Kuliah Bunda Sayang IIP
KOMUNIKASI PRODUKTIF, IT'S A WOW WAY!
Kata-kata itulah yang mengiringi saat saya menyimak materi yang disajikan dalam kuliah Komunikasi Produktif di IIP ini. Juga saat saya dengan tertatih menjalankannya dalam berkomunikasi dengan orang-orang tercinta, terutama anak-anak saya yang masih kecil (5 th & 1,5 th).
There Is NO FAILURE, only WRONG RESULT, so we have to CHANGE OUR STRATEGY!
Kalimat keren ini yang sekarang menjadi moto baru hidup saya. Hasil komunikasi adalah sepenuhnya tanggungjawab kita. Jadi tak boleh lagi mencari kambing hitam atau merasa jengkel ketika orang lain tidak memahami maksud dari komunikasi yang kita lakukan.
Sebelum mengikuti kuliah komunikasi produktif, ketika berkomunikasi dengan suami seringkali saya berada pada ego anak-anak. Faktor arkeopsikis cukup dominan dalam diri saya. Sehingga tak jarang, transaksi komunikasi silang lah yang terjadi. Alhamdulillah setelah mengunya pembahasan dalam kuliah, sekarang transaksi kami bergeser ke arah transaksi komplementer. Saya merasa sudah bisa mengimbangi suami yang selalu dalam ego state dewasa. Saya belajar bersikap logis. Naah sedangkan dalam berkomunikasi dengan anak, sebelumnya saya sangat dominan dalam ego state orang tua. Maka tak heran jika transaksi silang juga yang terjadi, dan ini cukup menguras emosi dan energi. Akhirnya saya pun sekarang lebih waras dan mencoba semakin cerdas dalam menyampaikan dan menerima komunikasi dengan dan dari anak.
Rumus-rumus komunikasi produktif seolah berseliweran setiap saat menjaga agar ego state saya sesuai dengan yang dibutuhkan, agar komunikasi saya dengan orang-orang terkasih menjadi lebih baik. Pikiran positif, kalimat produktif, FoR/FoE kita, Nalar panjang, clear & clarify, Kaidah 7-38-55, KISS, diksi positif, intonasi ramah, eye contact, the right time, I'm responsible for my communication result, strategi baru atas 12 gaya populer, dan yang paling renyah adalah rumus gaya bahasa cinta. 😄
Saya baru tahu kalau manusia memiliki bahasa cinta dalam berkomunikasi. Ada 5 cara anak-anak dan manusia dalam memahami dan mengekspresikan cinta menurut Gary Champan & Ross Champbell, MD (The Five Love Languages of Children): sentuhan fisik, kata-kata mendukung, waktu bersama, pemberian hadiah, dan pelayanan. Berdasarkan pengamatan saya, anak pertama saya (5 th) memiliki semua gaya itu. Tetapi saat saya tanyakan kepadanya secara langsung dengan pilihan keempat gaya vs gaya waktu bersama.
"Ka, lebih suka belajar bareng umi atau dikasih hadiah?" "Belajar bareng umi."
"Ka, lebih seneng dipuji atau ngaji sama umi?" "Ngaji sama umi."
"Ka, lebih seneng disuapi umi atau main lego sama umi?" "Main lego sama umi."
"Kaka lebih seneng baca buku sama umi atau dipeluk umi?" Dia mikir lalu jawab sambil teriak, "Baca buku sambil dipeluk!" 😂 😆
Kemudian, dapat saya simpulkan bahwa bahasa cinta yang dominan dalam anak sulung saya itu adalah waktu bersama. Sedangkan suami saya dominan dengan gaya pelayanan. Saya sendiri, hemmmhh apa ya? Saya cenderung lebih suka kata-kata mendukung yang dilengkapi sentuhan fisik. hehehe.. Mood booster saya adalah pelukan. So, sentuhan fisik mungkin yang dominan ya.. 😃Honestly, tantangan paling besar yang saya hadapi adalah berkomunikasi dengan anak-anak yang masih kecil ini. Sangat menguras emosi. Tapi, kata guru tercinta, Bu Septi, "Jangan pernah menyerah meski kadang merasa lelah!" Maka, mari taklukkan tantangan yang menghadang dengan strategi cemerlang. Alhamdulillah setelah hampir satu bulan ini mempraktekkan ilmu kompro, sumbu saya lebih panjang dari sebelumnya. 😅
Saat ini saya masih berada dalam tahap heteronomi. Tanda-tanda awal dalam indikator komunikasi produktif sudah terlihat dalam diri saya, namun saya masih belum konsisten menuliskannya. InsyaAllah saya akan berusaha terus untuk meningkatkan kualitas komunikasi produktif dalam keluarga khususnya. Jika saya sudah terampil berkomunikasi produktif dalam keluarga, insyaAllah saya akan lebih luwes dalam berkomunikasi di ring yang lebih luas.
Alhamdulillah..rasa syukur sangat membuncah dalam diri saya saat berinteraksi dalam IIP ini. Semoga Allah memudahkan saya meraih cita menjadi ibu profesional dan semoga Allah senantiasa memberkahi keluarga founders dan para fasilitator IIP atas ilmu yang bermanfaat ini. Aamiin..
Salam. 👰

Tidak ada komentar:
Posting Komentar