Tampilkan postingan dengan label IIP Depok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IIP Depok. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 November 2017

Mamahku Pahlawanku



Sejak beliau pergi, saya selalu ingin menuliskan kisah tentangnya. Namun, saya selalu takut jadi sedih. Hemmh.. tapi memang penting menuliskan kisah tentangnya, selain untuk mengikat kenangan, insyaAllah kisah ini akan bermanfaat untuk menumbuhkan rasa cinta setiap anak pada ibunya. 

Well,saya mulai kisahnya yaa.. eits berdo'a dulu deh, allohummaghfirlaha warhamha wa'afihaa wa fu'anha.

Mamah, begitulah saya memanggilnya. Keluarga dan kerabat memanggilnya dengan nama kecilnya, Neneng. semua keponakannya memanggilnya Amih. Nama lengkapnya Siti Komariah binti Enjum Prawiradinata. She was such a very beautiful woman. I wish I said this all the time to her. Astaghfirullah.. Tuh kaah.. mulai panas nih mata. ๐Ÿ˜ข 

Lanjut... Mamah kecil adalah anak yang dimanja dan selalu diprioritaskan terutama oleh Bapa Aki (ayahnya). Ini bukan tanpa alasan. Ini karena Mamah terlahir dengan diagnosa kelainan klep jantung. Mamah menjadi anak yang lemah secara fisik, tak boleh cape. Ini berlanjut hingga Mamah menikah dan punya anak. Punya anak?! Yah, ini sebuah anugerah dari Allah. Secara kan secara medis, wanita dengan riwayat kelainan klep jantung disarankan tidak boleh hamil, karena sangat beresiko tinggi. Waktu usia mudanya, Mamah divonis dokter usianya tidak akan sampai 35 tahun. Tapi subhanallah, usia makhluk adalah mutlak hak Allah. Mamah menikmati hidup di dunia ini sampai punya cucu 2 di usia jelang 53 tahun. Allah kasih bonus yang sangat banyak kan?! Terima kasih, Allah.

Meski Mamah anak manja, tak pernah mengerjakan pekerjaan rumah, tapi setelah menikah, Mamah bertransformasi menjadi ibu rumah tangga sejati. Mamah was weak yet strong. Setelah menikah di usia 21, Mamah kehidupan baru yang benar-benar baru. Seperti kebanyakan orang, Mamah dan Bapa memulai hidup dari 0. Pasangan muda ini berusaha berdiri di kaki sendiri. Bapa bekerja serabutan. Mamah yang tak lagi bisa mendapat sokongan kemudahan secara materi dari orang tuanya karena kebangkrutan setelah ayahnya meninggal, harus ikut mencari nafkah dengan yang bisa dilakukannya kala itu: berdagang es sirop dan menjual kapulaga yang dia pungut sendiri di kebun Uwanya. Kemudian Allah mentakdirkan Mamah dan Bapa menjadi guru PNS. Jalan rezeki mereka berubah. Meskipun Mamah bekerja diluar rumah, beliau tetap menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga dengan sangat baik. Sempat ada asisten rumah tangga yang diperkerjakan setelah Mamah melahirkan anak kedua. Itu untuk meringankan bebannya karena Mamah tak boleh cape, apalagi terlalu cape. 

Mamah was weak yet strong. Seingatku, waktu aku kecil, sangat sering saya dapati Mamah diantar pulang dari sekolah karena pingsan. Hampir setiap bulan Mamah masuk rumah sakit. Sejak itu saya tahu bahwa Mamah punya penyakit jantung dan gak boleh cape. Tapi ya sebatas tahu saja. Saya kerap kali merepotkannya hingga saya dewasa. astaghfirullah.

Mamah yang awalnya awam dengan ajaran Islam, berubah semakin baik dalam didikan suami. Mamah yang penuh dedikasi untuk keluarga, menjalankan perannya dengan sangat optimal meski tak pernah ikut kajian parenting seperti saya. Mamah selalu ada saat kami butuhkan. Bahkan jika saya refleksi dengan hasil didikannya kepada saya dan adik, membuat saya bertanya darimana Mamah tahu semua teori parenting itu?! Yang paling menonjol adalah caranya yang tepat dalam melihat bakat kami yang sama sekali berbeda. Saya yang suka belajar dengan membaca dan adik yang psikomotornya lebih kuat. Mamah dan Bapa memperlakukan kami dengan cara berbeda. Dulu saya hampir selalu iri sama adik. Saya kira Mamah dan Bapa tidak adil. Saya mah paling dibeliin buku itu juga buku pelajaran dan penunjangnya. Tapi adik dibeliin sepatu, kaos olahraga baru, raket baru, dan alat olahraga lainnya hampir setiap bulan. Hemmh, tapi setelah belajar tentang parenting, saya baru faham soal beginian. Setiap anak istimewa dan berbeda kecerdasannya. Nah loh, tahu darimana ya Mamah dan Bapa soal ini? Pasti dari petunjuk Allah. ๐Ÿ˜Š

Selain itu, Mamah sangat cekatan mengelola keluarga, meski tak pernah baca buku Bunda Cekatan seperti saya. Mamah yang lemah tapi kuat, selalu bangun jam setengah 3 dini hari untuk shalat, bersihin rumah dan pak pik pek di dapur. Mamah seorang yang perfeksionis. Setiap hari Mamah tak sekedar menyapu, tapi mengelap semua perabotan besar di rumah. Kami selalu dapati setiap subuh rumah sudah rapi dan jam 6 kami sudah siap sarapan. Ini kemudian saya tahu bahwa ritme Mamah ini sungguh melelahkan secara fisik, bagi saya apalagi bagi Mamah yang tak boleh cape. Sampai sekarang saya belum bisa mengikuti cara Mamah ini dengan konsisten. Allah, I wish I could turn back time. Saya menyesal telah begitu mengandalkan Mamah selama itu. Jarang sekali membantu Mamah. Kerasa banget pas lebaran Idul Fitri pertama tanpa Mamah, meski saya bangun jam 2, pak pik pek motong ketupat, manasin opor dan daging, bersihin rumah, menata kue-kue di meja, Ya Allah, hasilnya tak sesempurna yang Mamah lakukan. Sedih dan cape sekali waktu itu. Kerasa banget kalo kehilangan sosok ibu mah seolah kehangatan rumah ikut hilang. Mamah sungguh cekatan, management skill nya amazing. Saya menyesal tak banyak belajar padamu, Mah. ๐Ÿ˜ข

Mamah sangat profesional menjalankan peran publiknya sebagai guru. Mamah tak sekedar mengajar, beliau tak segan menegur muridnya demi kebaikan dalam rangka mendidik. Tak heran jika kemudian begitu banyak murid Mamah yang memiliki kesan mendalam kepadanya. Mamah pun sukses menjadi rekan terbaik bagi banyak orang. Mamah selalu menjadi tempat curhat rekan-rekannya di sekolah. Mamah bagi mereka adalah figur ibu dan istri yang sukses. alhamdulillah. Mamah bunda sholeha yang kasih sayangnya tak hanya dirasakan oleh kami keluarganya, melainkan juga pada warga sekitar dari mulai anak kecil hingga janda tua. Setiap kali panen, Mamah tak pernah lupa memberi sedikit beras kepada yang membutuhkan, baik dari kalangan janda dan duda tua di sekitar rumah maupun kepada rekan-rekannya. Setiap lebaran, musim imtihan madrasah, musim samen sekolah atau musim piknik sekolah, Mamah selalu ingat memberi bekal kepada keponakan-keponakannya dan anak kecil sekitar rumah. Sebagai guru, Mamah selalu ikut berkontribusi mengusulkan anak-anak desa kami yang bersekolah di tempat Mamah mengabdi untuk mendapat beasiswa yang layak bagi mereka. Di keluarga, Mamah dikenal sebagai pribadi yang selalu menyambung tali silaturahim, sampe ada kalimat dari salah seorang kerabat kami, "Mun teu ku si Neneng mah matak pareumeun obor keluarga urang teh" maksudnya kalo bukan karena Mamah, simpul-simpul kekerabatan di keluarga kami bakal hilang. Hal kecil yang ternyata efeknya tidak kecil adalah kebiasaan Mamah ngongkosin siapapun yang beliau kenal atau kenal beliau saat ketemu di angkot. 

Mamah tak begitu sering ikut pengajian atau baca buku Islam, tapi pengamalan agamanya sungguh melebihi saya yang bercita-cita menjadi ustadzah. AllahuAkbar, malu saya..sungguh malu. Kisah Mamah ini bagi saya sungguh inspiratif. Dengan ilmu sedikit, Mamah melakukan amal yang banyak dan kontinyu. Mamah yang weak yet strong bisa menjumpai husnul khotimah (insyaAllah) di penghujung hidupnya. 

Saya sungguh terharu lega melepas Mamah di penghujung Maret 2016 lalu ketika melihat begitu banyak bergelombang orang yang datang takziah dan menyolatinya. Mengingat masa itu air mata ini mengalir nih. Subhanallah, Mamah yang dicuci dosanya dengan kesabaran atas sakit selama 2 bulan terakhir sebelum pulang ke kampung abadi, meninggalkan detik-detik terakhir yang bermakna bagi seluruh keluarga. Setiap dari kami, suami, anak-anak, kakak-kakak, adik-adik dan kerabat dekat membersamai Mamah dengan penuh ketulusan dan kesabaran. Ini pasti Allah yang mengkondisikan. Kami yang saat itu sedang mempersiapkan pernikahan adik yang akan dilangsungkan bulan April, dibuat selalu berkumpul di rumah. Perasaan kami saat itu harap-harap cemas karena melihat kondisi Mamah yang sudah masuk RS 3x dalam sebulan tidak menunjukan kemajuan yang membahagiakan. Biasanya setelah pulang dari RS, Mamah berangsur pulih, tapi kali itu tidak. Kakak dan adik Mamah merasakan firasat buruk dengan melihat mata dan gerak-gerik Mamah, tapi mereka berusaha bersikap tegar dan motivatif di depan Mamah. Saya pun begitu, saya selalu meminta kepada Allah untuk bisa bersikap dengan baik dan tepat. Saya selalu minta dikuatkan apapun yang akan terjadi. Hingga kabar duka pun datang malam itu. Dari rumah sakit, ambulans membawa jenazah pahlawanku. 

Mamah kini jasadnya tak bisa kupeluk lagi. Tapi semua kenangan tentangnya menjadi inspirasi yang hidup dalam jiwa ini. Setiap keringat dan air matanya dalam mendidik dan mengurusku harus menjadi amal jariyah terbaik baginya. Setiap gerak langkahku harus menjadi kado harian yang dikirimkan malikat padanya. Semoga Allah selalu membimbing dan memudahkan saya dan keluarga untuk meneruskan segala amal baiknya. Aamiin Ya Rabbal'alamiin.


Allahummaghfirlaha warhamha wa'afihaa wa fu'anha untuk Mamah Neneng Siti Komariah binti Enjum Prawiradinata.
Lahir  : Ciamis, 1 Juli 1963
Wafat : Tasikmalaya, 27 Maret 2016 (18 Jumadil Akhir 1437 H)

Kamis, 08 Juni 2017

Cemilan Rabu #1 Juni Level #5 Bunsay IIP

๐Ÿฏ *Cemilan Rabu* ๐Ÿฏ
*Materi #5:* *Menstimulasi Anak Suka Membaca*

*Tahap Perkembangan Membaca Anak Usia Dini*

๐Ÿ“šMembaca adalah salah satu kemampuan bahasa yang penting bagi anak.

๐Ÿ“šMembaca juga dapat meningkatkan daya imajinasi anak dan meningkatkan kosakata anak dan masih banyak manfaat membaca lainnya.

๐Ÿ“œBerikut tahapan membaca yang dapat dilakukan oleh anak usia dini.


*Tahapan Perkembangan Membaca Anak Usia Dini*

*๐Ÿ“–1. Tahap fantasi (Magical Stage)*
Anak mulai belajar menggunakan buku, mulai berfikir bahwa buku itu penting, melihat atau membolak-balikkan buku dan kadang-kadang anak membawa buku kesukaannya.

๐Ÿ“– *2. Tahap Pembentukan Konsep Diri Membaca (Self Concept Stage)*

Anak memandang dirinya sebagai pembaca, dan mulai melibatkan diri dalam kegiatan membaca, pura-pura membaca buku, memberi makna pada gambar atau pengalaman sebelumnya dengan buku, menggunakan bahasa buku meskipun tidak cocok dengan tulisan

๐Ÿ“– *3. Tahap Membaca Gambar (Bridging Reading Stage)*

Pada tahap ini anak menjadi sadar pada cetakan yang tampak serta dapat menemukan kata yang sudah dikenal, dapat mengungkapkan kata-kata yang memiliki makna dengan dirinya, dapat mengulang kembali cerita yang tertulis, dapat mengenal cetakan kata dari puisi atau lagu yang dikenalnya serta sudah mengenal abjad

๐Ÿ“– *4. Tahap Pengenalan Bacaan (Take Off Reader Stage)*

Anak tertarik pada bacaan, berusaha mengenal tanda-tanda pada lingkungan serta membaca berbagai tanda seperti kotak susu, pasta gigi atau papan iklan

๐Ÿ“– *5. Tahap Membaca Lancar (Independent Reader Stages)*

Pada tahap ini anak dapat membaca berbagai jenis buku yang berbeda secara bebas, menyusun pengertian dari tanda, pengalaman dan isyarat yang dikenalnya, dapat membuat perkiraan bahan-bahan bacaan. Bahan-bahan yang berhubungan secara langsung dengan pengalaman anak semakin mudah dibaca


Sumber:

https://ilmupengetahuanibu.com/2016/11/18/tahapan-perkembangan-membaca-anak-usia-dini/

https://yudhistira31.wordpress.com/2008/12/22/tahap-perkembangan-kemampuan-membaca-pada-anak/



Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Kelas Bunda Sayang/

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛

Materi #5 Menstimulasi Anak Suka Membaca BunSay IIP

*Institut Ibu Profesional, Kelas Bunda Sayang, Materi ke #5*

_MENSTIMULASI ANAK SUKA MEMBACA_

๐Ÿ”ธ๐Ÿ”น๐Ÿ”ธ๐Ÿ”น๐Ÿ”ธ๐Ÿ”น๐Ÿ”ธ๐Ÿ”น

Mari  kita mulai dengan bermain peran terlebih dahulu. Bayangkan kita adalah seorang dewasa dengan bahasa yang kita gunakan sehari-hari adalah bahasa Indonesia,   belum pernah mengetahui bahasa mandarin  kemudian tiba-tiba kita diberi Koran berbahasa mandarin dengan tulisan mandarin semua. Apa yang kebayang di benak kita semua?
Pusing?  Tidak tahu maksudnya? Lalu kita hanya melihat-lihat gambarnya saja?

Hal tersebut akan sama halnya dengan anak-anak`yang belum dibiasakan mendengarkan berbagai dialog bahasa ibunya, belum belajar berbicara bahasa ibunya dengan baik, tiba-tiba dihadapkan dengan berbagai cara belajar membaca bahasa ibunya tersebut yang berisi dengan deretan-deretan huruf yang masih asing di benak anak, diminta untuk mengulang-ngulangnya terus menerus dengan harapan anak bisa cepat membaca.

๐Ÿ’ *KETRAMPILAN BERBAHASA*
Sebelum lebih jauh membahas tentang teknik menstimulasi anak membaca kita perlu memahami terlebih dahulu tahapan-tahapan yang perlu dilalui anak-anak dalam meningkatkan ketrampilan berbahasanya.

๐Ÿ’ Tahapan tersebut adalah sebagai berikut :

a. Keterampilan mendengarkan ( listening skills)
b. Ketrampilan Berbicara ( speaking skills)
c. Ketrampilan Membaca ( reading skills)
d. Ketrampilan Menulis ( writing skills)

Keempat tahapan tersebut di atas harus dilalui terlebih dahulu secara matang oleh anak. Sehingga anak yang *BISA MENDENGARKAN* ( Menyimak) komunikasi orang dewasa di sekitarnya dengan baik, pasti *BISA BERBICARA* dengan baik, selama organ pendengaran dan organ pengecapnya berfungsi dengan baik.

Mendengarkan dan berbicara adalah tahap yang sering dilewatkan orangtua dalam menstimulasi anak-anaknya agar suka membaca. Sehingga hal ini mengakibatkan anak yang *BISA MEMBACA, belum tentu terampil  mendengarkan dan berbicara dengan baik dalam kehidupan sehari-harinya.*
Padahal dua hal ketrampilan di atas sangatlah penting.
Banyak orang dewasa yang menggegas anaknya untuk bisa cepat-cepat membaca, padahal Anak yang BISA BERBICARA dengan baik, pasti akan BISA MEMBACA dengan baik, tetapi banyak yang mengesampingkan 2 tahap sebelumnya.
Pertanyaan selanjutnya mengapa banyak anak bisa membaca tetapi sangat sedikit yang menghasilkan karya dalam bentuk tulisan, bahkan diantara kita orang dewasapun sangat susah menuangkan gagasan-gagasan kita, apa yang kita baca, kita pelajari dalam bentuk tulisan?

Padahal  kalau melihat tahapan di atas anak yang BISA MEMBACA dengan baik pasti akan BISA MENULIS dengan baik.
Mengapa? Karena selama ini anak-anak kita hanya distimulus untuk *BISA* membaca tidak *SUKA MEMBACA*. Sehingga banyak diantara kita  BISA MENULIS huruf (melek huruf) tetapi tidak bisa menghasilkan karya dalam bentuk tulisan (
MENULIS KARYA)
Terbukti  berdasarkan survey UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia baru 0,001 persen. Artinya dalam seribu masayarakat hanya ada satu masayarakat yang memiliki minat baca. Berdasarkan studi _"Most Littered Nation In the World"_ yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca.
Padahal  program membaca  ini tidak hanya digencarkan oleh pemerintah dalam program literasinya, melainkan juga sudah diperintahkan di dalam salah satu kitab suci agama yang sebagaian besar dianut oleh bangsa Indonesia. Disana tertulis IQRA’( bacalah), perintah membaca adalah perintah pertama sebelum perintah yang lain turun.
Mengapa kita perlu membaca? Biasanya jawabannya klise yang muncul adalah agar kita bisa menambah wawasan kita, bisa membuka cakrawala dunia dll.

Jawaban di atas baik, tapi ada yang kita lupakan tentang tujuan  membaca ini yang jauh lebih penting, yaitu agar anak-anak kita lebih mengenal pencipta nya, karena membaca akan lebih membuat anak-anak  mengenal “siapakah dirinya”, maka disitulah dia mengenal siapa Tuhannya.

*MENSTIMULASI ANAK SUKA MEMBACA*

Sekarang kita akan belajar bagaimana tahapan-tahapan agar anak-anak kita *SUKA MEMBACA tidak hanya sekedar BISA. Agar ke depannya mereka SUKA MENULIS.*

๐ŸŒผ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐ŸŒธ

Kita akan memulai dengan berbagai tahap ketrampilan Berbahasa.

๐Ÿ’ *TAHAP MENDENGARKAN*

a. *Sering-seringlah berkomunikasi* dengan anak, baik saat mereka di dalam kandungan, saat mereka belum bisa berbicara dan saat mereka sudah mulai mengeluarkan kata-kata dari mulut kecilnya.

b. Buatlah berbagai *forum keluarga* untuk memperbanyak kesempatan anak mendengarkan berbagai ragam komunikasi orang dewasa di sekitarnya.

c. *Setelkan berbagai lagu anak*, cerita anak yang bisa melatih ketrampilan mendengar mereka.

d. *Bacakan buku-buku anak dengan suara yang keras* agar anak – anak bisa melihat gambar dan telinganya bekerja untuk mendengarkan maksud gambar tersebut.

e. *Sering-seringlah mendongeng/membacakan* buku sebelum anak-anak tidur. Jangan pernah capek, meski anak meminta kita mendongeng/membaca buku yang sama sampai puluhan kali. Begitulah cara menyimak,

๐Ÿ’*TAHAP BERBICARA*

a. Di tahap ini anak belajar berbicara, kita sebagai orang dewasa belajar mendengarkan. Investasikan waktu kita sebanyak mungkin untuk mendengarkan *SUARA ANAK*

b. *Jadilah pendengar yang baik*, disaat anak-anak ingin membacakan buku untuk kita, dengan cara mengarang cerita berdasarkan gambar, apresiasi mereka.

c. Jadilah murid yang baik, disaat anak-anak kita ingin menjadi guru bagi kita, dengan cara *membuat simulasi kelas*, dan dia menjadi guru kecil di depan.

d. *Ajaklah anak-anak bersilaturahim* sesering mungkin, bertemu teman sebayanya dan orang lain yang di atas usianya bahkan di bawah usianya untuk mengasah ketrampilan mendengar dan berbicaranya.

๐Ÿ’*TAHAP MEMBACA*

a. *Tempelkan tulisan-tulisan dan gambar-gambar* yang jelas dan besar di sekitar rumah, terutama tempat-tempat yang sering di singgahi anak-anak

b. *Tempelkan tulisan/kata* pada benda-benda yang ada, misalnya, tempelkan kata- “televisi” pada pesawat televisi.

c. Buatlah *acara membaca bersama* yang seru, misalnya perpustakaan di bawah meja makan

d. Sekali waktu, *ajaklah* anak-anak ke pangkalan buku-buku bekas, pameran buku dan toko buku

e. Siapkan alat perekam dan *rekamlah* suara anak kita yang sedang membaca buku

f. Biasakanlah *surat-menyurat* dengan anak di rumah. Misalnya , dengan menempelkan pesan-pesan di kulkas atau buatlah parsi (papan ekspresi) di rumah

g. Dorong dan ajak anak kita untuk *membaca apapun* label-label pada kemasan makanan, papan reklame dan masih banyak lagi

h. Berikan *buku-buku berilustrasi* tanpa teks.  Warna mencolok dan menarik akan merangsang minat untuk membaca, sekaligus membangkitkan rasa ingiin tahunya. Selanjutnya berikan buku full teks dengan ukuran huruf yang besar-besar.

i. *Komik* juga menarik sebagai pemancing rasa ingin tahu dan gairah membaca anak (tentunya perlu selektif dalam memilih komik yang tepat).

j. Ajaklah anak *bertemu* dengan pengarang buku, ilustrator, komikus, penjual buku, bahkan penerbit buku.

k. *Dukung hobi anak* kita dan sangkut pautkan dengan buku.
Misalnya, buku tentang perangko untuk anak yang hobi mengkoleksi perangko, buku cerita tentang boneka untuk anak yang suka boneka dan sebagainya

l. *Budaya baca* bisa ditumbuhkan dari ruang keluarga yang serba ada. Ada buku-buku yang mudah diambil anak,  ada mainan anak,  ada karya-karya anak dalam satu ruangan tersebut.

m. Ajaklah anak untuk *memilih bukunya sendiri*, tapi tentunya dibawah bimbingan kita agar tidak salah pilih

n. *Contohkan kebiasaan membaca* dan mengkoleksi buku dengan sungguh-sungguh dan konsisten

o. *Buatlah pohon literasi keluarga*, caranya:
๐Ÿ“ŒMasing-masing anggota keluarga memiliki pohon dengan gambar batang dan ranting, tempelkan di dinding.
๐Ÿ“ŒSiapkanlah daun-daunan dari kertas sebanyak mungkin, setiap kali anak-anak selesai membaca, tuliskan judul buku dan pengarangnya di daun tersebut.
๐Ÿ“Œkemudian tempelkan di pohon dengan nama anak tersebut.

Cara ini bisa untuk melihat seberapa besar minat baca masing-masing anggota keluarga kita, hanya dengan melihat seberapa rimbun daun-daunan di pohon masing-masing.

๐Ÿ’*TAHAP MENULIS*

a. *Siapkan satu bidang tembok* di rumah kita, tempelkan kertas flipchart besar disana dan ijinkan anak-anak untuk menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan atau coretan.

b. Berilah kesempatan dan dorong anak kita untuk *menulis  apapun* yang dia lihat, dengar, pegang dan lain-lain

c. *Siapkan buku diary keluarga*, masing-masing anggota keluarga boleh menuliskan perasaaannya di buku diary tersebut, sehingga akan membentuk rangkaian cerita keluarga yang kadang nggak nyambung tapi seru untuk dibaca bersama.

d. *Buat buku jurnal/ buku rasa ingin tahu* anak dari kertas bekas,   ijinkan setiap hari anak menuliskan apa yang dia alami apa yang memunculkan rasa ingin tahunya di dalam buku tersebut.

e. *Hiraukanlah* tanda baca, huruf besar, huruf kecil dll, saat anak-anak mulai belajar menulis. Biarkanlah anak merdeka menuangkan isi pikirannya, hasil bacaannya, tanpa terhenti berbagai kaedah –kaedah menulis yang harus mereka pahami. Setelah anak-anak lancar menulis baru setahap demi setahap ajarkanlah berbagai macam kaedah ini.


Salam Ibu Profesional,


/Tim Fasilitator Bunda Sayang /


๐Ÿ“šSumber  Bacaan :

_Kontributor Anatalogi Bunda Sayang, Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang, Gaza Press, 2014_

_Pengalaman Bunda Septi dalam mengembangkan ketrampilan berbahasa di keluarganya, Wawancara, Kelas Bunda Sayang, Institut Ibu Profesional, 2017_

_Andi Yudha Asfandiyar. Creative Parenting Today : Cara praktis memicu dan memacu kreatifitas anak melalui pola asuh kreatif. Bandung : Kaifa. 2012_

http://www.supernanny.co.uk/Advice/-/Learning-and-Education/-/4-to-13-years/Help.-My-child-doesn’t-like-reading.aspx

Resume Diskusi: Desain Global Sekolah Unggul

 Bismillah.. alhamdulillah malam ini bisa bergabung di diskusi online Kelas 100 Guru PAUD berjudul Desain Global Sekolah Unggul. Pematerinya...