Rabu, 22 Februari 2017

Melatih Kemandirian Anak

📒 *Resume Diskusi Materi "MELATIH KEMANDIRIAN ANAK"* 📒
*Kelas Bunda Sayang Kordi*
Narasumber : Bu Septi Peni Wulandani
Senin, 20 Februari 2017
Pukul 20.00 - 21.00 WIB
➖➖➖➖➖➖➖
Institut Ibu Profesional
Materi Bunda Sayang Sesi #2
MELATIH KEMANDIRIAN ANAK

Mengapa melatih kemandirian anak itu penting?
Kemandirian anak erat kaitannya dengan rasa percaya diri. Sehingga apabila kita ingin meningktkan rasa percaya diri anak, mulailah dari meningkatkan kemandirian dirinya.
Kemandirian erat kaitannya dengan jiwa merdeka. Karena anak yang mandiri tidak akan pernah bergantung pada orang lain. Jiwa seperti inilah yang kebanyakan dimiliki oleh para enterpreneur, sehingga untuk melatih enterpreneur sejak dini bukan dengan melatih proses jual belinya terlebih dahulu, melainkan melatih kemandiriannya.
Kemandirian membuat anak-anak lebih cepat selesai dengan dirinya, sehingga ia bisa berbuat banyak untuk orang lain.
Kapan kemandirian mulai dilatihkan ke anak-anak?
Sejak mereka sudah tidak masuk kategori bayi lagi, baik secara usia maupun secara mental. Secara usia seseorang dikatakan bayi apabila berusia 0-12 bulan, secara mental bisa jadi pola asuh kita membiarkan anak-anak untuk selalu dianggap bayi meski usianya sudah lebih dari 12 bulan.
Bayi usia 0-12 bulan kehidupannya masih sangat tergantung pada orang lain. Sehingga apabila kita madih selalu menolong anak-anak di usia 1 th ke atas, artinya anak-anak tersebut secara usia sudah tidak bayi lagi, tetapi secara mental kita mengkerdilkannya agar tetap menjadi bayi terus.
Apa saja tolok ukur kemandirian anak-anak?
☘Usia 1-3 tahun
Di tahap ini anak-anak berlatih mengontrol dirinya sendiri. Maka sudah saatnya kita melatih anak-anak untuk bisa setahap demi setahap meenyelesaikan urusan untuk dirinya sendiri.
Contoh :
✅Toilet Training
✅Makan sendiri
✅Berbicara jika memerlukan sesuatu
🔑Kunci Orangtua dalam melatih kemandirian anak-anak di usia 1-3 th  adalah sbb :
👨👩👦👦 Membersamai anak-anak dalam proses latihan kemandirian, tidak membiarkannya berlatih sendiri.
👨👩👦👦 Mau repot di 6 bulan pertama. Bersabar, karena biasanya 6 bulan pertama ini orangtua mengalami tantangan yang luar biasa.
👨👩👦👦Komitmen dan konsisten dengan aturan
Contoh:
Aturan berbicara :
Di rumah ini hanya yang berbicara baik-baik yang akan sukses mendapatkan apa yang diinginkannya.
Maka jangan pernah loloskan keinginan anak apabila mereka minta sesuatu dengan menangis dan teriak-teriak.
Aturan bermain:
Di rumah ini boleh bermain apa saja, dengan syarat kembalikan mainan yang sudaj tidak dipakai, baru ambil mainan yang lain.
Maka tempatkanlah mainan-mainan dalam tempat yang mudah di ambil anak, klasifikasikan sesuai kelompoknya. Kemudian ajarilah anak-anak, ambil mainan di tempat A, mainkan, kembalikan ke tempatnya, baru ambil mainan di tempat B. Latih terus menerus dan bermainlah bersama anak-anak, jadilah anak-anak yang menjalankan aturan tersebut, jangan berperan menjadi orangtua. Karena anak-anak akan lebih mudah mencontoh temannya. Andalah teman terbaik pertama untuknya.
☘Anak usia 3-5 th
Anak-anak di usia ini sedang menunjukkan inisiatif besar untuk melakukan kegiatan berdasarkan keinginannya
Contoh :
✅ Anak-anak lebih suka mencontoh perilaku orang dewasa.
✅Ingin melakukan semua kegiatan yang dilakukan oleh orang dewasa di sekitarnya
🔑Kunci Orangtua dalam melatih kemandirian anak di usia 3-5 th adalah sbb :
👨👩👦👦Hargai keinginan anak-anak
👨👩👦👦Jangan buru-buru memberikan pertolongan
👨👩👦👦 Terima ketidaksempurnaan
👨👩👦👦 Hargai proses, jangan permasalahkan hasil
👨👩👦👦 Berbagi peran bersama anak
👨👩👦👦 Lakukan dengan proses bermain bersama anak
Contoh :
✅Apabila kita setrika baju besar, berikanlah baju kecil-kecil ke anak.
✅Apabila anda memasak, ajarkanlah ke anak-anak masakan sederhana, sehingga ia sdh bisa menyediakan sarapan untuk dirinya sendiri secara bertahap.
✅Berikanlah peran dalam menyelesaikan kegiatannya, misal manager toilet, jendral sampah dll. Dan jangan pernah ditarget apapun, dan jangan diberikan sebagai tugas dari orangtus.Mereka senang mengerjakan pekerjaannya saja itu sudah sesuatu yang luar biasa.
☘Anak-anak usia sekolah
Apabila dari usia 1 tahun kita sudah menstimulus kemandirian anak, mka saat anak-anak memasuki usia sekolah, dia akan menjadi pembelajar mandiri. Sudah muncul internal motivation dari dalam dirinya tentang apa saja yang dia perlukan untuk dipelajari dalam kehidupan ini.
⛔Kesalahan fatal orangtua di usia ini adalah terlalu fokus di tugas-tugas sekolah anak, seperti PR sekolah,les pelajaran dll. Sehingga kemandirian anak justru kadang mengalami penurunan dibandingkan usia sebelumnya.
🔑Kunci orangtua dalam melatih kemandirian anak di usia sekolah
👨👩👦👦Jangan mudah iba dengan beban sekolah anak-anak sehingga semua tugas kemandirian justru dikerjakan oleh orangtuanya
👨👩👦👦Ijinkan anak menentukan tujuannya sendiri
👨👩👦👦Percayakan manajemen waktu yang sudah dibuat oleh anak-anak.
👨👩👦👦Kenalkan kesepakatan, konsekuensi dan resiko
Contoh :
✅Perbanyak membuat permainan yang dibuatnya sendiri ( DIY = Do It Yourself)
✅Dibuatkan kamar sendiri, karena anak-anak yang mahir mengelola kamar tidurnya, akan menjadi pijakan awal kesuksesan ia dalam mengelola rumahnya kelak ketika dewasa.
☘Ketrampilan-ketrampilan dasar yang harus dilatihakan untuk anak-anak usia sekolah ini adalah sbb:
1⃣Menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya
2⃣Ketrampilan Literasi
3⃣Mengurus diri sendiri
4⃣Berkomunikasi
5⃣Melayani
6⃣Menghasilkan makanan
7⃣Perjalanan Mandiri
8⃣Memakai teknologi
9⃣Transaksi keuangan
🔟Berkarya
☘3Hal yang diperlukan secara mutlak di orangtua dalam melatih kemandirian anak adalah :
1⃣Konsistensi
2⃣Motivasi
3⃣Teladan
Silakan tengok diri kita sendiri, apakah saat ini kita termasuk orangtua yang mandiri?
☘Dukungan-dukungan untuk melatih kemandirian anak
1⃣Rumah harus didesain untuk anak-anak
2⃣Membuat aturan bersama anak-anak
3⃣Konsisten dalam melakukan aturan
4⃣Kenalkan resiko pada anak
5⃣Berikan tanggung jawab sesuai usia anak
Ingat, kita tidak akan selamanya bersama anak-anak.Maka melatih kemandirian itu adalah sebuah pilihan hidup bagi keluarga kita
Salam,
/Tim Fasilitator Bunda Sayang/
Sumber bacaan:
Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang, antologi, gaza media, 2014
Septi Peni, Mendidik anak mandiri, pengalaman pribadi, wawancara
Aar Sumardiono, Ketrampilan dasar dalam mendidikan anak sukses dan bahagia, rumah inspirasi
➖➖➖➖➖➖➖
*PERTANYAAN*
1⃣ Anak saya kembar umur 3 th 2 bulan. Skrg lg saya latih utk tidur sendiri terpisah dr saya. Sebelumnya hanya terpisah tempat tidurnya saja tp masih dalam 1 kamar. Skrg saya latih utk tidur di kamar mereka. Sblmnya saya menidurkan mereka dulu dgn membaca dongeng, setelah mereka tidur baru saya pindah ke kamar saya. Gak apa2 bu anak umur segitu saya latih tidur sendiri? Kadang di hati saya masih suka bertanya apakah ini terlalu cepat? Takutnya mereka merasa kehilangan atau diasingkan (atau sebenernya saya yg kehilangan ya bu😂) tp di sisi lain saya ingin melatih kemandirian mereka. Setiap hari saya komunikasikan bahwa mereka sudah besar jdi tidurnya di kamar mereka. Pagi2 ketika mereka bangun saya apresiasi dgn bilang "anak bunda sudah bangun. Tdi malam tidur sendiri di kamar karin kiran ya? Hebat anak bunda" betulkah bu cara yg saya lakukan?
Sukma - IIP Pekanbaru
*JAWABAN*
1⃣ Mbak Sukma betul perkiraan mbak, ketika ada pertanyaan "takutnya mereka merasa kehilangan" itu sebenarnya lebih ke kitalah yang merasa kehilangan. Maka melatih untuk tidur sendiri di usia 3-5 th, kalau berhasil bagus banget. Tetapi kalau belum maka masih ada waktu di usia sekolahnya nanti. Yang tidak boleh adalah sampai besarpun tetap satu kamar dengan kita.  karena sejatinya anak sedang belajar mengelola rumah tangganya kelas dengan mengelola kamarnya saat ini. ✅
----------
*PERTANYAAN*
2⃣ Ibu, bagaimana menyelesaikan tahapan kemandirian yang belum selesai di usia sebelumnya?
Apakah ada batas waktu menyelesaikan ketertinggalannya?
Nur'aini - IIP Bandung
*JAWABAN*
2⃣ Teh Nuraini, apabila ada yang tertinggal sebaiknya dituntaskan sebelum aqil baligh, setelah aqil baligh tinggal menyempurnakan saja, bukan lagi dari nol✅
----------
*PERTANYAAN*
3⃣ Assalaamu'alaykum bu septi..
Sy defi dari solo.
1. Alhamdulillaah anak sulung saya (2th 7bln) termasuk anak yg saya rasa mandiri bahkan terasa dr sejak bayi.
Makin kesini, sy berusaha memberi tugas2 harian sprti memasukkan baju ke mesin cuci, mengambil beras utk dicuci, merapikan mainan, mengembalikan piring dan gelas stlh makan.
Seperti ini apakah berlebihan utk skala umur segitu bu? Soalnya misal bumer dtg liat cucunya pas sy suruh2 gt, sy sllu dblg "ra mesakne tho ndhuk..."
2. Utk hal lain memotong sayur dg gunting, lalu dimasukkan ke plastik utk stok kulkas, sy upah 1000/2000 (ini apakah boleh bu, anak diupah?, apa akan menjadikannya malas bekerja klo tdk diupah? Bagaimana cara yg benar dlm pemberian upah agr tdk terjadi hal sprti itu? Apa malah tdk perlu upah ibu?)
Matursuwun bu, atas waktunya utk sharing..
💐💐💐💐💐
*JAWABAN*
3⃣ Mbak Defi, memberikan tugas ke anak-anak usia 1-3 th itu harus seperti bermain, tidak boleh menjadi rutinitas dan kewajiban anak-anak sehari-hari. Maka kalimat yang kita pakaipun bukan " ibu minta tolong nyuci beras ya nak" melainkan "Ibu mau mencuci beras, apakah kakak/adik mau ikut?
Sedangkan untuk pemberian upah sebaiknya dihindari, karena hal tersebut akan mendidik anak berperilaku buruk, mereka akan terbiasa melakukan sesuatu karena ada external motivation, padahal di usia sekolah anak-anak harus muncul yang namanya internal motivation. Sehingga kita akan terkaget-kaget saat memasuki usia sekolah nanti, apabila dari usia 5 tahun ke bawah, motivasinya karena upah. ✅
----------
*PERTANYAAN*
4⃣ Assalaamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh Bu Septi..
Mohon penjelasannya y ibu 🙏🏻
Untuk proses kemandirian anak ini, wajar nggak sih bu kalau anak mengalami fase kemunduran? Padahal sebelumnya bisa dibilang, anak sudah cukup mandiri. Anak saya yang berusia 4 tahun, sekarang sering meminta tolong untuk hal-hal kecil dan dia sedang dalam kondisi santai, misalnya minta untuk dibalikkan baju (bagian dalam baju posisinya diluar).
Lalu bagaimana kiat supaya fase ini terlewati bu?
Satu lagi y bu ☺
kalau kita berikan tanggung jawab tidak menyesuaikan dengan usia anak, tetapi berdasarkan hasil pengamatan kita bahwa anak mampu diberikan tanggung jawab lebih, kira-kira ada efek samping yang negatif nya nggak bu?
Terima kasih banyak y ibu atas jawabannya 😍😍😍
Tamia - IIP Kalbar
*JAWABAN*
4⃣ Mbak Tamia, anak-anak mengalami fase kemunduruan dalam kemandirian itu sangat mungkin. Hal tersebut biasanya disebabkan beberapa faktor. kalau anak di usia sekolah biasanya karena faktor beban tugas di sekolah. Kalau anak di bawah 5 tahun, biasanya fastor psikis, seperti punya adik lagi, perlu kasih sayang ibu/bapaknya dll.
Maka carilah penyebab utama mengapa anak kita mundur kemandiriannya. bahkan kalau saya, ketika anak-anak sakitpun, pasti ada faktor psikologis yang menyebabkan daya tahan tubuhnya turun. Sehingga pengobatan awal tidak buru-buru ke dokter melainkan menyelesaikan urusan psikisnya terlebih dahulu. Karena secara alamiah anak yang bahagia, imunitas tubuhnya  naik, sehingga jarang sakit.
Anak yang sering sakit juga akan berpengaruh terhadap kemandiriannya, karena kita terlalu melindunginya.
Efek samping memberikan tanggung jawab anak yang tidak sesuai dengan usianya, biasanya akan membuat anak-anak tersebut tidak mau mengerjakan tanggung jawab tersebut tepat di usia yang seharusnya. Maka apabila hasil pengamatan mbak tamia melihat anak tersebut mengerjakan tanggung jawabnya karena internal motivation, silakan dilanjut, apabila bukan , mohon dipertimbangkan kembali✅
----------
*PERTANYAAN*
5⃣ Assalamualaikum, ibu . Ijin bertanya. Anak saya usia 5 menjelang 6thn. Akhir2 ini menjadi segala sesuatu ingin bersama bunda seperti mandi, makan minta disuapin, tidur harus diusapan. Padahal sdh bisa mandiri. Bagaimana saya kembali menerapkan kemandirian?
Lalu kalau ada sesuatu yang kurang berkenan mudah sekali menangis, jika bertengkar dg sang kakak reaksinya cpt memukul. Namun setelah menyesal dan bermain lagi seperti biasa.
B. Untuk sang kakak yang berusia 8thn bagaimana melatih kemandirian nya? Kadang konsisten dg tugas yg diberikan, kadang sama sekali tidak mau bergerak kalau lihat adik tdk membantu.
Terima Kasih ibu🙏🏻
Tika - IIP Karawang
*JAWABAN*
5⃣ Mbak Tika, carilah penyebab utama mengapa adik bersikap seperti itu. Ada baiknya kita tidak buru-buru menyalahkan si adik, mungkin banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Selesaikanlah faktor penyebabnya terleboh dahulu. Inilah pentingnya kita belajar mendiagnosis permasalahan anak, tidak buru-buru mencari jalan pintas.
Kemudian untuk kakak, jadikanlah ia assisten bunda untuk menjadi buddy adik-adiknya, buddy itu adalah orang yang selalu ada di saat sedih maupun suka. Sehingga kakak tidak akan bergantung pada adik. Ini pentingnya berbagi peran, bukan menyamakan peran✅
----------
*PERTANYAAN*
6⃣ Point ke-5 dari dukungan-dukungan untuk melatih kemandirian anak adalah berikan tanggung jawab sesuai usia anak. Contoh tanggung jawab nya seperti apa ya yg sesuai usia anak?
Fitrah - IIP Bogor
*JAWABAN*
6⃣ Mbak Fitrah, seperti yang sudah saya sampaikan di materi, bahwa anak usia 1-3 th adalah saatnya mengontrol diri, maka latihlah toilet training, makan sendiri dan berbicara baik-baik, dll ( ini tugas utama mereka) jangan dibebani tugas yang lain, karena anak-anak harus selesai dengan ketrampilan yang berkaitan dengan dirinya terlebih dahulu, baru belajar ketrampilan untuk melayani orang lain.
Usia 3-5 tahun, saatnya ia muncul inisiatif untuk melakukan aktivitas sesuai dengan keinginannya dan meniru aktivitas orang dewasa sangat tinggi. Maka ijinkanlah anak-anak usia ini untuk mengerjakan pekerjaan orang dewasa yang dia ingin lakukan. Karena kalau kita larang, maka start usia 3-5 tahun inilah anak-anak akan mulai kecanduan game, karena aktivitas meniru orang dewasa makin berkurang dan aktivitas bermain dengan orangtuanya mulai tidak seru.
Usia sekolah ( 6-18 th)
Mulailah dengan menjalankan 10 ketrampilan dasar yang harus diikuasai anak-anak setahap demi setahap , seperti yang saya tuliskan di materi.
Usia 18 tahun ke atas
Saatnya mereka menjadi orang dewasa, tanpa tuntunan kita lagi✅
----------
*PERTANYAAN*
7⃣ 🙋🏻 ass bu septi..saya risni iip payakumbuh, mau bertanya
1. Bagaimana cara melatih kemandirian ank usia 3th7bln untk tdk minum susu dgn botol lg.. saat anak berhenti asi usia 2 thn, diganti dg mnum susu dg botol..sampe sekarang blm mau minum susu dg gelas.mhon pencerahannya bu..
2. Si kakak usia 6 th..sangat suka melakukan apa yg saya lakukan...seperti memasak..ada 1 kejadian pas usia 5th,dia mau bantu saya saat sya goreng ikan.. Eh ternyata kenak ciprat minyak panas.. Semenjak saat itu jdi takut klo liat saya lg goreng2. Gmna cra mengatasi traumanya buk??
Mksi buk.
*JAWABAN*
7⃣ Uni Risni,
1. lakukan upacara pembuangan botol, katakan pada anak kita, bulan depan kita lakukan upacara pembuangan botol ya, agar adik bersiap-siap secara mental. Ini saya lakukan ke enes dulu, dan berhasil. Dia buang sendiri botolnya, kemudian dia sapih dirinya dari botol. Gelisah di hari pertama, saya perbanyak dengan minum susu kotak waktu itu, karena selain susu botol dia paling suka susu kotak. Tapi waktu mau tidur sangat gelisah, saya temani untuk menghadapi rasa itu, dan 3 hari selesai.
2. Kenalkan pada resiko, dulu ketika usia 3-5 th, anak-anak berusaha untuk masak sarapan sendiri. Maka sebelum mereka memasak saya siapkan segala peralatannya, seperti tangga kayu kecil yang kokoh, agar mereka sampai ke kompor, dan tidak jatuh. Salep dan terigu dingin saya siapkan di dekat kompor dan di kulkas, untuk jaga-jaga, apabila kena minyak maka::
a. matikan kompor
b. oleskan salep/ambil terigu dingin yang ada di kulkas, masukkan tanganmu kesana.
Apabila ada telur pecah:
a. ambil lap
b. bersihkan telur
c. kemudian buang ke tempat sampah
d. ambil pel + pewangi
e. pel sampai bersih
Apabila ada gelas /piring pecah
a. Ambil sandal, pakai
b.Ambil sapu dan pengki
c. Sapu serpihan kaca yang besar-besar
d. Ambil lap basah
e. Bersihkan serpihan kecil-kecil
f. Buang selap-lapnya ke tempat sampah
Pengenalan resiko ini membuat anak-anak makin PD menjalankan aktivitasnya dan kita tidak panik apabila ada kejadian/kecelakaan✅
----------
*PERTANYAAN*
8⃣ 1. Bu septi saya teringat akan pemaparan ibu mengenai jika kita berhasil di anak pertama (role model) maka anak kedua dan selanjutnya akan lebih mudah karena bisa meniru kakanya. Nah yang terjadi saat ini dengan anak-anak saya adalah Aa (6th) mulai bisa diajak Mandiri mengerjakan tugas ringan sendiri seperti menyimpan kembali mainannya tapi adiknya (4th) malah jadi berkesan mengandalkan kakanya, pertanyaannya bagaimana agar Kakak dan adik ini bisa menerapkan konsep Mandiri seutuhnya sesuai usianya sehingga sikap saling mengandalkan ini tidak muncul pada adik?
2. Pemilihan Diksi yang bisa memunculkan motivasi untuk mandiri seperti apa yang tepat untuk diterapkan  kepada anak? Apakah "ayo a rapikan lagi bukunya supaya enak rapi kamarnya" atau kah 'aa kemarin rajin merapikan buku, hari ini juga yaa' Mengingat kedua anak saya tingkat motivasi nya lumayan berbeda aa lebih mudah tersentuh sedangkan adiknya agak cuek.
Fiena_Bandung
*JAWABAN*
8⃣ Teh Fiena,
1. Ini pentingnya memberikan peran ke adik dan kaka secara bergantian. kalau umurnya berbeda jauh, berikan peran sesuai kategori umurnya, kalau umur berdekatan maka berikanlah peran yang berbeda setiap pekan. Misal pekan ini kakak menjadi direktur mainan, memastikan semua yang bermain mengembalikan pada tempatnya. Si adik menjadi direktur sampah, memastikan semua sampah berada pada tempatnya. Kemudian di putar peran tersebut.
2. Kalimat yang efektif adalah bukan menyuruh, melainkan mengajak melakukan bersama. Seperti yang saya lakukan dulu ke anak-anak, ketika mainan berantakan
"Wow mainannya kemana-mana, seperti gula yang bertebaran"
"Oke Ibu akan jadi semut besar, kalian jadi semut kecil" kita akan berlomba untuk mengambil gula-gula yang berserakan"
"Siapa yang lebih dulu selesai, akan jadi juara malam ini"
Kamar berantakan
"Mas, kamarmu artistik sekali, bagaimana kalau kita rapikan bersama, ibu bagian meja, mas bagian kasur ya, kapan kira-kira siapnya? ibu dikabari ya. Dengan pola komunikasi yang bukan sok bossy, membuat anak-anak lama-lama sadar dengan sendirinya. Itu yang saya lakukan dan bekerja ke anak-anak. maka pahami anak-anak ya teh, Komunikasi seperti apa yang paling produktif✅
----------
*PERTANYAAN*
9⃣ Ibu Septi yg baik, contoh kemandirian apa sajakah yg sudah mulai dikenalkan utk bayi 0-12 bulan?
Dulu saya sempet denger, ibu mulai men-toilet training anak2 ibu sejak usia < 12 bulan, bisa diceritakan prosesnya/langkah2nya gmn bu?
Ketika ibu sedang mengandung Ara, kemandirian apa saja yg ibu kenalkan pd mba Enes dan apa saja yg dipersiapkan utk menyambut kelahiran adik?
Ria - IIP Bandung
*JAWABAN*
9⃣ 🍀Teh Ria, bayi 0-12 bulan baru taraf sensomotorik, masih bergantung semuanya ke orang lain. Sehingga jangan buru2 diminta mandiri, kecuali memang anak kita yg sudah minta.
🍀Mengebai toilet training,  kampanye saya di materi kemadirian anak ini  sebenarnya secara implisit adalah "HENTIKAN PEMAKAIAN POSPAK" ( popok sekali pakai) ke anak usia 1-3 th.
saya adalah ibu yang anti pospak sejak punya anak. Sehingga sejak anak-anak usia 6 bulan, sudah mulai saya latih toilet training dengan cara ditatur ( istilah jawa), secara periodik, membawa anak ke kamar mandi, dan bilang "ssst...ssst"  sampai dia pipis sendiri. Bahkan saat 1/3 malam, saya bangunkan untuk di tatur lagi....
Sehingga anak-anak tidak pernah mengompol, saat pup pun disesuaikan dengan bioritme tubuhnya. kalau mereka sudah bisa merangkak, saya letakkan bebek-bebekan toilet anak, di depan kamar mandi, dan saya mulai memperagakan. Kalau mau pup, pegang perut, maka merangkak ke depan kamar mandi, dan duduk di atas bebek ya. terus menerus seperti itu, sehingga saat 1-3 tahun sudah merdeka untuk urusan yang satu ini.
Sedih kalau lihat ada anak, dibiarkan berdiri, mengejan sampai merah, kemudian ibunya tenang-tenang saja.
Saat saya tanya " kenapa anaknya dik?"
"Nggak papa bu, udah biasa, itu sedang pup" huuffft....kebayang betapa orangtuanya malas untuk melatih anak-anak.
Setelah selesai, saya datangkan elan, untuk cerita tentang bagaiman dia melatih kucing usia 1 bulan, pup dan pee di tempatnya. Anak kucing saja bisa dilatih, lha kok kita menurunkan kemuliaan anak manusia.
🍀Ketika mengandung ara, saya hanya full bermain dg enes, bermain adik-adikan, ibu-ibuan, shg saat adiknya lahir, kita berdua seperti punya mainan adik-adikan.
Enes sdh lihai mengganti popok unt bobekanya, memandikan bonekanya.
Shg ketika ara lahir, dia berpikir ibunya sdg main boneka seperti dirinya.
Untuk menyambut sang adik, jauh2 hari kita ajak enes mempersiapkan segala keperluan adik.
Kemudian saat ara lahir, saya hanya menyusui ara, kemudian ara saya minta bapaknya yg pegang, setelah itu saya harus full dg enes.
Saat banyak orang menengok ara, saya minta enes yg membuka kado, sambil saya kampanye kl nengok anak ke dua, berikan kado ke kakaknya bukan ke adiknya✅
----------
*PERTANYAAN*
🔟 Assalamu'alaikum bu Septi, ada yang ingin saya tanyakan...
1. Mulai tahun ini, saya sudah menstimulasikan anak sy laki2 (12 th) utk membuat jadwal harian, yg isinya semua aktivitas yg dia lakukan sehari2. Saya amati memang sudah mulai ditepati, tetapi ada beberapa kegiatan (seperti membaca) yang memang di masukkan ke dalam  jadwal sesuai anjuran saya (aslinya rada malas membaca, bu). Kalo diingatkan, selalu jawabannya "kan, mama yang nyuruh... 😊" Gimana ya, bu supaya anak senang membaca. Padahal saya dan suami senang baca. Dan di rumah juga sengaja saya sediakan banyak sekali bahan bacaan...
2. Apakah memberi uang saku mingguan atau bulanan, termasuk melatih kemandirian dalam keuangan? Gimana teknik pelatihan yang terbaik?
Terimakasih
Sri Prihatiningsih - IIP Cirebon
*JAWABAN*
🔟 Mbak Sri Prihatiningsih
🍀 Semua anak yang berbicara, pasti bisa membaca. Permasalahannya adalah saat awal dulu stimulus membaca anak-anak itu apakah di dril?dipaksa atau bagaimana? Karena membuat anak BISA membaca itu mudah, membuatnya SUKA membaca itu baru tantangan.
kalau stimulus awalnya sudah menarik, maka tahap berikutnya lihat gaya belajarnya
Mengenail pertanyaan mbak sri ini nanti ada kuncinya semua di bunda sayang, sampai ke kecerdasan finansial anak, jadi mohon bersabar yaaa....
Sampai jumpa di tahap-tahap berikutnya
----------selesai----------
🍯🧀Cemilan Rabu #1🧀🍯

Materi 2 : Melatih Kemandirian Anak

Membangun dan Mendidik Kemandirian pada Anak

Membangun dan mendidik kemandirian anak bukanlah pekerjaan yang mudah, terutama melatih anak mandiri ketika masih di usia dini. Secara alamiah anak sebenarnya cenderung untuk belajar memiliki kemandirian "Yes, I can!" Kata-kata ajaib ini merupakan sinyal dari kesadaran seorang anak terhadap diri dan kemampuannya sendiri untuk menentukan dirinya.
Orang tua yang bijaksana memanfaatkan keinginan akan kemandirian ini dengan membiarkan anak-anak mereka mempraktikkan keterampilan mereka yang baru muncul sesering mungkin pada lingkungan yang aman atau ramah anak. Dukungan orang tua yang seperti ini memang sangat dibutuhkan anak agar dapat melakukan berbagai hal secara mandiri, termasuk aktivitas yang masih relatif sulit.
Namun realita yang ada, orang tua terkadang merasa tidak tega, tidak bersabar, khawatir yang lahir karena bentuk rasa sayang yang berlebihan kepada anak.  Inilah salah satu penyebab dari kegagalan anak dalam proses kemandiriannya. Oleh karena itu, orang tua perlu memperbaiki sikap mental agar tidak mudah khawatir dengan anak.
Faktor lingkungan juga terkadang ikut andil dalam kegagalan proses kemandirian anak. Dorongan negatif dari lingkungan sekitar yang terkadang menganggap apa yang orang tua lakukan untuk melatih kemandirian anaknya sebagai bentuk eksploitasi. Padahal yang paling terpenting dan utama dalam membangun dan mendidik kemandirian anak adalah ketika anak merasa senang dalam melakukan aktivitas kemandiriannya tanpa ada rasa takut ataupun karena ada rasa tekanan dari luar.
Perlu diketahui bahwa kemandirian anak usia dini berbeda dengan kemandirian remaja ataupun orang dewasa. Jika pengertian mandiri untuk remaja dan orang dewasa adalah kemampuan seseorang untuk bertanggung jawab atas apa yang dilakukan tanpa membebani orang lain, sedangkan untuk anak usia dini adalah kemampuan yang disesuaikan perkembangan usianya.
Adapun jenis kemandirian anak yang perlu dibangun adalah sebagai berikut:

1. Kemandirian dalam Keterampilan Hidup
Prinsip pokok menumbuhkan kemandirian dalam keterampilan hidup adalah memberi kesempatan, bukan melatih. Anak secara alamiah memang cenderung berusaha belajar melakukan berbagai keterampilan hidup sehari-hari secara mandiri, semisal makan, mengenakan baju sendiri, mandiri sendiri, dsb.
Jika kita mengizinkan anak melakukan berbagai aktivitas hidup sehari-hari tersebut secara mandiri, lambat laun akan terampil. Yang kita perlukan hanyalah kesediaan mendampingi sehingga anak tidak melakukan terlalu banyak kesalahan, meskipun kita tetap harus menyadari bahwa untuk mencapai keterampilan perlu latihan yang banyak dengan berbagai kesalahannya.
Kemandirian itu akan lebih meningkat kualitasnya jika orangtua secara sengaja memberi rangsangan kepada anak berupa tantangan untuk mengerjakan yang lebih rumit dan sulit. Ini bukan saja melatih kemandirian dalam urusan keterampilan hidup sehari-hari, melainkan juga menumbuhkan kemandirian secara emosional.
2. Kemandirian Psikososial
Bertengkar itu tidak baik. Tetapi menghentikan pertengkaran begitu saja, menjadikan anak kehilangan kesempatan untuk belajar menyelesaikan konflik. Kita memang harus menengahi dan adakalanya menghentikan. Tetapi kita juga harus membantu anak menggali masalahnya, merunut sebabnya dan menawarkan jalan keluar kepada anak, baik dengan menunjukkan berbagai alternatif tindakan yang dapat diambil maupun menanyakan kepada anak tentang apa saja yang lebih baik untuk dilakukan.
Apa yang terjadi jika kita bertindak keras terhadap berbagai konflik yang terjadi antar anak? Banyak hal,  salah satunya anak tidak berani mengambil sikap yang berbeda dengan teman-temannya, meskipun dia tahu bahwa sikap itulah yang seharusnya dia ambil. Padahal kita seharusnya menanamkan pada diri anak sikap untuk mendahulukan prinsip daripada harmoni. Rukun itu penting, tapi hidup dengan berpegang pada prinsip yang benar itu jauh lebih penting. Kita tanamkan kepada mereka principles over harmony , melakukan hal-hal yang benar semata-mata karena prinsip. Bukan karena ada orang lain yang memaksa anak melakukannya.
Lalu apakah yang harus kita lakukan jika anak sedang bertengkar? Apakah kita biarkan mereka? Tidak. Kita tidak boleh membiarkan. Kita harus menangani. Membiarkan anak bertengkar dengan keyakinan mereka akan mampu menyelesaikan sendiri dapat memicu terjadi situasi submisif, yakni siapa kuat dia yang menang. Dan inilah yang sedang terjadi di negeri kita. Bahkan urusan antre pun, siapa yang kuat dia yang duluan. Dampaknya akan sangat luas dan bisa menakutkan.
Kita juga dapat melatih kemandirian psikososial anak secara lebih luas. Melatih toilet trainee beserta adab-adabnya. Melatihnya bagaimana adab ketika bertamu atau menerima tamu, adab berbicara kepada yang lebih tua atau yang lebih muda, dan lain sebagainya.
3. Kemandirian Belajar
Inilah proses serius kita hari ini. Banyak sekolah yang bersibuk mengajari anak agar terampil membaca, menulis semenjak usia dini, tapi lupa bahwa yang paling mendasar adalah sikap positif, kemauan yang kuat, dorongan dan kebanggaan akan kegiatan tersebut.
Jika anak memiliki kemauan yang kuat untuk belajar disertai keyakinan (bukan hanya paham) bahwa belajar itu penting, maka kita dapat berharap anak akan cenderung menjadi pembelajar mandiri saat mereka memasuki usia 10 tahun. Sebaliknya jika kita hanya mengajari mereka berbagai kecakapan belajar semisal membaca, menulis, dan berhitung di usia dini, mungkin awalnya mereka menggebu-gebu untuk mempelajari semua itu, namun di usia 10 tahun justru menjadi titik balik berupa kejenuhan serta keengganan belajar.
4. Kemandirian Emosional
Bekal pokok dari kemandirian emosional adalah pengenalan diri yang diikuti dengan penerimaan diri, kemudian pengendalian diri. Ini memerlukan peran orangtua dalam mengajak anak untuk mengenali kelebihan-kelebihan, kekurangan, kemampuan dan kelemahannya sendiri. Pada saat yang sama orangtua menunjukkan penerimaan terhadap kekurangan maupun kelemahan anak, tetapi bukan berarti membiarkan anak melemahkan dirinya sendiri. Malas dan enggan mengatasi masalah merupakan bentuk sikap melemahkan diri sendiri. Orangtua perlu menunjukkan bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Maka tak patut merendahkan orang lain, tak pantas pula meninggikan diri. Lebih-lebih untuk sesuatu yang diperoleh tanpa melakukan usaha apa pun alias sepenuhnya merupakan pemberian semenjak lahir.
Yang juga penting untuk dilakukan adalah mendampingi anak mengenali kebutuhannya. Balita pun tak perlu rewel jika ia telah dapat mengenali kebutuhannya untuk istirahat. Perlu juga mendampingi mereka untuk belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan perlu dipenuhi, meski tak serta-merta. Sedangkan keinginan, adakalanya dapat dituruti, tetapi tetap perlu belajar menahan diri. Semua ini ditumbuhkan bersamaan dengan menguatkan dorongan sekaligus kemampuan bertanggung-jawab, termasuk berkait dengan konsekuensi atas berbagai tindakan mereka.
Salam Ibu Profesional,
/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

📚Sumber bacaan :
Muhammad Fauzil Adhim, Anak Perlu Belajar Mandiri, Majalah Hidayatullah edisi November 2014.
Ciri Anak Mandiri dan Tahapan Perkembangan Kemandirian, www.Al-MaghribiCendekia.com, 2015
William Sears, M.D., Anak Cerdas: Peranan Orang Tua dalam Mewujudkannya, Emerald Publishing, Jakarta 2004

Jumat, 17 Februari 2017

Rasa Kompro Bagi Seorang Fitri Purbasari

Aliran Rasa #1 Komunikasi Produktif
Kuliah Bunda Sayang IIP


KOMUNIKASI PRODUKTIF, IT'S A WOW WAY!

Astaghfirullah, Subhanallah, Masyaallah..
Kata-kata itulah yang mengiringi saat saya menyimak materi yang disajikan dalam kuliah Komunikasi Produktif di IIP ini. Juga saat saya dengan tertatih menjalankannya dalam berkomunikasi dengan orang-orang tercinta, terutama anak-anak saya yang masih kecil (5 th & 1,5 th).
There Is NO FAILURE, only WRONG RESULT, so we have to CHANGE OUR STRATEGY!
Kalimat keren ini yang sekarang menjadi moto baru hidup saya. Hasil komunikasi adalah sepenuhnya tanggungjawab kita. Jadi tak boleh lagi mencari kambing hitam atau merasa jengkel ketika orang lain tidak memahami maksud dari komunikasi yang kita lakukan. 

Sebelum mengikuti kuliah komunikasi produktif, ketika berkomunikasi dengan suami seringkali saya berada pada ego anak-anak. Faktor arkeopsikis cukup dominan dalam diri saya. Sehingga tak jarang, transaksi komunikasi silang lah yang terjadi. Alhamdulillah setelah mengunya pembahasan dalam kuliah, sekarang transaksi kami bergeser ke arah transaksi komplementer. Saya merasa sudah bisa mengimbangi suami yang selalu dalam ego state dewasa. Saya belajar bersikap logis. Naah sedangkan dalam berkomunikasi dengan anak, sebelumnya saya sangat dominan dalam ego state orang tua. Maka tak heran jika transaksi silang juga yang terjadi, dan ini cukup menguras emosi dan energi. Akhirnya saya pun sekarang lebih waras dan mencoba semakin cerdas dalam menyampaikan dan menerima komunikasi dengan dan dari anak. 

Rumus-rumus komunikasi produktif seolah berseliweran setiap saat menjaga agar ego state saya sesuai dengan yang dibutuhkan, agar komunikasi saya dengan orang-orang terkasih menjadi lebih baik. Pikiran positif, kalimat produktif, FoR/FoE kita, Nalar panjang, clear & clarify, Kaidah 7-38-55, KISS, diksi positif, intonasi ramah, eye contact, the right time, I'm responsible for my communication result, strategi baru atas 12 gaya populer, dan yang paling renyah adalah rumus gaya bahasa cinta. 😄

Saya baru tahu kalau manusia memiliki bahasa cinta dalam berkomunikasi. Ada 5 cara anak-anak dan manusia dalam memahami dan mengekspresikan cinta menurut Gary Champan & Ross Champbell, MD (The Five Love Languages of Children): sentuhan fisik, kata-kata mendukung, waktu bersama, pemberian hadiah, dan pelayanan. Berdasarkan pengamatan saya, anak pertama saya (5 th) memiliki semua gaya itu. Tetapi saat saya tanyakan kepadanya secara langsung dengan pilihan keempat gaya vs gaya waktu bersama.
"Ka, lebih suka belajar bareng umi atau dikasih hadiah?"   "Belajar bareng umi."
"Ka, lebih seneng dipuji atau ngaji sama umi?"   "Ngaji sama umi."
"Ka, lebih seneng disuapi umi atau main lego sama umi?"   "Main lego sama umi."
"Kaka lebih seneng baca buku sama umi atau dipeluk umi?" Dia mikir lalu jawab sambil teriak, "Baca buku sambil dipeluk!" 😂 😆
Kemudian, dapat saya simpulkan bahwa bahasa cinta yang dominan dalam anak sulung saya itu adalah waktu bersama. Sedangkan suami saya dominan dengan gaya pelayanan. Saya sendiri, hemmmhh apa ya? Saya cenderung lebih suka kata-kata mendukung yang dilengkapi sentuhan fisik. hehehe.. Mood booster saya adalah pelukan. So, sentuhan fisik mungkin yang dominan ya.. 😃


Honestly, tantangan paling besar yang saya hadapi adalah berkomunikasi dengan anak-anak yang masih kecil ini. Sangat menguras emosi. Tapi, kata guru tercinta, Bu Septi, "Jangan pernah menyerah meski kadang merasa lelah!" Maka, mari taklukkan tantangan yang menghadang dengan strategi cemerlang. Alhamdulillah setelah hampir satu bulan ini mempraktekkan ilmu kompro, sumbu saya lebih panjang dari sebelumnya. 😅

Saat ini saya masih berada dalam tahap heteronomi. Tanda-tanda awal dalam indikator komunikasi produktif sudah terlihat dalam diri saya, namun saya masih belum konsisten menuliskannya. InsyaAllah saya akan berusaha terus untuk meningkatkan kualitas komunikasi produktif dalam keluarga khususnya. Jika saya sudah terampil berkomunikasi produktif dalam keluarga, insyaAllah saya akan lebih luwes dalam berkomunikasi di ring yang lebih luas.

Alhamdulillah..rasa syukur sangat membuncah dalam diri saya saat berinteraksi dalam IIP ini. Semoga Allah memudahkan saya meraih cita menjadi ibu profesional dan semoga Allah senantiasa memberkahi keluarga founders dan para fasilitator IIP atas ilmu yang bermanfaat ini. Aamiin..

Salam. 👰


Kamis, 16 Februari 2017

Review 3 KOMPRO IIP

_Cemilan Rabu #3_ plus _Review #3 Komunikasi Produktif_

*BERKOMUNIKASI SESUAI BAHASA CINTA ANAK*

Menurut Gary Champan & Ross Campbell, MD, dalam buku mereka yang bertajuk The Five Love Languages of Children, terdapat 5 cara anak dan manusia memahami dan mengekspresikan cinta, yakni;

1. Sentuhan Fisik,

2. Kata-kata Mendukung,

3. Waktu Bersama,

4. Pemberian Hadiah,

 5. Pelayanan.


Umumnya setiap anak bisa menerima cinta melalui 5 bahasa di atas, namun ada satu bahasa yang paling dominan pada masing-masing anak. Berikut adalah tips dalam berkomunikasi dengan si kecil sesuai bahasa cintanya.

1. Apabila bahasa cinta anak kita adalah Sentuhan Fisik
* Saat bertemu dan berpisah dengan si kecil, berilah pelukan.
* Saat si kecil stres, beri belaian untuk menenangkannya.
* Peluk dan cium si kecil saat ia tidur malam dan bangun pagi.
* Setelah mengajar disiplin pada si kecil, beri pelukan sejenak dan jelaskan bahwa pengajaran yang diberikan adalah untuk kebaikannya dan Anda tetap sayang padanya.
* Saat memilih hadiah untuknya, beri benda yang dapat ia pegang/peluk, seperti bantal, boneka, atau selimut.
* Saat menghabiskan waktu bersama si kecil, seperti menonton televisi bersama, duduklah berdekatan dengannya, sambil berpelukan.
* Sering-seringlah bertanya padanya apakah ia mau digandeng atau dipeluk.
* Apabila ia terluka, pegang dan peluk mereka untuk memberi kenyamanan.

2.Apabila bahasa cintanya adalah Kata-kata Mendukung
* Saat menyiapkan bekal untuknya, masukkan kertas kecil berisi kata-kata mendukung.
* Saat ia berhasil mencapai prestasi, tunjukkan rasa bangga Anda dengan memberi kata-kata membangun, seperti “Mama bangga dengan adik bermain adil di permainan tadi,” atau “Kakak baik sekali membantu adik membangun rumah-rumahan itu.”
* Simpan hasil karya si kecil, seperti lukisan atau tulisan, dan pajang dengan tambahan tempelan kertas mengapa Anda bangga dengan karyanya itu.
* Biasakan mengucap kata, “Mama sayang kamu,” tiap berpisah dengan si kecil atau menidurkannya di malam hari.
* Saat si kecil bersedih, bangun kepercayaan dirinya dengan mengucapkan alasan-alasan yang membuat Anda bangga padanya.


3. Apabila bahasa cintanya adalah Waktu Bersama
* Coba libatkan anak dalam aktivitas-aktivitas Anda, seperti belanja ke supermarket, memasak, mencuci piring, dan lain sebagainya.
* Saat si kecil ingin bercerita, hentikan sejenak aktivitas Anda untuk benar-benar menatap dan mendengarnya.
* Ajak si kecil memasak bersama, seperti membuat kue atau camilan lainnya.
* Tanyakan kepada si kecil mengenai tempat-tempat yang ingin ia kunjungi, dan jika ada kesempatan, beri kejutan dengan mengajak mereka ke tempat-tempat tersebut.
* Biasakan untuk memintanya menceritakan hari yang ia lalui di sekolah atau aktivitas lain yang telah ia lakukan.
* Saat mengajak si kecil bermain, bermainlah bersamanya ketimbang hanya menonton.
* Jika Anda memiliki lebih dari 1 anak, tetapkan jadwal bermain dengan masing-masing anak secara individu, tanpa melibatkan yang lain.


4. Apabila bahasa cintanya adalah Pemberian Hadiah
* Kumpulkan hadiah-hadiah kecil (tak perlu mahal) untuk diberikan kepada si kecil di saat-saat yang pas.
* Bawa permen atau camilan kecil lain yang dapat Anda berikan pada si kecil saat sedang bepergian.
* Beri makanan kesukaan si kecil, Anda bisa memasaknya sendiri atau mengajak si kecil ke restoran kesukaannya.
* Buah sebuah “kantong hadiah” berisi hadiah-hadiah (tak perlu mahal) yang dapat dipilih si kecil saat ia melakukan prestasi.
* Saat menyiapkan bekal untuknya, selipkan hadiah kecil untuknya.
* Buatkan semacam permainan teka-teki untuknya mencari hadiah dari Anda.
* Daripada membeli hadiah ulang tahun yang mahal, buatkan pesta ulang tahun meriah di tempat yang ia sukai.


5. Apabila bahas cintanya adalah Pelayanan
* Temani ia saat mengerjakan pekerjaan rumahnya.
* Saat ia sedih atau menghadapi kesulitan, buatkan makanan kesukaannya.
* Daripada menyuruhnya tidur, gendong atau gandeng mereka ke tempat tidur.
* Saat sedang bersiap-siap berangkat ke sekolah, bantu mereka memilih pakaian untuk hari itu.
* Mulai ajarkan si kecil mengasihi orang lain dengan memberi contoh membantu orang lain atau memberi sumbangan kepada orang yang kurang mampu.
* Saat si kecil sakit, angkat semangatnya dengan menonton film, membaca buku, atau masak sup yang ia sukai.
* Saat menyiapkan sarapan, makan siang, atau makan malam, selipkan makanan penutup atau camilan kesukaan mereka.

Cara mengamati bahasa cinta anak :

1.  Amati cara si Kecil mengekspresikan cintanya pada Mama
Apabila si Kecil seringkali mengucapkan “Aku sayang Mama” atau “Terima kasih Mama atas makan malam yang enak”, Bahasa Cinta yang dominan padanya mungkin adalah “Kata-kata Mendukung”.

2. Amati cara si Kecil mengekspresikan cinta kepada orang lain
Apabila si Kecil seringkali ingin memberikan hadiah kepada teman atau gurunya, mungkin Bahasa Cinta yang dominan padanya adalah “Pemberian Hadiah”.

3. Pelajari apa yang seringkali diminta oleh si Kecil
Apabila si Kecil sering meminta Mama untuk menemaninya bermain atau membacakan cerita untuknya, maka Bahasa Cinta yang dominan padanya mungkin “Waktu Bersama”. Sedangkan kalau si Kecil sering meminta pendapat Mama mengenai apapun yang sedang dilakukannya, seperti “Mama suka ga sama gambarku?” atau “Bajuku bagus ga Ma?”, mungkin Bahasa Cinta yang dominan padanya adalah “Kata-kata Mendukung”.

4. Pelajari apa yang seringkali dikeluhkan oleh si Kecil
Apabila si Kecil sering mengeluh mengenai kesibukan Mama atau Papa diluar rumah, seperti “Papa kok kerja terus yah” atau “Mama kok ga pernah mengajakku ke taman lagi,” maka mungkin Bahasa Cinta yang dominan padanya adalah “Waktu Bersama”.

5. Beri 2 pilihan kepada si Kecil
Dalam melakukan aktivitas sehari-hari, Mama bisa menanyakan apa yang diinginkan si Kecil, untuk menemukan Bahasa Cinta yang dominan padanya. Pertanyaan yang diberikan dapat berupa pilihan antara 2 Bahasa Cinta. Contohnya, saat Mama ada waktu luang, dapat memberi pilihan kepada si Kecil seperti “Sore ini adik mau Mama temani jalan-jalan atau mau Mama betulkan rok adik yang rusak?”, dengan memberi pilihan ini maka Mama memberikan pilihan antara Bahasa Cinta “Waktu Bersama” atau “Pelayanan”.


_Sumber bacaan_:

_Gary Chapman & Ross campbell M.D, The 5 Love language of children, jakarta, 2014_

_Eric Berne, Games people Play, jakarta_

_Eric Berne, Transaksional Analysis, jakarta._
.

Review 2 KOMPRO IIP

Review part 2

*KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN*

Dalam prakteknya ternyata ini menjadi bagian yang sangat seru yang dihadapi oleh teman-teman semua. Karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi pola komunikasi anda dengan pasangan
yaitu :

a. Faktor Eksteropsikis ( Ego sebagai Orangtua)

Yaitu bagian dari kepribadian yg menunjukkan sifat-sifat orang tua, berisi perintah (harus & semestinya). Jika individu merasa dan bertingkah laku sebagaimana orang tuanya dahulu, maka dapat dikatakan bahwa individu tersebut dalam status ego orang tua. Status ego orang tua merupakan suatu kumpulan perasaan, sikap, pola-pola tingkah laku yang mirip dengan bagaimana orang tua individu merasa dan bertingkah laku terhadap dirinya..

contoh : Seperti tindakan menasihati orang lain, memberikan hiburan, menguatkan perasaan, memberikan pertimbangan, membantu, melindungi, mendorong untuk berbuat baik adalah sikap yang nurturing parent (NP).

Sebaliknya ada pula sikap orang tua yang suka menghardik, membentuk, menghukum, berprasangka, melarang, semuanya disebut dengan sikap yang critical parent (CP).


b. Faktor Arkeopsikis ( Ego sebagai anak-anak)
Yaitu bagian dari kepribadian yang menunjukkan ketidakstabilan, reaktif, humor, kreatif, serta inisiatif,masih dalam perkembangan, berubah-ubah, ingin tahu dan sebagainya. Status ego anak berisi perasaan, tingkah laku dan bagaimana berpikir ketika masih kanak-kanak dan berkembang bersama dengan pengalaman semasa kanak-kanak

contoh : Dibedakan antara natural child (NC) yang ditunjukkan dalam sikap ingin tahu, berkhayal, kreatif, memberontak. Sebaliknya yang bersifat adapted child (AC) adalah mengeluh, ngambek, suka pamer, dan bermanja diri.


c. Faktor Neopsikis ( Ego sebagai orang dewasa)
Yaitu bagian dari kepribadian yg objektif, stabil, tidak emosional, rasional, logis, tidak menghakimi, berkerja dengan fakta dan kenyataan-kenyataan, selalu berusaha untuk menggunakan informasi yang tersedia untuk menghasilkan pemecahan yang terbaik dalam pemecahan berbagai masalah. Dalam status orang dewasa selalu akan berisi hal-hal yang produktif, objektif, tegas, dan efektif dan bertanggung jawab dalam menghadapi kehidupan. Jika individu bertingkah laku sesuai dengan yang telah disebutkan tadi, maka individu tersebut dikatakan dalam status ego dewasa..

contoh : Mengambil kesimpulan, keputusan berdasarkan fakta-fakta yang ada. Suka bertanya, mencari atau menunjukkan fakta-fakta, ber¬sifat rasional dan tidak emosional, bersifat objektif dan sebagainya, adalah ciri-ciri komunikasi orang dewasa.

Ketiga Ego tersebut dimiliki setiap orang, kita lihat dari caranya berkomunikasi, kalimat yang dipilih dan bahasa tubuh yang digunakan.

ANALISIS TRANSAKSIONAL KOMUNIKASI

a. TRANSAKSI KOMPLEMENTER
jenis transaksi ini merupakan jenis terbaik dalam komunikasi antarpribadi karena terjadi kesamaan makna terhadap pesan yang mereka pertukarkan, pesan yang satu dilengkapi oleh pesan yang lain meskipun dalam jenis sikap ego yang berbeda. Transaksi komplementer terjadi antara dua sikap yang sama, sikap dewasa. Transaksi terjadi antara dua sikap yang berbeda namun komplementer. Kedua sikap itu adalah sikap orang tua dan sikap anak-anak. Komunikasi antarpribadi dapat dilanjutkan manakala terjadi transaksi yang bersifat komplementer karena di antara mereka dapat memahami pesan yang sama dalam suatu makna.

Contoh :
ketika suami meminta kita berbicara berdasarkan fakta, maka balas komunikasi tersebut dengan hal-hal yang logis.( ego dewasa)
suami : : “Arloji yang biasanya di meja ini, kok tidak ada ya mah?”( menggunakan data dan logika  - ego dewasa)
istri : “ayo kita  cari tahu bareng, terakhir ayah lepas arloji itu dimana? ( menggunakan e go dewasa)


b. TRANSAKSI SILANG
terjadi manakala pesan yang dikirimkan komunikator  tidak mendapat respons sewajarnya dari komunikan. Akibat dari transaksi silang adalah terputusnya komunikasi antarpribadi karena kesalahan dalam memberikan makna pesan. Komunikator tidak menghendaki jawaban demikian, terjadi kesalah¬pahaman sehingga kadang-kadang orang beralih ke tema pembicaraan lain.

Contoh :
ketika partner kita mengajak komunikasi berdasarkan  ego dewasa, kita menanggapinya dengan ego anak-anak.

Suami : “Arloji yang biasanya di meja ini, kok tidak ada ya mah?”( menggunakan data dan logika  - ego dewasa)

Istri : “Mana kutahu, aku udah capek seharian ngurus anak-anak,  masih diminta ngurus arloji” ( menggunakan ego anak-anak )

pasti akan menyulut respon emosi.

c. TRANSAKSI TERSEMBUNYI
jika terjadi campuran beberapa sikap di antara komunikator dengan komunikan sehingga salah satu sikap menyembunyikan sikap yang lainnya. Sikap tersembunyi ini sebenarnya yang ingin mendapatkan respons tetapi ditanggap lain oleh si penerima. Bentuk-bentuk transaksi tersembunyi bisa terjadi jika ada 3 atau 4 sikap dasar dari mereka yang terlibat dalam komunikasi antar¬pribadi namun yang diungkapkan hanya 2 sikap saja sedangkan 1 atau 2 lainnya ter¬sembunyi.

Contoh:
Seorang ibu masuk ke dalam sebuah toko untuk membeli sebuah lemari es. Sang penjual memperlihatkan beberapa merk, dengan menyebutkan harganya. Sang ibu melihat lemari es yang tinggi dan bertanya: “Berapa harga yang tinggi itu?” (ungkapan dari ego state dewasa dan mengharapkan respon dari ego state dewasa juga).

Penjual itu kemudian menanggapi: “Yang itu terlalu mahal bagi Ibu.” Tanggapan ini memang terlihat sebagai transaksi antara ego state dewasa dan dewasa, tetapi ada unsur tersembunyi di dalamnya yang tidak jadi terumuskan, yaitu: “Ibu tidak mempunyai cukup uang untuk membeli yang mahal itu”. Kemudian sang ibu merasa tersinggung, dan memang begitulah maksud penjual itu, menyinggung perasaan sang ibu dengan mengatakan bahwa ibu itu tidak mampu membeli lemari es yang mahal.

Menanggapi pernyataan itu, untuk membuktikan bahwa dirinya mampu membeli barang mahal itu, sang ibu lalu berkata: “Yang tinggi itu mau saya beli!”.

Review 1 Kompro IIP

*_Review Tantangan 10 Hari_*
_Materi Bunda Sayang #1 :_
_Institut Ibu Profesional_
 *KOMUNIKASI PRODUKTIF*


Pertama, Kami ucapkan selamat kepada teman-teman yang telah melampaui tantangan 10 hari dalam berkomunikasi produktif, dinamika yang terpancar dalam tantangan 10 hari ini sungguh beragam. Mulai dari memperbincangkan hal teknis sampai dengan tantangan nyata komunikasi kita dengan diri sendiri, dengan pasangan dan dengan anak-anak. Mungkin beberapa diantara kita tidak menyadari pola komunikasi yang terjadi selama ini, tetapi setelah mengamati dan menuliskannya selama 10 hari berturut-turut dengan sadar, baru kita paham dimana titik permasalahan inti dari pola komunikasi keluarga kita.

*KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI*

Dari “TANTANGAN 10 HARI” sebenarnya kita bisa melihat pola komunikasi dengan diri kita sendiri, bagaimana kita memaknai satu kalimat di atas. Limit yang kita tentukan bersama di tantangan ini adalah 10 hari, maka kita bisa melihat masuk kategori tahap manakah diri kita :

a. Tahap Anomi : Apabila diri kita belum memperlihatkan tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, belum mulai menulis tantangan 10 hari satupun, karena mungkin belum memahami makna dari sebuah konsistensi.

b.Tahap Heteronomi : Apabila diri kita sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, tapi belum konsisten. Kadang menuliskannya, kadang juga tidak. Hal ini karena dipicu oleh pemahaman dan mendapatkan penguatan dari lingkungan terdekat yang membentuk opini dan persepsi sendiri.

c. Tahap Sosionomi : Apabila diri kita sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, dan sudah mulai konsisten. Menjalankan tantangan tepat 10 hari. Hal ini karena dipicu sebuah kesadaran dan mendapat penguatan dari lingkungan terdekat.

d. Tahap Autonomi : Apabila diri kita terus menerus memperlihatkan perilaku yang dinyatakan dalam indikator secara konsisten, tidak  hanya berhenti pada tantangan 10 hari, anda terus melanjutkannya meski tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang menilai. Berkomunikasi produktif sudah menjadi budaya dalam kehidupan anda.
“10 Hari” adalah Limit terendah kita, hal tersebut hanyalah sebuah tetapan untuk mempermudah tercapainya sebuah tujuan.

Maka komunikasi kita dengan diri sendiri harus bisa terus mengupgrade limit tersebut. Dari sekarang kita harus paham benar bahwa limit kita adalah unlimited. Tidak ada yang mampu membatasi kita kecuali diri kita sendiri. Dengan konsep tersebut maka tidak ada yang tidak mungkin. Tentukan limit anda setinggi mungkin untuk diraih dan selalu diperbarui. Kuncinya adalah komunikasi produktif dengan diri sendiri.

_The greater danger of most of us is not that our aim is too high and we miss it, but it is too low and we reach it_ – Bahaya besar bukan karena kita mempunyai target tapi tak mampu mencapainya. Akan jauh lebih berbahaya jika kita mempunyai target yang terlalu rendah dan kita berhasil mencapainya – Michael angelo

Resume Diskusi: Desain Global Sekolah Unggul

 Bismillah.. alhamdulillah malam ini bisa bergabung di diskusi online Kelas 100 Guru PAUD berjudul Desain Global Sekolah Unggul. Pematerinya...