Tampilkan postingan dengan label #melatihkemandirian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #melatihkemandirian. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Maret 2017

T10_Level2_Fitri Purbasari_Depok_Day#9

Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian
Kuliah Bunda Sayang IIP Level #2

ADEK, KAKAK, WOW!

Mulai dari cerita Kakak Rafifa (5 th) dulu aah... Hari Selasa ini, Kakak bikin sarapan sendiri loh, yaitu roti meses. Kakak juga bikin roti sekalian untuk bekal ke sekolah. Semoga semangatnya terus terpelihara ya, Kak. 😋


Pekan ini adalah pekan skill kedua bagi kakak, setelah fokus pada "Aku Senang Mandi Sore". Dalam melatih Kakak menyiapkan makannya sendiri, saya disarankan oleh suami agar bertahap, misal satu kali dulu sehari pas sarapan. It's good idea! Ide inipun mengingatkan saya juga agar tak sekedar fokus pada prakteknya tok, tapi menyertainya dengan memberikan motivasi baik secara langsung maupun tidak mengenai kenapa Kakak harus bisa menyiapkan makan sendiri. Strategi storytelling dari buku atau based on pengalaman dari sumber sekitar sangat ampuh bagi Kakak. Secermat mungkin saya harus bisa mengkaitkan peristiwa yang muncul di lingkungan agar dia mandiri dalam skill yang sedang dilatihkan maupun yang sudah. Ini akan menjadi motivasi sekaligus penguatan.

Sekarang tentang Dedek Fatimah (1,5 th). Wow! Dia sedang asyik dengan kakinya. Dia pengen tahu gimana kalau kakinya menginjak makanan di piring. hihihiii. Sayang saya gak bisa ambil fotonya karena harus riweuh mengatasinya. hehe.. Ya begitulah, ada saja tingkah anak ini yang sekilas tentu bisa menaikan tensi, tapi kalau dilihat dengan mata hati dan akal sehat ini adalah hal yang amazing. Dia hanya ingin tahu segala sesuatu. That's so natural! Kita yang harus mengakomodir dan mengarahkan rasa ingin tahunya itu dengan baik dan benar. Semoga Allah senantiasa membimbing saya agar sabar, ikhlas dan waras. 😂

Salam Ibu Profesional!

Senin, 06 Maret 2017

T10_Level2_Fitri Purbasari_Depok_Day8

Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian
Kuliah Bunda Sayang IIP Level #2


Tak Berhenti Disini

Fatimah (1,5 th) di hari kedelapannya (Senin, 6 Maret 2017) belajar makan sendiri, tak disuapi, terlihat sudah terbiasa. Tapi tentu tidak boleh cukup sampai titik ini. Urusan keterampilan makan sendiri ini tidak boleh berhenti pada poin "sudah mau makan sendiri". Kata kuncinya "terampil". Jadi selain anak memiliki kesadaran bahwa makan itu tanggung jawabnya dalam arti harus dilakukan sendiri, dia juga harus terampil makan dengan baik. Anak diajarkan untuk membaca do'a sebelum dan sesudah makan, adab makan, tidak mengacak-acak atau membuang-buang makanannya, termasuk minumannya, dan apa yang harus dilakukan setelah selesai makan. Ini semua adalah tahapan tantangan saya dan Fatimah selanjutnya. 😊

Kakak Rafifa (5th) mulai belajar mengambil makan sendiri dan menyiapkan makanan yang sederhana. Kakak ini anak yang asyik melakukan apa-apa sendiri, cuma kuncinya mood nya harus selalu dijaga tetep good. And this is my job! hahahah. Membuat dia melakukan tugasnya sebelum energinya turun. Dan yang paling penting juga, menjaga agar emaknya ini is always in the good mood. 😃 



Minggu, 05 Maret 2017

T10_Level2_Fitri Purbasari_Depok_Day#7

Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian
Kuliah Bunda Sayang IIP Level #2

Dedek Bosan Pake Sendok


Lihat, Moms! Fatimah (1,5 th) yang sedang belajar makan sendiri sedang bosan memakai sendok. Saya baru ngeuh selama ini saya sodorin dia makan pakai sendok atau garpu, mau itu makanan kering maupun kuah. 😁 Di hari ketujuh ini, dia rupanya penasaran menyendok nasi berkuah pakai tangannya. hihihiii..seru ya, Dek? 😃 Yah, again saya perkuat mental melihatnya. hahahaha.. Dia sedang bereksplorasi. Kalau dia tak mencoba, mana dia tahu, kan? 😋

Moms, dalam mengeksekusi tantangan "Makan Sendiri" buat Fatimah ini, ada konsekuensi yang harus ditanggung. Biasanya, Fatimah ganti baju maksimal 3 kali sehari, yakni 2x mandi & 1x bangun tidur siang kalau baju basah oleh keringat. Tapi selama training makan sendiri ini yah minimalnya jadi 6 kali sehari. 🙈 😂
But, that's OK, Moms! No problemo! Pengalaman yang didapatnya sungguh lebih berharga daripada baju-baju yang kotor itu. Bukan hanya pengalaman bagi Fatimah saja, tapi pelajaran berharga juga bagi saya. Ini adalah training konsistensi atas ilmu dan hidayah yang Allah berikan pada saya. Semoga Allah memudahkan saya mengemban amanahNya. Do'a yang sama juga buat Moms semua. 😊

Well, apa yang dilakukan Kakak Rafifa (5 th) hari ini? Yup, dia mulai melakukan latihan kemandirian untuk menyiapkan makannya sendiri. Bukan masak sendiri ya, Moms. Skill ini belum saya mulai, hehehe. "Menyiapkan Makan" yang saya maksudkan adalah setiap waktu makan, Kakak akan mengambil alat makan sendiri, lalu mengambil nasi dari magic com dan mengambil lauk yang sudah saya siapkan di dapur. Karena selama ini dia langsung menerima makanan "siap saji"nya dari saya. Inilah yang akan menjadi fokus saya pekan ini. Seolah-olah aktivitas ini begitu mudah ya Moms, sepele ya?? Padahal cukup sering juga ya anak-anak malas makan hanya karena malas mengambilnya sendiri. This is based on my childhood experience. hihiii 😝 Komitmen ini berlaku juga untuk camilan, bukan hanya makan berat saja. Jadi saya katakan padanya, "Kalau Kakak mau biskuit atau snack lainnya, ambil sendiri di box atau di kulkas ya." Hari ini baru hari perkenalan hehe.. But so far, Kakak sudah OK banget bikin susu sendiri, karena dia merasa kalau sama saya atau abinya suka kurang enak katanya. hehhe.. It's a good point! 😂

Salam Ibu Profesional.




T10_Level2_Fitri Purbasari_Day6

Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian
Kuliah Bunda Sayang IIP Level #2

 Hari Sabtu Ini, Ummi Ngaji
Dedek Makan Jelly, Kakak Tak Mandi

Bagus kan pantunnya? hehehe.. Ya, hari Sabtu ini jadwal ngaji kelompok saya di rumah. Saya membuat jelly nut**jell untuk snack ngaji. Dedek Fatimah (1,5 th) pun senang mendapat jelly sebagai camilannya. Ini kali keberapa dia makan jelly. Tapi biasanya saya suapin. Dia seneng banget saat saya sodorkan wadah berisi jelly hijau bening itu. Sampai dia gak sabar merebut si garpu saat saya potong-potong jellynya. Dia memilih pakai garpu saat saya tawari sendok. Karena tekstur jelly yang kenyal dan licin, dia cukup kesulitan menggarpu jellynya. Saya cukup gemes ga sabar pengen membantunya. Tapi,,ingat dong sama materi Adversity Quotient yang masih hangat. hehehe.. tahan diri, dia harus berani mengatasi tantangan itu. Dedek pasti bisa! Dan, yeay! Alhamdulillah meski sambil manyun-manyun, dia sukses menggarpu dan melahap jellynya! 😋 🙆 Coba deh lihat disini videonya.


Kakak Rafifa (5 th) hari Sabtu ini lagi anget badannya. Ini hari kedua dia sakit. Malam Jum'at dia demam. Kami pikir dia mau pilek lagi karena kemaren ada ingusnya. Tapi ternyata mungkin karena dia panas dalam. Kami dapati sariawan di bibir bawahnya. Karena merasa tak enak badan, Kakak minta untuk absen dulu mandi sore. "Kakak mandi siang aja ya, Mi. Kalau sore dingin. Tapi tolong bikinin air angetnya.", katanya. Akhirnya hari Sabtu ini dia mandi cuma sekali, yaitu jam 11 siang. Alhamdulillah Si Kakak ini anak yang mudah dikondisikan. Kalau melenceng-melenceng dikit, ya saya dan abinya perlu meluangkan waktu spesial untuk berbicara dengannya dari hati ke hati, dan dikuatkan dengan storytelling. Dan dia pun akan kembali on the track. It's such a great blessing! 💖  Besok insyaAllah besok kakak mulai masuk ke skill menyiapkan makan sendiri, karena selama ini masih saya sodorkan.



Rabu, 01 Maret 2017

T10_Level#2_Fitri Purbasari_Depok_Day#3

Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian
Kuliah Bunda Sayang IIP Level 2

Makan Sendiri Itu Asik!


Ini hari ketiga fokus melatih diri membuat anak mandiri. Hari Rabu ini seperti biasa, Bu Septi menyuguhkan cemilan enak, judulnya Kemandirian Anak dan Adversity Quotient. Pernah dengar tentang Adversity quotient? hemmh.. Saya rasa saya pernah mendengar istilah ini atau mungkin baca yaa..tapi baru kali ini saya memahaminya. Adversity quotient menurut Paul G. Stoltz adalah kecerdasan menghadapi kesulitan atau hambatan dan kemampuan bertahan dalam menghadapi segala kesulitan dan tantangan dalam hidup. So, ini merupakan kecerdasan yang wajib dimiliki manusia agar bisa bertahan hidup dengan sukses, karena hidup kan penuh tantangan. Berdasarkan materi ini, orang tua harus melatih anak agar memiliki kecerdasan yang satu ini dengan level tertinggi, yaitu level dimana anak akan memandang setiap kesulitan itu bersifat sementara dan mereka mampu mengendalikan setiap kesulitan yang dihadapi agar tidak meluas pada aspek yang lain. Anak harus memiliki rasa percaya diri dalam menghadapi dan menaklukan tantangan apapun. Anak akan menjadi pembelajar seumur hidup dan memiliki jiwa pendaki yang visioner.

Dalam hal mendampingi Fatimah (1.5 th) yang sedang belajar makan sendiri, saya harus menahan diri untuk tak cepat-cepat membantunya jika dia sulit menyendok makanannya ataupun saat makanan itu jatuh berkali-kali dari sendoknya saat menuju mulutnya. Gemes yaa?? Hihihi.. tapi tahaan.. anak akan tetep semangat dengan sabar ko mengambil makanannya berulang kali. Ingat, anak sedang menaklukan tantangan! So far, alhamdulillah Fatimah sudah bisa makan sendiri makanan keringnya dalam arti tak berkuah. Besok, nampaknya saya harus membiarkannya menikmati makanan berkuah. Are you ready, Miss Fitri? hehe karena tantangannya sepertinya lebih condong ke saya. 😄

Hahahaha..tau gak pemirsa? barusan kan saya pause menulis ini karena Fatimah bangun dan pas abinya pulang. Saya siapin dulu makan keduanya dengan menu sop baso. Pas saya mau suapin Fatimah, eeeh dia minta makan sendiri, mangkoknya ditarik-tarik. Sontak ketarik juga perasaan saya pada kalimat yang saya tulis diatas. hehee.. Ya sudah deh, rencana besok jadi dimulai malam ini. Saya persilahkan dia makan sop sendiri. Sambil memperhatikan keasyikan dia makan sop dengan kostum siap tidur, saya menghujani diri dengan kalimat-kalimat penguatan:
"Tenang, baju basah bisa diganti."
"Kalem, belepotan lengket kemana-mana bisa dilap, dibersihkan!"
"Yang paling penting dia bisa mandiri makan sendiri."
"Ingat, ini demi kemampuannya mengatasi tantangan hidup!" 😂


Video lucunya bisa dilihat disini.

Alhamdulillah, cara Allah memang unik. Niat melatih anak agar bisa makan sendiri, eeeh dikasih terus jalannya. Hehehe.. Juga jalan menjadi emak konsisten dan penyabar tentunya. 😉

Salam Ibu Profesional!



Cemilan dari Bu Septi Adversity Quotient

🍶🍫🍮Cemilan Rabu #2🍮🍫🍶

Materi 2 : Melatih Kemandirian Anak

*Kemandirian Anak dan _Adversity Quotient_*

Berbagai rutinitas harian anak, seringkali menantang dan menghadapkan kita pada pilihan apakah akan 'membantunya' atau 'melatihnya melakukan sendiri'. Sebut saja, misalnya: makan, memakai sepatu, mandi, membereskan mainan, dan lain-lain.

Dengan alasan 'sudah terlambat', seringkali kita pada akhirnya 'membantu' menyuapi si tiga tahun. Tak jarang juga, kita bantu pasangkan sepatu si dua tahun, hanya karena tak sabar melihatnya berproses memakai sepatunya. Lalu bagaimana dengan si 10 tahun yang akan berangkat sekolah? Dengan alasan yg kurang lebih sama, kita sibuk menyiapkan seragam dan berbagai kebutuhan sekolahnya.

Padahal, yang kita cita-citakan bersama tentulah mempersiapkan calon ibu yang tangguh, serta calon ayah yang penuh tanggung jawab bukan? Dan kemandirian sejak dini adalah kunci awalnya.

Maka, bila anak-anak kita yang masih berusia 0-1 tahun masih sepenuhnya bergantung pada orang lain di sekitarnya, seiring dengan pertumbuhannya, sepatutnya kita melatih juga kemandirian anak. Misal: anak usia 3 tahun sewajarnya bila sudah tidak disuapi lagi, dan anak usia 4 tahun sepatutnya sudah bisa membersihkan tubuhnya sendiri.

Adalah _Adversity Quotient_ yang menggambarkan pola seseorang dalam mengolah tanggapan atas semua bentuk dan intensitas dari kesulitan. Menurut Paul G. Stoltz, _Adversity Quotient_ merupakan kecerdasan menghadapi kesulitan atau hambatan dan kemampuan bertahan dalam berbagai kesulitan hidup dan tantangan yang dialami.

_Adversity Quotient_ memiliki  tiga tingkatan dengan terminologi pendaki gunung.

*1. AQ rendah*
Mereka cenderung mudah menyerah dan tidak berdaya. Mudah menyalahkan orang lain tanpa memperbaiki situasi. Kesulitan yang dihadapi mempengaruhi semua aspek hidupnya sehingga selalu merasa dikelilingi kesulitan.  Seringkali menolak kesempatan yang diberikan. Mereka diidentikkan sebagai orang yang terhenti ( _quitter_)

*2. AQ sedang*
Memiliki banyak perhitungan. Mereka mampu memandang kesulitan sebagai sesuatu yang sementara dan cepat berlalu, tetapi ketika kesulitan itu semakin menumpuk, maka akan membuat putus harapan dan memandang kesulitan tersebut akan berlangsung lama dan menetap.

Seringkali sudah melakukan sedikit lalu berhenti di tengah jalan. Mereka mau mendaki meskipun akan berhenti di pos tertentu dan merasa cukup sampai disitu ( _camper_)

*3. AQ tinggi*
Inilah pembelajar seumur hidup. Mereka mempu untuk mengendalikan setiap kesulitan. Kesulitan yang muncul pada satu aspek kehidupan tidak meluas pada aspek yang lain. Mereka memandang kesulitan yang ada bersifat sementara dan cepat berlalu. Mampu memandang apa yang ada di balik tantangan tanpa memikirkan suatu hal sebagai hambatan. Mereka membuktikan diri untuk terus mendaki ( _climber_)

Pandu anak-anak supaya terbentuk AQ yang tinggi. Bukankah ini penting bagi mereka dalam menghadapi tantangan sehari-hari? Supaya mereka bisa melewati tantangan hidup. Menyelesaikan masalah, mulai dari yang sederhana hingga yang sulit dapat mereka lakukan dengan penuh percaya diri.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

📚Bahan Inspirasi :
Stoltz, P.G. 2000. Adversity Quotient, Mengubah Hambatan Menjadi Peluang. PT. Grasindo

Selasa, 28 Februari 2017

T10_Level2_Fitri Purbasari_Depok_Day#2

Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian
Kuliah Bunda Sayang IIP Level #2

Messy is Fine!

Saat mempelajari sesuatu tentu kita tak langsung mahir, tak langsung rapi, begitu juga dengan Dedek Fatimah (1,5 th) yang sedang belajar makan sendiri. Hemmmhhhh.. tarikan nafas panjang sang emak yang menghirup kesadaran dan kesabaran menghiasi momen makan princess yang satu ini. It's OK to be messy while you are learning! Hihii seperti kata iklan mah "Gak kotor, Gak belajar!". Wong Kalo lantai kotor mah bisa dilap. Well, hari kedua emak sukses sadar dan mengapresiasi Dedek dengan tepuk tangan dan pujian. "Yee, dedek hebat bisa makan sendiri!". Kemarin dia makan nasi ketan serundeng. Saya biarin dia makan sendiri makanan yang tidak berkuah. Kalau yang berkuah masih saya suapin.


Hari kedua fokus membuat Kakak Rafifa (5th) agar senang mandi sore cukup take time to negotiate. Again, sang emak menjaga agar tak bersumbu pendek. Kalimat-kalimat productive diluncurkan. Tapi mungkin dia lelet karena dia yang disuruh mandi duluan sore itu, sedangkan saya mandi sorenya di siang hari sepulang menjemputnya dari sekolah dan adiknya akan mandi setelah dia. Saya evaluasi begitu dan mencoba strategi lain untuk besok hari. Saya akan menyiapkan piyama favorit nya sebelum mandi. Semangat, IBU pembelajar!!! 😍

Senin, 27 Februari 2017

T10_Level2_Fitri Purbasari_Depok_Day1

Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian
Kuliah Bunda Sayang IIP Level #2

Dedek Makan Sendiri Dan Kakak Senang Mandi Sore

Well, setelah mengernyitkan kening berhari-hari memilih keterampilan hidup apa yang masuk daftar utama tantangan level kedua ini, akhirnya sampai pada judul setoran ini. Ya untuk pekan ini saya memutuskan mendampingi Fatimah sang dedek (1,5 th) fokus bisa makan sendiri tanpa bantuan dan untuk sang Kakak Rafifa (5 th) saya akan membantunya agar konsisten mandi sore.

Sejujurnya, untuk menanamkan kemandirian pada batita memang saya rasakan agak berat hehehe..Yaa jelas sekali masalahnya ada pada diri saya yang kurang pede. Padahal sejatinya anak itu sangat cerdas. Diajarin mah pasti bisa. Mereka benar-benar good imitator. Jadi, saya mulai langkah ini dengan Bismillah... berusaha selalu berpikiran waras dan positif. Toh, kita tak akan selalu bersamanya, jadi melatihnya mandiri adalah bekal penting bagi anak-anak kita. Semangat, dedek!! InsyaAllah Umi bisa!! 🙌

Dan mengenai sang kakak, alhamdulillah di usia 5 tahunnya ini dia sudah cukup mandiri: bangun subuh, merapikan tempat tidur, sholat subuh, mengaji, mandi pagi, memilih baju sendiri, makan sendiri, belajar, merapikan buku dan mainannya setelah digunakan, dan alhamdulillah dia sudah minta menyetrika. Benar kata gurunda Bu Septi, membuat anak mandiri itu bukan sekedar melatih melainkan memberinya kesempatan.  Saya sangat bersyukur dengan ini semua. Tinggal konsistensinya saja di beberapa skill dasar yang perlu ditingkatkan seperti mandi sore dan gosok gigi sebelum tidur malam. Untuk pekan pertama ini saya ambil poin mandi sore dulu. Karena sore hari sering hujan dan cuaca jadi dingin, kadang kami malas mandi sore.hehehhee.. Ini menjadi tantangan bersama juga. So, indikatornya bukan sekedar mandi sore, tapi semangat dan senang melakukannya. 😉

Resume Diskusi: Desain Global Sekolah Unggul

 Bismillah.. alhamdulillah malam ini bisa bergabung di diskusi online Kelas 100 Guru PAUD berjudul Desain Global Sekolah Unggul. Pematerinya...