sebaiknya dalam menentukan sekolah, kita berikan beberapa pilihan kepada anak kita, mau masuk kemana? Ajarkan anak berdiskusi dan belajar menentukan pilihan.
Diberikan anak yang aktif itu anugerah sebenarnya. Dan sebagai orangtua kita harus berlatih sabar dalam menghadapinya.
Kalau menurut bunda sendiri, anak kedua bunda nyaman kah disekolahkan sejak dini? Pernah kah dia mengeluh capek atau bilang kalau dia maunya dirumah aja sama bunda dan adiknya?
Coba ditanyakan bun..
Kalau si anak tengah merasa senang dan nyaman, menurut saya sih tdk masalah.
Tapi kalau ternyata dia merasa dijauhkan dari adik dan bundanya sebaiknya jangan disekolahkan dulu.. berarti dia belum mau. ✅
6⃣bunda Azay
Bagaimana cara membersamai/ menemani di waktu bersama anak yg ideal bagi seorang ibu yg aktif di ranah publik(tidak bisa 24jam bersama anak) agar tetap bisa mendidik anak sesuai fitrahnya?
6⃣bunda Azay
Kalau saya pribadi selalu meluangkan waktu di hari minggu khusus untuk anak-anak.
Karena ketiga anak saya mondok di pesantren.
Dihari minggu itulah kami orangtua berusaha *Membersamai* anak-anak.. karena hanya diberi waktu dari pukul 9 pagi sampai 5 sore.
Terserah anaknya mau dibawa kemana untuk lepas kangen kangenan 😅
Biasanya saya selalu ajak *ngobrol*.
Membawakan makanan atau buah kesukaan mereka. Sambil makan atau sambil jalan-jalan. Sekedar menanyakan perasaannya, bercanda, bermain, baca buku, dan melepas lelah dan kejenuhan mereka selama 6 hari dengan aktifitas yang padat.
Saya selalu merancang waktu untuk 3 hal:
*me time* waktu saya untuk sendiri
*we time* waktu saya hanya berduaan dengan suami, dan
*family time* waktu bersama keluarga.
Semua waktu itu berusaha kami penuhi sekali dalam satu minggu.
Bagaimana dengan bunda?
Bunda pasti punya waktu kosong.
misal dimalam hari sebelum tidur,
saat makan malam bersama,
Silahkan gunakan untuk *ngobrol* bareng keluarga.
Jangan sampai kita berguna bagi orang lain tapi anggota keluarga sendiri merasa kehilangan.
Coba berusaha buat manajemen waktu yang baik.
Hal ini bisa juga ditanyakan ke mba nia yang punya pengalaman dalam membersamai anaknya saat sepulang kerja dimalam hari. Karena beliau juga bekerja diranah publik.✅
Nia ➡ Menambahkan penjelasan dari mbak Zy, setelah bunda memahami apa saja jenia fitrah maka kita terapkan diri kita sebagai "Manajer Keluarga". Manajer berarti kita yang mengatur dan mengelola apa saja yang keluarga kita butuhkan termasuk soal menjaga fitrah anak dan pendidikannya.
Nah sebagai ibu bekerja di ranah publik, ibu sebagai seorang manajer keluarga dapat mendelegasikan tugas tersebut. Sehingga tugas kita untuk menyampaikan atau mengedukasi pihak yang kita berikan tanggung jawab dalam menjaga anak kita selama kita bekerja. Diskusikan dan obrolkan bersama.
Bu Septi juga bercerita, dulu ketika anak-anak bu Septi kecil ada asisten untuk mengurus anak, bu Septi ajarkan berbagai cara yang telah dipikirkan Bu Septi contoh: cara berkomunikasi dengan anak, cara mendampingi membaca buku. Bu Septi mengajak asistennya ikut seminar parenting dsb. Dan pada akhirnya asistennya tersebut saat ini sudah memiliki sekolah tk sendiri. 😊
Dan jika saya pribadi saya juga punya waktu komitmen diantaranya:
1. Pada saat jam istirahat saya selalu sempatkan telfon anak saya untuk mengobrol.
2. Saat sampai rumah, setelah siap sudah mandi makan sholat menghela nafas, saya serahkan sepenuh jiwa raga saya untuk anak. Kegiatan apapun yang ia inginkan. Mengejar ketertinggalan saya di ranah Bunda Sayang dan Bunda Cekatan
3. Weekend full untuk anak menjalankan family project or family trip. Main bersama. Jika ada kelas iip 2 jam, maka akan dikondisikan kembali.
Kelihatan berat? Pada awalnya iya. Saya pun demikian tapi ini konsekuensi saya memilih ranah publik. Saya gak mau anak ketinggalan karena excuse saya bekerja.
InsyaAllah bagi saya ini investasi, mumpung masih ada umur dan rizki tenaga.
Kadang beberapa hari dalam sebulan apabila saya pulang lebih larut atau saya lelah amat sangat saya minta maaf pada anak karena tidak optimal. Itu saja. Agar anak ridho.

7⃣Bunda Nurul
Assalamualaikum. Apakah ada tips yg mudah kita terapkan manakala ada  perasaan apa yg kita lakukan dalam mendidik anak kita tidak sebaik keluarga yang lain.  Niat awal untuk menjadi gambaran atau contoh,  namun seringkali malah jadi merasa terintimidasi. Merasa banyak kurang...merasa jauh tertinggal.Terima kasih
7⃣ bunda Nurul
Rumput tetangga memang terlihat lebih hijau ya 😅 Sebaiknya kita segera merenung.
Model pendidikan keluarga kita sebaiknya berdasarkan gaya belajar anak2 kita sendiri. Kita tdk bisa terus menerus meniru gaya belajar orang lain. Karena sudah pasti kebutuhannya berbeda beda.
Mengambil sisi positif dari orang lain itu boleh boleh saja.
Bahkan di Ibu Profesional kita mengenalnya dengan istilah ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi)
Jadi.. bunda bisa saja melihat model pendidikan dari keluarga lain.. asalkan di modifikasi dengan kebutuhan masing2 anak kita. ✅
8⃣ Bunda Diyan
Menilik tahapan2 dlm mendidik anak dg kekuatan fitrah menurut saya sesuai modelnya bila dilakukan dg  sistem homeschooling. Saya berminat sekali dg sistem ini tapi anak saya cenderung ingin masuk sekolah formal. Tahun ini blm saya daftarkan coz saya baru saja resign dan ingin PDKT lg sama anak. Bagaimana saya harus bersikap? Tetap sounding tentang HS atau menuruti dl keinginannya sambil tetap sounding?
(Duuh maksa banget saya ya)
8⃣bunda Diyan
Bu Septi pernah menawarkan kepada anak2nya. Beliau memberikan 3 pilihan sekolah terbaik yang cocok dengan value keluarganya atau belajar dirumah bersama ibu dan bapaknya.
Dan setahu saya si sulung mba Enes pernah sekolah di sekolah swasta pilihannya sebelum akhirnya homeschooling juga.
Jadi memang sebaiknya berikan pilihan dengan segala konsekuensinya dan dengarkan pilihan anak.
Jika ditengah jalan akhirnya dia memutuskan ingin HS jangan pernah menyalahkan pilihannya. Karena semua itu terjadi karena kehendakNya. Dan pasti ada pelajaran yang bisa diambil.
Pengalaman saya, anak pertama dan kedua pindah sekolah sampai 2x dan baru memilih mondok dipesantren dengan keinginannya sendiri.. dan saya sebagai orangtua tidak pernah menyesali perjalanan itu.. karena banyak hikmah yang bisa kami jadikan pelajaran dalam hidup ini. ✅
9⃣bunda Marie
Pertanyaan : Bagaimana cara memahami fitrah anak sejak lahir? Dan bagaimana meyakinkan diri kita sebagai ortu dan anak kita bahwa itu adalah fitrahnya.
9⃣bunda Marie
Fitrah berasal dari akar kata fa-ta-ro dalam bahasa Arab yang berarti membuka atau menguak.
Fitrah sendiri mempunyai makna asal kejadian, keadaan yang suci dan kembali ke asal. Dalam Islam terdapat konsep bahwa setiap orang dilahirkan dalam keadaan fitrah.
*Sumber: wikipedia*
Jadi sebagai orangtua, kita hanya mengarahkan agar si anak tetap menjadi makhluk ciptaanNya yang harus taat dengan melewati tahapan dalam hidupnya hingga kembali padaNya. ✅
*Diskusi tambahan*
❓❓Gimana membuat anak eksplorasi dg alam tp d lingkungan rmh susah dpt kebun atw kolam aplg sawah hehee. Ada kebun orang lain.
⏩Ijin aja ke kebun orang jika dibolehkan asal jangan merusak hehe
❓❓Mba Zy, mengembangkan fitrah Ilahiyah itu bagaimana caranya ya? Fitrah ini cenderung terlewati, padahal merupakan dasar. apakah fitrah-fitrah ini bentuknya bertingkat ya? maksud saya, fase-fasenya seperti piramida.
⏩Tetap sesuai usia mba.
0-7 tahun perbanyak main dengan alam terbuka untuk menanamkan nilai ketuhanan.
7-14 tahun mulai mendisiplinkan ibadah dengan konsisten
14-21 pendalaman keimanan untuk mempersiapkan anak menjadi makhluk sosial yang bermanfaat untuk sesama dan mempersiapkan anak memasuki tahap menjadi manusia dewasa #imho
❓❓Mba.. Cara utk menguatkan rasa ingin tau anak gmn ya? Anak saya yg pertama di usia balitanya saya rasa banyak sekali ingin tau, dilihat dgn banyak tanya. Sekarang di usia yg mau tujuh tahun, porsi bertanya nya agak melemah. Memang begitu fitrahnya atau ada pola yg salah ya?
⏩Rasa ingin tahu yg besar dan banyak bertanya adalah ciri2 anak yg cerdas. Jadi sediakan waktu untuk menjawab pertanyaan anak.
Ada kemungkinan anak merasa diacuhkan atau dibentak saat bertanya itu juga bisa menyebabkan anak jadi enggan bertanya lagi..
⏩Husnudzon saya, dia kadang sudah menemukan jawabannya sendiri sebelum akhirnya banyak tanya 😂 Tapi ya saya kangen sama dia yg cerewet tanya ini itu.. Memang kompleks sih pertanyaannya jd kadang mungkin anak kurang terpuaskan dgn jawaban ibunya. Smg Allah selalu bimbing kami.. Trm ksh mba Zy 😇
⏩Aamiin.. sebagai orangtua.. kita memang harus pintar menjawab pertanyaan anak. Jika memang tidak tahu, ajak anak mencari jawabannya dengan bertanya kepada orang lain yg lebih tahu atau cari di google 😂
❓❓Hampir mirip pertanyaan sy... bedanya kemandirian... usia dini kemandiriannya sdh terlihat, usia bertambah malah semakin menurun dan selalu minta dilayani... 😰
⏩Menurut saya bundanya kurang "tega" dalam mendisiplinkan anak.
Karena untuk melatih kemandirian anak butuh ketegasan. Jika bunda atau ayahnya pernah melanggarnya. Maka anak akan kendor kedisiplinannya
❓❓Mba zy, jika anak usia pra sekolah yg blm bisa menentukan apa2 yg menyenangkannya (menurut saya sih ini 😬), kira2 butuh brp x atau brp lama kita coba di satu hal, smpai kita tau dia suka atau tidak. Misal kita sedang mencoba mengenalkan renang, diperjalanan dia bilang gak suka. Apa kita langsung turuti beralih ke yg lain atau lihat perkembangan smpai brp lama?
⏩Menurut ippho santosa 90 hari waktu yang cukup untuk menentukan apakah kita memang masih menyukai kegiatan tersebut atau tidak. Jika ia dlm waktu tersebut sdh bosan bisa diganti dgn kegiatan lain. Jika tetap menyukainya. Teruskan..bisa jadi itu passionnya
❓❓Saya mau tanya..Saya suka khawatir karena curriosity anak saya seperti tidak ada habisnya. (usianya 7 tahun). Kemarin pulang sekolah dia minta diajarin perkalian. 🙈 (Alhamdulillaah penjumlahan dan pengurangan sudah mampu dikuasai). Tapi saya agak khawatir, kalo perkembangan secara kognisinya terlalu cepat. Seperti hal nya dulu, di usianya menjelang 5 tahun, saya belum mau mengajarinya membaca tapi dia sudah banyak bertanya dan minta diajari membaca. (mungkin karena hampir setiap hari dia melihat saya membaca buku saya sendiri atau membacakannya cerita).  Padahal saya hampir tidak pernah membahas pelajaran sekolah saat di rumah. Jikapun bertanya hanya melakukan review sesekali tentang pengalaman belajarnya, apa yang baru dia tahu dll. Tapi lebih sering dia duluan yang cerita. 🙈Ummi.. Tadi aku belajar ini, tapi aku masih bingung. Padahal udah dijelasin. Ummi ajarin aku ya..? Saya lebih banyak bertanya tentang dengan siapa dia bermain? Apa yang seru di sekolah hari ini? Dll.. Karena orientasi saya saat ini, yang penting anak saya senang belajar, dan senang berteman. Apa yang sebaiknya saya lakukan..?
⏩Curriosity anak yang besar sangat bagus. Jadi tdk perlu dikhawatirkan.
Yang tdk boleh, kita memaksakan kehendak kita agar anak bisa ini bisa itu.
Tapi kalau anak yg meminta mengapa tidak diajarkan bun? Barangkali memang itu kebutuhannya. Cepat dalam belajar.. sehingga bisa terjadi sebaliknya jika dia sudah banyak tahu tapi tidak ditambah pengetahuannya nanti dia akan bosan..#imho
Penutup
Ingat..
Jadilah diri anda sendiri, jangan hiraukan pendapat orang lain. Jangan silau terhadap kesuksesan orang lain. Mereka semua selalu berjalan dari KM 0, maka mulai tentukan KM 0 perjalanan anda tanpa rasa “galau”.
😊😊😊😊😊
Alhamdulillah..
Terima kasih mba Ika.. dan bunda-bunda semua..
Semoga kita semua selalu sehat dan bahagia bersama keluarga.
Wassalamu'alaikum wr wb

Sabtu, 12 November 2016

#FITRI PURBASARI_NHW4

MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FITRAH

  • Setelah melihat kembali Nice Home Work #1 dan merenung melalui proses IQRO tentang misi hidup dan misi keluarga, saya telah menambah jurusan ilmu yang ingin saya tekuni di Universitas Kehidupan ini. Selain akan fokus mempelajari ilmu Islamic Parenting seputar Bunda Sayang dan Bunda Cekatan, saya juga akan menekuni dunia Menulis artikel dan buku cerita anak sebagai pendukung dan penguatan materi Bunda Sayang dan Bunda Cekatan. Seiring dengan itu, saya juga akan terus memperkokoh keahlian saya sebagai fasilitator bahasa Inggris untuk anak dan remaja.
  • Di Nice Home Work #2 saya dibimbing untuk membuat checklist sebagai sarana untuk untuk memantaskan diri menjadi seorang "Ibu Profesional". Namun, saya masih belum konsisten melaksanakan checklist yang saya buat dengan sepenuh hati itu. Ada kalimat yang sangat memotivasi dari IIP: "Latih dengan keras diri Anda agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri Anda!". Mulai hari ini saya akan bersungguh-sungguh!
  • Berdasarkan Misi Kehidupan dan Misi Keluarga yang saya temukan melalui NHW#3, saya menjadi paham akan poin-poin penting ini dalam diri saya:
    • Misi Hidup        : Memberikan edukasi dan inspirasi kepada orang lain
    • Bidang              : Pendidikan Ibu dan Anak (Islamic Parenting & Bahasa Inggris)
    • Peran               : Fasilitator
  • Untuk menjadi ahli di bidang Islamic Parenting, saya harus menjalani tahapan ilmu berikut:
    1. Bunda Sayang  : Ilmu-ilmu seputar pengasuhan anak
    2. Bunda Cekatan : Ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga
    3. Bunda Menulis  : Ilmu seputar kepenulisan dan cara menerbitkan artikel & buku cerita
    4. Miss English      : Ilmu seputar metode pengajaran English for Young Learners dan manajemen les rumahan
  • Dalam dunia parenting, KM 0 saya adalah saat saya diamanahi kelas parenting untuk ibu-ibu binaan Yayasan Tunas Ilmu Depok (pertengahan 2014). Sedangkan KM 0 sebagai fasilitator bahasa Inggris rumahan baru sekitar setahun ini.
    Untuk mengokohkan peran saya sebagai fasilitator belajar ibu dan anak, saya berkomitmen untuk mendedikasikan waktu saya 8 jam/hari untuk mempelajari, mempraktekkan, menuliskan, dan membagikan ilmu dan pengalaman seputar parenting dan bahasa Inggris baik kepada keluarga, binaan, maupun teman-teman.
    Berikut saya tetapkan milestonenya:

    KM 0 - KM 1 (tahun 1: Nov 2016-Nov 2017) : Menguasai ilmu Bunda Sayang dan menerbitkan buku cerita bertema itu, serta mengokohkan program les Bahasa Inggris yang sudah berjalan.
    KM 1 - KM 2 (tahun 2: Nov 2017-Nov 2018) : Menguasai ilmu Bunda Cekatan dan menerbitkan buku cerita tentang itu dan lanjut study S2 jurusan Ketahanan Keluarga.
    KM 2 KM 3 (tahun 3)                                     : Menjadi aktivis di Rumah Keluarga Indonesia dibawah naungan partai dan menjadi storyteller dari buku cerita yang saya buat.
Bismillahi tawakkaltu 'alallohi laa haula walaa quwwata illa billah. Ini awal sejarahku. Semoga Allah meridhoi dan memudahkan langkahku. Aamiin. ;-)

Jumat, 04 November 2016

FITRI PURBASARI_NHW3

NICE HOME WORK #3 MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH

"Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya."-- IIP

Pada minggu ketiga belajar bersama kelas matrikulasi IIP ini, kami disuguhkan materi tentang kiat-kiat awal Membangun Peradaban Dari Dalam Rumah. Subhanalloh! Materinya sungguh menyadarkan! Kami dituntun untuk memikirkan dan menemukan "misi spesifik" yang Allah lekatkan pada diri kami, pada keluarga kami. Karena sesungguhnya setiap kita adalah khalifatul fil ardh yang bertugas mengelola bumi, memakmurkan bumi, dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas tugas itu. 

Oleh karena itu, agar kami 'ngeuh', sadar sesadar-sadarnya akan amanah itu dan tidak menyia-nyiakan karunia hidup, sekarang kami ditugaskan untuk menemukan dan menuliskan dengan jelas Misi Spesial, Peran Spesifik Keluarga kami di bumi ini.
  • Keunikan Suami
Saya sepenuhnya menyadari bahwa Allah Yang Maha Pengasih pasti mempunyai maksud spesial mempertemukan saya dengan laki-laki istimewa bernama Yusup Setiadi. Laki-laki yang sebelumnya tidak saya kenal, eh tiba-tiba datang melamar dan menikahi saya (melalui proses ta'aruf singkat). Dalam proses saling mengenal yang terus berlanjut hingga kini (6 tahun usia pernikahan), saya memahami bahwa Allah menjodohkan kami untuk saling melengkapi. Mulai dari beberapa sifat yang berbeda, minat, bakat dan jurusan keilmuan yang berbeda, dan latar belakang keluarga yang berbeda kami kombinasikan agar dapat mewujudkan keluarga baru yang sesuai kehendak Allah SWT. Keluarga Taqwa, adalah Misi Pernikahan yang dia tulis dalam proposal pernikahannya yang saya terima 6 tahun yang lalu dan menjadi misi besar pernikahan kami sekarang. Suami saya adalah lelaki unggul pilihan Tuhan untuk saya, maka sejak kami dipersatukanNya, saya bertekad untuk mencintainya karena Allah saja. Saya telah menulis surat cinta untuknya. Meskipun penulisannya berlatar belakang tugas NHW#3 (hehe), tapi ini sangat membantu saya mengingat kembali keistimewaan lelakiku ini. Dia orang yang sangat sabar, tak banyak bicara, penuh pertimbangan, lembut, hampir tak pernah marah, sangat pengertian, tak mau merepotkan orang lain, tahu benar perannya sebagai imam di keluarga, demokratis, sangat well-organized, family-man, mampu mengasuh anak kecil dan pekerja cerdas. Dia tak pernah melarangku bekerja di luar rumah (sebagai guru sekolah). Dia mengizinkan saya melakukan apa yang saya inginkan selama saya enjoy dan tak kelelahan. Bahkan saat saya mulai faham kodrat wanita sesuai syari'at dan mulai galau untuk melepaskan karir keguruan saya, dia tak pernah tegas menyuruh saya untuk stay di rumah. Dengan sabar dia menerima segala analisis dan harapan yang saya cerna atas perintah syari'at itu dan memberikan support serta affirmasi atas pilihan saya untuk membangun karir sejati dari rumah. Dia memfasilitasi saya dengan mengizinkan saya mengikuti berbagai seminar yang saya minati, berlangganan majalah muslimah dan membelikan buku-buku bergizi. Lelakiku ini adalah my biggest mood booster, bahu yang selalu siap kusenderi, tangan yang selalu siap memeluk dan menghilangkan segala kegelisahan. Alhamdulillah, thank you Allah. By the way, setelah membaca surat cinta yang penuh pujian dari saya, sang suami merespon dengan pelukan sembari mendo'akan berbagai kebaikan untuk saya. He also said, "Abi juga sayang umi karena Allah." Cuit cuiiit it's romantic! :-D
  • Keunikan Anak-Anak
Alhamdulillah Allah juga mengkaruniai saya dengan anak-anak sehat dan hebat. Dua orang putri yang sedang tumbuh dan berkembang dengan baik: Rafifa (4y11m) dan Fatimah (14m). Allah membekali mereka dengan kemampuan belajar yang cepat. Karena kami membuat lingkungan buku di rumah, mereka jadi pecinta buku. Selain itu, karena saya hobi storytelling dan seringkali membacakan buku cerita kepada mereka, anak-anak kami pun jadi suka bercerita. Si Sulung, kosakatanya begitu banyak, sehingga sering membuat saya dan keluarga amazed dengan kemampuannya bermain peran atau mengarang lagu. Dia berminat sekali belajar berbagai bahasa. Dia selalu antusias belajar bahasa Inggris karena selalu mendampingi saya ngeles bahasa Inggris di rumah, belajar bahasa Sunda karena lingkungan keluarga besar kami adalah Sundanese, dan bahasa Jawa yang menjadi bahasa kedua di kampung halaman sang ayah (perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah). Mungkin karena atmosfer keluarga besar kami itu pendidikan, anak kami jadi lebih cenderung bergaya "guru" juga (hehe). Kata guru TK nya, Rafifa sudah seperti ibu guru cilik, suka memimpin dan mengajarkan apa saja yang dia tahu kepada teman-temannya. Menurut pengamatan saya, anak saya yang pertama itu potensi menonjolnya ada di wilayah interpersonal, linguistic, dan bodily-kinesthetic. Oleh karena itu, dia tak pernah capek jika saya ajak bermain drama dengan gerakan seru dari buku-buku cerita favoritnya (salah satunya adalah Muhammad Teladanku). 
  • Keunikan Diri Saya
Saya orang yang visioner, selalu penuh harapan dan optimis. Saya tipe aktivis sosial. Saya selalu bersemangat untuk berbagi, berbagi apa saja yang saya miliki: uang saku, makanan, ilmu, pengalaman, fasilitas, ataupun informasi. Contohnya, saya belum mahir memasak, tapi tiap kali saya masak makanan yang rasanya sesuai harapan, saya seringkali membaginya dengan tetangga meskipun sedikit. Pokoknya saya selalu merasa orang lain harus merasakan kebahagiaan yang saya rasakan. Ini ternyata, saya sadari betul, adalah warisan tak ternilai dari almarhumah Mamah saya. Beliau senang berbagi dengan apa saja yang beliau punya: mulai dari berbagi beras hasil panen kepada para janda sekitar rumah dan rekannya sesama guru, membekali anak-anak tetangga yang akan berangkat karya wisata, sampai mengongkosi siapapun yang dia kenal saat bareng naik angkot. Selain itu, saya juga sangat cinta dunia pendidikan. Karena menurut saya, pendidikan adalah jalan utama menuju peradaban gemilang. Menjadi agent of change for a better future adalah passion besar saya di muka bumi ini. Saya bersyukur sekali dengan keberadaan saya ditengah suami dan akan-anak. Saya pikir Allah mengirimkan saya pada mereka agar kami bisa menjadi kombinasi yang lengkap dalam mewujudkan keluarga yang bersih dan bermanfaat bagi ummat. Saya mendampingi suami yang seorang ahli tata kota agar menjadi ahli yang menghasilkan karya yang Allah ridhoi tanpa korupsi. Pekerjaannya seputar analisis properti semoga bisa menyebarkan ilmu positif yang bermanfaat bagi lingkungan dan khususnya ummat Islam. Sebagai ibu dari anak-anak yang lucu, saya mengemban misi membersamai, menyiapkan, dan mendidik mereka menjadi prajurit-prajurit Islam yang bermanfaat bagi peradaban. Saya harus memfasilitasi mereka agar menguasai multi bahasa sehingga kelak mereka bisa berdakwah lintas negara. Mereka mampu berteman dengan baik dengan orang-orang luar negeri dan berdakwah melalui passion mereka. Saya menjadi storyteller yang menanamkan nilai-nilai kehidupan dengan menyenangkan pada anak-anak saya; because life is full of stories and we can learn many things from stories joyfully. Storytelling will be meaningful for everyone, especially for children. I'm here to be a good storyteller and storywriter. Saya juga berniat menjadi penulis buku, terutama buku cerita anak yang memuat nilai hidup Islami, untuk investasi dunia-akhirat. :-)
  • Misi Spesifik Keluarga Kami
Hmmh.. Saya sangat bersyukur lahir di keluarga yang menjadi "tokoh" di masyarakat. Hal ini menjadi energi tersendiri untuk saya berdakwah di lingkungan tanah kelahiran saya, Kecamatan Cihaurbeuti Kabupaten Ciamis. Dengan menampakkan diri sebagai muslimah berpendidikan, saya berusaha menjadi figur positif generasi muda disana: aktif di berbagai majlis ta'lim, bergabung sebagai kader desa, membentuk komunitas ngaji alumni SMP, dan membuka kelas bahasa Inggris gratis sekaligus mentoring bagi remaja. Alhamdulillah respon masyarakat sangat baik, karena sesungguhnya mereka membutuhkan sarjana seperti saya yang terlibat aktif membangun masyarakat. Namun sayang, belum lama berkiprah di desa tercinta, saya harus hijrah ke kota mendampingi suami. Di Kota Depok ini saya berlabuh. Kota yang membuat saya merasa menjadi orang baru. Tapi dimanapun, saya tetap harus bermanfaat. Allah ingin kita mendapat kebaikan dan menebar kebaikan dimanapun kita ditempatkan. Lalu saya bergabung dengan Yayasan Tunas Ilmu (YTI), sebuah yayasan sosial yang concern di bidang pendidikan untuk keluarga tidak mampu. YTI menyediakan TK gratis yang mewajibkan ibu-ibu wali muridnya mengikuti pembinaan parenting dan saya menjadi salah satu mentor parentingnya. Dari situ saya pun mulai menganalisis. Masalah terbesar yang saya lihat adalah seputar ketahanan keluarga dan pendidikan anak. Tantangan terbesar yang menarik minat saya adalah seputar pemberdayaan perempuan dan kegiatan anak-remaja. Oleh karena itu, dengan sifat saya yang begitu cinta berbagi, saya bercita-cita menjadikan rumah sebagai learning club yang memfasilitasi masyarakat sekitar untuk belajar banyak hal. Dalam rangka mendorong ketahanan keluarga, saya ingin memfasilitasi ibu-ibu untuk mempelajari ilmu dan keterampilan yang mereka butuhkan. Saya dapat bekerja sama dengan berbagai pihak dalam melakukan ini. Kemudian menyoal pendidikan, saya akan fokus pada pendidikan nonformal. Membuka les bahasa Inggris yang terjangkau dan kelas keterampilan lainnya agar anak-anak dan remaja punya kegiatan alternatif yang positif dan berguna agar mereka dapat bersaing dan survive di era globalisasi ini. Selain itu, learning club ini berfungsi juga sebagai taman baca yang akan mengkampanyekan budaya membaca. Keluarga kami harus menjadi duta membaca demi generasi Islam yang cerdas dan penuh manfaat. Rumah kami harus menjadi home base bagi anak-anak untuk ikut mewarnai dunia anak di lingkungan kami: dunia anak yang ceria, aman, dan penuh inspirasi kebaikan. Kami harus mewarnai lingkungan dengan warna kebaikan sebelum warna keburukan menodainya. Di rumah, anak-anak kami bisa bermain, belajar, dan berkarya bersama teman-temannya. Pokoknya rumah kami harus menjadi rumah belajar bagi orang-orang di lingkungan kami: belajar segala macam ilmu kebaikan yang bermanfaat.

Semoga Allah SWT memudahkan jalan kami melaksanakan misi spesifik keluarga kami, yaitu "Rumah Belajar". Kami berharap amal baik ini bisa menjadi amal jariyah bagi kami, leluhur kami, dan juga guru-guru kami, termasuk semua pihak yang terlibat dalam Matrikulasi IIP ini. Aamiin. Terima Kasih. :-)

Kamis, 03 November 2016

MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH

*RESUME DISKUSI DAN TANYA JAWAB*
MATERI#3
MATRIKULASI IIP DEPOK
BATCH#2*
_Materi Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch#2 Sesi #3_

👨👩👦👦 *MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH*👨👩👧👧
“ _Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya  menuju peran peradabannya_ ”
Bunda, rumah kita adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi Amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh.
Maka tugas utama kita sebagai pembangun  peradaban adalah mendidik anak-anak sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.
Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “ _misi spesifiknya_ ”, tugas kita memahami kehendakNya.
Kemudian ketika kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, tidak hanya sekedar untuk melanjutkan keturunan, atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita. Lebih dari itu, kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak, adalah untuk lebih memahami apa sebenarnya “ _peran spesifik keluarga_” kita di muka bumi ini.
Hal ini yang kadang kita lupakan, meski sudah bertahun-tahun menikah.
Darimana kita harus memulainya?
🙋 *PRA NIKAH*
Buat anda yang masih dalam taraf memantaskan diri agar mendapatkan partner membangun peradaban keluarga yang cocok, mulailah dengan tahapan-tahapan ini:
a. Bagaimana proses anda dididik oleh orangtua anda dulu?
b. Adakah yang membuat anda bahagia?
c. Adakah yang membuat anda “sakit hati/dendam’ sampai sekarang?
d. Apabila ada, sanggupkah anda memaafkan kesalahan masa lalu orangtua anda, dan kembali mencintai, menghormati beliau dengan tulus?
Kalau empat pertanyaan itu sudah terjawab dengan baik, maka melajulah ke jenjang pernikahan.
Tanyakan ke calon pasangan anda ke empat hal tersebut, minta dia segera menyelesaikannya.
Karena,
*ORANG YANG BELUM SELESAI DENGAN MASA LALUNYA , AKAN MENYISAKAN BANYAK LUKA  KETIKA MENDIDIK ANAKNYA KELAK*
👨👩👧👧 *NIKAH*
Untuk anda yang sudah berkeluarga, ada beberapa panduan untuk memulai membangun peradaban bersama suami anda dengan langkah-langkah sbb:
🍀Pertama temukan potensi unik kita dan suami, coba ingat-ingat mengapa dulu anda memilih “dia” menjadi suami anda? Apa yang membuat anda jatuh cinta padanya? Dan apakah sampai hari ini anda masih bangga terhadap suami anda?
🍀Kedua, lihat diri kita, apa keunikan positif yang kita miliki? Mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Sampai kita berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita? Apa pesan rahasia Allah terhadap diri kita di muka bumi ini?
🍀Ketiga, lihat anak-anak kita, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahim kita yang dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersama kita? Mengapa kita yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini? Punya misi spesifik apa Allah kepada keluarga kita, sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?
🍀Keempat, lihat lingkungan dimana kita hidup saat ini. Mengapa kita bisa bertahan hidup dengan kondisi alam dimana tempat kita tinggal saat ini? Mengapa Allah menempatkan keluarga kita disini? Mengapa keluarga kita didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekeliling kita saat ini?
Empat pertanyaan di atas, apabila terjawab akan membuat anda dan suami memiliki “ _misi pernikahan_” sehingga membuat kita layak mempertahankan keberadaan keluarga kita di muka bumi ini.
👩👧👧 *ORANGTUA TUNGGAL (SINGLE PARENT)*
Buat anda yang saat ini membesarkan anak anda sendirian, ada pertanyaan tambahan yang perlu anda jawab selain ke empat hal tersebut di atas.
a. Apakah proses berpisahnya anda dengan bapaknya anak-anak menyisakan luka?
b. Kalau ada luka, sanggupkah anda memaafkannya?
c. Apabila yang ada hanya kenangan bahagia, sanggupkah anda mentransfer energi tersebut menjadi energi positif yang bisa menjadi kekuatan anda mendidik anak-anak tanpa kehadiran ayahnya?
Setelah ketiga pertanyaan tambahan  di atas terjawab dengan baik, segeralah berkolaborasi dengan komunitas pendidikan yang satu chemistry dengan pola pendidikan anda dan anak-anak.
Karena,
*IT TAKES A VILLAGE TO RAISE A CHILD*
_Perlu orang satu kampung untuk mendidik satu orang anak_
Berawal dari memahami peran spesifik keluarga kita dalam membangun peradaban, kita akan makin paham apa  potensi unik produktif keluarga kita, sehingga kita bisa senantiasa berjalan di jalanNya.
Karena
*_Orang yang sudah berjalan di jalanNya, peluanglah yang akan datang menghampiri kita, bukan justru sebaliknya, kita yang terus menerus mengejar uang dan peluang_*
Tahap berikutnya nanti kita akan makin paham program dan kurikulum pendidikan semacam apa yang paling cocok untuk anak-anak kita, diselaraskan dengan bakat tiap anak, potensi unik alam sekitar, kearifan lokal dan potensi komunitas di sekitar kita.
Kelak, _anda akan membuktikan bahwa antara *pekerjaan*, *berkarya* dan *mendidik anak*, bukanlah sesuatu yang terpisahkan, sehingga harus ada yang dikorbankan_
Semuanya akan berjalan beriring selaras dengan harmoni irama kehidupan.
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/
_SUMBER BACAAN_
_Agus Rifai, Konsep,Sejarah dan Kontribusi keluarga dalam Membangun Peradaban, Jogjakarta, 2013_
_Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016_
_Muhammad Husnil, Melunasi Janji Kemerdekaan, Jakarta, 2015_
_Kumpulan artikel, Membangun Peradaban, E-book, tanggal akses 24 Oktober 2016_
*Sesi tanya jawab:*
1⃣ Bunda Yeni
Jika luka masa lalu masih ada dalam kehidupan kita. Bagaimana cara paling efektif untuk memaafkan yang orang yang membuat luka di masa lalu kita?
1⃣ Bunda Yeni
Bunda Yeni, luka yang kita alami bisa jadi itu akibat dari perilaku yang tidak baik. Perilaku itu bisa terjadi karena banyak sebab, bisa karna khilaf atau karena kefakiran ilmu, maka MAAFKANLAH SETULUSNYA.
Tidak ada jalan yang lebih melegakan selain memaafkannya. Sampaikan padanya bahwa kita sudah memaafkan perbuatannya. Doakan ia yang melukai kita diberikan hidayah Allah agar menemukan hikmah dari kejadiannya kepada kita dan disampaikan ilmu kepadanya bahwa hal itu tidak baik.
Lalu move on! Ganti peta pikiran kita yang bilang: "Dia orang yang melukai kita!" Menjadi: "Dengan apa yang dilakukannya aku menjadi lebih kuat!", karena nyatanya hingga detik ini kita masih dapat melanjutkan hidup bukan?.
Maka selesaikan urusan yang belum selesai ini, sehingga kita akan melangkah dengan lebih ringan, tanpa beban.✅

2⃣ Bunda Wiwit
Subhanallah stelah menyimak materi pekan ke 3 ini,yg paling saya garis bawahi yaitu
Membangun peradaban dari Rumah dengan mendidik anak sesuai Kehendak-Nya,bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.
Bagaimana langkah2 konkrit yg hrs kita tempuh utk mewujudkannya?. Utk mengarahkan anak kita sesuai Kehendak Nya 😊
2⃣ Bunda Wiwit, kuncinya jangan pernah menitipkan mimpi kita sebagai orang tua kepada anak. Biarkan anak anak mengeksplore rasa dan minatnya sesuai fitrahnya. Fitrah keimanannya, fitrah perkembangannya, fitrah belajar dan fitrah lainnya. Di materi berikutnya akan kita pelajari bagaimana kita bisa belajar cara belajar. Sehingga kita bisa menggali potensi anak secara _inside out_ bukan_outside in_. ✅
3⃣ bunda Tantia
Bagaimana cara mendidik anak-anak  sesuai kehendakNya bukan mencetak sesuai keinginan kita?
3⃣ mbak Tantia, pertanyaannya senada dengan Bunda Wiwit ya, sekali lagi tidak menitipkan mimpi kita kepada anak anak.
Misal: Saya ingin anak anak jadi dokter karena dulu saya kepingin jadi dokter tapi karena tidak ada biaya maka gak bisa.
Kalo anak memang mau jadi dokter harus tumbuh dari keinginannya sendiri itulah _inside out_ ✅
4⃣ bunda Dinda
Bagaimana cara membuat visi misi keluarga? Apakah perlu dibuat checklist juga? Selama ini kami hanya membicarakan saja,, blm menuangkan dalam tulisan,, hehehe,, terkadang autopilot,, let it flow saja,, bagaimana caranya mengembalikan ke fungsi dan harapan keluarga kami kembali?
Sungguh ketika saya memutuskan utk menikah usia muda,, banyak menaruh harapan terbaik,, usia pernikahan kami hampir 11 tahun dan setelah mengikuti martikulasi ini saya merasa diingatkan kembali atas cita dan niatan awal kami,, masih banyak yg tertinggal dibelakang😭
4⃣ Mbak Dinda, saatnya dimulai lagi untuk dituliskan, jika sekarang anak anak sudah hisa diajak berdiskusi maka libatkan juga anak-anak.  Dengan input bersama dan ditulis maka nanti akan ketemu apakah visi misi kita sudah on track sejak 11 tahun lalu, jika terasa adanya perlambatan maka cek kembali. Apakah strategi keluarga kita dalam menjalankannya sudah tepat. Karena pesan bu Septi dalam keluarga:
*"There is NO FAILURE, only WRONG RESULT, so we have to CHANGE our strategy."* ✅
5⃣ bunda Yekti
saya dididik dlm lingkungan yg cukup keras dgn ortu saya. dmn saya hrs disiplin, tdk blh lemah dan mengeluh. waktu saya kecil sgt sedih krn teman2 bebas bermain, namun saya sdh punya rutinitas yg sdh di plot dr awal.sesudah memiliki anak saya merasa apa yg diajarkan ortu saya ada benarnya krn membentuk mental saya. namun suami saya sebaliknya. dibesarkam dr keluarga yg santai sekali. kira2 bagaimanakah menyatukan visi misi kami yg mungkin keduanya memiliki kekurangan dan kelebihan. trims
5⃣ Bunda Yekti, begitulah manusia diciptakan oleh Allah beragam latar belakang dari banyak hal termasuk pola asuh. Ketika pernikahan terjadi maka Allah telah ridho terhadap penyatuan dua insan yang berbeda dan pasti Allah memiliki maksud kita dipertemukan dengan pasangan kita.
Maka perbanyaklah ngobrol dan beraktivitas bersama, ini dua hal yang selalu ditekankan oleh Pak Dodik dan bu Septi dalam implementasi visi misi keluarganya. Dengan ngobrol, heart to heart talk, pillow talk dengan pasangan maka akan muncul poin pendidikan keluarga apa yang bunda lebih unggul dan apa yang suami lebih unggul lalu bersinergilah.
Saya kutip pernyataannya bu Septi relevan dengan hal ini:
_"Menurut pengalaman saya dan pak Dodik, ternyata kuncinya adalah di nomor satu, penerimaan kita terhadap pasangan. Ketika secara lahir dan batin kami berdua sudah saling menghargai kehebatan masing-masing, menyiasati kekurangan-kekurangan yang ada pada kami. Hal tersebut memudahkan jalan kami untuk menemukan misi spesifik keluarga."_ ✅
6⃣ bundaPoppy
Alhamdulillah saya dan suami sudah sejalan utk masalah pengasuhan anak. Begitu juga saya merasa sudah selesai dengan masa lalu saya. Bagaimana jika malah orangtua kami yg belum selesai menitipkan harapan mereka kepada kami (saya terutama) ?. Contoh kasus. orangtua yg masih ingin saya melanjutkan karier di luar rumah.
6⃣ Mbak Poppy, yang diajarkan oleh bu Septi yaitu dengan mendengarkan dengan senyuman apa yang disampaikan oleh orang tua kita, hargailah pendapatnya dan keinginannya. Lalu kemudian pelan pelan utarakan visi misi keluarga mbak Poppy kepada orang tua. Komunikasikan secara produktif, karena sebetulnya ini masalah komunikasi. Keberhasilan komunikasi manakala _frame of reference_ dengan _frame of experience_ sudah sama dengan orang tua, komunikasi akan lebih nyaman. Setelah itu cobalah pelan pelan diyakinkan bahwa ini adalah jalan hidup yang telah kita yakini dan minta doa padanya sehingga akan kita buktikan keberhasilannya.
Kebanyakan orangtua hanya khawatir saja anaknya tidak berhasil terhadap pilihan tersebut
Saya coba tulis ulang yang pernah disampaikan  bu Septi, ketika ibunya ragu atas pilihan bu Septi menjadi Ibu Rumah Tangga (redaksi tidak persis sama):
_"Ibu, Ketika perempuan belum menikah ridho Allah terletak pada ridho orangtua. Setelah menikah, bagi seorang perempuan ridho Allah terletak pada ridho suami. Izinkan saya untuk dapat mentaati suami dalam bidang yang telah kami pilih sehingga Allah ridho pada saya dan Ibu beroleh pahala dengan ketaatan saya pada suami."_
Lalu ibu bu Septi mengatakan
_"Buktikan."_
Dan bu Septi telah membuktikannya 😊
Demikian semoga ada inspirasi ✅
7⃣ bunda Tria
Saya masih bingung dengan panduan 4 langkah memulai peradaban bersama suami 😁.
Adakah tipsnya agar dpt menjawab pertanyaan2 tsb?
7⃣ mbak Tria, coba direnungkan mendalam dan berdiskusi dengan suami. Karena semua yang terjadi pada kita selalu ada tujuan dan maksud dari Allah. ✅
8⃣ bunda iya
Yang di maksud dengan "peran spesifik keluarga" dimuka bumi itu apa? Bukanya kita berkeluarga memang buat meneruskan keturunan dan melengkapi satu sama lain antara suami istri
8⃣ Mbak Iya, betul. Namun jika hanya meneruskan keturunan saja apa bedanya dengan makhluk lain seperti hewan dan tumbuhan. Allah katakan manusia adalah kalifatul fil 'ardh.
Setiap manusia sudah dibekali program untuk memberikan peran yang spesifik dari dirinya untuk mengumpulkan bekal pulang ke kampung Akhirat.
Spesifik karena setiap keluarga tidak akan sama. Keluarga bu Septi menjadi inspirator dan motivator. Nah kita coba gali yuk keluarga kita akan memberi peran apa dalam kehidupan ini, karena keahlian dan kondisi masing masing keluarga berbeda. ✅
9⃣ bunda Arum
Bagaimana cara menentukan visi unik keluarga dalam membangun peradaban?
9⃣ Mba Arum, diselaraskan dengan keunikan dan passion keluarga kita.
Setiap anggota keluarga pasti unik namun dalam keunikannya masing masing memberi benang merah "ciri" keluarga kita. Maka gali passion bersama keluarga kita. ✅
🔟 bunda Febi
Bagaimana cara terbaik menghilangkan "luka hati" pada anak karena kesalahan kita dalam mendidik di masa lalu, misalnya karena dulu blm bisa berkomunikasi dengan baik pada anak?
🔟 Mba Febi, minta maaf setulusnya pada anak. Tatap matanya dan sampaikan secara verbal kesalahan kita. Peluk dan cium lalu berkomitmen untuk memperbaiki kesalahan.
Selalu upgrade diri kita dengan tambahan ilmu terus menerus demi _continous improvement_ bukan lagi _continous mistakes_. ✅
Yang bertugas :
Host : Dinda Permatasari
Co-host : Ardiani Putri
Narasumber - Nia Nio
/Tim Matrikulasi Ibu profesional/

Resume Diskusi: Desain Global Sekolah Unggul

 Bismillah.. alhamdulillah malam ini bisa bergabung di diskusi online Kelas 100 Guru PAUD berjudul Desain Global Sekolah Unggul. Pematerinya...