_Review Game level #3 Bagian 2_
*FAMILY PROJECT DAN KECERDASAN ANAK*
Setelah kita memahami secara detil tentang apa itu Family Project dan sudah menjalankannya dengan tantangan 10 hari, maka kali ini kita akan kembali membahas bagaimana family project ini bisa menjadi sarana kita untuk melihat sisi-sisi kecerdasan anak yang harus kita amati.
*Family Project dan Kecerdasan Intellectual*
Family Project adalah sarana anak-anak belajar sesuatu, belajar hal baru melalui berbagai tema-tema yang kita kemas dalam berbagai project. Di dalam ilmu pembelajaran kita bisa mempelajarinya lebih lanjut tentang Project Based Learning.
Selama menjalankan Family project ini kita bisa melihat apakah :
a. Apakah rasa Ingin tahu anak-anak terhadap sesuatu menjadi semakin tinggi?
b. Apakah Kreativitas dan Daya Imajinasinya menjadi semakin besar?
c. Apakah muncul gairah belajar dan inovasi baru yang anak-anak dapatkan selama menjalankan family project?
d. Bagaimana anak-anak menyikapi pengetahuan baru, pengalaman baru yang mereka dapatkan selama menjalankan Family Project?
e. Apakah anak-anak menemukan gairah untuk selalu berkarya dan menemukan hal baru demi kehidupan mereka yang lebih baik?
*Family Project dan Kecerdasan Emosional*
a. Apakah selama menjalankan Family Project muncul kesadaran diri secara penuh dari anak-anak?
b. Apakah anak-anak makin mengenal emosi yang muncul ( senang, bahagia, sedih) selama menjalankan Family Project?
c. Apakah emosi anak stabil/meledak-ledak ketika menghadapi tantangan selama Family Project berjalan?
d.Apakah anak bisa mengerti perasaan dan kebutuhan orang lain, sehingga orang lainpun merasa senang dan dimengerti perasaannya?
e. Apakah anak sanggup mengelola emosi yang dia dapatkan dari orang lain, sehingga tercipta ketrampilan sosial yang tinggi?
*Family Project dan Kecerdasan Spiritual*
Family project sebagaimana kita tahu adalah pemberian makna yang mendalam terhadap aktivitas sehari-hari yang kita lakukan di rumah. Sehingga aktivitas keluarga sehari-hari + management dan organisasi = Family Project = Aktivitas keluarga yang penuh makna.
Kecerdasan Spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna ( value), kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya.
Dengan menjalankan Family Project kita akan bisa melihat hal-hal sebagai berikut:
a. Apakah anak-anak bisa makin mengenal ciptaan Allah dan makin menyayangi antara sesama makhluk ciptaan Allah selama menjalankan Family Project ini?
b. Apakah anak-anak makin melihat dirinya dan keluarganya sebagai sesuatu yang unik yang diciptakan Allah berbeda dengan yang lain, selama menjalankan Family Project ini?
c. Apakah rasa syukur anak-anak makin meningkat selama menjalankan Family Project?
d. Apakah anak-anak makin ridho dan konsisten dengan segala perintah dan laranganNya selama menjalankan Family Project?
e. Apakah anak-anak mendapatkan berbagai akhlak mulia yang bisa dia dapatkan untuk dipraktekkan selama menjalankan Family project?
f. Apakah anak-anak semakin tunduk dan taat terhadap kehendak penciptaNya, selama menjalankan Family Project?
g. Apakah anak-anak semakin bergairah untuk menebar benih manfaat di muka bumi ini, dan sadar perannya sebagai Khalifah di muka bumi ini, selama menjalankan Family project?
*Family Project dan Kecerdasan Menghadapi Tantangan ( AI)*
Selama menjalankan Family Project pasti kita dan anak-anak menghadapi berbagai macam tantangan dan cobaan. Dari sinilah kita paham seberapa kuat anak-anak kita menghadapi tantangan hidup.
a. Apakah selama menjalankan Family Project anak-anak mampu mengontrol dirinya ?
b. Bagaimana reaksi anak-anak ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan yang dia inginkan seama menjalankan Family project?
c. Apakah anak-anak sanggup membangun konsistensi dan komitmen terhadap kesepakatan yang sudah dia putuskan bersama selama menjalankan Family Project?
d. Apakah anak-anak menunjukkan inisiatif besar untuk aktivitas yang dia inginkan, dan sanggup menanggung semua resiko yang akan muncul selama menjalankan Family Project?
e. Bagaimana reaksi anak-anak setiap menjumpai “tantangan” selama family project berjalan, apakah mereka bisa mengubahnya menjadi sebuah peluang?
f. Apakah anak-anak tidak mudah putus asa?
g.Apakah anak-anak berani mengakui sebuah kesalahan dan mau belajar dari kesalahan yang dia buat selama menjalankan Family Project?
h.Apakah kemandirian anak mulai terlihat selama menjalankan Family project?
Dari berbagai kasus yang kita dapatkan selama menjalankan Family project ini sebenarnya selain untuk melihat kecerdasan anak-anak, kita juga bisa mengamati kecerdasan diri kita dan pasangan. Sehingga kita semakin paham bagaimana cara kita “memantaskan diri” agar semakin layak mendidik anak-anak hebat. Dan hal-hal apa saja yang harus kita tambahkan selama perjalanan di Universitas Kehidupan.
Salah satu contoh hal kecil ketika menjalankan tantangan 10 hari di Game –game kelas Bunda Sayang ini, kita mengalami kesulitan dalam mengatur waktu sehingga tidak sanggup menuliskan tantangan 10 hari tersebut secara berturut-turut, apakah kita langsung menyerah berhenti disini saja? Kalau iya kecerdasan menghadapi tantangan kita masuk kategori Quitters, Apakah kita cukup menuliskan poin-poin penting saja dan tidak usah menyempurnakannya, yang penting mengumpulkan tugas? Kalau iya, berarti ita tipe campers. Atau kita termasuk orang yang berusaha mengubah manajemen waktu kita, mencari strategi terbaik, membuat sistem penulisan, sehingga memudahkan kita untuk menuliskannya setiap hari? Kalau iya, selamat berarti kecerdasan anda memasuki tahap Climbers.
Silakan amati kecerdasan-kecerdasan yang lainnya yang ada pada diri kita selama mengerjakan Tantangan-tantangan 10 Hari di kelas Bunda Sayang ini.
Dan untuk bisa mendapatkan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik ke anak - anak dan keluarga kita, mulailah dari diri kita terlebih dahulu
*for things to CHANGE, I must CHANGE first*
Salam Ibu Profesional,
_/Tim Fasilitator Bunda Sayang/_
πSumber Bacaan:
_D.Paul Relly, “Success is Simple, Gramedia, Jakarta_
_Stoltz, Paul G, PhD, 1992, Adversity Intellegence, Mengubah Hambatan Menjadi peluang_
_Melva Tobing. Mpsi, Daya Tahan Anak menghadapi Kesulitan, Jakarta, 2013_
_Materi Tentang Kecerdasan anak dan Kebahagiaan Hidup, IIP, bunda sayang_
https://www.youtube.com/watch?v=n9LNFH4TW7k
Tampilkan postingan dengan label #bundasayang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #bundasayang. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 15 April 2017
Kamis, 30 Maret 2017
T10 Level 3 Day #7 Fitri Purbasari Depok
Tantangan 10 Hari Projek Keluarga
Kuliah Bunda Sayang IIP Level 3
Kakak Sayang Dedek
Hari ini masih dalam episode emak sakit. Qadarullah saya mering lagi sejak malam. Terbersit mau izin ke admin Kordi, tapi melihat si bungsu (1,5 th) diasuh dengan sangat baik oleh Kakak (5 th) dan abinya, saya sampaika ide agar Kakak bikin project ngasuh Dedek aja hari ini.
Saya bahagia pas saya dan Dedek bangun tidur siang, Kakak sudah membuatkan Dedek gambar binatang-binatang kesukaan Dedek, yaitu panda dan kucing dilengkapi kotak susu ultra mimi. Hehehe.. "Ini buat Dedek!", Seru Kakak menyambut sang adik bangun. π
Lalu Kakak dan abi membuat pesawat kertas. Sang Adik pun dengan antusias memainkannya meniru sang kakak. Sampe ditiup-tiup segala. π
Saya amati, empati Kakak cukup baik melihat uminya sedang sakit. Selain mengasuh adik, dia juga berberan sebagai dokter, menyiapkan obat, air minum dan mijitin. Dan sang adik adalah peniru ulung. Dia ngikutin aja apa yang kakaknya lakuin, terutama kalau kakaknya lompat-lompat di kasur. Aduuuhh, beberapa kali nada umi meninggi memperingatkan sang Kakak agar mainnya yang aman.
Beberapa hari ini suami pun tak masuk kerja karena matanya masih iritasi, dan hari ini plus menjaga anak-anak dan mengurus saya. Semoga Allah membalas kelelahannya dengan kebaikan melimpah.
Rabb, semoga besok saya sehat kembali agar bisa maksimal menjalankan peran. InsyaAllah besok projectnya adalah mendekor kamar.
Kuliah Bunda Sayang IIP Level 3
Kakak Sayang Dedek
Hari ini masih dalam episode emak sakit. Qadarullah saya mering lagi sejak malam. Terbersit mau izin ke admin Kordi, tapi melihat si bungsu (1,5 th) diasuh dengan sangat baik oleh Kakak (5 th) dan abinya, saya sampaika ide agar Kakak bikin project ngasuh Dedek aja hari ini.
Saya bahagia pas saya dan Dedek bangun tidur siang, Kakak sudah membuatkan Dedek gambar binatang-binatang kesukaan Dedek, yaitu panda dan kucing dilengkapi kotak susu ultra mimi. Hehehe.. "Ini buat Dedek!", Seru Kakak menyambut sang adik bangun. π
Lalu Kakak dan abi membuat pesawat kertas. Sang Adik pun dengan antusias memainkannya meniru sang kakak. Sampe ditiup-tiup segala. π
Beberapa hari ini suami pun tak masuk kerja karena matanya masih iritasi, dan hari ini plus menjaga anak-anak dan mengurus saya. Semoga Allah membalas kelelahannya dengan kebaikan melimpah.
Rabb, semoga besok saya sehat kembali agar bisa maksimal menjalankan peran. InsyaAllah besok projectnya adalah mendekor kamar.
Selasa, 28 Maret 2017
T10 Day #5 Fitri Purbasari Depok
Tantangan 10 Hari Projek Keluarga
Kuliah Bunda Sayang IIP Level 3
Dedek Punya Bis Mainan, Kakak Jadi Packing Manager
Hari ini kami masih dalam pemulihan sakit mata. Kepala saya dan suami masih pening. Jadi menawarkan projek sederhana saja ke anak-anak, "Ka, bikin bolu kukusnya nanti saja ya, soalnya umi masih pusing dan harus bungkus paket buku pula buat besok. Gimana kalau bikin dekorasi kamar dari kokoru aja?", "Atau bungkus buku aja?", Timpal sang abi. Akhirnya kakak mau bantu umi mengemas paket buku pesanan. Jadilah dia the packing manager. Kali ini suami yang jadi timnya. Saya seksi dokumentasi. Sementara si Dedek (1,5 th) seperti biasa, jadi pengawas. π
Dedek Fatimah (1,5 th) dia sangat suka bis. Dan hari ini dia antusias banget buka buku bis, gak mau diganti buku lain. Mau nonton video lagu Wheels on the bus sambil joget. Terus diputar-putar lagunya. Dia minta bacain cerita bis, padahal buku yang dia bawa buku mewarnai hehehe. Ahasil umi abinya mengarang cerita deh. Akhirnya saya punya ide bikinin dia bis dari kotak madu. Saya tawarkan ke Kakak. Dan dia senang sekali. Ini project buat Adek. Tapi Kakak juga yang ngelakuin. Hehehe..
Nilai kasih sayang kelurga yang kami tekankan pada projek hari ini. Saling membantu dan menjaga, terutama saat keluarga ada yang sakit. Tak lupa saya memberi apresiasi dan ucapan terima kasih kepada kakak yang sudah banyak membantu orang tua hari ini. Kakak berhak mendapat reward pancake duren. Yeay!! ππ
Kuliah Bunda Sayang IIP Level 3
Dedek Punya Bis Mainan, Kakak Jadi Packing Manager
Hari ini kami masih dalam pemulihan sakit mata. Kepala saya dan suami masih pening. Jadi menawarkan projek sederhana saja ke anak-anak, "Ka, bikin bolu kukusnya nanti saja ya, soalnya umi masih pusing dan harus bungkus paket buku pula buat besok. Gimana kalau bikin dekorasi kamar dari kokoru aja?", "Atau bungkus buku aja?", Timpal sang abi. Akhirnya kakak mau bantu umi mengemas paket buku pesanan. Jadilah dia the packing manager. Kali ini suami yang jadi timnya. Saya seksi dokumentasi. Sementara si Dedek (1,5 th) seperti biasa, jadi pengawas. π
Minggu, 26 Maret 2017
T10 Level #3 Day #3 Fitri Purbasari Depok
Tantangan 10 Hari Projek Keluarga
Kuliah Bunda Sayang IIP Level 3
MAKING DONUTS!
Projek keluarga di hari ketiga ini sangat bersejarah. Hehee.. Kenapa? 1) tetap dilakukan dengan riang meski sedang terserang sakit mata, Kakak Sang Chef, Umi asisten chef, dan Dedek penyicip; 2) donat yang dibuat bisa dibilang sangat sukses menyerupai donat yang sesungguhnya. Hahaha karena biasanya donat yang saya bikin lebih tepat dibilang biskuit, kami menyebutnya donat crunchy. Hahaha..jangan dibilang gagal ya π. Karena ternyata masalanya hanya pada jenis tepung saja. π
Well, alat dan bahan terdiri dari baskom, sendok, 1/4 tepung segitiga, fermipan, gula pasir, garam, minyak sayur, setengah gelas air hangat, 1 btr telur ayam, margarin, meses, dan gula halus.
Kakak sangat antusias melakukan step by step pembuatan donat ini. Mulai memecah telur (meski masih ragu-ragu, gakpapa yah kak, makin sering makin mahir nanti, InsyaAllah π), mengaduk adonan, menguleninya, membantingnya, hingga mencetak adonannya. Yang paling saya garis bawahi adalah pada step menguleni adonan. Step itu sangat bermanfaat dalam hal AI nya dalam mengatasi rasa jijiknya terhadap yang lengket-lengket. ππ Alhamdulillah. Yah step seperti ini sangat penting bagi keterampilan hidupnya. Lalu karena setelah lama dia uleni dan si adonan masih lengket, dia dapat menyimpukan sendiri "ini kebanyakan air nih, mi." π Yes, di mampu mencari asal masalah. Alhamdulillah. Lalu saya kasih tahu "kalau begitu, tambah lagi tepungnya, ka."
Alhamdulillah pula, proses pembuatan donat ini disponsori oleh Dedek yang tidur. π Dia bangun pas Umi mau menggoreng donatnya. Alhasil Sang Penyicip ikut menyicipi toping yang disiapkan Sang Chef.
Donat nya mengembang dengan memuaskan. Tak perlu lama-lama digorengnya. Waaah ini yang membuat saya amazed! π Ini sejarah! Not only for Kakak, but also for her Umi! π
Setelah selesai menghias, lalu menikmatinya bersama Sang Dedek, Kakak mengirim beberapa buah donutnya ke tetangga disertai semangkuk kecil Dragon Jelly Ice yang dibuat di hari #1 projek. This is for her SI nya. Selalu saya tanamkan bahwa dalam rezeki yang kami terima pasti ada hak orang lain. Apalagi mengupload fotonya di medsos, hehee, tetangga kudu kebagian. π
In the last session, saya bertanya bagian mana yang paling dia senangi. Dia menjawab bagian menghiasnya. Karena dia paling suka mesesnya. Hehee. Tapi saya yakin, perasaan dia terhadap yang lengket-lengket semakin berubah baik. Hehee.. Dia mengajak saya membuat slime besok-besok. Dia pernah bikin itu di sekolah, jadi udah tau dan pengen nyoba bikin di rumah. Baiklah.. you are the captain! π
Kuliah Bunda Sayang IIP Level 3
MAKING DONUTS!
Projek keluarga di hari ketiga ini sangat bersejarah. Hehee.. Kenapa? 1) tetap dilakukan dengan riang meski sedang terserang sakit mata, Kakak Sang Chef, Umi asisten chef, dan Dedek penyicip; 2) donat yang dibuat bisa dibilang sangat sukses menyerupai donat yang sesungguhnya. Hahaha karena biasanya donat yang saya bikin lebih tepat dibilang biskuit, kami menyebutnya donat crunchy. Hahaha..jangan dibilang gagal ya π. Karena ternyata masalanya hanya pada jenis tepung saja. π
Well, alat dan bahan terdiri dari baskom, sendok, 1/4 tepung segitiga, fermipan, gula pasir, garam, minyak sayur, setengah gelas air hangat, 1 btr telur ayam, margarin, meses, dan gula halus.
Kakak sangat antusias melakukan step by step pembuatan donat ini. Mulai memecah telur (meski masih ragu-ragu, gakpapa yah kak, makin sering makin mahir nanti, InsyaAllah π), mengaduk adonan, menguleninya, membantingnya, hingga mencetak adonannya. Yang paling saya garis bawahi adalah pada step menguleni adonan. Step itu sangat bermanfaat dalam hal AI nya dalam mengatasi rasa jijiknya terhadap yang lengket-lengket. ππ Alhamdulillah. Yah step seperti ini sangat penting bagi keterampilan hidupnya. Lalu karena setelah lama dia uleni dan si adonan masih lengket, dia dapat menyimpukan sendiri "ini kebanyakan air nih, mi." π Yes, di mampu mencari asal masalah. Alhamdulillah. Lalu saya kasih tahu "kalau begitu, tambah lagi tepungnya, ka."
Alhamdulillah pula, proses pembuatan donat ini disponsori oleh Dedek yang tidur. π Dia bangun pas Umi mau menggoreng donatnya. Alhasil Sang Penyicip ikut menyicipi toping yang disiapkan Sang Chef.
Donat nya mengembang dengan memuaskan. Tak perlu lama-lama digorengnya. Waaah ini yang membuat saya amazed! π Ini sejarah! Not only for Kakak, but also for her Umi! π
Setelah selesai menghias, lalu menikmatinya bersama Sang Dedek, Kakak mengirim beberapa buah donutnya ke tetangga disertai semangkuk kecil Dragon Jelly Ice yang dibuat di hari #1 projek. This is for her SI nya. Selalu saya tanamkan bahwa dalam rezeki yang kami terima pasti ada hak orang lain. Apalagi mengupload fotonya di medsos, hehee, tetangga kudu kebagian. π
In the last session, saya bertanya bagian mana yang paling dia senangi. Dia menjawab bagian menghiasnya. Karena dia paling suka mesesnya. Hehee. Tapi saya yakin, perasaan dia terhadap yang lengket-lengket semakin berubah baik. Hehee.. Dia mengajak saya membuat slime besok-besok. Dia pernah bikin itu di sekolah, jadi udah tau dan pengen nyoba bikin di rumah. Baiklah.. you are the captain! π
Jumat, 24 Maret 2017
Meningkatkan Kecerdasan Anak dengan Family Project Demi Kebahagiaan Hidup
*Institut Ibu Profesional*
*Materi Bunda Sayang sesi #3*
❤ PENTINGNYA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK DEMI KEBAHAGIAAN HIDUP ❤
Dalam kehidupan ini ada dua kata yang selalu diinginkan manusia dalam hidup yaitu *SUKSES* dan *BAHAGIA*
☘ Makna SUKSES
Menurut D. Paul Reily dalam bukunya _Success is Simple_ mendefinisikan sukses sebagai pencapaian yang berangsur-angsur meningkat terhadap suatu tujuan dan cita-cita yang berharga
Sedangkan menurut lela swell dalam bukunya _Success_mengemukakan pendapatnya bahwa *sukses adalah* _peristiwa atau pengalaman yang kita akan mengingatnya sebagai pemuasan diri_
☘ Makna BAHAGIA
Menurut Prof. Martin Selligman dalam bukunya _Authentic Happiness_ mendefinisikan kebahagiaan hidup dalam tiga kategori :
*A. Hidup yang penuh kesenangan* (Pleasant Life )
Hidup yg penuh kesenangan, ialah kondisi kehidupan dimana pencarian kesenangan hidup, kepuasan nafsu, keinginan dan berbagai bentuk kesenangan lain nya, menjadi tujuan hidup manusia
Kebahagiaan jenis ini lebih bersifat material.
*B. Hidup nyaman* ( Good Life)
Hidup yg nyaman, ialah kehidupan, dimana segala keperluan kehidupan manusia secara jasmani, rohani dan sosial telah terpenuhi.. Hidup yg aman, tentram, damai. Kebahagiaan jenis ini lebih bersifat mental
*C. Hidup Bermakna* ( Meaningful Life)
Hidup yang bermakna, lebih tinggi lagi dari tingkat kehidupan yang nyaman, selain segala keperluan hidupnya telah terpenuhi, ia menjalani hidup ini dengan penuh pemahaman tentang makna dan tujuan kehidupan. Selain untuk diri dan keluarga nya, ia juga memberikan kebaikan bagi orang lain dan lingkungan sekitar. Rasa kebahagiaan yg timbul ketika banyak orang lain mendapatkan kebahagiaan karena usaha kita, _pleasure in giving, kebahagiaan dalam berbagi. Kebahagiaan jenis ini lebih bersifat spiritual_
Untuk mencapai kategori hidup SUKSES dan BAHAGIA *kita perlu memiliki berbagai macam kecerdasan hidup*.
☘ KECERDASAN
Para ahli berpendapat untuk tidak membicarakan atau memberikan batasan yang jelas tentang kecerdasan. Karena kecerdasan itu merupakan status mental yang tidak memerlukan definisi. Para ahli lebih memusatkan perhatian pada perilaku kecerdasan seperti kemampuan memahami dan menyelesaikan masalah dengan cepat, kemampuan mengingat dan daya kreativitas serta imajinasi yang terus berkembang.
πMACAM-MACAM KECERDASAN
*A. Kecerdasan Intelektual* (Intellectual Quotient)
Adalah kemampuan untuk menalar, perencanaan sesuatu, kemampuan memecahkan masalah, belajar memahami gagasan, berfikir, penggunaan bahasa dan lainnya.
Howard Gardner pakar psikologi perkembangan, menjelaskan ada sembilan macam kecerdasan manusia. Kecerdasan tersebut meliputi kecerdasan bahasa (linguistic), musik (musical), logika-matematika (logical-mathematical), spasial (spatial), kinestetis-tubuh (bodily-kinesthetic), intrapersonal (intrapersonal), interpersonal (interpersonal), naturalis (naturalits) dan eksistensial (existensial)
*B. Kecerdasan Emosional* (Emotional Intelleigence)
kemampuan untuk mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, memotivasi diri sendiri, mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain.
*Komponen-komponen dasar kecerdasan emosional adalah* :
1. Kemampuan Mengenali Emosi diri sendiri (kesadaran diri).
2. Kemampuan Mengelola Emosi.
3. Kemampuan Memotivasi Diri Sendiri (Motivasi).
4. Kemampuan Mengenali Emosi Orang lain (Empati).
5. Membina Hubungan Dengan Orang Lain (Ketrampilan sosial).
*C. Kecerdasan Spiritual* ( Spiritual Intelligence)
Kemampuan untuk mengenal Allah dan memahami posisinya sebagai hamba Allah. Inilah yang disebut dalam agama sebagai fitrah keimanan.
Secara ilmiah Kecerdasan Spiritual pertama kali dicetuskan oleh Donah Zohar dari Harvard University dan Ian Marshall dari Oxford University, yang diperoleh berdasarkan penelitian ilmiah yang sangat komprehensif. Pada tahun 1977. Seorang Ahli Syaraf, V.S Ramachandran bersama timnya menemukan keberadaan God Spot dalam jaringan otak manusia dan ini adalah pusat spiritual (spiriitual center) yang terletak diantara jaringan syaraf dan otak.
Dari spiritual center ini menghasilkan suara hati yang memiliki kekmampuan lebih dalam menilai suatu kebenaran bila dibandingkan dengan panca indra.
πAda Tiga prinsip dalam kecerdasan Spiritual yaitu :
- Prinsip Kebenaran
- Prinsip keadilan
- Prinsip kebaikan
*D. Kecerdasan Menghadapi Tantangan* (Adversity Intelligence)
Kemampuan untuk mengubah hambatan menjadi peluang.
πAda tiga tipe menurut Stoltz yaitu :
1. Quitter , adalah orang-orang dengan Adversity Intelligence ( AI) yang rendah, bilamana bekerja dan ketemu masalah cenderung segera menghindar dan menyalahkan orang lain. Keluar (berhenti) dari apa yang sedang dikerjakannya dan membiarkan persoalannya berlarut2.
2. Campers itu orang dengan AI moderate, berusaha bekerja dengan baik. Meskipun demikian cenderung menghindari resiko, terutama berkaitan dengan resiko pribadi.
Jika bertemu halangan berusaha mengatasinya selama tidak beresiko. Jika tekanan terlalu besar, akan berhenti dan mencari aman. Kadang dengan mengulur2 menyelesaikannya.
3. Climbers , adalah orang2 dengan AI tinggi, yang berani menghadapi tantangan dan resiko, mengubah hambatan menjadi peluang, senantiasa fokus pada solusi.
Climbers percaya bahwa dirinya diciptakan untuk membuat perubahan ke arah yang lebih baik dan juga menaruh kepercayaan kepada orang lain bahwa mereka pada dasarnya baik dan dapat bekerja dengan baik
π Kecerdasan Intellektual : Membuat anak pandai, sehingga bisa menjadi sarana meraih kebahagiaan hidup yang penuh kesenangan (pleasant life). Seperti masuk universitas ternama, mendapat pekerjaan dan jabatan yang tinggi. Memiliki rumah, mobil dan kesenangan materi yang lain.
π Kecerdasan Emosional : membuat anak bisa mengenali dan mengendalikan emosi diri serta emosi orang lain. Kecerdasan ini sangat diperlukan agar seseorang bisa mencapai taraf kebahagiaan di ranah nyaman ( good life), karena kebutuhan jasmani, rohani dan spiritualnya terpenuhi.
π Kecerdasan Spiritual : membuat hidup penuh arti, anak akan mampu memberi makna pada kehidupan, dan paham apa misi Allah menciptakan diri kita di dunia ini. Membuat anak berpikir secara luas makna sebuah kesuksesan. Hal ini akan mendorong anak-anak mencapai kebahagian hakiki yaitu kehidupan penuh makna (meaningful life).
π Kecerdasan Menghadapi Tantangan : Menentukan seberapa tangguh anak ini untuk mencapai tingkat kebahagiaan hidup yang dia inginkan.
π LATIHAN-LATIHAN-LATIHAN
Untuk melatih 3 materi yang sudah kita pelajari yaitu Komunikasi Produktif, Kemandirian, dan mengasah Kecerdasan ini, kita bisa menyelenggarakan Projek Keluarga. Mari kita pahami bersama apa itu projek keluarga.
❤ *PROJEK KELUARGA* ❤
Salah satu aktivitas yang bisa kita jalankan di keluarga sebagai sarana belajar seluruh anggota keluarga dalam meningkatkan komunikasi keluarga, melatih kemandirian dan menstimulus kecerdasan adalah projek keluarga.
π APA ITU PROJEK KELUARGA
*Projek keluarga* adalah aktivitas yang secara sadar dibicarakan bersama, dikerjakan bersama oleh seluruh atau sebagian anggota keluarga dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara bersama pula.
π CIRI-CIRI PROJEK KELUARGA
a. Fokus pada proses, bukan pada hasil
b. Sederhana
c. Menyenangkan
d. Mudah – Menantang
e. Memiliki durasi pendek
π KOMPONEN PROJEK KELUARGA
a. Sasaran
SMART : Specific, Measurable, Achiveable, Reliable, Tangible
Maksimum 3 sasaran.
b. Sarana
Alat dan Bahan yang diperlukan.
Dana yang diperlukan ( apabila ada)
c. Sumber Daya Manusia
Penanggungjawab
Pelaksanan
d. Waktu
Jadwal Pelaksanaan
Durasi
e. Nama Projek
Berikan nama khusus terhadap projek yang dikerjakan keluarga.
π BAGAIMANA CARANYA MEMANTAU PROJEK KELUARGA
*Lakukan APRESIASI bukan EVALUASI*
Apabila sudah menjalankan projek keluarga maka segera buat forum apresiasi keluarga diantara jeda projek tersebut, apabila projek memiliki durasi lebih dari 1 minggu – 1 bulan. Apabila projek hanya berdurasi 1-3 hari, maka lakukan pada akhir projek berjalan.
Anak-anak belum memerlukan evaluasi, yang kita lakukan hanya memberikan apresiasi saja, karena hal ini penting untuk menjaga suasana selalu menyenangkan dan membuat anak senantiasa bersemangat dalam mengerjakan projek selanjutnya.
Apabila ada hal-hal yang kita rasa penting untuk diperbaiki atau diubah strateginya, maka cukup anda catat saja, simpan dengan baik bersama satu file catatan projek ini, dan buka kembali saat kita dan anak-anak akan merencanakan projek berikutnya. Hal ini akan lebih membuat perencanaan kita lebih efektif, karena anak-anak akan melakukan perubahan menjelang melakukan projek, bukan diberitahu kesalahan setelah melakukan sebuah projek. Efek yang muncul akan sangat berbeda.
π BAGAIMANA CARA MENGAPRESIASI
Perbanyaklah membuat forum keluarga saat sore ngeteh bersama, atau sepekan sekali saat akhir pekan. Di IbuProfesional, forum keluarga seperti ini terkenal dengan nama *“MASTER MIND”*. Bagaimana cara menjalankan master mind, ciptakan suasana yang santai di rumah, kemudian tanyakan 3 hal saja:
a. Ada yang punya pengalaman menarik selama menjalankan projek ini?
b. Apa yang sudah baik?
c. Minggu depan apa yang akan kita lakukan?
π CONTOH PROJEK KELUARGA
*Nama Projek* : WARNAI DUNIA WARNAMU
*Gagasan* : Sudah 2 tahun cat tembok rumah tidak pernah berganti, kali ini anak-anak punya ide, dengan diskusi pertanyaan berikut, mengapa cat rumah itu kok satu warna? Bagaimana jika rumah itu warna-warni? Mengapa tidak kita cat tembok rumah kita warna warni?
*Pelaksanaan* : Tentukan durasi waktunya, misal hari Minggu, 26 Maret 2017, tentukan penanggungjawabnya (PIC), kasih jabatan misal “Jendral Cat Warna”. Berikan ruang sang jendral untuk mengambil keputusan terhadap segala tantangan yang muncul selama projek berjalan.
*Nama Projek* : SUNDAY LIBRARY
*Gagasan* : Anak-anak sangat senang membaca, banyak buku yang sudah terbaca, tidak dibaca lagi. Anak-anak ingin berbagi manfaat . Mengapa perpustakaan itu harus bentuk bangunan? Bagaimana jika perpustakaan itu bergerak dari satu tempat ke tempat lain? Mengapa tidak kita membuat perpustakaan keliling setiap minggu di event Car Free Day?
*Pelaksanaan* : Tentukan waktunya, setiap hari minggu, tentukan PIC mingguannya, kasih jabatan misal “Library man”, berikan ruang sang library man dan tim untuk menghadapi tantangan yang muncul selama projek berjalan
*AMATI, TERLIBAT, TULIS*
π AMATI
*Aspek Komunikasi Produktif*
Bagaimanakah pola komunikasi anak-anak kita selama menjalankan sebuah projek?
*Aspek Kemandirian*
Apakah sudah makin terlihat tingkat kemandirian anak-anak dalam mengerjakan projek?
*Aspek Kecerdasan*
Bagaimana cara anak meningkatkan rasa ingin tahunya? ( IQ), bagaimana cara anak mengelola emosi selama projek berjalan ?(Emotional Intellegence/EI), Bagaimana cara anak meningkatkan kebermanfaatan dirinya dengan projek tersebut? ( Spiritual Intellegence. SI), Bagaimana cara anak mengubah masalah menjadi peluang ( Adversity Intellegence,AI)
π TERLIBAT
Dalam setiap projek yang dibuat libatkan diri kita, para orangtua, untuk menjadi bagian anggota tim, asyik menjalankan bersama sebagai pembelajaran. Belajarlah menjadi follower yang taat pada keputusan leader. Saat menyelenggarakan master mind, bergantilah peran menjadi fasilitator yang baik.
π TULIS
Tulis pengalaman kita setiap hari baik cerita gagal maupu cerita sukses dalam menjalankan projek demi projek., baik cerita bahagia maupun cerita mengharubiru. Alirkan rasa anda setiap hari.
Selamat mengunci ilmu dengan amal anda,
Salam Ibu Profesional,
/Tim Fasilitator Bunda Sayang/
Sumber Bacaan :
Stoltz, Paul G, PhD, 1997 Adversity Quotient, Mengubah hambatan menjadi Peluang, Jakarta , Grasindo
Melva Tobing, MPsi, Daya Tahan Anak Hadapi Kesulitan, Jakarta.
D. Paul Reily , “Success is Simple”, Gramedia, Jakarta
Lela Swell, Success, Grasindo, Jakarta
Martin Selligman, Authentic Happiness, Jakarta
*Materi Bunda Sayang sesi #3*
❤ PENTINGNYA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK DEMI KEBAHAGIAAN HIDUP ❤
Dalam kehidupan ini ada dua kata yang selalu diinginkan manusia dalam hidup yaitu *SUKSES* dan *BAHAGIA*
☘ Makna SUKSES
Menurut D. Paul Reily dalam bukunya _Success is Simple_ mendefinisikan sukses sebagai pencapaian yang berangsur-angsur meningkat terhadap suatu tujuan dan cita-cita yang berharga
Sedangkan menurut lela swell dalam bukunya _Success_mengemukakan pendapatnya bahwa *sukses adalah* _peristiwa atau pengalaman yang kita akan mengingatnya sebagai pemuasan diri_
☘ Makna BAHAGIA
Menurut Prof. Martin Selligman dalam bukunya _Authentic Happiness_ mendefinisikan kebahagiaan hidup dalam tiga kategori :
*A. Hidup yang penuh kesenangan* (Pleasant Life )
Hidup yg penuh kesenangan, ialah kondisi kehidupan dimana pencarian kesenangan hidup, kepuasan nafsu, keinginan dan berbagai bentuk kesenangan lain nya, menjadi tujuan hidup manusia
Kebahagiaan jenis ini lebih bersifat material.
*B. Hidup nyaman* ( Good Life)
Hidup yg nyaman, ialah kehidupan, dimana segala keperluan kehidupan manusia secara jasmani, rohani dan sosial telah terpenuhi.. Hidup yg aman, tentram, damai. Kebahagiaan jenis ini lebih bersifat mental
*C. Hidup Bermakna* ( Meaningful Life)
Hidup yang bermakna, lebih tinggi lagi dari tingkat kehidupan yang nyaman, selain segala keperluan hidupnya telah terpenuhi, ia menjalani hidup ini dengan penuh pemahaman tentang makna dan tujuan kehidupan. Selain untuk diri dan keluarga nya, ia juga memberikan kebaikan bagi orang lain dan lingkungan sekitar. Rasa kebahagiaan yg timbul ketika banyak orang lain mendapatkan kebahagiaan karena usaha kita, _pleasure in giving, kebahagiaan dalam berbagi. Kebahagiaan jenis ini lebih bersifat spiritual_
Untuk mencapai kategori hidup SUKSES dan BAHAGIA *kita perlu memiliki berbagai macam kecerdasan hidup*.
☘ KECERDASAN
Para ahli berpendapat untuk tidak membicarakan atau memberikan batasan yang jelas tentang kecerdasan. Karena kecerdasan itu merupakan status mental yang tidak memerlukan definisi. Para ahli lebih memusatkan perhatian pada perilaku kecerdasan seperti kemampuan memahami dan menyelesaikan masalah dengan cepat, kemampuan mengingat dan daya kreativitas serta imajinasi yang terus berkembang.
πMACAM-MACAM KECERDASAN
*A. Kecerdasan Intelektual* (Intellectual Quotient)
Adalah kemampuan untuk menalar, perencanaan sesuatu, kemampuan memecahkan masalah, belajar memahami gagasan, berfikir, penggunaan bahasa dan lainnya.
Howard Gardner pakar psikologi perkembangan, menjelaskan ada sembilan macam kecerdasan manusia. Kecerdasan tersebut meliputi kecerdasan bahasa (linguistic), musik (musical), logika-matematika (logical-mathematical), spasial (spatial), kinestetis-tubuh (bodily-kinesthetic), intrapersonal (intrapersonal), interpersonal (interpersonal), naturalis (naturalits) dan eksistensial (existensial)
*B. Kecerdasan Emosional* (Emotional Intelleigence)
kemampuan untuk mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, memotivasi diri sendiri, mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain.
*Komponen-komponen dasar kecerdasan emosional adalah* :
1. Kemampuan Mengenali Emosi diri sendiri (kesadaran diri).
2. Kemampuan Mengelola Emosi.
3. Kemampuan Memotivasi Diri Sendiri (Motivasi).
4. Kemampuan Mengenali Emosi Orang lain (Empati).
5. Membina Hubungan Dengan Orang Lain (Ketrampilan sosial).
*C. Kecerdasan Spiritual* ( Spiritual Intelligence)
Kemampuan untuk mengenal Allah dan memahami posisinya sebagai hamba Allah. Inilah yang disebut dalam agama sebagai fitrah keimanan.
Secara ilmiah Kecerdasan Spiritual pertama kali dicetuskan oleh Donah Zohar dari Harvard University dan Ian Marshall dari Oxford University, yang diperoleh berdasarkan penelitian ilmiah yang sangat komprehensif. Pada tahun 1977. Seorang Ahli Syaraf, V.S Ramachandran bersama timnya menemukan keberadaan God Spot dalam jaringan otak manusia dan ini adalah pusat spiritual (spiriitual center) yang terletak diantara jaringan syaraf dan otak.
Dari spiritual center ini menghasilkan suara hati yang memiliki kekmampuan lebih dalam menilai suatu kebenaran bila dibandingkan dengan panca indra.
πAda Tiga prinsip dalam kecerdasan Spiritual yaitu :
- Prinsip Kebenaran
- Prinsip keadilan
- Prinsip kebaikan
*D. Kecerdasan Menghadapi Tantangan* (Adversity Intelligence)
Kemampuan untuk mengubah hambatan menjadi peluang.
πAda tiga tipe menurut Stoltz yaitu :
1. Quitter , adalah orang-orang dengan Adversity Intelligence ( AI) yang rendah, bilamana bekerja dan ketemu masalah cenderung segera menghindar dan menyalahkan orang lain. Keluar (berhenti) dari apa yang sedang dikerjakannya dan membiarkan persoalannya berlarut2.
2. Campers itu orang dengan AI moderate, berusaha bekerja dengan baik. Meskipun demikian cenderung menghindari resiko, terutama berkaitan dengan resiko pribadi.
Jika bertemu halangan berusaha mengatasinya selama tidak beresiko. Jika tekanan terlalu besar, akan berhenti dan mencari aman. Kadang dengan mengulur2 menyelesaikannya.
3. Climbers , adalah orang2 dengan AI tinggi, yang berani menghadapi tantangan dan resiko, mengubah hambatan menjadi peluang, senantiasa fokus pada solusi.
Climbers percaya bahwa dirinya diciptakan untuk membuat perubahan ke arah yang lebih baik dan juga menaruh kepercayaan kepada orang lain bahwa mereka pada dasarnya baik dan dapat bekerja dengan baik
π Kecerdasan Intellektual : Membuat anak pandai, sehingga bisa menjadi sarana meraih kebahagiaan hidup yang penuh kesenangan (pleasant life). Seperti masuk universitas ternama, mendapat pekerjaan dan jabatan yang tinggi. Memiliki rumah, mobil dan kesenangan materi yang lain.
π Kecerdasan Emosional : membuat anak bisa mengenali dan mengendalikan emosi diri serta emosi orang lain. Kecerdasan ini sangat diperlukan agar seseorang bisa mencapai taraf kebahagiaan di ranah nyaman ( good life), karena kebutuhan jasmani, rohani dan spiritualnya terpenuhi.
π Kecerdasan Spiritual : membuat hidup penuh arti, anak akan mampu memberi makna pada kehidupan, dan paham apa misi Allah menciptakan diri kita di dunia ini. Membuat anak berpikir secara luas makna sebuah kesuksesan. Hal ini akan mendorong anak-anak mencapai kebahagian hakiki yaitu kehidupan penuh makna (meaningful life).
π Kecerdasan Menghadapi Tantangan : Menentukan seberapa tangguh anak ini untuk mencapai tingkat kebahagiaan hidup yang dia inginkan.
π LATIHAN-LATIHAN-LATIHAN
Untuk melatih 3 materi yang sudah kita pelajari yaitu Komunikasi Produktif, Kemandirian, dan mengasah Kecerdasan ini, kita bisa menyelenggarakan Projek Keluarga. Mari kita pahami bersama apa itu projek keluarga.
❤ *PROJEK KELUARGA* ❤
Salah satu aktivitas yang bisa kita jalankan di keluarga sebagai sarana belajar seluruh anggota keluarga dalam meningkatkan komunikasi keluarga, melatih kemandirian dan menstimulus kecerdasan adalah projek keluarga.
π APA ITU PROJEK KELUARGA
*Projek keluarga* adalah aktivitas yang secara sadar dibicarakan bersama, dikerjakan bersama oleh seluruh atau sebagian anggota keluarga dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara bersama pula.
π CIRI-CIRI PROJEK KELUARGA
a. Fokus pada proses, bukan pada hasil
b. Sederhana
c. Menyenangkan
d. Mudah – Menantang
e. Memiliki durasi pendek
π KOMPONEN PROJEK KELUARGA
a. Sasaran
SMART : Specific, Measurable, Achiveable, Reliable, Tangible
Maksimum 3 sasaran.
b. Sarana
Alat dan Bahan yang diperlukan.
Dana yang diperlukan ( apabila ada)
c. Sumber Daya Manusia
Penanggungjawab
Pelaksanan
d. Waktu
Jadwal Pelaksanaan
Durasi
e. Nama Projek
Berikan nama khusus terhadap projek yang dikerjakan keluarga.
π BAGAIMANA CARANYA MEMANTAU PROJEK KELUARGA
*Lakukan APRESIASI bukan EVALUASI*
Apabila sudah menjalankan projek keluarga maka segera buat forum apresiasi keluarga diantara jeda projek tersebut, apabila projek memiliki durasi lebih dari 1 minggu – 1 bulan. Apabila projek hanya berdurasi 1-3 hari, maka lakukan pada akhir projek berjalan.
Anak-anak belum memerlukan evaluasi, yang kita lakukan hanya memberikan apresiasi saja, karena hal ini penting untuk menjaga suasana selalu menyenangkan dan membuat anak senantiasa bersemangat dalam mengerjakan projek selanjutnya.
Apabila ada hal-hal yang kita rasa penting untuk diperbaiki atau diubah strateginya, maka cukup anda catat saja, simpan dengan baik bersama satu file catatan projek ini, dan buka kembali saat kita dan anak-anak akan merencanakan projek berikutnya. Hal ini akan lebih membuat perencanaan kita lebih efektif, karena anak-anak akan melakukan perubahan menjelang melakukan projek, bukan diberitahu kesalahan setelah melakukan sebuah projek. Efek yang muncul akan sangat berbeda.
π BAGAIMANA CARA MENGAPRESIASI
Perbanyaklah membuat forum keluarga saat sore ngeteh bersama, atau sepekan sekali saat akhir pekan. Di IbuProfesional, forum keluarga seperti ini terkenal dengan nama *“MASTER MIND”*. Bagaimana cara menjalankan master mind, ciptakan suasana yang santai di rumah, kemudian tanyakan 3 hal saja:
a. Ada yang punya pengalaman menarik selama menjalankan projek ini?
b. Apa yang sudah baik?
c. Minggu depan apa yang akan kita lakukan?
π CONTOH PROJEK KELUARGA
*Nama Projek* : WARNAI DUNIA WARNAMU
*Gagasan* : Sudah 2 tahun cat tembok rumah tidak pernah berganti, kali ini anak-anak punya ide, dengan diskusi pertanyaan berikut, mengapa cat rumah itu kok satu warna? Bagaimana jika rumah itu warna-warni? Mengapa tidak kita cat tembok rumah kita warna warni?
*Pelaksanaan* : Tentukan durasi waktunya, misal hari Minggu, 26 Maret 2017, tentukan penanggungjawabnya (PIC), kasih jabatan misal “Jendral Cat Warna”. Berikan ruang sang jendral untuk mengambil keputusan terhadap segala tantangan yang muncul selama projek berjalan.
*Nama Projek* : SUNDAY LIBRARY
*Gagasan* : Anak-anak sangat senang membaca, banyak buku yang sudah terbaca, tidak dibaca lagi. Anak-anak ingin berbagi manfaat . Mengapa perpustakaan itu harus bentuk bangunan? Bagaimana jika perpustakaan itu bergerak dari satu tempat ke tempat lain? Mengapa tidak kita membuat perpustakaan keliling setiap minggu di event Car Free Day?
*Pelaksanaan* : Tentukan waktunya, setiap hari minggu, tentukan PIC mingguannya, kasih jabatan misal “Library man”, berikan ruang sang library man dan tim untuk menghadapi tantangan yang muncul selama projek berjalan
*AMATI, TERLIBAT, TULIS*
π AMATI
*Aspek Komunikasi Produktif*
Bagaimanakah pola komunikasi anak-anak kita selama menjalankan sebuah projek?
*Aspek Kemandirian*
Apakah sudah makin terlihat tingkat kemandirian anak-anak dalam mengerjakan projek?
*Aspek Kecerdasan*
Bagaimana cara anak meningkatkan rasa ingin tahunya? ( IQ), bagaimana cara anak mengelola emosi selama projek berjalan ?(Emotional Intellegence/EI), Bagaimana cara anak meningkatkan kebermanfaatan dirinya dengan projek tersebut? ( Spiritual Intellegence. SI), Bagaimana cara anak mengubah masalah menjadi peluang ( Adversity Intellegence,AI)
π TERLIBAT
Dalam setiap projek yang dibuat libatkan diri kita, para orangtua, untuk menjadi bagian anggota tim, asyik menjalankan bersama sebagai pembelajaran. Belajarlah menjadi follower yang taat pada keputusan leader. Saat menyelenggarakan master mind, bergantilah peran menjadi fasilitator yang baik.
π TULIS
Tulis pengalaman kita setiap hari baik cerita gagal maupu cerita sukses dalam menjalankan projek demi projek., baik cerita bahagia maupun cerita mengharubiru. Alirkan rasa anda setiap hari.
Selamat mengunci ilmu dengan amal anda,
Salam Ibu Profesional,
/Tim Fasilitator Bunda Sayang/
Sumber Bacaan :
Stoltz, Paul G, PhD, 1997 Adversity Quotient, Mengubah hambatan menjadi Peluang, Jakarta , Grasindo
Melva Tobing, MPsi, Daya Tahan Anak Hadapi Kesulitan, Jakarta.
D. Paul Reily , “Success is Simple”, Gramedia, Jakarta
Lela Swell, Success, Grasindo, Jakarta
Martin Selligman, Authentic Happiness, Jakarta
T10 Level #3 Day #1 FITRI PURBASARI DEPOK
Tantangan 10 Hari Projek Keluarga
Kuliah Bunda Sayang IIP Game Level #3
Kuliah Bunda Sayang IIP Game Level #3
Have Fun With The Dragon!
Projek keluarga kami di hari pertama Game Level ketiga ini adalah membuat es krim dan es jeli Buah Naga. Ide awalnya muncul dengan keberadaan si buah naga yang cukup besar di kulkas, tapi Si Kakak (5 th) tidak mau memakannya dengan cara buah potong biasa. Maka pada saat forum keluarga kemarin malam, muncullah ide membuat es krim buah naga dengan cup es krim nenek yang dibawanya kemarin dari kampung.
Target projek es buah naga ini adalah membuat kudapan anak yang sehat dan enak serta melatih kemandirian Kakak menyiapkan makanan sendiri. Sebelumnya Kakak agak kurang suka dengan buah naga. Tapi sejak kegiatan membuat sup buah di sekolahnya beberapa hari yang lalu, dia jadi suka. "Mi, kakak suka buah naga kalau dipotongnya kecil-kecil kaya bu guru tadi." begitu laporannya sepulang sekolah. Well, alhamdulillah. Projek ini pun seolah menjadi upaya penguatan perasaan barunya itu terhadap buah naga yang kaya manfaat. Adapun dalam projek ini kami membuat dua macam es: Dragon Smoothie Ice dan Dragon Jelly Ice.
SDM yang terlibat dalam projek ini tentu kami semua. Kebetulan juga ayahnya sedang tidak pergi ke kantor hari ini. Kakak jadi chef, Umi asisten chef, Dedek (1,5 th) pelanggan, dan Abi satpam yang menjaga pelanggan.. hehehehe..
Alat dan Bahan yang diperlukan adalah sebagai berikut:
- Blender
- pisau
- piring
- cetakan es
- panci
- sendok
- 1 buah naga merah
- susu kental manis
- air
- 1 sachet kecil nutrijell rasa leci
- gula pasir
Pada tahap Pelaksanaan, Kakak sebagai chef mempersiapkan alat dan bahan yang diperlukan dengan bantuan sekadarnya dari Umi. Lalu, setelah buah naga dipotong Umi, Kakak memulai eksperimennya: mengupas buah, memasukkannya ke blender, menuang air dan susu kental manis, dan menyalakan blender. Kakak tampang sangat percaya diri dan π. Kemudian setelah jus buah naga terwujud, Kakak dibantu umi melepaskan blender dari dudukannya. Lalu tanpa dibantu, Kakak menuang jus ke cetakan dengan sangat hati-hati. Dan taraaaaaa! Dragon Smoothie Ice siap dimasukkan ke dalam freezer. Selanjutnya es yang kedua. Kakak menuang bubuk jelly ke dalam wajan, lalu menambahkan gula dan air, dan Kakak meminta umi untuk memasak jellynya karena dia masih takut menghadapi api kompor. Itu mungkin karen letak kompornya yang setinggi wajahnya. Hehehe semoga segera punya dapur baru yang lebih friendy hihii.. aamiin. Tapi dengan antusias, Kakak meminta agar dia yang menuang jelly nya ke cetakan. OK! Setelah jellynya siap, saya membawanya ke tempat eksperimen. Kakak mulai menuang jelly nya ke cetakan lalu dicampur dengan jus buah naga. Ada yang lucu dan luput dari perhatian saya. Ternyata air yang digunakan untuk memasak jellynya kurang banyak jadi si jelly cepat mengental hehee. Alhasil, susah banget bercampur dengan jusnya. hihiii diluar bayangan. Tak apo. Yang penting enyak! hehee. Wokedeh! Dragon Jelly Ice pun siap meluncur ke freezer. hemmh.. es masuk freezer kurang lebih pukul 11.30.
Alhamdulillah, projek kali ini berjalan lancar. Kakak sangat senang melakukannya. Dia tak sabar menunggu es nya jadi. Kakak sudah terlihat mandiri dan percaya diri mengerjakan projek ini. Dan saya pun bisa menahan diri untuk intervensi. Perasaannya terhadap buah naga jadi semakin baik. Saat mengupas, awalnya dia jijik karena pada dasarnya dia gak suka yang lengket-lengket. Tapi setelah berulangkali kubilang "gak papa kotor juga, nanti tangannya dibersihkannya sekalian selesai" dengan nada bersahabat tentunya, dia semakin pede mengupas buah naga tanpa menjentikkan kelingkingnya. hehee.. Dia pun mau mencoba langsung buah naga yang masi nempel di kulitnya. "Emhh enak, Mi." katanya berbinar-binar. Sore harinya, dia tak sabar ingin mencoba es jellynya. Saya pun persilahkan. Sambil direcoki adik dan abi nya, berulang kali dia bilang "emmh enak, enak!" π Eh si Dedek yang berperan sebangai pelanggan pun berucap "emmh enaaahh!" π Biasanya kami berbagi ke tetangga setiap kami membuat camilan, tapi kali ini tetangganya belum pada pulang. Jadi insyaAllah besok saja berbagi es nya.
Namun sayang, setelah menikmati jus, Kakak ikut abinya survey ke lokasi pekerjaan yang kebetulan dekat sini, lalu pulang sore dan dilanjutkan dengan drama Kakak menangisi sang abi yang mau mudik dulu sendirian menghadiri kondangan pernikahan kerabat. Jadi belum sempat melakukan Master Mind nya sebagai upaya apresiasi. Kakak keburu tidur sambil menangis. Semoga besok suasana hatinya kembali segar dengan Dragon Smoothie Ice yang enak itu! π
Hemmh..note for me in the end of this day, this family project is aimed to make my family happier day by day, especially for my children. So, the most important key word is the happiness of my children. Whatever the condition, the priority is them. Be calm, be patient, be nice, be wise, be friendly, and be happy! Keep smiling, keep praying, keep learning, keep trying, keep appreciating, and keep writing!
Salam Ibu Profesional!
Rabu, 08 Maret 2017
T10_Level2_Fitri Purbasari_Day10
Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian
Kuliah Bunda Sayang IIP Level #2
Kuliah Bunda Sayang IIP Level #2
Bijaksana Dalam Mendampingi Proses
Ya, orang tua harus bijaksana dalam mendampingi proses melatih anak mandiri. Itulah refleksi dari pengalaman 10 hari ini dengan cemilan yang diberikan Bu Septi Rabu pagi. Kesabaran mengaplikasikan ilmu, mengapresiasi diri dan anak-anak atas pencapaian mereka, memotivasi mereka, dan berdamai dengan hasil yang belum sesuai harapan itulah wujud dari kebijaksanaan yang mutlak hadir dalam proses ini. Melatih kemandirian anak-anak adalah moment krusial, baik bagi kami sebagai orang tua maupun bagi anak-anak. Proses ini akan berdampak besar pada kemampuannya menjalani hidup ini. So, keseriusan dan kewarasan harus kami pelihara. Semoga Allah memudahkan proses ini.
Di hari kesepuluh ini, Fatimah (1,5 th) masih berkutat dengan keterampilan makan sendiri. Dia hari ini senang meremas-remas nasi dengan kedua tangannya. Saat nasi pada nempel di jari-jarinya, dikibaskanlah tangannya, maka berpencarlah tu nasi kemana-mana. Uwoow..itu sesuatu banget! hahaha.. tapi, sabar.. keep calm and talk wisely! π Komunikasi produktif mengambil perannya. Aiih..KISS sambil di kiss juga tuh bocah. mmuach! "Dedek, makannya yang baik yaa sayang. Tidak begitu. Aaaam.. ayo Dedek pinter banget makannya." Satu hal yang perlu saya syukuri dalam episode ini adalah bahwa sumbu saya semakin panjang. hehehe.. alhamdulillah.
Move to Rafifa's side. Kakak (5 th) sedang agak malas makan. Mungkin karena bibirnya sedang sariawan. Dia maunya makan roti, makan kue, makan pisang, minum susu dan minum larutan penyegar. Alhamdulillah dia menyiapkan semuanya itu sendiri. Alhamdulillah, today i feel that everything run quite well. It was because I involved Allah through reciting much Al Quran and dhikr. When I "see" Allah clearly, the universe supports me. π
Salam Ibu Profesional!
Selasa, 07 Maret 2017
T10_Level2_Fitri Purbasari_Depok_Day#9
Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian
Kuliah Bunda Sayang IIP Level #2
Kuliah Bunda Sayang IIP Level #2
ADEK, KAKAK, WOW!
Mulai dari cerita Kakak Rafifa (5 th) dulu aah... Hari Selasa ini, Kakak bikin sarapan sendiri loh, yaitu roti meses. Kakak juga bikin roti sekalian untuk bekal ke sekolah. Semoga semangatnya terus terpelihara ya, Kak. π
Pekan ini adalah pekan skill kedua bagi kakak, setelah fokus pada "Aku Senang Mandi Sore". Dalam melatih Kakak menyiapkan makannya sendiri, saya disarankan oleh suami agar bertahap, misal satu kali dulu sehari pas sarapan. It's good idea! Ide inipun mengingatkan saya juga agar tak sekedar fokus pada prakteknya tok, tapi menyertainya dengan memberikan motivasi baik secara langsung maupun tidak mengenai kenapa Kakak harus bisa menyiapkan makan sendiri. Strategi storytelling dari buku atau based on pengalaman dari sumber sekitar sangat ampuh bagi Kakak. Secermat mungkin saya harus bisa mengkaitkan peristiwa yang muncul di lingkungan agar dia mandiri dalam skill yang sedang dilatihkan maupun yang sudah. Ini akan menjadi motivasi sekaligus penguatan.
Sekarang tentang Dedek Fatimah (1,5 th). Wow! Dia sedang asyik dengan kakinya. Dia pengen tahu gimana kalau kakinya menginjak makanan di piring. hihihiii. Sayang saya gak bisa ambil fotonya karena harus riweuh mengatasinya. hehe.. Ya begitulah, ada saja tingkah anak ini yang sekilas tentu bisa menaikan tensi, tapi kalau dilihat dengan mata hati dan akal sehat ini adalah hal yang amazing. Dia hanya ingin tahu segala sesuatu. That's so natural! Kita yang harus mengakomodir dan mengarahkan rasa ingin tahunya itu dengan baik dan benar. Semoga Allah senantiasa membimbing saya agar sabar, ikhlas dan waras. π
Salam Ibu Profesional!
Minggu, 05 Maret 2017
T10_Level2_Fitri Purbasari_Day6
Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian
Kuliah Bunda Sayang IIP Level #2
Kuliah Bunda Sayang IIP Level #2
Hari Sabtu Ini, Ummi Ngaji
Dedek Makan Jelly, Kakak Tak Mandi
Bagus kan pantunnya? hehehe.. Ya, hari Sabtu ini jadwal ngaji kelompok saya di rumah. Saya membuat jelly nut**jell untuk snack ngaji. Dedek Fatimah (1,5 th) pun senang mendapat jelly sebagai camilannya. Ini kali keberapa dia makan jelly. Tapi biasanya saya suapin. Dia seneng banget saat saya sodorkan wadah berisi jelly hijau bening itu. Sampai dia gak sabar merebut si garpu saat saya potong-potong jellynya. Dia memilih pakai garpu saat saya tawari sendok. Karena tekstur jelly yang kenyal dan licin, dia cukup kesulitan menggarpu jellynya. Saya cukup gemes ga sabar pengen membantunya. Tapi,,ingat dong sama materi Adversity Quotient yang masih hangat. hehehe.. tahan diri, dia harus berani mengatasi tantangan itu. Dedek pasti bisa! Dan, yeay! Alhamdulillah meski sambil manyun-manyun, dia sukses menggarpu dan melahap jellynya! π π Coba deh lihat disini videonya.
Kakak Rafifa (5 th) hari Sabtu ini lagi anget badannya. Ini hari kedua dia sakit. Malam Jum'at dia demam. Kami pikir dia mau pilek lagi karena kemaren ada ingusnya. Tapi ternyata mungkin karena dia panas dalam. Kami dapati sariawan di bibir bawahnya. Karena merasa tak enak badan, Kakak minta untuk absen dulu mandi sore. "Kakak mandi siang aja ya, Mi. Kalau sore dingin. Tapi tolong bikinin air angetnya.", katanya. Akhirnya hari Sabtu ini dia mandi cuma sekali, yaitu jam 11 siang. Alhamdulillah Si Kakak ini anak yang mudah dikondisikan. Kalau melenceng-melenceng dikit, ya saya dan abinya perlu meluangkan waktu spesial untuk berbicara dengannya dari hati ke hati, dan dikuatkan dengan storytelling. Dan dia pun akan kembali on the track. It's such a great blessing! π Besok insyaAllah besok kakak mulai masuk ke skill menyiapkan makan sendiri, karena selama ini masih saya sodorkan.
Jumat, 03 Maret 2017
T10_Level2_Fitri Purbasari_Depok_Day5
Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian
Kuliah Bunda Sayang IIP Level #2
Mungkin itu kalimat yang bisa saya terjemahkan dari gerakan tangan Fatimah (1,5 th) yang menghalau tangan saya saat saya megangin mangkoknya agar tak geser-geser. Alhamdulillah di hari kelima ini dia sudah semakin enjoy makan sendiri. Setiap kali waktunya makan dan saya sudah siap menyajikan piringnya, dia antusias meraih piring makannya itu. Seolah dia sudah faham bahwa makan sendiri adalah tanggung jawabnya. π
Sebenarnya anak-anak batita itu memang senang bereksplorasi ya. Apa-apa maunya sendiri. Cuma..emaknya saja yang seringkali tak tega. Lebih tepatnya mungkin tak tega kalau saya harus kembali membersihkan lantai dan mengganti baju anak yang berantakan oleh makanannya. π
Jadi sesungguhnya, melatih batita makan sendiri itu adalah melatih kesungguhan dan kesabaran Sang Emak dalam menyiapkan anaknya untuk mandiri, terampil dengan urusan pribadinya. Anak sangat cepat belajar dalam hal ini, sedangkan sang Emak seringkali masih tergantung mood yang berhembus. Hadeuuh!! Ini indikator emak yang labil. hahahaha. Aahh..ini tak boleh berlaku lagi kalau ingin menjadi Ibu Profesional. Ibu harus cerdas mengendalikan mood agar selalu berada dalam kondisi HAPPY, BAHAGIA. Mom's Happy, Kid's Happy, Dad's Happy! π
Kakak Rafifa (5 th) pun sudah OK dengan aktivitas mandi sorenya. InsyaAllah besok akan mulai dengan list selanjutnya: Menyiapkan makan sendiri. π
Salam Ibu Profesional.
Kuliah Bunda Sayang IIP Level #2
"Tak Usah Dibantu, Ummi!"
Mungkin itu kalimat yang bisa saya terjemahkan dari gerakan tangan Fatimah (1,5 th) yang menghalau tangan saya saat saya megangin mangkoknya agar tak geser-geser. Alhamdulillah di hari kelima ini dia sudah semakin enjoy makan sendiri. Setiap kali waktunya makan dan saya sudah siap menyajikan piringnya, dia antusias meraih piring makannya itu. Seolah dia sudah faham bahwa makan sendiri adalah tanggung jawabnya. π
Sebenarnya anak-anak batita itu memang senang bereksplorasi ya. Apa-apa maunya sendiri. Cuma..emaknya saja yang seringkali tak tega. Lebih tepatnya mungkin tak tega kalau saya harus kembali membersihkan lantai dan mengganti baju anak yang berantakan oleh makanannya. π
Jadi sesungguhnya, melatih batita makan sendiri itu adalah melatih kesungguhan dan kesabaran Sang Emak dalam menyiapkan anaknya untuk mandiri, terampil dengan urusan pribadinya. Anak sangat cepat belajar dalam hal ini, sedangkan sang Emak seringkali masih tergantung mood yang berhembus. Hadeuuh!! Ini indikator emak yang labil. hahahaha. Aahh..ini tak boleh berlaku lagi kalau ingin menjadi Ibu Profesional. Ibu harus cerdas mengendalikan mood agar selalu berada dalam kondisi HAPPY, BAHAGIA. Mom's Happy, Kid's Happy, Dad's Happy! π
Kakak Rafifa (5 th) pun sudah OK dengan aktivitas mandi sorenya. InsyaAllah besok akan mulai dengan list selanjutnya: Menyiapkan makan sendiri. π
Salam Ibu Profesional.
Kamis, 02 Maret 2017
T10_Level#2_Fitri Purbasari_Depok_Day4
Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian
Kuliah Bunda Sayang IIP Level #2
Kuliah Bunda Sayang IIP Level #2
Emak, Jangan Lelah!
Ini hari keempat, pagi-pagi emak masih in a good mood. Mendampingi Dedek sarapan pisang dan minum susu kotak. Seperti biasa, Dedek dibimbing baca do'a sebelum makan dan diminta memegang makanan dengan tangan kanan.
Hari ini udara terik sekali saat kami pulang dari lembaga tahsin naik ojek muslimah (Ojesy) dan menjemput Kaka dari TK. Saat sampai di rumah, badan saya sudah sangat lelah. Rasanya pengen tidur....tapi bocil masih ON! π
Saya yang sudah rebahan di kasur tak bisa memejamkan mata dengan tenang. Saya gak bisa meninggalkan tidur Fatimah (1,5 th) yang masih aktif bermain. Bisa-bisa terjadi hal yang tak diinginkan.
Akhirnya saya pun tetap berjuang untuk melawan rasa kantuk yang berat. Tapi...kemudian tingkah polah anak-anak mengusik voltage ku ⚡. Ternyata badmood karena kelelahan membuat pandangan waras terganggu. Waktunya Fatimah makan pun serasa menguji Iman. Sikap dia seolah memancing di air keruh. Astaghfirulloh.. Atmosphere emak yang negative membuat reaksi negatif pula dari anak-anak. Astaghfirulloh hari ini, again, saya diingatkan bahwa Emak harus menghindari kelelahan fisik, karena bisa menyulut emosi jiwa. Harus cari strategi nih. π
Rabu, 01 Maret 2017
T10_Level#2_Fitri Purbasari_Depok_Day#3
Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian
Kuliah Bunda Sayang IIP Level 2
Video lucunya bisa dilihat disini.
Kuliah Bunda Sayang IIP Level 2
Makan Sendiri Itu Asik!
Ini hari ketiga fokus melatih diri membuat anak mandiri. Hari Rabu ini seperti biasa, Bu Septi menyuguhkan cemilan enak, judulnya Kemandirian Anak dan Adversity Quotient. Pernah dengar tentang Adversity quotient? hemmh.. Saya rasa saya pernah mendengar istilah ini atau mungkin baca yaa..tapi baru kali ini saya memahaminya. Adversity quotient menurut Paul G. Stoltz adalah kecerdasan menghadapi kesulitan atau hambatan dan kemampuan bertahan dalam menghadapi segala kesulitan dan tantangan dalam hidup. So, ini merupakan kecerdasan yang wajib dimiliki manusia agar bisa bertahan hidup dengan sukses, karena hidup kan penuh tantangan. Berdasarkan materi ini, orang tua harus melatih anak agar memiliki kecerdasan yang satu ini dengan level tertinggi, yaitu level dimana anak akan memandang setiap kesulitan itu bersifat sementara dan mereka mampu mengendalikan setiap kesulitan yang dihadapi agar tidak meluas pada aspek yang lain. Anak harus memiliki rasa percaya diri dalam menghadapi dan menaklukan tantangan apapun. Anak akan menjadi pembelajar seumur hidup dan memiliki jiwa pendaki yang visioner.
Dalam hal mendampingi Fatimah (1.5 th) yang sedang belajar makan sendiri, saya harus menahan diri untuk tak cepat-cepat membantunya jika dia sulit menyendok makanannya ataupun saat makanan itu jatuh berkali-kali dari sendoknya saat menuju mulutnya. Gemes yaa?? Hihihi.. tapi tahaan.. anak akan tetep semangat dengan sabar ko mengambil makanannya berulang kali. Ingat, anak sedang menaklukan tantangan! So far, alhamdulillah Fatimah sudah bisa makan sendiri makanan keringnya dalam arti tak berkuah. Besok, nampaknya saya harus membiarkannya menikmati makanan berkuah. Are you ready, Miss Fitri? hehe karena tantangannya sepertinya lebih condong ke saya. π
Hahahaha..tau gak pemirsa? barusan kan saya pause menulis ini karena Fatimah bangun dan pas abinya pulang. Saya siapin dulu makan keduanya dengan menu sop baso. Pas saya mau suapin Fatimah, eeeh dia minta makan sendiri, mangkoknya ditarik-tarik. Sontak ketarik juga perasaan saya pada kalimat yang saya tulis diatas. hehee.. Ya sudah deh, rencana besok jadi dimulai malam ini. Saya persilahkan dia makan sop sendiri. Sambil memperhatikan keasyikan dia makan sop dengan kostum siap tidur, saya menghujani diri dengan kalimat-kalimat penguatan:
"Tenang, baju basah bisa diganti."
"Kalem, belepotan lengket kemana-mana bisa dilap, dibersihkan!"
"Yang paling penting dia bisa mandiri makan sendiri."
"Ingat, ini demi kemampuannya mengatasi tantangan hidup!" π
Alhamdulillah, cara Allah memang unik. Niat melatih anak agar bisa makan sendiri, eeeh dikasih terus jalannya. Hehehe.. Juga jalan menjadi emak konsisten dan penyabar tentunya. π
Salam Ibu Profesional!
Selasa, 28 Februari 2017
T10_Level2_Fitri Purbasari_Depok_Day#2
Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian
Kuliah Bunda Sayang IIP Level #2
Kuliah Bunda Sayang IIP Level #2
Messy is Fine!
Saat mempelajari sesuatu tentu kita tak langsung mahir, tak langsung rapi, begitu juga dengan Dedek Fatimah (1,5 th) yang sedang belajar makan sendiri. Hemmmhhhh.. tarikan nafas panjang sang emak yang menghirup kesadaran dan kesabaran menghiasi momen makan princess yang satu ini. It's OK to be messy while you are learning! Hihii seperti kata iklan mah "Gak kotor, Gak belajar!". Wong Kalo lantai kotor mah bisa dilap. Well, hari kedua emak sukses sadar dan mengapresiasi Dedek dengan tepuk tangan dan pujian. "Yee, dedek hebat bisa makan sendiri!". Kemarin dia makan nasi ketan serundeng. Saya biarin dia makan sendiri makanan yang tidak berkuah. Kalau yang berkuah masih saya suapin.
Hari kedua fokus membuat Kakak Rafifa (5th) agar senang mandi sore cukup take time to negotiate. Again, sang emak menjaga agar tak bersumbu pendek. Kalimat-kalimat productive diluncurkan. Tapi mungkin dia lelet karena dia yang disuruh mandi duluan sore itu, sedangkan saya mandi sorenya di siang hari sepulang menjemputnya dari sekolah dan adiknya akan mandi setelah dia. Saya evaluasi begitu dan mencoba strategi lain untuk besok hari. Saya akan menyiapkan piyama favorit nya sebelum mandi. Semangat, IBU pembelajar!!! π
Senin, 27 Februari 2017
T10_Level2_Fitri Purbasari_Depok_Day1
Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian
Kuliah Bunda Sayang IIP Level #2
Dedek Makan Sendiri Dan Kakak Senang Mandi Sore
Well, setelah mengernyitkan kening berhari-hari memilih keterampilan hidup apa yang masuk daftar utama tantangan level kedua ini, akhirnya sampai pada judul setoran ini. Ya untuk pekan ini saya memutuskan mendampingi Fatimah sang dedek (1,5 th) fokus bisa makan sendiri tanpa bantuan dan untuk sang Kakak Rafifa (5 th) saya akan membantunya agar konsisten mandi sore.
Sejujurnya, untuk menanamkan kemandirian pada batita memang saya rasakan agak berat hehehe..Yaa jelas sekali masalahnya ada pada diri saya yang kurang pede. Padahal sejatinya anak itu sangat cerdas. Diajarin mah pasti bisa. Mereka benar-benar good imitator. Jadi, saya mulai langkah ini dengan Bismillah... berusaha selalu berpikiran waras dan positif. Toh, kita tak akan selalu bersamanya, jadi melatihnya mandiri adalah bekal penting bagi anak-anak kita. Semangat, dedek!! InsyaAllah Umi bisa!! π
Dan mengenai sang kakak, alhamdulillah di usia 5 tahunnya ini dia sudah cukup mandiri: bangun subuh, merapikan tempat tidur, sholat subuh, mengaji, mandi pagi, memilih baju sendiri, makan sendiri, belajar, merapikan buku dan mainannya setelah digunakan, dan alhamdulillah dia sudah minta menyetrika. Benar kata gurunda Bu Septi, membuat anak mandiri itu bukan sekedar melatih melainkan memberinya kesempatan. Saya sangat bersyukur dengan ini semua. Tinggal konsistensinya saja di beberapa skill dasar yang perlu ditingkatkan seperti mandi sore dan gosok gigi sebelum tidur malam. Untuk pekan pertama ini saya ambil poin mandi sore dulu. Karena sore hari sering hujan dan cuaca jadi dingin, kadang kami malas mandi sore.hehehhee.. Ini menjadi tantangan bersama juga. So, indikatornya bukan sekedar mandi sore, tapi semangat dan senang melakukannya. π
Jumat, 17 Februari 2017
Rasa Kompro Bagi Seorang Fitri Purbasari
Aliran Rasa #1 Komunikasi Produktif
Kuliah Bunda Sayang IIP
Astaghfirullah, Subhanallah, Masyaallah..
Kata-kata itulah yang mengiringi saat saya menyimak materi yang disajikan dalam kuliah Komunikasi Produktif di IIP ini. Juga saat saya dengan tertatih menjalankannya dalam berkomunikasi dengan orang-orang tercinta, terutama anak-anak saya yang masih kecil (5 th & 1,5 th).
There Is NO FAILURE, only WRONG RESULT, so we have to CHANGE OUR STRATEGY!
Kalimat keren ini yang sekarang menjadi moto baru hidup saya. Hasil komunikasi adalah sepenuhnya tanggungjawab kita. Jadi tak boleh lagi mencari kambing hitam atau merasa jengkel ketika orang lain tidak memahami maksud dari komunikasi yang kita lakukan.
Sebelum mengikuti kuliah komunikasi produktif, ketika berkomunikasi dengan suami seringkali saya berada pada ego anak-anak. Faktor arkeopsikis cukup dominan dalam diri saya. Sehingga tak jarang, transaksi komunikasi silang lah yang terjadi. Alhamdulillah setelah mengunya pembahasan dalam kuliah, sekarang transaksi kami bergeser ke arah transaksi komplementer. Saya merasa sudah bisa mengimbangi suami yang selalu dalam ego state dewasa. Saya belajar bersikap logis. Naah sedangkan dalam berkomunikasi dengan anak, sebelumnya saya sangat dominan dalam ego state orang tua. Maka tak heran jika transaksi silang juga yang terjadi, dan ini cukup menguras emosi dan energi. Akhirnya saya pun sekarang lebih waras dan mencoba semakin cerdas dalam menyampaikan dan menerima komunikasi dengan dan dari anak.
Rumus-rumus komunikasi produktif seolah berseliweran setiap saat menjaga agar ego state saya sesuai dengan yang dibutuhkan, agar komunikasi saya dengan orang-orang terkasih menjadi lebih baik. Pikiran positif, kalimat produktif, FoR/FoE kita, Nalar panjang, clear & clarify, Kaidah 7-38-55, KISS, diksi positif, intonasi ramah, eye contact, the right time, I'm responsible for my communication result, strategi baru atas 12 gaya populer, dan yang paling renyah adalah rumus gaya bahasa cinta. π
Saya baru tahu kalau manusia memiliki bahasa cinta dalam berkomunikasi. Ada 5 cara anak-anak dan manusia dalam memahami dan mengekspresikan cinta menurut Gary Champan & Ross Champbell, MD (The Five Love Languages of Children): sentuhan fisik, kata-kata mendukung, waktu bersama, pemberian hadiah, dan pelayanan. Berdasarkan pengamatan saya, anak pertama saya (5 th) memiliki semua gaya itu. Tetapi saat saya tanyakan kepadanya secara langsung dengan pilihan keempat gaya vs gaya waktu bersama.
Honestly, tantangan paling besar yang saya hadapi adalah berkomunikasi dengan anak-anak yang masih kecil ini. Sangat menguras emosi. Tapi, kata guru tercinta, Bu Septi, "Jangan pernah menyerah meski kadang merasa lelah!" Maka, mari taklukkan tantangan yang menghadang dengan strategi cemerlang. Alhamdulillah setelah hampir satu bulan ini mempraktekkan ilmu kompro, sumbu saya lebih panjang dari sebelumnya. π
Saat ini saya masih berada dalam tahap heteronomi. Tanda-tanda awal dalam indikator komunikasi produktif sudah terlihat dalam diri saya, namun saya masih belum konsisten menuliskannya. InsyaAllah saya akan berusaha terus untuk meningkatkan kualitas komunikasi produktif dalam keluarga khususnya. Jika saya sudah terampil berkomunikasi produktif dalam keluarga, insyaAllah saya akan lebih luwes dalam berkomunikasi di ring yang lebih luas.
Alhamdulillah..rasa syukur sangat membuncah dalam diri saya saat berinteraksi dalam IIP ini. Semoga Allah memudahkan saya meraih cita menjadi ibu profesional dan semoga Allah senantiasa memberkahi keluarga founders dan para fasilitator IIP atas ilmu yang bermanfaat ini. Aamiin..
Salam. π°
Kuliah Bunda Sayang IIP
KOMUNIKASI PRODUKTIF, IT'S A WOW WAY!
Kata-kata itulah yang mengiringi saat saya menyimak materi yang disajikan dalam kuliah Komunikasi Produktif di IIP ini. Juga saat saya dengan tertatih menjalankannya dalam berkomunikasi dengan orang-orang tercinta, terutama anak-anak saya yang masih kecil (5 th & 1,5 th).
There Is NO FAILURE, only WRONG RESULT, so we have to CHANGE OUR STRATEGY!
Kalimat keren ini yang sekarang menjadi moto baru hidup saya. Hasil komunikasi adalah sepenuhnya tanggungjawab kita. Jadi tak boleh lagi mencari kambing hitam atau merasa jengkel ketika orang lain tidak memahami maksud dari komunikasi yang kita lakukan.
Sebelum mengikuti kuliah komunikasi produktif, ketika berkomunikasi dengan suami seringkali saya berada pada ego anak-anak. Faktor arkeopsikis cukup dominan dalam diri saya. Sehingga tak jarang, transaksi komunikasi silang lah yang terjadi. Alhamdulillah setelah mengunya pembahasan dalam kuliah, sekarang transaksi kami bergeser ke arah transaksi komplementer. Saya merasa sudah bisa mengimbangi suami yang selalu dalam ego state dewasa. Saya belajar bersikap logis. Naah sedangkan dalam berkomunikasi dengan anak, sebelumnya saya sangat dominan dalam ego state orang tua. Maka tak heran jika transaksi silang juga yang terjadi, dan ini cukup menguras emosi dan energi. Akhirnya saya pun sekarang lebih waras dan mencoba semakin cerdas dalam menyampaikan dan menerima komunikasi dengan dan dari anak.
Rumus-rumus komunikasi produktif seolah berseliweran setiap saat menjaga agar ego state saya sesuai dengan yang dibutuhkan, agar komunikasi saya dengan orang-orang terkasih menjadi lebih baik. Pikiran positif, kalimat produktif, FoR/FoE kita, Nalar panjang, clear & clarify, Kaidah 7-38-55, KISS, diksi positif, intonasi ramah, eye contact, the right time, I'm responsible for my communication result, strategi baru atas 12 gaya populer, dan yang paling renyah adalah rumus gaya bahasa cinta. π
Saya baru tahu kalau manusia memiliki bahasa cinta dalam berkomunikasi. Ada 5 cara anak-anak dan manusia dalam memahami dan mengekspresikan cinta menurut Gary Champan & Ross Champbell, MD (The Five Love Languages of Children): sentuhan fisik, kata-kata mendukung, waktu bersama, pemberian hadiah, dan pelayanan. Berdasarkan pengamatan saya, anak pertama saya (5 th) memiliki semua gaya itu. Tetapi saat saya tanyakan kepadanya secara langsung dengan pilihan keempat gaya vs gaya waktu bersama.
"Ka, lebih suka belajar bareng umi atau dikasih hadiah?" "Belajar bareng umi."
"Ka, lebih seneng dipuji atau ngaji sama umi?" "Ngaji sama umi."
"Ka, lebih seneng disuapi umi atau main lego sama umi?" "Main lego sama umi."
"Kaka lebih seneng baca buku sama umi atau dipeluk umi?" Dia mikir lalu jawab sambil teriak, "Baca buku sambil dipeluk!" π π
Kemudian, dapat saya simpulkan bahwa bahasa cinta yang dominan dalam anak sulung saya itu adalah waktu bersama. Sedangkan suami saya dominan dengan gaya pelayanan. Saya sendiri, hemmmhh apa ya? Saya cenderung lebih suka kata-kata mendukung yang dilengkapi sentuhan fisik. hehehe.. Mood booster saya adalah pelukan. So, sentuhan fisik mungkin yang dominan ya.. πHonestly, tantangan paling besar yang saya hadapi adalah berkomunikasi dengan anak-anak yang masih kecil ini. Sangat menguras emosi. Tapi, kata guru tercinta, Bu Septi, "Jangan pernah menyerah meski kadang merasa lelah!" Maka, mari taklukkan tantangan yang menghadang dengan strategi cemerlang. Alhamdulillah setelah hampir satu bulan ini mempraktekkan ilmu kompro, sumbu saya lebih panjang dari sebelumnya. π
Saat ini saya masih berada dalam tahap heteronomi. Tanda-tanda awal dalam indikator komunikasi produktif sudah terlihat dalam diri saya, namun saya masih belum konsisten menuliskannya. InsyaAllah saya akan berusaha terus untuk meningkatkan kualitas komunikasi produktif dalam keluarga khususnya. Jika saya sudah terampil berkomunikasi produktif dalam keluarga, insyaAllah saya akan lebih luwes dalam berkomunikasi di ring yang lebih luas.
Alhamdulillah..rasa syukur sangat membuncah dalam diri saya saat berinteraksi dalam IIP ini. Semoga Allah memudahkan saya meraih cita menjadi ibu profesional dan semoga Allah senantiasa memberkahi keluarga founders dan para fasilitator IIP atas ilmu yang bermanfaat ini. Aamiin..
Salam. π°
Kamis, 09 Februari 2017
Komprod T10 Day#10 FITRI PURBASARI Depok/Jabar
Level 1: Tantangan 10 Hari Berkomunikasi Produktif
Kuliah Bunda Sayang IIP
Kuliah Bunda Sayang IIP
Mensiasati Kebiasaan Menasehati & Mengancam
Dari 12 gaya populer yang menghambat komunikasi kita dengan anak, dua gaya ini yang cukup membuat saya mengernyitkan dahi. hehehe.. dan tertohok juga tentunya.
Menasehati, seolah-olah bagus yaa, sangat baik, tapi ternyata nasihat yang disampaikan dengan cara, porsi dan waktu yang tidak tepat bisa berbahaya. Hmmm..empati main disini, kita juga kan kalo sering dinasehati orang atas apa yang kita lakukan suka kagak enak juga yaa..heu..mungkin anak akan merasakan hal yang sama. Jangan mentang-mentang kita guru/guru ngaji, kita main ceramahin anak dengan kalimat nasehat. hehehe (#selfnote). Baiklah, setelah tahu bahwa keseringan menasehati itu kurang baik, saya mencoba memakai strategi lain dalam "meluruskan" sikap anak. Cukup menantang, banget, hehehe. Refleksi dari pengalaman saya dan pengalaman dia adalah the closest way. Selain itu, mengaitkannya dengan kisah nabi dan cerita teladan lain. Baru itu yang saya lakukan dalam mensiasati cara menasehati yang keliru.
Hemm.. lalu cara mengancam. Untuk ancaman negatif, alhamdulillah saya sudah paham, tapi ternyata saya masih memberikan ancaman meskipun tujuannya baik. Contohnya. "Ayo kaka mandi dulu ya, kalo tidak, kaka tak boleh nonton kartun." Sebenarnya saya masih bingung, redaksi seperti ini boleh atau tidak. Tapi hati saya merasa tak nyaman mengungkapkan kalimat seperti itu. So, saya harus cari cara lain yang bersifat lebih baik, tidak mengancam. Yang sudah saya temukan adalah cara konsekuensi. Seperti ini, "Kaka mandi sekarang ya. Kalau tidak mandi, Kaka bisa gatal-gatal seperti kemarin." Again, mencari kalimat KISS cukup menantang. hehehe,, yaiyalaah.. kan ini program tantangan, dan hidup penuh tantangan heheh.. Semangaaat!!!! π
Alhamdulillah tiap hari semakin banyak belajar dan sedikit-sedikit berubah menjadi lebih baik. Setiap hari jadi lebih melek tantangan komunikasi dan semangat mencari the better strategy.
Terima kasih, IIP.
Salam.
Senin, 06 Februari 2017
Komprod T10 Day#8 FITRI PURBASARI Depok/Jabar
Level 1: Tantangan 10 Hari Berkomunikasi Produktif
Kelas Bunda Sayang IIP
Kelas Bunda Sayang IIP
Oww! Memerintah Lagi
Astaghfirulloh, sangat sulit mengeliminasi kebiasaan populer yang satu ini. Memerintah, the fastest way agar anak cepat melakukan apa yang kita mau. Hari ini saya gagal mengendalikan diri dari kalimat seru yang tak bersahabat. Salah satu scenenya, saat si kaka ingin berdiplomasi untuk menambah jam mainnya, dengan cepat saya menolaknya dengan mengeluarkan perintah, "Nggak! Mau maghrib". Hemmh.. meski maksudnya baik agar anak menghormati waktu sholat dan bersiap diri untuk sholat maghrib, tapi ternyata saya menyesal meluncurkan kalimat itu. It means, I have done a wrong way of speaking.
Aduuuh,,,tak boleh lagi deh saya melakukannya. Saya pikir kebiasaan memerintah ini harus menjadi fokus di hari-hari selanjutnya. Again, ini menyangkut diksi dan intonasi. Yaah, secara gitu loh, kita juga gak nyaman dengan kelimat-kalimat perintah yang tak bersahabat disertai body language yang sok tegas padahal galak. heu π§ So, mari berusaha menenpatkan diri dalam posisi orang lain, tenggang rasa.. hehee itu istilahnya yaa kalo gak salah.
Hemmh.. di forum keluarga kami malam ini, selain ngobrol seperti biasa, kami juga mengizinkan si kaka untuk memillih mainan di online shop sebagai reward atas 40 bintang yang diraihnya dalam seminggu ini. 1 bintang mewakili 1 aktivitas harian yang dia lakukan sendiri. Di star chart nya kami mencantumkan 14 aktivitas/hari, termasuk mandi pagi-sore, makan, ngaji pagi-malam, sholat 5 waktu, membaca shiroh nabi, dan belajar. Alhamdulillah star chart nya cukup efektif membangun kemandirian si kaka. Cuma umminya saja yang kadang konsistensinya terganggu hehehe.. Semoga besok lebih baik.
Minggu, 05 Februari 2017
Komprod T10 Day#7 FITRI PURBASARI Depok/Jabar
Level 1: Tantangan 10 Hari Berkomunikasi Produktif
Kelas Bunda Sayang IIP
Kelas Bunda Sayang IIP
Kompro Ketika Anak Sakit
Well, setiap ibu mungkin akan merasakan kecemasan ketika anaknya sakit, apalagi anak yang baru berusia 1,5 tahun. Kenapa? Karena mereka belum bisa ngomong bagian mana yang sakit, atau apa yang dirasakannya. Bisanya cuma nangis. Ini terjadi dua hari ini pada si bungsu (1,5 th). Dia terserang demam batuk pilek. Baru kali ini dia sampe rewel, tidak mau makan, lemes banget, mata sayu, dan maunya tidur dipelukan saya. Jujur saya sangat cemas. Tapi, berbekal inspirasi dari ilmu komunikasi produktif, saya berusaha untuk tetap tenang. Saya lakukan kaidah 7-38-55. Saya berusaha menanamkan dalam benak saya, bahwa saya harus lebih sabar dan bugar meskipun lelah melanda, karena nyatanya si Dedek tentu lebih lelah dan tak nyaman dengan sakitnya daripada kami yang tidak sakit. Saya berusaha membuat dia senyaman mungkin dengan bisikan do'a, kata-kata penuh kasih, pijatan lembut dan belaian serta pelukan hangat baginya.
Selain itu, yang juga tak boleh luput dari perhatian adalah sikap saya terhadap suami dan si sulung yang tidak sedang sakit. Biasanya, karena perhatian dan energi saya tersita oleh yang sedang sakit, efek samping kelelahan berupa sikap emosional tertumpah kepada mereka yang bukan pasien. Naah, alhamdullillah saya sadar lebih awal kali ini sehingga saya pun berusaha adil dan menggunakan diksi positif, intonasi dan body language yang baik kepada suami dan si sulung (5 th). Terutama bagi si sulung, saya berusaha menjaga agar dia tak merasa kehilangan perhatian saat adiknya sedang sakit. Saya memberinya pengertian tentang kondisi yang sedang terjadi dan memintanya dengan tulus agar sama-sama menciptakan suasana yang nyaman buat adik yang masih kecil. Tapi sayang, saya masih belum bisa mengurangi sikap "memerintah & menasehati". Diksinya masih perlu diolah lebih cerdas nih.
Alhamdulillah momen anak sakit kali ini sungguh dirasa berbeda bagi kami. Suasana sabar tanpa panik, komunikasi yang baik terutama dari saya, dan ilmu tentang tritmen yang tepat bagi si pasien membuat everything run well, sepertinya. Alhamdulillah, si bungsu pun sekarang sudah mulai membaik dan sudah mulai mau makan dan bermain lagi. Hemmmh.. sungguh weekend yang tetep asik meski ada yang sakit. π
Sabtu, 04 Februari 2017
Komprod T10 Day#6 FITRI PURBASARI Depok/Jabar
Level 1: Tantangan 10 Hari Berkomunikasi Produktif
Kelas Bunda Sayang IIP
Kelas Bunda Sayang IIP
Jangan Lupa, Clear & Clarify!
Sabtu pagi tadi kami baru bisa berfamily forum, saya dan suami. Saya membuka pembicaraan tentang rencana investasi dan pembelian rumah. Tapi kemudian saya mengungkapkan kegalauan saya akan hal lain jika kami mengambil rumah saat ini. Ada satu hal yang menurut saya urgent untuk diatasi berkaitan dengan masalah keuangan ekstern. Bla..bla..bla..bla..bla.. saya mengemukakannya panjang lebar. Masalah ini sebenarnya cukup sering saya ungkapkan pada suami. Tapi ternyata ada satu hal yang salah dipahami suami, masalah yang urgent itu belum dipahami suami secara detail. Oleh karenanya, selama ini suami menganggap kegalauanku akan masalah tersebut agak "lebay". Tetapi setelah memahami utuh masalah urgent itu, suami jadi agak bengong. heuheu.. Dan diapun merasakan kegalauan yang sama dengan saya. Hemmh..disitu saya baru sadar, ternyata selama ini cara saya mengkomunikasikan masalah urgent itu pada suami kurang menyertakan kaidah 2C, clear & clarify.
Selanjutnya kami mencoba mencari solusi terbaik untuk kondisi saat ini. Alhamdulillah bahasan yang biasanya sensitif ini berjalan damai dan nyaman. Pokoknya, dalam pernikahan itu: masalah aku, masalah kamu, adalah masalah kita! Use the right words in the right time! π
Langganan:
Postingan (Atom)
Resume Diskusi: Desain Global Sekolah Unggul
Bismillah.. alhamdulillah malam ini bisa bergabung di diskusi online Kelas 100 Guru PAUD berjudul Desain Global Sekolah Unggul. Pematerinya...
-
Tambah lagi aplikasi game bahasa Inggris untuk untuk bahan latihan anak-anak SMP-SMA yang ikut les di rumah. Namanya Ultimate English Spelli...
-
Aliran Rasa #1 Komunikasi Produktif Kuliah Bunda Sayang IIP KOMUNIKASI PRODUKTIF, IT'S A WOW WAY! Astaghfirullah, Subhanallah, M...
-
Alhamdulillah dengan tab yang diberikan suamiku ini saya bisa leluasa menggunakannya menjadi media pembelajaran khususnya bagi para murid le...















