Senin, 27 November 2017

Si Tetes Air

SiaNg ini, umi berkisah tentang Mekkah sampai suku Badui (Mute 1) jelang dedek Fatimah boci, Kakak juga nyimak lagi. Dulu Kakak memulai kisah Mute juga setelah usia 2 th, karena dulu baru punya hehee. Kali ini Kakak mulai banyak bertanya, alhamdulillah, lebih interaktif. Setelah Dede tidur, lanjut bercerita kepada Kakak Rafifa tentang air hujan. Lalu nyambung ke kualitas air yang berubah karena sampah, tentang pentingnya mengolah sampah dan menjaga lingkungan, tentang banjir, lalu ke soal kerennya kalo kita punya hotel syariah (bisa membantu banyak orang & mengolah sampah sendiri).
Ini kisah hujannya:


Hallo, Aku si Tetes Air.
Sekarang aku ada di gayungmu.
Tapi Kamu tau tidak aku asalnya darimana?
Begini ceritanya...
Aku tadinya ada di laut, di air laut.
Bersama temanku aku naik menguap dibantu sinar matahari.
Lalu berkerumun bersama teman-temanku menjadi awan.
Kami tertiup angin sampai ke arah gunung.
Semakin lama kami semakin berat.
Atas izin Allah kami mencair menjadi hujan.
Aku dan teman-teman jatuh ke tanah dan meresap.
Lalu menjadi air tanah.
Kami mengalir ke sungai.
Aku terus mengalir masuk ke sumurmu.
Eh tiba-tiba ada yang menyedotku.
Ooh ternyata itu pompa airmu.
Akupun naik melalui pipa ke toren air.
Lalu ketika kamu membuka keran, cuus aku meluncur lagi menuju ember.
Taraaaa.. aku sekarang ada di gayungmu. 😊

Jumat, 24 November 2017

Bapak Yang Berbisik


Frekuensi suara seorang ayah dikatakan lebih rendah daripada seorang ibu, maka dirasa lebih nyaman bagi anak. Percaya?
Kalimat lembut seorang ayah mampu membangkitkan jiwa. Pernah mengalaminya?
Ya, saya pernah mengalaminya.

Waktu kecil, sekitar usia SD, kalau ada apa-apa atau ada yang diinginkan, saya selalu curhat sama Bapak di rumah. Seringkali saya bicara sama Bapak berdua saja saat Mamah tidur. Hehehe ini karena sifat Bapak yang lebih sabar mendengarkan apa yang saya sampaikan. Suatu kali, saya curhat sama Bapak tentang teman saya yang sangat pintar di kelas, dia juara kelas. Saat itu saya baru pindah sekolah, saya naik kelas 4 kalau gak salah. Saya merasa takut tidak bisa meraih peringkat pertama seperti di sekolah sebelumnya. Setelah menyimak kegalauan saya, Bapak dengan lembut namun penuh penekanan bilang, “Dia makan nasi, kita makan nasi, kalau dia bisa, kita juga bisa. Jangan takut! Kalau teteh mau sesuatu, minta sama Allah. Tahajud! Bangun tengah malem, sholat minta sama Allah. InsyaAllah Allah akan kabulkan. Mun keyeng tangtu pareng.” Mun keyeng tangtu pareng adalah pribahasa Basa Sunda yang artinya there is a will, there is a way. Sejak saat itu, kalau saya punya keinginan, sekalipun itu sekedar ingin rambut panjang, jurus utama saya adalah bangun tengah malam dan tahajud. Ketika saya takut mengambil wudhu atau malas untuk shalat, saya akan tetap bangun tengah malam, berdo’a dan tidur lagi. Hehehe. Jurus keduanya tentu berusaha dengan cara-cara yang lebih keras guna menggapai apa yang saya inginkan itu.

Bisikan Bapak yang lembut yang merasuk kalbu kecil saya waktu itu terbawa hingga kini. Jurus itu telah mengiringi saya menggapai prestasi akademik hingga lulus S1 dengan hasil memuaskan. Selanjutnya mengiringi setiap langkah saya dalam menjalani kehidupan yang penuh liku ini, wess hehe tapi bener loh. Ketika saya ingin sesuatu, atau merasa down melihat kehebatan orang lain, atau saat akan melakukan tugas spesial untuk pertama kalinya, kalimat motivasi dari Bapak itu selalu terngiang dan menjadi motor penggerak sekaligus penghilang rasa gugup. Meskipun kalimat motivasi itu sudah umum dikenal orang, tapi karena Bapak sendiri yang membisikkannya menjadi terasa lebih istimewa bagi jiwa.

Frekuensi suara yang berbeda antara laki-laki dan perempuan adalah karunia dari Allah yang pasti memiliki fungsi istimewa masing-masing. Berbekal pengalaman ini, saya mengajak para ayah agar menyediakan waktu khusus untuk ngobrol dengan anak-anak. Bisikkanlah kalimat-kalimat Allah yang sempurna untuk mengokohkan jiwa-jiwa mereka. InsyaAllah, anak-anak akan selalu melihatmu saat jiwa mereka mencari kalimat kekuatan. Bisikanmu akan menjadi amal jariyah buatmu.😍

These words are dedicated to my lovely father, Bapak Toto Toyib.
Semoga Bapak selalu sehat wal ‘afiat, sejahtera lahir batin, dan sukses dunia akhirat.
I love you ❤

Rabu, 15 November 2017

Mamahku Pahlawanku



Sejak beliau pergi, saya selalu ingin menuliskan kisah tentangnya. Namun, saya selalu takut jadi sedih. Hemmh.. tapi memang penting menuliskan kisah tentangnya, selain untuk mengikat kenangan, insyaAllah kisah ini akan bermanfaat untuk menumbuhkan rasa cinta setiap anak pada ibunya. 

Well,saya mulai kisahnya yaa.. eits berdo'a dulu deh, allohummaghfirlaha warhamha wa'afihaa wa fu'anha.

Mamah, begitulah saya memanggilnya. Keluarga dan kerabat memanggilnya dengan nama kecilnya, Neneng. semua keponakannya memanggilnya Amih. Nama lengkapnya Siti Komariah binti Enjum Prawiradinata. She was such a very beautiful woman. I wish I said this all the time to her. Astaghfirullah.. Tuh kaah.. mulai panas nih mata. 😢 

Lanjut... Mamah kecil adalah anak yang dimanja dan selalu diprioritaskan terutama oleh Bapa Aki (ayahnya). Ini bukan tanpa alasan. Ini karena Mamah terlahir dengan diagnosa kelainan klep jantung. Mamah menjadi anak yang lemah secara fisik, tak boleh cape. Ini berlanjut hingga Mamah menikah dan punya anak. Punya anak?! Yah, ini sebuah anugerah dari Allah. Secara kan secara medis, wanita dengan riwayat kelainan klep jantung disarankan tidak boleh hamil, karena sangat beresiko tinggi. Waktu usia mudanya, Mamah divonis dokter usianya tidak akan sampai 35 tahun. Tapi subhanallah, usia makhluk adalah mutlak hak Allah. Mamah menikmati hidup di dunia ini sampai punya cucu 2 di usia jelang 53 tahun. Allah kasih bonus yang sangat banyak kan?! Terima kasih, Allah.

Meski Mamah anak manja, tak pernah mengerjakan pekerjaan rumah, tapi setelah menikah, Mamah bertransformasi menjadi ibu rumah tangga sejati. Mamah was weak yet strong. Setelah menikah di usia 21, Mamah kehidupan baru yang benar-benar baru. Seperti kebanyakan orang, Mamah dan Bapa memulai hidup dari 0. Pasangan muda ini berusaha berdiri di kaki sendiri. Bapa bekerja serabutan. Mamah yang tak lagi bisa mendapat sokongan kemudahan secara materi dari orang tuanya karena kebangkrutan setelah ayahnya meninggal, harus ikut mencari nafkah dengan yang bisa dilakukannya kala itu: berdagang es sirop dan menjual kapulaga yang dia pungut sendiri di kebun Uwanya. Kemudian Allah mentakdirkan Mamah dan Bapa menjadi guru PNS. Jalan rezeki mereka berubah. Meskipun Mamah bekerja diluar rumah, beliau tetap menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga dengan sangat baik. Sempat ada asisten rumah tangga yang diperkerjakan setelah Mamah melahirkan anak kedua. Itu untuk meringankan bebannya karena Mamah tak boleh cape, apalagi terlalu cape. 

Mamah was weak yet strong. Seingatku, waktu aku kecil, sangat sering saya dapati Mamah diantar pulang dari sekolah karena pingsan. Hampir setiap bulan Mamah masuk rumah sakit. Sejak itu saya tahu bahwa Mamah punya penyakit jantung dan gak boleh cape. Tapi ya sebatas tahu saja. Saya kerap kali merepotkannya hingga saya dewasa. astaghfirullah.

Mamah yang awalnya awam dengan ajaran Islam, berubah semakin baik dalam didikan suami. Mamah yang penuh dedikasi untuk keluarga, menjalankan perannya dengan sangat optimal meski tak pernah ikut kajian parenting seperti saya. Mamah selalu ada saat kami butuhkan. Bahkan jika saya refleksi dengan hasil didikannya kepada saya dan adik, membuat saya bertanya darimana Mamah tahu semua teori parenting itu?! Yang paling menonjol adalah caranya yang tepat dalam melihat bakat kami yang sama sekali berbeda. Saya yang suka belajar dengan membaca dan adik yang psikomotornya lebih kuat. Mamah dan Bapa memperlakukan kami dengan cara berbeda. Dulu saya hampir selalu iri sama adik. Saya kira Mamah dan Bapa tidak adil. Saya mah paling dibeliin buku itu juga buku pelajaran dan penunjangnya. Tapi adik dibeliin sepatu, kaos olahraga baru, raket baru, dan alat olahraga lainnya hampir setiap bulan. Hemmh, tapi setelah belajar tentang parenting, saya baru faham soal beginian. Setiap anak istimewa dan berbeda kecerdasannya. Nah loh, tahu darimana ya Mamah dan Bapa soal ini? Pasti dari petunjuk Allah. 😊

Selain itu, Mamah sangat cekatan mengelola keluarga, meski tak pernah baca buku Bunda Cekatan seperti saya. Mamah yang lemah tapi kuat, selalu bangun jam setengah 3 dini hari untuk shalat, bersihin rumah dan pak pik pek di dapur. Mamah seorang yang perfeksionis. Setiap hari Mamah tak sekedar menyapu, tapi mengelap semua perabotan besar di rumah. Kami selalu dapati setiap subuh rumah sudah rapi dan jam 6 kami sudah siap sarapan. Ini kemudian saya tahu bahwa ritme Mamah ini sungguh melelahkan secara fisik, bagi saya apalagi bagi Mamah yang tak boleh cape. Sampai sekarang saya belum bisa mengikuti cara Mamah ini dengan konsisten. Allah, I wish I could turn back time. Saya menyesal telah begitu mengandalkan Mamah selama itu. Jarang sekali membantu Mamah. Kerasa banget pas lebaran Idul Fitri pertama tanpa Mamah, meski saya bangun jam 2, pak pik pek motong ketupat, manasin opor dan daging, bersihin rumah, menata kue-kue di meja, Ya Allah, hasilnya tak sesempurna yang Mamah lakukan. Sedih dan cape sekali waktu itu. Kerasa banget kalo kehilangan sosok ibu mah seolah kehangatan rumah ikut hilang. Mamah sungguh cekatan, management skill nya amazing. Saya menyesal tak banyak belajar padamu, Mah. 😢

Mamah sangat profesional menjalankan peran publiknya sebagai guru. Mamah tak sekedar mengajar, beliau tak segan menegur muridnya demi kebaikan dalam rangka mendidik. Tak heran jika kemudian begitu banyak murid Mamah yang memiliki kesan mendalam kepadanya. Mamah pun sukses menjadi rekan terbaik bagi banyak orang. Mamah selalu menjadi tempat curhat rekan-rekannya di sekolah. Mamah bagi mereka adalah figur ibu dan istri yang sukses. alhamdulillah. Mamah bunda sholeha yang kasih sayangnya tak hanya dirasakan oleh kami keluarganya, melainkan juga pada warga sekitar dari mulai anak kecil hingga janda tua. Setiap kali panen, Mamah tak pernah lupa memberi sedikit beras kepada yang membutuhkan, baik dari kalangan janda dan duda tua di sekitar rumah maupun kepada rekan-rekannya. Setiap lebaran, musim imtihan madrasah, musim samen sekolah atau musim piknik sekolah, Mamah selalu ingat memberi bekal kepada keponakan-keponakannya dan anak kecil sekitar rumah. Sebagai guru, Mamah selalu ikut berkontribusi mengusulkan anak-anak desa kami yang bersekolah di tempat Mamah mengabdi untuk mendapat beasiswa yang layak bagi mereka. Di keluarga, Mamah dikenal sebagai pribadi yang selalu menyambung tali silaturahim, sampe ada kalimat dari salah seorang kerabat kami, "Mun teu ku si Neneng mah matak pareumeun obor keluarga urang teh" maksudnya kalo bukan karena Mamah, simpul-simpul kekerabatan di keluarga kami bakal hilang. Hal kecil yang ternyata efeknya tidak kecil adalah kebiasaan Mamah ngongkosin siapapun yang beliau kenal atau kenal beliau saat ketemu di angkot. 

Mamah tak begitu sering ikut pengajian atau baca buku Islam, tapi pengamalan agamanya sungguh melebihi saya yang bercita-cita menjadi ustadzah. AllahuAkbar, malu saya..sungguh malu. Kisah Mamah ini bagi saya sungguh inspiratif. Dengan ilmu sedikit, Mamah melakukan amal yang banyak dan kontinyu. Mamah yang weak yet strong bisa menjumpai husnul khotimah (insyaAllah) di penghujung hidupnya. 

Saya sungguh terharu lega melepas Mamah di penghujung Maret 2016 lalu ketika melihat begitu banyak bergelombang orang yang datang takziah dan menyolatinya. Mengingat masa itu air mata ini mengalir nih. Subhanallah, Mamah yang dicuci dosanya dengan kesabaran atas sakit selama 2 bulan terakhir sebelum pulang ke kampung abadi, meninggalkan detik-detik terakhir yang bermakna bagi seluruh keluarga. Setiap dari kami, suami, anak-anak, kakak-kakak, adik-adik dan kerabat dekat membersamai Mamah dengan penuh ketulusan dan kesabaran. Ini pasti Allah yang mengkondisikan. Kami yang saat itu sedang mempersiapkan pernikahan adik yang akan dilangsungkan bulan April, dibuat selalu berkumpul di rumah. Perasaan kami saat itu harap-harap cemas karena melihat kondisi Mamah yang sudah masuk RS 3x dalam sebulan tidak menunjukan kemajuan yang membahagiakan. Biasanya setelah pulang dari RS, Mamah berangsur pulih, tapi kali itu tidak. Kakak dan adik Mamah merasakan firasat buruk dengan melihat mata dan gerak-gerik Mamah, tapi mereka berusaha bersikap tegar dan motivatif di depan Mamah. Saya pun begitu, saya selalu meminta kepada Allah untuk bisa bersikap dengan baik dan tepat. Saya selalu minta dikuatkan apapun yang akan terjadi. Hingga kabar duka pun datang malam itu. Dari rumah sakit, ambulans membawa jenazah pahlawanku. 

Mamah kini jasadnya tak bisa kupeluk lagi. Tapi semua kenangan tentangnya menjadi inspirasi yang hidup dalam jiwa ini. Setiap keringat dan air matanya dalam mendidik dan mengurusku harus menjadi amal jariyah terbaik baginya. Setiap gerak langkahku harus menjadi kado harian yang dikirimkan malikat padanya. Semoga Allah selalu membimbing dan memudahkan saya dan keluarga untuk meneruskan segala amal baiknya. Aamiin Ya Rabbal'alamiin.


Allahummaghfirlaha warhamha wa'afihaa wa fu'anha untuk Mamah Neneng Siti Komariah binti Enjum Prawiradinata.
Lahir  : Ciamis, 1 Juli 1963
Wafat : Tasikmalaya, 27 Maret 2016 (18 Jumadil Akhir 1437 H)

Resume Diskusi: Desain Global Sekolah Unggul

 Bismillah.. alhamdulillah malam ini bisa bergabung di diskusi online Kelas 100 Guru PAUD berjudul Desain Global Sekolah Unggul. Pematerinya...