Kamis, 21 September 2017

Materi 8 Cerdas Finansial BunSayIip

Resume Diskusi Materi 8
Resume Diskusi Materi 8
Selasa, 12 September 2017 pukul 20.00 - 21.00
Fasilitator : Septi Peni Wulandani
Korlan : Evi Kumala K

Materi

Institut Ibu Profesional
Kelas Bunda Sayang sesi #8
MENDIDIK ANAK CERDAS FINANSIAL SEJAK DINI
Apa itu Cerdas Finansial?
Menurut para ahli cerdas finansial adalah kemampuan seseorang untuk mendapatkan dan mengelola keuangan.
Apabila disesuaikan dengan konsep di Ibu Profesional bahwa uang adalah bagian kecil dari rejeki, sehingga dengan belajar mengelola uang artinya kita belajar  bertanggungjawab terhadap bagian  rejeki yang kita  dapatkan di dalam kehidupan ini.
Apa pentingnya cerdas finansial ini bagi anak-anak?
Di dalam Ibu Profesional kita memahami satu prinsip dasar dalam hal rejeki yaitu,
Rejeki itu pasti, kemuliaanlah yang harus dicari
Ketika anak sudah paham konsep dirinya, maka kita perlu menstimulus kecerdasan finansialnya agar :
Kemuliaan Anak Meningkat
dengan cara :
a. Anak paham konsep harta, bagaimana memperolehnya dan memanfaatkannya sesuai dengan kewajiban agama atas harta tersebut.
b. Anak bertanggungjawab atas pengelolaan keuangan sendiri.
c. Anak terbiasa merencanakan (membuat budget) berdasarkan skala prioritas.
d. Anak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
e. Anak memiliki rasa percaya diri dengan pilihan "gaya hidup" sesuai dengan fitrahnya, tidak terpengaruh dengan gaya hidup orang lain.
f. Anak paham dan punya pilihan hidup untuk menjadi employee, self employee, bussiness owner atau investor.
Bagaimana Cara Menstimulus Cerdas Finansial pada Anak?"
1.Anak-anak perlu dipahamkan terlebih dahulu bahwa rejeki itu datang dari Sang Maha Pemberi Rejeki,  sangat luas dan banyak, uang/gaji orangtua itu hanya sebagian kecil dari rejeki.
Sehingga jangan batasi mimpi anak, dengan kadar rejeki orangtuanya saat ini.
Karena sejatinya Anak-anak adalah milik Dia Yang Maha Kaya, bukan milik kita
Sehingga kalau akan minta sesuatu yang diperlukan anak, mimpi sesuatu,  mintalah ke Dia Yang Maha Kaya, bukan ke manusia,  meski itu orangtuanya.
2. Ajak anak berdialog tentang arti KEBUTUHAN dan KEINGINAN
Kebutuhan adalah sesuatu yang tidak bisa ditunda
Keinginan adalah sesuatu yang bisa ditunda.
Bantu anak-anak membuat skala prioritas kebutuhan hidupnya berdasarkan dua hal tersebut di atas.
3. Setelah paham dengan prioritas kebutuhan hidupnya, maka latih anak untuk membuat "mini budget", sebagai bentuk latihan merencanakan berdasarkan skala prioriitas
Mini budget ini bisa dibuat 3 harian, 1 minggu atau 1 bulan bergantung pada kemampuan dan usia anak.
Dengan adanya mini budget ini anak akan berkomitmen untuk mematuhi apa yang sudah disepakati, kemudian bertanggung jawab menerima konsekuensi apapun atas kesepakatan yang sudah dibuatnya
 4. Anak dilatih mengelola pendapatan berdasarkan ketentuan yang diyakini oleh keluarga kita.
Contoh : Apabila mini budget sudah disetujui oleh orangtua, dana sudah keluar,  anak-anak akan belajar memakai ketentuan yang sudah disepakati keluarga misal kita ambil contoh sbb:
Hak Allah : 2,5 - 10% pendapatan
Hak orang lain : max 30% pendapatan
Hak masa depan : min 20% pendapatan
Hak diri sendiri : 40-60% pendapatan
5. Lakukan apresiasi setiap anak menceritakan bagaimana dia menjalankan mini budget sesuai kesepakatan.
Latih lagi anak-anak untuk membuat mini budget berikutnya dengan lebih baik.
Prinsipnya adalah : Latih - percayai-jalani-supervisi-latih lagi.
 Ingat sekali lagi prinsip di Ibu Profesional
for things to CHANGE, I MUST CHANGE FIRST
Apabila kita menginginkan perubahan maka mulailah dari diri kita terlebih dahulu.
Maka sejatinya materi ini adalah proses kita sebagai orangtua agar cerdas finansial dengan cara learning by teaching belajar mengajar bersama anak-anak. Jadi yang utama harus belajar tentang cerdas finansial ini adalah kita, orangtuanya, kemudian pandu kecerdasan finansial anak-anak kita sesuai tahapan umurnya.
Salam Ibu Profesional,
/Tim Fasilitator Bunda Sayang/
📚Sumber bacaan
Ahmad Gozali, Cashflow for muslim, 2016
Septi Peni Wulandani, Mendidik Anak Cerdas Finansial, bunda sayang, 2015
Eko P Pratomo, Cerdas Finansial, artikel Kontan, 2015

Sesi Tanya Jawab

1⃣ Assalamualaikum,
Saya nurul dari kaltara
Yang ingin saya tanyakan di tantangan kali ini dari usia berapa kita memulai mengenalkan uang kepada anak dalam artian  ini uang rp.1000, rp 2000 dan seterusnya.
Mengingat saya belum memperkenalkan uang kepada anak saya di usia nya yang 4tahun 10bulan.
Saya hanya selalu mengingatkan bahwa kita tidak harus selalu membeli apa yg kita inginkan.
Kita harus menabung.
1⃣ Wa'alaykumsalam mbak Nurul di Kaltara. Mengenalkan uang pada anak itu tidak ada patokan,  bergantung pada lingkungan dimana anak-anak dibesarkan.
Misal di lingkungan pedagang, maka anak-anak pasti akan lebih cepat ingin mengenal uang karena mereka melihat hal tersebut setiap hari.
Anak yang lingkungannya hobi jajan, pasti juga ingin mengenal uang lebih cepat.
Anak yang berada di lingkungan pegawai, dan tidak suka jajan biasanya rasa ingin tahu tentang uangnya lebih lama dibandingkan dua lingkungan sebelumnya.
Maka aksi yang mbak Nurul ambil agar anak menabung dulu unt sesuatu yg akan dia beli, ini bagus, karena mrngajak anak berpikir, yang dia ingin beli itu masuk kebutuhan/keinginan. Akan lebih bagus lagi apabila anak diajarkan untuk berinventasi. ✅
2⃣Assalamualikum bu Septi..
Berkaitan dengan kecerdasan finansial anak, ada beberapa yang ingin saya tanyakan :
1. Mulai kapan kita bisa mengenalkan kecerdasan finansial pada anak?
2. Untuk usia 4 tahun, dimana anak belum mengerti ttg uang bagaimana menumbuhkan kecerdasan finansialnya?
Terimakasih bu..
Dian Kusumawardani- IIP SBY RAYA
2⃣ Wa'alaykumsalam wr.wb Mbak Dian di Surabaya.
Sebelum masuk ke kecerdasan finansial yang perlu kita fokuskan  justru konsep rejeki dan uang terlebih dahulu yang perlu dipahamkan ke anak-anak.
Contoh : anak usia 3 th ingin mobil-mobilan warna biru. Merengek minta ke ortunya.
Respon ortu : "Kak, bukan bapak ibu yang bisa memenuhi permintaanmu, hanya Allah yang bisa memenuhinya, maka mintalah ke Allah, Dia Yang Maha Kaya"
Apabila kita sudah ada kelebihan rejeki dan tergerak membeli mobil warna biru sesuai spec yg diingankan anak kita, segera belilah, dan berikan kejutan ke anak-anak
Ortu : "Kak, alhamdulillah Allah mengabulkan doamu, bapak ibu diberikan rejeki, dan digerakkan untuk membeli mobil-mobilan kesukaanmu, ini dia,  segera bersyukur ke Allah ya"
Konsep rejeki sudah bisa mulai dilatihkan sejak anak mulai bisa berbicara usia 1 th ke atas - 7 th (usia sekolah) anak sudah punya keinginan dan kebutuhan.
Dipahamkan berulang-ulang, mana yg menjadi keinginan dan mana kebutuhan. Penuhi yang masuk kategori kebutuhan terlebih dahulu.
Setelah anak-anak paham konsep rejeki dan perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, barulah dilatih unt merencanakan mini budget, sekitar usia -usia sekolah ( ingat, bukan uang jajan tetapi mini budget).
Tanyakan ke anak :
Usia 7-10 th:
"Apa saja kebutuhan kakak selama 3 hari - 1 minggu ini?"
Usia 11 -14 th: " Apa saja kebutuhan kakak selama 1 minggu - 1 bulan ini?"
Usia 14 th ke atas :
"Apa saja kebutuhan kakak selama 3 bulan - 1 tahun ini dan bagaimana cara mendapatkannya?"
Biarkan anak menyebutkan, menuliskan dan kita mempertimbangkan, menolak/menyetujui mini budget yg diajukan anak.
Biarkan mereka bertanggungjawab mengelolanya.
Ketika anak di bawah usia 14 th, sudah bisa berinisiatif untuk buka usaha sendiri unt memenuhi kebutuhannya, acungi jempol. Itu BONUS untuk anak.
Kalau uang jajan masih minta kita, berati BENAR, karena kebutuhan anak masih TANGGUNG JAWAB  kita. Maka lanjutkan mini budget anak, dan latih terus sampai mahir mengelola pendapatan, tanpa harus mengungkit ungkit BONUS usaha yg dilakukan anak pre aqil baligh.
Ketika usianya masuk aqil baligh atau sudah 14 th ke atas, dan masih minta uang jajan kita itu artinya kita sedang ber SEDEKAH kepada fakir miskin, karena anak kita sdh aqil baligh, belum memiliki pekerjaan, atau sudah memiliki pekerjaan dan belum bisa mencukupi kebutuhan hidupnya. Maka jelaskan konsep ini ke anak aqil baligh dan IKHLASLAH ketika masih harus bersedekah ke mereka. Terima sebagai bentuk konsekuensi kesalahan pola pendidikan kita dulu. ✅
3⃣ Assalamualaikum bu septi. Si sulung sebulan lagi 4 tahun insyaa Allah. Saat saya sedang dalam trimester pertama, kami 'ngungsi' ke rumah mertua dan kebiasaan jajannya terbentuk. Saat ini kami sudah kembali ke rumah, saya berusaha membuatkan kudapan dan jarang membawanya ikut serta ke warung, tapi dia masih suka meminta jajan sampai menangis keras karena tidak diberi. Apa yang harus saya lakukakn?          Anggi- Sulsel
3⃣ Wa'alaykumsalam mbak Anggi. Apa yang sudah mbak anggie lakukan benar, menyiapkan jajan yg diperlukan anak di dalam rumah, bukan di warung. Maka kalau anak menangis silakan buat kesepakatan  bahwa tidak ada yg berhasil do rumah ini dengan teriak dan menangis-nangis.
Jangan berikan selama anak masih menangis.
Kalau sudah tenang, minta anak untuk berdoa ke Allah minta sesuatu. Lakukan tahapan seperti jawaban no sebelumnya✅
4⃣ Bagaimana mengajarkan anak usia 5thn dan 7thn untuk menabung?
Abang nya setiap membawa bekal uang selalu habis, awalnya saya memberikan 5rb /hari. Uang bekal sebanyak itu terkadang ada teman nya yang meminta di jajanin.
Setelah kami evaluasi ternyata kami mengajarkan kemudahan bagi nya, bekal yang banyak juga Catering. Mengingat anak saya Dzuhur di sekolah.
Akhirnya sekarang kami rubah dengan membawa bekal 3.000 dan membawa kue / Snack dari rumah.
Tapi sudah sepekan ini bekal uang nya selalu habis. Kadang kalau saya tanyakan digunakan untuk apa saja. Abang nya menjawab membeli Milkuat atau minuman dingin lainnya.
Lain hal nya dengan adeknya, yang belum mengerti banyak tentang nominal uang. Dan masih coba diajak main belanja belanja an.
Mohon pencerahannya.
Karina - IIP Babel
4⃣ Mbak Karina, jangan diartikan sempit kecerdasan finansial hanya sebatas bisa mengelola yang jajan
 Ingat bukan "uang jajan" karena kebutuhan hidup anak kita itu tidak sekedar jajan.
Nanti kita akan terkaget-kaget ketika anak ternyata di mini budgetnya tidak mencantumkan "jajan".
Jujur saya dulu terheran-heran dg mini budget anak-anak saya,  mengapa mereka tidak jajan, sampai saya harus mengajari jajan, berharap anak-anak normal, krn kebanyakan anak lain adalah tukang jajan. Tapi ternyata jajan tetap tidak menjadi item mini budget anak-anak.
Mereka baru jajan ketika emaknya pengin jajan, (karena dulu kecilnya saya tukang jajan😬, pak dodik tidak pernah jajan), ternyata efek pak dodik lebih besar ke anak-anak. Saya banyak belajar dari pola pendidikan pak dodik dulu. Dan ternyata saya yang harus banyak belajar ke anak-anak ttg konsep jajan ini. 🙈
Ketika anak-anak mulai berjualan, dapat hadiah uang karena prestasinya,  maka latih anak-anak untuk memahami pengelolaan uangnya sesuai ketentuan yg diyakini keluarga kita ( ini pentingnya punya standar pengelolaan keuangan keluarga).
Anak paham mana yg menjadi haknya dan mana yg menjadi kewajjban, sehingga mereka paham cara apa yg harus ditempuhnya berinvestasi atsu menabung. Kalau mrnabung pasti muncul kesadaran diri unt menabung tanpa diminta, demikian sebaliknya ✅
5⃣ Assalamualaikum bu..saya Esme dr Bogor..
Mw tanya, stimulasi cerdas finansial seperti apa ya yg cocok utk anak yg blm bs berhitung sama sekali? Utk menabung di celengan, membedakan kebutuhan dan keinginan sudah lama diterapkan...
5⃣ Mbak Esme, wa'alaykumsalam wr.wb.
Silakan lihat jawaban saya di no 2 👆 bahwa anak usia 1 th - 7 th disrimulus kecerdasan finansialnya dengan memahami konsep rejeki dan uang terlebih dahulu seperti tahapan di atas✅
6⃣ Dari Ingrid....
Assalaamu'alaikum Ibu Septi yg baik hati,
1. Saya msh blm begitu faham dgn poin2 dlm mini budget :
-Hak org lain
-Hak Masa depan
-Hak Diri sendiri
Boleh tlg diberi contohnya? 😊
2. Bagaimana pengelolaan yg benar utk  :
-uang saku 10ribu/hari
-pemberian dr saudara (utk ditabung atau dibelikan keinginan)
Tks byk Bu 😊
6⃣ Mbak Inggrid, wa'alaykumsalam wr.wb.
1. Mini budget itu dibuat oleh anak berdasarkan kebutuhan mereka. Misal anak menuliskan mini budget  sbb :
a. Uang jajan @Rp 10.000/hari x 5
b. Beli buku @ Rp 20.000 x 1
Maka total uang yg disetujui adalah Rp 70.000/minggu.
Maka anak akan bisa mengolahnya sbb :
a. Hak Allah
b. Hak untuk orang lain ( misal apakah anak-anak ada hutang ke temannya yg harus dibayar), atau hutang-hutang kecil lainnya.
c. Hak Masa Depan, misal anak sudah lihat apa yg diinginkan, maka iya berkomitmen untuk menyisihkan setiap minggunya sebesar berapa?
d. Hak diri sendiri, termasuk uang jajan, beli keperluan diri sendiri dll. Kalau di orang dewasa, unt makan sehari-hari, bayar listrik, PAM dll itu termasuk hak diri sendiri.
2. Pembelian dari saudara masukkan ke pos pendapatan lain, maka mau digunakan unt kebutuhan arau keinginan itu bebas. Kalau anak sdh paham ke utihan dan keinginan maka pasto akan memilih kebutuhan✅
Contoh uang saku Rp 10.000/hr maka
Pendapatan total : Rp 70.000
Anak-anak latihan mengelola uangnya
Hak Allah : 2,5-10% = Rp 7000
Hak orang lain (kalau ada) = max 30% =  Rp 2100/minggu.
Hak masa depan : min 20% = Rp 1400/minggu untuk sebuah mimpi yg diinginkan.
Hak Diri Sendiri : baru sisanya untuk jajan selama 1 minggu/ sesuai kebutuhan anak.

Diskusi Bebas

📝 Maaf bu mau bertanya..
Berawal dari berkah id fitri kemarin. Alhamdulillah ananda 4,5th mulai mengenal uang. Bersamaan dg family project maka saya berikan opsi tuk bikin kolam ikan. Sesuai dg impiannya. Yg agak lebar dr yg sblumnya.. Berlanjut   dg impiam jd penjual ikan dg modal sisanya tadi kita beli sama2..dan dijual. Uangnya berputar terus sampai bertahan di bulan ini uang itu masih ada meski sering digunakan tuk keperluan beli kebutuhannya ( karena kadang ada yg memberi lagi)  dari sini sya mencoba membiasakan rajin berbagi misal pergi k masjid pasti bawa uang tuk dimasukan kotak,  atau ketika ada pengemis. Tapi dg harapan ada yg memberi lagi lbih banyak sesuai dg yg dijanjikan allah yg ada dibukunya. 🙈
Maaf, Pertanyaan saya bu septi.
1. Apa saya berlebihan mempercayakan pengelolahan uang tuk umur 4,5 th. Meski kadang ada diskusi jk dia ingin sesuatu?tp kadang merasa apa sya terlalu tega ya..
2. Bagaimna cara menanamkan ikhlas memberi tanpa harapan imbalan tuk usia ini?
Trims😊🙏
-Nifsah-
🍀 Mbak Nisfah anak usia 4 th sebaiknya dikenalkan betapa Allah sayang kepada hambaNya lewat rejeki yg diberikan ke kita tiada terhingga.
Maka setiap hasil penjualan ikan biarkan anak paham bagaimana cara mengelolanya.
Dimasukkan 4 hak seperti contoh fi atas misalnya, maka anak akan paham, kalau dapat rejeki maka bagaimana caranya mengelola.
Setelah itu tunaikan apa yg sdh diposkan, kalau untuk ZIS ya biarkan anak mrlakukannya tanpa berharap apapun, lillahi ta'ala.  Ananda mrlakukan itu karena kecintaannya pada Allah, bukan karena berharap akan dapat seauatu yg lebih banyak.
📝 Hak masa depan..ini bisa digunakan utk traveling keluarga atau acara2 keluarga ya Bu?? Jadi sudah ada posnya masing-masing gitu ya??
-Febrina-
🍀 Ya betul mbak, itu untuk membiayai mimpi
📝 Tanya bu ☝...anak saya itu memang gak suka jajan bu tapi ttp aja minta cemilan.. Jadinya saya sediakan... Tapi jika datang abang ponakan suka bujukin buat jajan... Gimana bu biar gak ngikut abangnya.... Kadang saya kasian juga bu liat anak saya yang gak pernah jajan.. Kalo jajan cuma ngambil satu😁😁😁
-+62 856 5230 6081-
🍀 Sekali-kali merasakan jajan nggak papa
📝 Izin bertanya bu, untuk mengajarkan investasi pada anak usia 6-10 thn bagaimana ya baiknya bu?
-Lita-
🍀 Kalau saya bergantung passion anak. Dulu Ara saat usia 10 th investasi satu sapi, kmd belajar jual sapi 1, dibelikan anak sapi 2.
Kalau Elan dg membuat robocycle dijual programnya
Enes dengan mengolah sampah jadi berkah, from trash become cash.
Seperti itu mb
📝 Oww..berarti yang bisa digunakan anak² 40%(jajan dll) nya ya Bu?. dari mini budget yang sudah  direncanakan..
-+62 812 2558 3684-
🍀 👍

Senin, 11 September 2017

Tips Mendampingi Anak Menulis Cerita

[8/1, 20:33] Rumpen Renny Wulan:
*_APA ITU MENULIS FIKSI?_*

Nah, Ayah dan Bunda, apa sih menulis fiksi itu?
Tiap penulis bisa memberi jawaban yang berbeda sih.. Bagi saya menulis fiksi adalah seni menghipnotis pembaca dengan kisah yang dituturkan.
Fiksi atau kisah yang baik akan membuat pembaca enggan menaruh buku sebelum selesai. Ada penulis yang bilang, selesai membaca buku cerita yang keren itu ibarat berpisah dengan seorang teman baik. Ada rasa sedih dan kangen.
Wow, sampai segitunya ya, Ayah dan Bunda...

Tapi memang benar sih, di zaman serba cepat kayak gini siapa sih yang tahan baca buku sampai ratusan halaman kalau tidak benar-benar menarik?
Iya kan, Ayah dan Bunda?

Namun ingat, kita ini baru pemula. Apalagi tujuannya adalah mengajarkannya untuk anak-anak, jadi bila kata _“Hipnotis”_ terlalu berat, kita ganti saja deh dengan kata _“Menarik”_.

Apakah bisa anak-anak membuat kisah-kisah yang menarik? Tentu saja bisa, Ayah dan Bunda.
Sebagian besar alasannya adalah karena anak-anak selalu punya imajinasi yang luas dan bebas dibanding orang dewasa. Kalau tidak percaya, buktikan saja sendiri nanti, Ayah dan Bunda. Dijamin, setidaknya sesekali kita pasti akan terkagum-kagum pada mereka.

Alasan lain adalah: anak-anak masih polos dan murni. Senyum-senyum sendiri adalah biasa bila kita sedang baca tulisan para bocah.

Yuhuuu, seru bangetlah...
[8/1, 20:34] Rumpen Renny Wulan: *_APA KEGUNAAN MENULIS FIKSI BAGI ANAK-ANAK?_*


Ayah dan Bunda, entah anak kita akan jadi seorang penulis fiksi atau tidak, belajar menulis fiksi punya banyak sekali kegunaan.
Terutama yang berhubungan dengan kognisi (cara berpikir) dan emosi.
Di antaranya adalah:

*Menyusun Pikiran*.
Anak yang terbiasa menulis, akan terbiasa menyusun pikiran secara sistematis. Nantinya bukan hanya berefek saat ia menulis saja lho, Ayah dan Bunda. Tetapi juga saat ia berbicara.
Perhatikan deh kalau ada tokoh sedang diwawancara. Bila ia berkata runut dan enak didengar, kemungkinan ia adalah seorang yang suka menulis atau setidaknya senang membaca.
Keren kan?

*Menyalurkan Hobi.*
Bahkan salah seorang sahabat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam (kalo tidak salah Ali bin Abi Thalib ra) juga menyarankan agar kita sesekali menikmati kesenangan (hobi).
Sekadar tahu nih: hobi berasal dari bahasa Arab, Al-Hubb, yang artinya kecintaan. Menulis yang dijadikan hobi akan membuat beban psikis anak-anak berkurang. Apalagi tahu sendirilah, Ayah dan Bunda. Anak sekarang itu beban sekolahnya... Masyaa Allah... jauh banget dari zaman saya kecil dulu (dulu tiap sore saya main sepak bola, kalo nggak ya main layangan, kalo nggak ya main sepeda...)

*Menaikkan Kadar Intelektual.*
Bagi saya sih (ini subjektif lho, tapi bener.. hehe), intelektual itu tidak identik dengan nilai akademis, Ayah dan Bunda. Banyak anak yang secara akademis jeblok, tapi berprestasi di luar sekolah.
Contohnya adalah putri pertama saya yang pernah menjadi komikus cilik terbaik sehingga dapat masuk SMK negeri tanpa dites berkat prestasinya itu. Anak yang senang menulis secara otomatis akan selalu mencari bahan buat memperkuat tulisan.
Ia akan banyak bertanya dan membaca. Kalau sudah begitu, wawasannya jadi lebih luas dari yang hanya diajarkan buku-buku pelajaran.

*Meningkatkan Rasa Percaya Diri.*
Banyak anak sekarang (anak dulu juga sih...) yang turun rasa percaya dirinya akibat merasa tak bisa berprestasi di jalur akademisnya. Padahal rasa percaya diri sejak awal sangat baik bagi pertumbuhan emosi seorang anak.
Nah, anak yang suka menulis setidaknya akan merasa ia mampu melakukan satu hal dengan baik. Apalagi (terus terang saja) tak semua anak mampu menulis fiksi. Punya kemampuan menulis bisa membuatnya lebih populer dan satu saat nanti banyak follower di medsosnya (satu hal yang saya nggak bisa, ha..ha...).

*Menyadari Bahwa Segala Pencapaian Memerlukan Proses.*
Ini adalah hal yang sangat penting untuk dimiliki sejak dini, Ayah dan Bunda. Di zaman kini, segala sesuatu terasa serba cepat dan instan. Benar kan? Bila sudah demikian orang akan lupa pada yang namanya _“Proses”_, sehingga yang timbul adalah rasa tidak sabar, mudah marah, egois, cepat putus asa dan lainnya.
Menulis jelas memerlukan proses, sehingga saat anak belajar menulis ia otomatis belajar untuk membangun suatu karya dengan sabar, hati-hati dan tidak tergesa.
Insyaa Allah, hal ini akan turut membangun mentalnya menghadapi proses-proses pencapaian lain dalam kehidupannya kelak (mengerjakan skripsi, meningkatkan karir, dan lainnya).
[8/1, 20:36] Rumpen Renny Wulan: *_10 LANGKAH MENGAJAR ANAK MENULIS FIKSI_*


Nah, ini dia yang kita tunggu. Kalo Ayah dan Bunda bertanya: _kenapa 10 langkah? Apa nggak kebanyakan?_

Jawabannya: suka-suka gue dong... he..he... 😁

Ayah dan Bunda, karena hanya satu guru yang mengajar saya menulis fiksi, namanya: *PENGALAMAN*.

Nah, pengalaman saya inilah yang akan saya sampaikan, agar Ayah dan Bunda tidak perlu lagi memulai dari nol seperti saya dulu.
Siaaaaap?

Ayah dan Bunda, langkah-langkah ini tak perlu dihapal, yang penting dijalani. Tetapi bila perlu dihapal, saya sudah siapkan jembatan keledainya, yaitu:
*BA-WA-POT-JALAN-TULIS-IN-KASAR-MATANGKAN-KA-MU.*
*_Dibacanya: Bawa pot jalan, tulisin kasar matangkan kamu._* (Silakan kalau nanti mau diganti, saya ridho...)

Begini kepanjangannya:
*BA adalah BACA*
*WA adalah WAKTU*
*POT adalah POTENSI*
*JALAN adalah JALAN*
*TULIS adalah TULISKAN*
*IN adalah INKUBASI*
*KASAR adalah Plot KASAR*
*MATANGKAN adalah MATANGKAN Plot.*
*KA adalah KARAKTER*
*MU adalah MULAI*

Sekali lagi, itu bagi yang mau menghapal lho. Tapi lebih penting lagi adalah mengerti.
[8/1, 20:38] Rumpen Renny Wulan: *LANGKAH 1⃣ : Tumbuhkan Rasa Cinta memBACA*


Ayah dan Bunda, bagi saya (subjektif lagi nih), satu-satunya gerbang yang bisa mengantar seorang anak mampu menulis fiksi adalah MEMBACA.
Hampir tak mungkin ada seorang penulis yang tidak suka membaca, apalagi penulis fiksi yang biasa kita sebut Pengarang, Novelis, Cerpenis.
Jadi langkah pertama dan mungkin yang *TERUTAMA* adalah buat anak senang buku dan membaca.

Bagaimana mengajak anak menjadi seorang pecinta bacaan? Wah, ini bisa jadi satu materi Kulwapp tersendiri lho, Ayah dan Bunda.
Sementara jawabannya adalah *CONTOHKAN.*
Kalau Ayah dan Bunda hanya menyuruh, tanpa mencontohkan senang membaca buku (bukan gawai), sangat sulit bagi anak untuk jadi pecinta bacaan.

Sekadar contoh Ayah dan Bunda: anak-anak saya sangat suka membaca saat mereka makan. Rasanya makan tanpa garam kali, kalau tanpa membuka bacaan (walaupun komik). Tahu kenapa? Sebab saya sendiri dari kecil memang terbiasa begitu. He..he... benar juga bila dikatakan bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

Oke? Lanjuuut....
[8/1, 20:40] Rumpen Renny Wulan: *LANGKAH 2⃣ : Sadari Bahwa Mengajar Menulis Fiksi Perlu WAKTU*

Ayah dan Bunda, banyak sekali proses belajar (apapun itu) gagal karena kita tidak sabar menjalaninya. Begitu juga dengan belajar menulis sebuah fiksi.
Beberapa anak mungkin bisa belajar dengan cepat, dan itulah yang disebut dengan berbakat. Namun sebagian besar perlu banyak didukung dan disabari.
Ada sedikit rahasia kecil nih, Ayah dan Bunda : dulu sewaktu SD saya nggak suka pelajaran mengarang! Ha..ha...

Jadi, kita harus sabar, sabar dan sabar. Tak ada benda berkualitas apapun yang dibuat dalam proses instan dan tergesa-gesa.
[8/1, 20:40] Rumpen Renny Wulan: *LANGKAH 3⃣ : Sadari Bahwa POTENSI Setiap Anak Berbeda*

Bijaklah, Ayah dan Bunda.
Jangan membandingkan langsung anak kita dengan anak yang lain. Semua kita diciptakan berbeda. Mungkin saja kita beranggapan dari pengamatan sekilas bahwa anak kita sangat berbakat menulis fiksi, tetapi bisa jadi nanti baru ketahuan bahwa ia punya bakat lebih besar di bidang yang lain.

Intinya: *JANGAN MEMAKSA*, Ayah dan Bunda.
Jangan memaksa anak menulis di saat beban sekolahnya sedang harus diselesaikan segera. Jangan memaksa anak untuk mengarang saat kita tahu dia lagi bad mood. Memaksa adalah jalan pintas yang mudah namun sangat buruk.
Membujuk dan merayu adalah jalan yang lebih sukar tapi jauh lebih baik.

Jadi bila Anda sudah merasa maksimal mengajar anak menulis dan hasilnya Anda anggap nol besar. Jangan terlalu kecewa, sebab kita tahu bahwa minat dan bakatnya memang bukan di situ.
[8/1, 20:42] Rumpen Renny Wulan: *LANGKAH 4⃣ : Sadari Bahwa Tugas Orangtua Hanyalah Membuka JALAN*

Iya, Ayah dan Bunda.
Tugas kita sebagai Ortu hanyalah membuka sebanyak mungkin jalan menuju masa depan. Mengajar anak menulis fiksi adalah salah satu upaya kita membuka jalan ke masa depan. Mungkin inilah jalan masa depan anak yang membuatnya bisa berkarir di bidang penulisan, mungkin pula tidak.
Tetapi kalaupun tidak, yakinlah bahwa ilmu yang kita coba ajarkan ini tidaklah akan sia-sia.

Sampai di sini, langkah-langkah yang kita tempuh untuk mengajari anak menulis fiksi masih bersifat normatif, Ayah dan Bunda.
Serta lebih ditujukan sebagai pembekalan bagi kita sebagai orangtua.
Tetapi langkah 1 sampai 4 ini sangat penting, sebab inilah dasar yang dapat membuat kita menjadi seorang pengajar yang baik, walaupun kita tidak pernah menulis fiksi satu halaman pun.

_APA? JADI KITA BISA MENGAJAR ANAK MENULIS FIKSI WALAUPUN KITA TIDAK PERNAH MENULIS FIKSI?_

Tentu bisa, Ayah dan Bunda.
Berapa banyak Bunda-Bunda yang mempunyai anak yang bisa berenang padahal mereka (para Bunda itu) tidak bisa berenang?
Itulah hebatnya jadi orangtua, Ayah dan Bunda. Bila guru lebih banyak mengajarkan hal-hal yang sifatnya praktis dan keterampilan, orangtua lebih banyak menjadi pendamping, motivator dan pembuka jalan.
Benar banget bila ada yang bilang: _Orangtua adalah guru pertama dan utama seorang anak._
Guru dalam hal apa? Dalam *KEHIDUPAN.*
Artinya guru dalam hal apa saja.

Nah, langkah-langkah berikutnya lebih bersifat praktis. Langkah-langkah inilah yang bisa kita ajarkan kepada anak-anak kita.
Tetapi kalau bisa, tanamkan dulu langkah 1 sampai 4 di atas ya?

Ayo lanjuuut....
[8/1, 20:43] Rumpen Renny Wulan: *LANGKAH 5⃣ : Selalu TULISkan Ide*

Bagi orang-orang yang bekerja di bidang kreatif (termasuk pengarang/penulis fiksi), setiap ide yang datang ibarat emas yang ditemukan seorang penambang.
Bila tidak disimpan, emas itu akan hilang, tertimbun tanah galian atau diambil orang.
Maka, ajarkan anak untuk menangkap segera setiap ide yang datang.

Caranya? Bekali ia dengan buku catatan kecil yang bisa disebut sebagai *BUKU IDE.*
Bawa kemana-mana, sekalipun sedang berwisata dan bermain. Minta ia menuliskan ide sekonyol apapun yang terlintas. Setiap ide yang tertulis, tak perlu langsung dieksekusi.
Biarkan saja ia berkumpul bersama banyak ide-ide yang lain. Sebab seringkali sebuah ide bisa saling menguatkan dengan yang lain.

_Apa? Buku catatan kecil? Hari ginih? Di zaman gawai ginih, gituh loh! Kenapa nggak direkam saja ke dalam smartphone? Lebih simpel kan?_

Silakan saja, Ayah dan Bunda. Itu hanya masalah teknis. Tapi entah kenapa, bagi saya memberi anak buku kecil bisa beda efeknya dengan memberi mereka sebuah smartphone. Smartphone selalu bisa membuat anak kecanduan hal-hal lain selain menuliskan ide.
Benar nggak yaaa?

Lanjut lagi aaah....
[8/1, 20:44] Rumpen Renny Wulan: *LANGKAH 6⃣ : Biarkan Ide BerINKUBASI*

Inkubasi adalah proses mengerami, Ayah dan Bunda.
Sama seperti sebuah telur yang tidak bisa langsung menetas setelah keluar dari tubuh induknya.
Telur hanya berhasil ditetaskan dan menjadi bayi hewan bila ia dierami.

Nah, Ayah dan Bunda, ajarkan pada anak bahwa setiap ide yang sudah dicatat bisa didiamkan untuk direnungkan dan diperkaya. Namun bila anak sudah langsung ingin menuliskan idenya, tak apa, dukunglah dia. Sebab memang demikian halnya sifat seorang anak. Namun bila ia sedang malas menulis, dukung juga dia.
Katakan, _“Sekarang coba kamu pikir-pikir dulu ide yang kamu dapat itu bisa jadi sehebat apa.”_

Tugas kita adalah mengawal proses pengeraman ini. Tanya-tanyalah dia sesekali, _“Bagaimana? Apa ide yang kemarin kamu dapat sudah siap dituliskan?”_

Bila tidak ditanya-tanya, bisa saja ide itu bukan dieramkan, tapi ditinggalkan.
Yah, namanya juga anak-anak toh?
[8/1, 20:44] Rumpen Renny Wulan: *LANGKAH 7⃣ : Buat Plot KASAR*

Plot adalah kerangka karangan, Ayah dan Bunda.
Bila sebuah tulisan ibarat tubuh, plot adalah kerangkanya. Banyak sekali karangan yang tidak bisa selesai (walaupun awalnya menggebu-gebu) karena ia tidak dibuatkan plotnya.

Banyak pengarang (terutama cerita pendek) yang mengabaikan pembuatan plot. Hal ini memang kembali pada gaya masing-masing, Ayah dan Bunda. Namun hampir pasti, tak ada seorang novelis pun yang tidak membuat plot (setidaknya plot yang kasar).
Ajarkan anak menulis kerangka karangan dalam 3 bagian sederhana:
*Awal*
*Tengah*
*Akhir.*

Bagian awal biasanya dimulai dengan pengenalan tokoh atau situasi.
Bagian tengah adalah bagian ketika sang tokoh terlibat “Petualangan”. Di sini biasanya terjadi konflik antar tokoh, perjuangan, penderitaan, kesabaran dan lainnya.
Di bagian akhir tentukan bagaimana akhir kisah ini: bahagia atau sedih? Apakah si tokoh berhasil meraih tujuan? Apakah kebaikan akhirnya menang?

Dampingi anak dalam membuat plot kasar, Ayah dan Bunda. Hindari kesan menggurui, tetapi berikan seolah-olah yang Anda sampaikan adalah saran untuk dipertimbangkan anak.

Waaah, seringkali kegiatan ini menjadi sangat seru, Ayah dan Bunda! Beneran!
[8/1, 20:45] Rumpen Renny Wulan: *LANGKAH 8⃣ : MATANGKAN Plot Kasar*

Ayah dan Bunda, memang sih tak semua anak mau mematangkan plot kasarnya.
Banyak dari mereka yang biasanya segera langsung mulai menulis berbekal Plot Kasar, atau bahkan hanya dari sekadar ide.
Biarkan saja, Ayah dan Bunda.
Namun bila minatnya menulis makin tinggi dan ia terlihat makin asyik serta sudah banyak tulisan yang dihasilkan, cobalah ajak untuk mematangkan Plot Kasarnya, Ayah dan Bunda.

Bagi seorang pengarang profesional, mematangkan Plot Kasar adalah saatnya untuk mencari referensi, Ayah dan Bunda. Termasuk datang ke tempat yang akan diangkat menjadi cerita, merekam gambarnya, bagaimana bangunan-bangunan atau bentang alamnya, apa saja pakaian atau makanan khas daerah itu dan sebagainya.
Wuiiiih, Ayah dan Bunda. Siapa bilang menulis itu membosankan? Menulis dan mengarang itu bisa jadi petualangan-petualangan mengasyikkan bila kita sedang mencari referensi.

Inginkah Anda menikmati masa-masa ini dengan anak-anak? Pasti dong!
Nah, saat mematangkan Plot Kasar, tambahkan beberapa ide di bagian awal, tengah dan akhir.
Di saat seperti ini, menggunakan laptop akan sangat berguna, Ayah dan Bunda. Sebab dengan mudah kita bisa menghapus, mengganti, menggeser dan menambah tulisan kita.

Dulu saya melakukannya dengan pensil dan kertas, baru diketik dengan mesin tik.
Huuu, kuno banget ya? 😁
Plot yang sudah matang akan membuat satu perasaan penting, Ayah dan Bunda, yaitu: *KEBELET MENULIS.*

Naaah, kalau sudah begini, Anak akan merasakan bahwa mengarang itu benar-benar sangat asyik dan menggairahkan!
YEAAAHH! 😎
[8/1, 20:46] Rumpen Renny Wulan: *LANGKAH 9⃣ : Dalami KARAKTER*

Ayah dan Bunda, satu hal yang paling sering dilupakan, bahkan bagi orang yang sudah berpredikat sebagai pengarang pun adalah: _menggali karakter-karakter dalam cerita._

Padahal ini benar-benar keren dan mengasyikkan lho. Inilah rahasia mengapa saya bisa menulis cerita-cerita anak dengan mengangkat karakter-karakter unik.

Setelah siap dengan plot, coba ajak anak untuk membuat deskripsi tentang tokoh-tokoh ceritanya. Mulai dari nama, tempat asal (tempat asal akan membuat karakter menjadi khas), temperamennya: pemarah, tenang, ceria, dll.
Semakin matang seorang penulis, semakin banyak hal-hal kecil yang bisa ia tambahkan pada karakter-karakter ceritanya.
Misalnya: makanan kesukaan, hobi, kelemahan, tinggi badan, warna kulit, dan segudang hal lainnya.

Ajak anak membayangkan karakter dengan membayangkan wajah dan postur seseorang. Misalnya saat membuat karakter jahat, ajak anak membayangkan tokoh raksasa gondrong atau yang lain. Saat membuat karakter nenek yang baik hati, ajak anak membayangkan neneknya sendiri yang sangat ia sayangi.

Sekali lagi, ini juga proses yang tidak kalah asyik, Ayah dan Bunda. Bahkan, bisa saja dengan mendalami karakter, anak belajar sedikit-sedikit tentang psikologi.

KEREEEEN!
[8/1, 20:46] Rumpen Renny Wulan: *LANGKAH 🔟 : MULAI Menulis*

Jadi, sebenarnya saat seseorang menuliskan huruf pertama karangannya, sudah terjadi berbagai proses persiapan yang kompleks dan rumit, Ayah dan Bunda.
Itulah yang membuat sebuah karangan jadi keren dan luar biasa. Sekali lagi tak ada yang namanya instan dan sim salabim!

Bila Anda bisa menemani anak sampai ke langkah 10 ini, selamat!
Anda telah memberikan sebuah ilmu yang sangat berharga untuk anak-anak.
Sebuah ilmu yang menjadi bekalnya di masa depan, entah ia akan menjadi seorang penulis atau berprofesi lain (mungkin ia akan mengajarkan cucu Anda metode menulis yang sama).

Mulai menulis bukan hal yang sulit, bila semua persiapannya telah matang. Menulis akan jadi sangat asyik bila sudah timbul rasa *KEBELET.*

Nah, langkah-langkah persiapan itulah yang akhirnya akan merangsang rasa *KEBELET* itu timbul.
[8/1, 20:50] Rumpen Renny Wulan: *_BEKAL-BEKAL UNTUK ORANGTUA_*

Terakhir, Ayah dan Bunda, berikut ini adalah bekal-bekal yang perlu Anda miliki saat mengajak anak Anda menulis fiksi.

Bekal-bekal ini sebenarnya sekadar saran, jadi pertimbangkanlah baik-baik:

✅ Dampingi terus anak dalam menulis. Mengarang fiksi bisa jadi sangat melelahkan. Bisa sering terbentur kebuntuan dan rasa jenuh. Pendampingan orangtua adalah hal terbaik yang dapat dimiliki seorang anak.
[8/1, 20:51] Rumpen Renny Wulan: ✅ Jadilah Anda seorang pembaca fiksi juga.
Mungkin Anda tak perlu pernah menulis, tetapi bila Anda penggemar fiksi dan sering membaca, pendampingan yang Anda lakukan akan terasa lebih berbobot.

Cobalah sedikit demi sedikit menulis. Bila Anda ikut menulis, Anda akan merasakan gairah yang sama dengan anak. Siapa tahu bahkan Anda akan memutuskan menjadikan penulis sebagai profesi tambahan, terutama Anda yang sedang berkarir sebagai ibu rumah tangga?
Luangkan waktu untuk berdiskusi dengan anak.

Pendampingan memerlukan pengorbanan, terutama waktu dan tenaga. Korbankan waktu Anda di depan gawai atau televisi, Ayah dan Bunda.

Siapkah?
[8/1, 20:52] Rumpen Renny Wulan: ✅ Relakan sedikit ambisi Anda akan prestasi akademis anak Anda.
Tepat di zaman ini, orangtua berlomba mendorong anak untuk melaju di bidang akademis.
Tak cukup hanya di sekolah, Anda pun mendaftarkan anak-anak ikut berbagai bimbingan belajar. Tidak ada yang salah sih, Ayah dan Bunda. Namun, mengarang dan menulis sebenarnya bukan kegiatan main-main.
Ia mengolah jiwa kreativitas dan berekspresi.
Karena itu hal ini memerlukan waktu.

Jadi, relakan bila sedikit waktu belajar anak Anda terpakai untuk kegiatannya mengarang.
[8/1, 20:53] Rumpen Renny Wulan: ✅ Selain itu siapkan dana untuk membeli buku-buku bacaan atau meminjam.
Saya tetap menyarankan buku dibanding gawai, terutama karena gawai memancarkan radiasi yang bisa merusak mata lebih cepat.
Buku yang sesuai dengan minat anak akan mempercepat peningkatan kemampuan anak menulis fiksi.
Ingat, penulis buku cerita telah melalui berbagai proses untuk sampai ke tahap profesional.

Melalui tulisannyalah kita belajar pada sang pengarang secara tak langsung
[8/1, 20:54] Rumpen Renny Wulan: ✅ Menulis itu perlu ketenangan.
Apakah Anda siap membiarkan Anak Anda menulis tanpa mengganggunya selama beberapa waktu?
Mungkin waktu mandi bisa digeser, waktu makan bisa dimajukan, waktu mengerjakan tugas lain bisa ditunda (kecuali waktu shalat), agar anak bisa fokus sebentar dalam menulis.

Siapkah?

Tidak semua penulis introvert. Tapi kebanyakan iya (introvert).
Mengarang cerita memerlukan proses dialog dengan diri sendiri.
Jadi, relakan sedikit anak Anda bila ia rada kurang gaul dan pendiam, sebab sifat-sifat itu memang agak cocok dengan seorang pengarang (sekali lagi tak semuanya lho).
[8/1, 20:54] Rumpen Renny Wulan: ✅ Rangsang ide anak dengan hal-hal di luar rutinitas.

Misalnya ajak anak melakukan perjalanan ke tempat yang belum pernah didatangi atau bertemu orang yang unik baginya (seniman, peternak, penggembala, dll).
Tangkap ide (tuliskan di Buku Ide) tentang kejadian-kejadian kecil yang lucu. Lucu adalah rasa yang menggugah emosi. Hal yang menggugah emosi biasanya penuh dengan ide-ide keren.
[8/1, 20:55] Rumpen Renny Wulan: ✅ Latih anak untuk mampu membayangkan dengan menyuruhnya berkata _“Seandainya”_.

Misal: seandainya hewan bisa bicara, seandainya makanan pokok kita adalah es krim, dan lainnya.
Hal-hal demikian akan memaksa munculnya berbagai ide asyik.

Terakhir, kalau bisa, kunjungi seorang pengarang dan dapatkan tutor kepenulisan yang lebih baik dari yang Anda bisa lakukan.

Ikut sertakan kursus-kursus mengarang, atau minta guru di sekolah sesekali melakukan temu penulis. Tokoh real semacam ini akan memotivasi anak dengan sangat kuat.

Oke, Ayah dan Bunda. Semoga berguna. 😊
[8/1, 21:00] Rumpen Renny Wulan: Alhamdulillaah.. materi sudah tersampaikan seluruhnya.
Butuh waktu pasti untuk mencerna setiap penjelasan diatas, Bunda tak perlu khawatir, silahkan dipelajari terlebih dahulu dengan tenang..

Dan selajutnya sesi pertanyaan resmi saya buka yaa, saya tunggu pertanyaan dari Bunda hingga pukul 22.00 WIB..

5 orang penanya akan saya catat dulu pertanyaannya, saya tampung, dan akan dijawab langsung oleh kak Eka besok di hari kedua kulwapp kita, di jam yang sama kita mulai pukul 20.00 WIB

[8/2, 20:03] Eka Wardhana: Assalamu'alaikum, Ayah dan Bunda yang baik. Apa kabar? Semoga Allah Ta'ala senantiasa memberkahi majelis ilmu kita ini.
[8/2, 20:05] Eka Wardhana: Terima kasih atas segala atensi dan pertanyaannya, Ayah dan Bunda. Teori yang kemarin saya berikan ibarat awan, nah, pertanyaan-pertanyaan dari Ayah dan Bunda sekalianlah yang menariknya turun sebagai hujan ke bumi. Kita bersama sudah tahu bahwa hujan adalah rahmat, bukan?
[8/2, 20:05] Eka Wardhana: Baik, kita mulai dengan pertanyaan pertama dari Bunda Izzuddin. Selamat menyimak ya...
[8/2, 20:05] Eka Wardhana: • Pertanyaan ke-1 dari Bunda Izzuddin:
1. Bagaimana Contoh Mematangkan Plot Kasar?
2. Kenapa ide jadi pendek-pendek sehingga lebih senang menulis cerpen?
[8/2, 20:06] Eka Wardhana: Jawaban Pertanyaan 1: “Bagaimana Contoh Mematangkan Plot Kasar?”
Bunda, berikut saya coba beri contoh bentuk sebuah Plot Kasar dan bagaimana mematangkannya. Saya ambil contoh sebuah dongeng dari Negeri Cina yang berjudul “Kisah si Kembang Seroja”. Saya pernah mendongengkan cerita ini pada murid-murid sebuah SD di Bandung dan mereka menyukainya. Tentu saat itu saya selipkan unsur-unsur Islami dalam bentuk pelajaran moral, akhlaq sang tokoh dan tujuannya berjuang.
[8/2, 20:06] Eka Wardhana: Ide:
Perjuangan seorang gadis cantik dan baik budi bernama Kembang Seroja dalam mengalahkan 3 orang jahat
[8/2, 20:07] Eka Wardhana: Plot Kasar:
(Bagian Awal):
Kembang Seroja adalah gadis cantik dan berbudi. Ia hidup bersama ibunya di tepi sebuah hutan.

Ada 3 Laki-laki Jahat yang ingin memperbudak Kembang Seroja.

(Bagian Tengah):
3 Laki-laki itu berhasil merebut Kembang Seroja dari sang ibu dan memperbudaknya di rumah mereka yang sangat jauh.

Kembang Seroja berhasil melarikan diri

Kembang Seroja menikah dengan seorang Pangeran

3 Laki-laki jahat itu berhasil membuat Pangeran mengusir Kembang Seroja

Kembang Seroja berhasil mengalahkan 3 Laki-laki jahat itu di tempat pengasingannya

(Bagian Akhir):
Pangeran bertemu kembali dengan Kembang Seroja dan mereka hidup bahagia
[8/2, 20:08] Eka Wardhana: Plot Kasar yang Dimatangkan:
(Bagian Awal):
Kembang Seroja adalah gadis cantik dan berbudi. Ia hidup bersama ibunya di tepi sebuah hutan.

Karena hidup menyendiri, tak ada yang tahu nama Kembang Seroja kecuali ibunya

Ada 3 Laki-laki Jahat yang ingin memperbudak Kembang Seroja.

[8/2, 20:09] Eka Wardhana: (Bagian Tengah):
3 Laki-laki jahat itu menyamar jadi para bangsawan dan meminta agar Ibu Kembang Seroja menikahkan putrinya dengan salah satu dari mereka bertiga.

Ibu Kembang Seroja mengetahui niat jahat ketiganya, namun ia takut menolak. Maka Sang Ibu menjawab bahwa ia mengizinkan putrinya dibawa bila ketiga orang itu tahu nama sebenarnya dari Kembang Seroja.

3 Penjahat itu mengutus 3 ekor hewan berturut-turut untuk memata-matai rumah Kembang Seroja: Kelinci, Rubah dan Gagak

Kelinci dan Rubah gagal, sementara Gagak berhasil mengetahui nama Kembang Seroja.

Ketiga bangsawan palsu datang lagi dan memberi jawaban dengan benar

3 Laki-laki itu pun membawa ke rumah mereka yang sangat jauh.

Kembang Seroja diperbudak dan dipaksa bekerja keras

Kembang Seroja bermimpi bertemu ibunya yang sudah meninggal, sang ibu menunjukkan dimana Kembang Seroja bisa menemukan kerudung Sang Ibu.

Saat bangun, Kembang Seroja mencari dan memakai kerudung itu. Ia pun berubah menjadi seorang nenek renta.

Kembang Seroja berhasil melarikan diri dengan menyamar jadi nenek renta. Ketiga penjahat tak berhasil menemukannya.

Kembang Seroja tiba di sebuah istana dan melamar pekerjaan menjadi juru masak

Seorang pembantu secara kebetulan mengetahui bahwa bila kerudung si Nenek diganti, ia berubah jadi gadis cantik.

Pembantu itu lapor pada Pangeran yang masih bujangan

Pangeran pun melamar Kembang Seroja dan mereka menikah

Pangeran harus pergi berperang di tempat yang jauh

Saat melahirkan bayi yang tampan, Pangeran masih berperang, maka Kembang Seroja mengabarkan kabar gembira ini lewat surat kepada suaminya

Namun di tengah jalan si Pembawa Surat bertemu dengan 3 laki-laki jahat.

Ketiganya mengubah isi surat dan mengabarkan bahwa sang bayi berkepala sapi

Membaca surat itu, Pangeran jadi marah dan mengusir Kembang Seroja lewat surat

Kembang Seroja jadi sedih, ia pun pergi bersama bayinya ke sebuah hutan

Ketiga Laki-laki jahat itu menyamar jadi penjual buah dan datang ke tempat Kembang Seroja.

Kembang Seroja mengenali mereka dari cacat di wajah salah satu laki-laki itu, maka ia pun membuat lubang di halaman

Ketika ketiga laki-laki itu memaksa masuk, ketiganya terperosok ke dalam lubang yang disamarkan dan menemui ajalnya.

[8/2, 20:11] Eka Wardhana: (Bagian Akhir):
Saat pulang ke istana, Pangeran menyadari kesalahannya dan ia sangat menyesal

Berbulan-bulan ia mencari Kembang Seroja sampai akhirnya bertemu kembali.

Pangeran mengajak Kembang Seroja kembali ke istana dan mereka pun hidup bahagia
[8/2, 20:11] Eka Wardhana: Bagaimana, Bunda? Bukankah bila plotnya sudah matang, kita akan lebih mudah dalam menulis cerita? Siiip....
[8/2, 20:11] Eka Wardhana: Jawaban Pertanyaan 2: “Kenapa ide jadi pendek-pendek sehingga lebih senang menulis cerpen?”
[8/2, 20:12] Eka Wardhana: Bunda, sekali lagi kita harus menerima kenyataan bahwa tiap orang berbeda-beda. Kita dilahirkan dengan potensi yang berbeda, lingkungan yang berbeda, tradisi berbeda, kondisi sosial dan ekonomi yang berbeda pula. Semua itu membuat kita tumbuh menjadi pribadi yang khas dan tidak sama dengan orang lain.
[8/2, 20:12] Eka Wardhana: Saya kira mampu menulis cerita pendek pun sudah merupakan kelebihan sendiri, Bunda sama sekali tak perlu kecewa. Tinggal dijaga semangat dan konsistensinya, ya Bunda?
Namun, bila Bunda ingin mencoba menulis novel, langkah pertamanya adalah lebih seringlah membaca novel-novel berkualitas. Bila tak sanggup menyelesaikannya, akan sulit untuk bisa menulis novel. Namun bila sanggup (menyelesaikan membaca sebuah novel sampai selesai) dan terus dilakukan, Bunda akan terbiasa dengan literasi yang panjang. Maka Bunda pun akan lebih siap menulis lebih panjang dari biasanya.
Teknis menulis novel? Waaah, bisa bersesi-sesi nih, Bunda. Sementara ini cukup dulu yaaa...
[8/2, 20:13] Eka Wardhana: Demikian jawaban saya untuk penanya pertama. Mangga, Bu Renny...
[8/2, 20:18] Eka Wardhana: • Pertanyaan ke-2 dari Bunda Dita:
1. Putri Bunda Dita punya banyak ide dan menuliskannya, tapi tidak pernah tuntas (sampai selesai). Bagaimana tipsnya?
[8/2, 20:19] Eka Wardhana: Jawabannya:
Pertama, harus diterima bahwa memang begitulah anak-anak, Bunda. Ide-ide dan imajinasi mereka lebih besar dan lebih cepat dari kemampuan untuk mewujudkannya. Jadi apa yang putri Bunda lakukan adalah sangat wajar, karena hampir semua anak begitu. Saran saya: kumpulkan tulisan-tulisan yang tidak selesai itu. Suatu saat, ketika ia mulai siap, sodorkan lagi kumpulan itu padanya. Siapa tahu di saat itulah, ia sanggup menyelesaikan tulisan-tulisannya yang menggantung.
[8/2, 20:19] Eka Wardhana: Kedua, ajarkan ia membuat plot. Bagi saya, plot adalah kunci jawabannya. Coba perhatikan contoh plot tentang Kembang Seroja pada jawaban buat Bunda Izzuddin. Bukankah bila plotnya selesai, kita akan punya panduan kuat buat menyelesaikan cerita? Namun, bila putri Bunda belum mau membuat plot, tidak apa kok. Tunda saja sampai ia siap, yang penting jaga semangatnya dalam menulis dan kalau bisa: keep steril from the gadget. He..he....
[8/2, 20:28] Eka Wardhana: • Pertanyaan ke-3 dari Bunda Arie:
1. Bagaimana menumbuhkan rasa cinta membaca pada anak kinestetik yang rentang konsentrasinya pendek?
[8/2, 20:28] Eka Wardhana: Jawabannya:
Bunda, bagi kita orang dewasa, mungkin anak dengan tipe kinestetiklah yang dianggap paling memusingkan. Betul nggak, Bunda? He..he... Sebab orang dewasa terbiasa bersikap lebih tenang dan teratur. Bagi saya sendiri, tipe gaya belajar seperti ini memang lebih sulit diajak menekuni bacaan dibanding anak-anak dengan gaya belajar visual atau auditorial, misalnya. Sebab anak-anak kinestetik belajar dengan melakukan sesuatu, sementara bacaan baru sampai memberi tahu sesuatu. Jadi bila ingin anak-anak kinestetik lebih akrab dengan bacaan, tidak bisa dilakukan sekaligus, perlu ada tahapannya. Perlu kesabaran nih, Bunda...
[8/2, 20:29] Eka Wardhana: Ada beberapa cara, di antaranya adalah:
1. Tunjukkan bahwa apa yang senang ia lakukan, bisa ia temui juga dalam buku (terutama yang bergambar). Misalnya, bila ia senang sepak bola, belikan atau pinjam buku tentang para atlet sepak bola terkenal. Tunjukkan gambar-gambar stadion sepak bola terkenal, tunjukkan even-even hebat tentang sepak bola di buku. Jadi ubah dulu mindsetnya tentang buku, dari sesuatu yang membosankan dan membuatnya terbebani, menjadi sesuatu yang menyenangkan.
[8/2, 20:29] Eka Wardhana: 2. Bacakan cerita sebelum tidur. Biasanya, menjelang tidur, gairahnya untuk bergerak sedikit mereda, di saat itulah sebaiknya Bunda membuka buku dan mengajaknya menikmati gambar-gambar dan berceritalah. Sekali lagi, hal ini akan membantu mengubah anggapannya tentang buku menjadi lebih positif.
[8/2, 20:30] Eka Wardhana: 3. Perhatikan usianya, semakin tua, semakin mungkin diajak lebih menikmati buku.
[8/2, 20:30] Eka Wardhana: 4. Salurkan potensi kinestetiknya. Bila ia senang bersepeda, biarkan ia bersepeda. Demikian juga dengan kegiatan lain seperti berenang, jalan-jalan, berlari dan lainnya. Dengan menyalurkan energi kinestetiknya, anak akan lebih mudah menjadi diri sendiri. Apalagi bila tahu orangtuanya mendukung ia apa adanya, anak akan merasa lebih nyaman. Anak yang merasa nyaman dan puas akan lebih mudah diajak berkompromi dan melakukan sesuatu, seperti diajak membaca, misalnya. Jadi, jangan sekali-kali menutup peluang untuk melakukan kegiatan kinestetik sambil langsung mengarahkannya agar ia jadi suka membaca. Waaah, itu namanya memaksa, Bunda. Sebaiknya kita jadi orangtua yang demokratis, bukan otoriter.
[8/2, 20:30] Eka Wardhana: Nah, hal di atas hanya sekadar saran, Bunda. Saya yakin, Bunda akan menemukan cara-cara lain yang lebih efektif dan lebih khas anak Bunda. Sebab tak ada orang lain (sepintar apapun) yang lebih tepat menjadi ibu atau ayah seorang anak selain orangtuanya sendiri....
[8/2, 20:38] Eka Wardhana: • Pertanyaan ke-4 dari Bunda Asmaliyah:
1. Anak Bunda suka menuliskan perasaan di secarik kertas, juga menggambar dan disertakan percakapan. Apa bisa dikatakan sebuah bakat?
2. Bagaimana menumbuhkan kecintaan anak untuk bisa menulis dan mengembangkan bakatnya?
[8/2, 20:39] Eka Wardhana: Jawaban Pertanyaan 1: “Anak Bunda suka menuliskan perasaan di secarik kertas, juga menggambar dan disertakan percakapan. Apa bisa dikatakan sebuah bakat?”
[8/2, 20:39] Eka Wardhana: Bunda yang baik, bakat itu terlihat bila seseorang lebih mudah menguasai suatu hal dibanding orang kebanyakan. Beda lho dengan yang namanya “Minat”. Minat adalah kecenderungan seseorang kepada suatu hal dibanding hal yang lain. Namun Minat dan Bakat terkadang memang berhubungan. Bila diibaratkan kapal laut, minat adalah kompas yang menunjukkan arah, sementara bakat adalah mesin yang menunjukkan apakah ia mampu sampai tujuan atau tidak.
[8/2, 20:40] Eka Wardhana: Biasanya minat lebih luas dan lebih banyak dari bakat. Banyak orang yang sangat berminat pada sepak bola tapi tidak mempunyai bakat. Mungkin akhirnya ia jadi supporter atau manajer tim klub sepak bola.
[8/2, 20:40] Eka Wardhana: Jadi, untuk tahu apakah seorang anak berbakat menulis atau tidak, diperlukan waktu untuk mengamatinya. Bunda dampingi saja (misalnya: beri waktu ia menulis, tanggapi positif karyanya, belikan kertas buat ditulis, dll). Bila ternyata karyanya jadi semakin baik dan semakin serius, apalagi bila sanggup menghasilkan karya yang unik, berbeda, bahkan melebihi anak-anak lain, bisa jadi ia memang berbakat di situ. Sekadar saran: Bunda bisa tanya pada psikolog. Setahu saya mereka punya perangkat tes untuk meneliti minat dan bakat seorang anak.
[8/2, 20:41] Eka Wardhana: Jadi, saya tidak bisa menjawab secara gamblang apakah anak Bunda punya bakat atau tidak, jawabannya tergantung waktu dan pendampingan Bunda. Namun jangan kecewa bila ternyata tidak, sebab ia pasti punya bakat di bidang yang lain. Yah, itulah tugas kita sebagai orangtua....
[8/2, 20:41] Eka Wardhana: Jawaban Pertanyaan 2: “Bagaimana menumbuhkan kecintaan anak untuk bisa menulis dan mengembangkan bakatnya?”
[8/2, 20:41] Eka Wardhana: Baik, Bunda. Untuk pertanyaan ini saya sarankan agar Bunda mengikuti materi yang sudah saya sampaikan. Itulah jawaban terbaik yang saya punya. Semoga usaha, doa dan cinta Bunda kepada putra/putri Bunda akan berbuah pahala di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
[8/2, 20:48] Eka Wardhana: • Pertanyaan ke-5 dari Bunda Achie:
1. Kapan Kak Eka adakan kelas menulis? Bunda ingin menulis buku anak
2. Buku apa saja yang harus dibaca agar bisa menulis buku anak?
[8/2, 20:48] Eka Wardhana: Jawaban Pertanyaan 1: “Kapan Kak Eka adakan kelas menulis? Bunda ingin menulis buku anak”
Wah Bunda, ini adalah pertanyaan yang agak menusuk hati saya, sebab saya takut kalau sedikit ilmu Allah yang dititipkan pada saya ini tidak saya sampaikan. He..he...
[8/2, 20:49] Eka Wardhana: Baik, Bunda. Sekadar cerita: bertahun-tahun yang lalu hiduplah seorang putri dalam istana... (Eh, bukan ding... ha..ha...). Bertahun-tahun yang lalu saya pernah membuka kelas menulis fiksi untuk anak-anak dan Bunda-Bunda. Kelas itu adalah kelas tatap muka langsung, sebab zaman dulu belum ada fasilitas internet seperti sekarang. Mulai dari anak kelas 2 SD sampai 3 SMU pernah ikut kelas ini. Juga mulai Bunda yang masih berstatus Mahmud (Mamah Muda) sampai Bunda yang sudah berstatus Lolita (Lolos Lima Puluh Tahun) pernah ikutan kelas saya. Seru juga sih. Kegiatan itu berhenti karena kesibukan lain. Berhenti, tapi sangat berkesan, karena salah seorang Bunda peserta kelas saya berhasil menjadi seorang penulis anak dengan gaya bilingual (ceritanya berbahasa Indonesia dan Inggris). Tentu bukan karena saya yang ngajarin, tapi lebih karena usaha hebat sang Bunda. Namun tentu saja, saya tetap bangga padanya.
[8/2, 20:49] Eka Wardhana: Bila memang diperlukan, insyaa Allah bisa saya siapkan Kelas Menulis Fiksi di zaman internet ini (tanpa bertatap muka langsung). Misalnya lewat media WA seperti sekarang. Namun saya ingin kelasnya terbatas. Bukan bermaksud eksklusif, tapi saya ingin para pesertanya sampai berhasil melahirkan karya yang baik. Untuk itu diperlukan waktu untuk menilai dan mengevaluasi setiap karya. Dan itu tidak mungkin dilakukan bila pesertanya terlalu banyak.
[8/2, 20:50] Eka Wardhana: Sementara itu, saya sebenarnya ingin menerbitkan dulu buku tentang menulis fiksi ala Rumah Pensil (yang sekarang sedang digarap adalah buku tentang mendongeng). Bila sudah ada bukunya, kita akan bisa berangkat dari titik yang sama. Kan jadi keren, Bunda. Iya nggak? He..he..
[8/2, 20:50] Eka Wardhana: Jadi, sudah ada rencana sih, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat. Namun, kalau memang sudah tak sabar, insyaa Allah bisa saja dieksekusi. Hanya saja, mohon maaf, tidak lagi dengan cara bertatap muka, tetapi dengan melalui dunia maya. Mangga, silakan dirayu saja tuh Bu Ria dan Bu Renny. Huehehe...
[8/2, 20:51] Eka Wardhana: Tentu saja, buku cerita anak, Bunda. Namun saya sarankan sih, Bunda baca yang bergenre dongeng. Sebab, dalam dongeng terkandung lengkap berbagai aspek kepenulisan yang bagus: mulai dari ide, plot, karakter, pemilihan kata dan lain-lain. Pokoknya, dongeng itu keren banget. Tapi sayangnya, memang tak banyak yang bernafaskan islam. Udah deh, baca saja buku-buku Rumah Pensil. Hihi...
[8/2, 20:51] Eka Wardhana: Tapi Bunda, menurut saya Bunda bisa kok baca dongeng-dongeng yang umum. Sekadar membiasakan diri dan menyelam ke dalam dunia kepenulisan anak. Hanya saja nanti saat menulis, saran saya sebagai seorang muslim, Bunda harus mampu menahan diri dari menulis hal-hal berbau syirik. Saya sendiri selalu berusaha sekuat tenaga menjauhi kisah-kisah tentang peri, sihir, hantu dan cinta-cintaan ala princes. Soalnya, memang hal-hal demikianlah yang membuat dongeng-dongeng ala Barat jadi demikian menarik.
[8/2, 20:52] Eka Wardhana: Terus terang ah, waktu kecil saya banyak melahap karya-karya Andersen dan Grimm Bersaudara. Merekalah guru-guru saya dari masa lalu. Mereka berkarya di masa-masa emas dunia dongeng, saat televisi dan internet belum memasuki pikiran anak-anak. Jadinya, kisah mereka begitu murni dan hidup. Sayang, saya belum mendapati penulis dongeng muslim yang bisa menulis dengan indah sekaligus lurus aqidahnya. Dongeng Seribu Satu Malam? Memang sih, dilahirkan dalam dunia sastra muslim tapi dari segi aqidah, isinya terkadang lebih parah dari dongeng Barat. Bila untuk dibaca, silakan, sebab 1001 malam sebenarnya karya yang indah dan tidak kalah bagus dari Andersen dan Grimm bersaudara. Tapi ya itu, hanya sebagai wawasan, jangan ketularan ikut menulis hal semacam itu nantinya.
Nah, Bunda. Selamat membacaaa...

Resume Diskusi: Desain Global Sekolah Unggul

 Bismillah.. alhamdulillah malam ini bisa bergabung di diskusi online Kelas 100 Guru PAUD berjudul Desain Global Sekolah Unggul. Pematerinya...