📑Fitrah Belajar📜
-------------------------------
"Anakku malas belajar"
Pernah dapat keluhan ini dari teman-teman sejawat?, atau dari tetangga?Saudara? atau kita sendirilah yang mengeluhkan hal ini.
Benarkah anak-anak kita malas belajar?. Atau jangan-jangan kitalah yang terlalu mengkotak-kotakkan pengertian belajar, sehingga menjadi "duduk diam di meja belajar sambil baca buku atau menulis/menyalin".
Fitrahnya setiap anak adalah pembelajar sejati, bagaimana tidak?.
Setiap bayi yang lahir adalah pembelajar tangguh, bayi tidak memutuskan merangkak seumur hidupnya, namun ia menuntaskan belajar berjalan dengan gigih, sampai bisa berlari dan melompat. Setiap bayi yang dilahirkan adalah penjelajah yang penuh rasa ingin tahu (discoverer, curiousity)setiap sudut rumah jadi targetnya. Setiap bayi yang lahir juga penuh dengan daya imajinasi kreatif. Lihat saja, di tangan kanak-kanak kita, sangkutan baju jadi pesawat, kursi jadi kuda pacu, awan dicat berwarna ungu, matahari berubah pink (merah muda) dan lain sebagainya. Tugas kita hanya memberi kesempatan, ruang yang aman dan semangat.
Lalu mengapa bisa berubah menjadi enggan atau malas belajar?. Jangan-jangan kitalah yang telah mengubur dan menyimpangkan fitrah belajarnya.
Apa saja yang bisa mencerabut fitrah belajar anak-anak kita?
1. pendidik (orangtua/guru) yang terlalu menyetir proses belajar anak, sehingga daya kreatif anak lumpuh.
2. pendidik yang terlalu banyak menyarikan materi, anak-anak tidak berkesempatan memaknai dan menemukan asosiasi antara ide-ide, sehingga daya pikirnya tidak terlatih
3. Buku teks yang digunakan tak mengandung ide-ide menggugah
4. Dipakainya kompetisi dan rasa takut sebagai pelecut belajar, sehingga anak-anak bukan belajar karena "rasa ingin tahunya".
*Kita tidak bisa memastikan buku mana yang akan menggetarkan jiwa seorang anak; lukisan atau komposisi mana yang akan memantik apresiasi seninya; kunjungan ke tempat historis mana yang akan membangkitkan kesadaran sejarahnya. Setiap anak akan memberi respon secara berbeda-beda sesuai keunikan minat dan kepribadian mereka. Yang bisa kita lakukan adalah membuka akses selebar-lebarnya untuk mereka pada seberagam mungkin ide yang berharga (Charlotte Mason)*
Banyak orang mengira, kemampuan manusia yang utama dalam belajar adalah adaptasi, padahal semua binatang dan tumbuhanpun, Allah ciptakan mampu beradaptasi. Demikian juga, jika kita menganggap kemampuan utama manusia itu adalah kompetisi, karena sesungguhnya hewan dan jin pun berkompetisi.
*Ketahuilah bahwa kemampuan manusia yang utama adalah mengelola, mengklasifikasi, menginovasi dan mewariskan pengetahuan sebagai produk dari potensi fitrah belajarnya.* Seribu kera bisa dilatih memancing ikan, namun tidak satupun dari mereka mampu menciptakan kail dan mewariskan pada anak-anaknya.
Sesungguhnya setiap anak yang lahir telah memiliki potensi fitrah belajar. Para orang tua/pendidik tidak perlu panik menggegas kemampuan belajar anak-anaknya. Anak-anak hanya memerlukan sebuah ruang terbuka di alam dan hati orangtuanya yang terbuka bagi imajinasi kreatifnya, bagi curiousity-nya, bagi ketuntasan eksplorasi belajarnya, bagi penjelajahan dan petualangan belajarnya, bagi kesempatan untuk semakin menjadi dirinya.
sumber bacaan:
Fitrah based Education, 2016, Harry Santosa, Yayasan Cahaya Mutiara Timur.
💾💾💾💾💾💾💾💾💾💾
Rabu, 26 April 2017
Selasa, 25 April 2017
Game #4 Day #3 Gaya Belajar Anak Fitri Purbasari Depok
Tantangan 10 Hari Gaya Belajar Anak
Kuliah Bunda Sayang IIP Level 4
Gaya Visual Sederhana
Masih mengamati sang Kakak (5y4m) saja karena adik masih sakit. Semoga adik segera sehat dan aktif kembali yaaa.. 😘
Kegiatan harian kakak tergambar dalam foto diatas. Mengaji adalah kegiatan wajib tiap pagi dan petang. Yaa, kadang sangat semangat, kadang enggak. Hehe.. Makanya game acak halaman selalu menjadi andalan. Dia sangat seneng kalo diajak quiz acak tersebut, untuk menjeda kebosanan atau sebelum melangkah ke materi baru yang notabene lebih sulit. Fyi, materi barunya kali ini adalah ketika tanwin ketemu hamzah washal, artinya ada nun yang ghaib, hehee..lumayan kan?! 😁 Quiznya adalah, sayaminta Kakak membuka halaman tertentu dan membaca baris tertentu. Misal, "Buka halaman 97! Baca baris ke 3." Begitu. Ini sekaligus mengajarkan angka padanya. Pujian dan bintang adalah rewardnya.
Lalu tahfidz. Belajar dark pengalaman Al Falaq kemarin, saya punya ide bikin buku hafalan buat dia dengan menuliskan ayat yang akan dihafal dengan spidol/pinsil warna. Kali ini bertujuan untuk menguatkan surah Al Ikhlas.
Setelah mengaji, Kakak mengerjakan LKS. Banyak LKS yang saya dan suami sediakan untuknya, mulai dari LKS yang biasa dipakai di TK sampai LKS entertainment yang seperti tabloid disney. Setiap hari kami meminta dia mengerjakan LKS agar kelak terbiasa punya waktu belajar di meja.
Dan, aktivitas yang hampir tak pernah dia lewatkan adalah menggambar. Di umur segini, Kakak sepertinya sudah agak bosan mewarnai gambar yang sudah ada. Dia jadi lebih senang menggambar sendiri lalu mewarnainya.
Saya berusaha agar setiap hari bisa ada kegiatan DIY yang mengasah kecerdasan kinestetik nya. Tapi hari ini, saya melewatkannya karena harus mengurus adiknya yang sedang rewel. Semoga besok lebih baik semuanya. Aamiin.
Kuliah Bunda Sayang IIP Level 4
Gaya Visual Sederhana
Masih mengamati sang Kakak (5y4m) saja karena adik masih sakit. Semoga adik segera sehat dan aktif kembali yaaa.. 😘
Kegiatan harian kakak tergambar dalam foto diatas. Mengaji adalah kegiatan wajib tiap pagi dan petang. Yaa, kadang sangat semangat, kadang enggak. Hehe.. Makanya game acak halaman selalu menjadi andalan. Dia sangat seneng kalo diajak quiz acak tersebut, untuk menjeda kebosanan atau sebelum melangkah ke materi baru yang notabene lebih sulit. Fyi, materi barunya kali ini adalah ketika tanwin ketemu hamzah washal, artinya ada nun yang ghaib, hehee..lumayan kan?! 😁 Quiznya adalah, sayaminta Kakak membuka halaman tertentu dan membaca baris tertentu. Misal, "Buka halaman 97! Baca baris ke 3." Begitu. Ini sekaligus mengajarkan angka padanya. Pujian dan bintang adalah rewardnya.
Lalu tahfidz. Belajar dark pengalaman Al Falaq kemarin, saya punya ide bikin buku hafalan buat dia dengan menuliskan ayat yang akan dihafal dengan spidol/pinsil warna. Kali ini bertujuan untuk menguatkan surah Al Ikhlas.
Setelah mengaji, Kakak mengerjakan LKS. Banyak LKS yang saya dan suami sediakan untuknya, mulai dari LKS yang biasa dipakai di TK sampai LKS entertainment yang seperti tabloid disney. Setiap hari kami meminta dia mengerjakan LKS agar kelak terbiasa punya waktu belajar di meja.
Dan, aktivitas yang hampir tak pernah dia lewatkan adalah menggambar. Di umur segini, Kakak sepertinya sudah agak bosan mewarnai gambar yang sudah ada. Dia jadi lebih senang menggambar sendiri lalu mewarnainya.
Saya berusaha agar setiap hari bisa ada kegiatan DIY yang mengasah kecerdasan kinestetik nya. Tapi hari ini, saya melewatkannya karena harus mengurus adiknya yang sedang rewel. Semoga besok lebih baik semuanya. Aamiin.
Game #4 Day #2 Gaya Belajar Anak Fitri Purbasari Depok
Kuliah Bunda Sayang IIP
Level 4 Gaya Belajar Anak
Warna oh Warna
Hari kedua pengamatan resmi, hehe, Kakak Rafifa (5y4m) masih berkutat dengan krayon wajah yang kemarin dibeli. Setelah tak berhasil merayu ummi abinya, akhirnya dia disarankan melukis wajah si Lion. Karena dianya sendiri tak mau wajahnya dilukis. Iyeee! Eh, umi abi tak mau wajahnya dilukis karena si Dedek Fatimah (19m) nangis jejeritan karena takut liat wajah yang dilukis. Hahaha. Jadi bukan karena tak mensupport yaa..hehee piiis! 👍
So far, gaya belajar kakak lebih condong ke visual kinestetik. Dia tak pernah mau diem. Hehehe.. Kalau lagi asyik nonton video youtoube juga tangannya suka sambil ikut memperagakan. Dan dia dengan lancar selalu menceritakan kembali video yang ditontonnya. Kami membolehkan dia hanya menonton video yang edukatif dan inspiratif: origami, lego, upin ipin, adit sopo jarwo, lagu islami, diva, nursery rhymes, Kaycee and Rachel, dll.
Level 4 Gaya Belajar Anak
Warna oh Warna
Hari kedua pengamatan resmi, hehe, Kakak Rafifa (5y4m) masih berkutat dengan krayon wajah yang kemarin dibeli. Setelah tak berhasil merayu ummi abinya, akhirnya dia disarankan melukis wajah si Lion. Karena dianya sendiri tak mau wajahnya dilukis. Iyeee! Eh, umi abi tak mau wajahnya dilukis karena si Dedek Fatimah (19m) nangis jejeritan karena takut liat wajah yang dilukis. Hahaha. Jadi bukan karena tak mensupport yaa..hehee piiis! 👍
So far, gaya belajar kakak lebih condong ke visual kinestetik. Dia tak pernah mau diem. Hehehe.. Kalau lagi asyik nonton video youtoube juga tangannya suka sambil ikut memperagakan. Dan dia dengan lancar selalu menceritakan kembali video yang ditontonnya. Kami membolehkan dia hanya menonton video yang edukatif dan inspiratif: origami, lego, upin ipin, adit sopo jarwo, lagu islami, diva, nursery rhymes, Kaycee and Rachel, dll.
Minggu, 23 April 2017
Game #4 Day #1 Gaya Belajar Anak Fitri Purbasari Depok
Kuliah Bunda Sayang IIP Level#4
Gaya Belajar Anak
Day #1 Menghafal Dengan Contekan Dinding
Hari ini, Minggu 23 April 2017, saya baru mulai menyalakan mesin game level #4, hehe.. Kenapa saya baru mulai? Karena qadarullah beberapa hari ini si bungsu Fatimah (19 m) sedang sakit, demam dan batuk. Dia sedang cukup rewel sampai hari ini. Jadi untuk Fatimah, saya belum bisa mengamati kegiatannya hari ini, karena maunya dipangku terus. Si Kakak Rafifa lah (5y4m) yang diobservasi lebih dulu.
Pagi ini saya murajaah hafalan Al Quran Kakak, berdasarkan buku pegangan sekolahnya. Dia harus sudah hafal beberapa surat pendek termasuk Al Falaq. Nah, di Al Falaq ini dia masih agak macet, ketuker-tuker. Saya talqin beberapa kali, masih aja ketuker pas disuruh baca sendiri. Lalu saya iseng tuliskan huruf-huruf awalan dari kata yang dia lupa di dinding. Alhamdulillah dia sudah mau tamat buku iqra, jadi tidak masalah jika saya menuliskan huruf arab..
Saya suruh dia hafalkan, lalu kalau mau nonton/main harus setor hafalan Al Falaq dulu dengan lancar. Dia langsung semangat menghafak menghadap contekan dindingnya. Tring!! Dia membaca beberapa kali dan bilang, "Mi, siap setoran!". Dalam hati saya sempat underestimate, yah belum juga 5 menit. Tapi MasyaaAllah ternyata dia bisa melantunkan Al Falaq dengan lancar! 🎉🎉🎉🎉😋😍😘 Saat petang tadi, ketika dia minta main face deco untuk melukis wajah pada abinya, dia masih mampu melantunkan Al Falaq dengan lancar. Alhamdulillah hari ini, saya sebagai ibu sekaligus guru utamanya telah mendapat titik terang dalam strategi pembelajaran untuk Kakak Rafifa. Semoga saya semakin kreatif!
Well, sekarang mari lihat tabel pengamatan gaya belajar Kakak secara umum.
Berdasarkan tabel itu, Kakak punya gaya visual-kinestetik. Ya memang kelihatannya kakak memiliki gaya visual, tapi saat disuguhkan family project dengan kemasan praktek seperti membuat prakarya, memasak atau drama dari buku ceritanya, dia sangat berbinar-binar. Ya, dia sangat ketagihan dengan kegiatan seperti itu. 😊
Gaya Belajar Anak
Day #1 Menghafal Dengan Contekan Dinding
Hari ini, Minggu 23 April 2017, saya baru mulai menyalakan mesin game level #4, hehe.. Kenapa saya baru mulai? Karena qadarullah beberapa hari ini si bungsu Fatimah (19 m) sedang sakit, demam dan batuk. Dia sedang cukup rewel sampai hari ini. Jadi untuk Fatimah, saya belum bisa mengamati kegiatannya hari ini, karena maunya dipangku terus. Si Kakak Rafifa lah (5y4m) yang diobservasi lebih dulu.
Pagi ini saya murajaah hafalan Al Quran Kakak, berdasarkan buku pegangan sekolahnya. Dia harus sudah hafal beberapa surat pendek termasuk Al Falaq. Nah, di Al Falaq ini dia masih agak macet, ketuker-tuker. Saya talqin beberapa kali, masih aja ketuker pas disuruh baca sendiri. Lalu saya iseng tuliskan huruf-huruf awalan dari kata yang dia lupa di dinding. Alhamdulillah dia sudah mau tamat buku iqra, jadi tidak masalah jika saya menuliskan huruf arab..
Saya suruh dia hafalkan, lalu kalau mau nonton/main harus setor hafalan Al Falaq dulu dengan lancar. Dia langsung semangat menghafak menghadap contekan dindingnya. Tring!! Dia membaca beberapa kali dan bilang, "Mi, siap setoran!". Dalam hati saya sempat underestimate, yah belum juga 5 menit. Tapi MasyaaAllah ternyata dia bisa melantunkan Al Falaq dengan lancar! 🎉🎉🎉🎉😋😍😘 Saat petang tadi, ketika dia minta main face deco untuk melukis wajah pada abinya, dia masih mampu melantunkan Al Falaq dengan lancar. Alhamdulillah hari ini, saya sebagai ibu sekaligus guru utamanya telah mendapat titik terang dalam strategi pembelajaran untuk Kakak Rafifa. Semoga saya semakin kreatif!
Well, sekarang mari lihat tabel pengamatan gaya belajar Kakak secara umum.
Berdasarkan tabel itu, Kakak punya gaya visual-kinestetik. Ya memang kelihatannya kakak memiliki gaya visual, tapi saat disuguhkan family project dengan kemasan praktek seperti membuat prakarya, memasak atau drama dari buku ceritanya, dia sangat berbinar-binar. Ya, dia sangat ketagihan dengan kegiatan seperti itu. 😊
Game Level #4
🎗GAME LEVEL 4🎗
*📖 Gaya belajar anak 📖*
Setiap anak itu cerdas. Hanya saja kemampuan anak untuk mengerti hal yang berbeda tergantung pada gaya belajar anak. Bisa dominan hanya pada 1 gaya belajar saja, namun bisa juga gabungan dari beberapa gaya belajar dengan urutan belajar yang berbeda.
Dengan mengetahui gaya belajarnya anak akan lebih mudah mempelajari sesuatu.
🔍Pengamatan mendalam terhadap keseharian anak bisa membantu orangtua mengenali gaya belajar anak
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
*Tantangan 10 hari level 4*
📝Bagi yang sudah mempunyai anak
1. Lakukan pengamatan terhadap anak pada saat kegiatan sehari-hari. Gunakan tabel untuk memudahkan pengamatan (tabel terlampir)
2. Tuliskan hasil pengamatan setiap harinya
3. Cermati gaya belajar anak berdasarkan hasil pengamatan
📝Bagi yang single dan belum punya anak lakukan pengamatan terhadap diri sendiri ataw orang terdekat
📝Bagi yang sudah berhasil menemukan gaya belajar anak dan diri sendiri bisa menuliskan hasil pengamatannya (dari mulai proses sampai berhasil menemukan gaya belajarnya)
#Tantangan10Hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP
*📖 Gaya belajar anak 📖*
Setiap anak itu cerdas. Hanya saja kemampuan anak untuk mengerti hal yang berbeda tergantung pada gaya belajar anak. Bisa dominan hanya pada 1 gaya belajar saja, namun bisa juga gabungan dari beberapa gaya belajar dengan urutan belajar yang berbeda.
Dengan mengetahui gaya belajarnya anak akan lebih mudah mempelajari sesuatu.
🔍Pengamatan mendalam terhadap keseharian anak bisa membantu orangtua mengenali gaya belajar anak
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
*Tantangan 10 hari level 4*
📝Bagi yang sudah mempunyai anak
1. Lakukan pengamatan terhadap anak pada saat kegiatan sehari-hari. Gunakan tabel untuk memudahkan pengamatan (tabel terlampir)
2. Tuliskan hasil pengamatan setiap harinya
3. Cermati gaya belajar anak berdasarkan hasil pengamatan
📝Bagi yang single dan belum punya anak lakukan pengamatan terhadap diri sendiri ataw orang terdekat
📝Bagi yang sudah berhasil menemukan gaya belajar anak dan diri sendiri bisa menuliskan hasil pengamatannya (dari mulai proses sampai berhasil menemukan gaya belajarnya)
#Tantangan10Hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP
Materi #4 Gaya Belajar Anak
_Institut Ibu Profesional_
_Kelas Bunda Sayang Materi #4_
*MEMAHAMI GAYA BELAJAR ANAK, MENDAMPINGI DENGAN BENAR*
Dulu kita adalah anak/murid yang selalu menerima apa saja yang diberikan orangtua/guru kita, apabila ada hal-hal yang belum kita pahami, lebih cenderung diam, tidak berani untuk menanyakan kembali. Karena paradigma yang muncul saat itu, banyak bertanya dianggap bodoh atau mengganggu proses pembelajaran.
Itu baru tingkat pemahaman, guru/orangtua kita sangat sedikit yang mau memahami bagaimana cara kita bisa belajar dengan baik, yang ada kita harus menerima gaya orangtua/guru kita mengajar.
Sehingga anak yang gaya belajarnya tidak sesuai dengan gaya mengajar guru/orangtuanya, akan masuk kategori “siswa dengan tingkat pemahaman rendah” dan kadang mendapat label “bodoh”.
Jaman berubah, dan terus akan berubah. Sudah saatnya kita harus mengubah paradigma baru di dunia pendidikan.
Dari sisi orangtua/pendidik:
*Apabila anak tidak bisa belajar dengan cara/gaya kita mengajar, maka kita harus belajar mengajar dengan cara mereka BISA belajar*
Dari sisi anak/siswa:
*Setiap anak/siswa PASTI BISA belajar dengan baik, setiap anak akan belajar dengan CARA yang BERBEDA*
Sudah saatnya kita belajar memahami gaya belajar anak-anak ( Learning Styles) dan memahami gaya mengajar kita sebagai pendidik ( Teaching Styles ) karena kedua hal tersebut di atas akan berpengaruh pada gaya bekerja kita dan anak-anak ( Working Styles ).
Karena kalau tidak, kita dan anak-anak akan masuk kategori masyarakat buta huruf abad 20, yang didefinisikan Alvin Toffler sbb :
*Mereka yang dikategorikan buta huruf di abad 20 bukanlah individu yang tidak bisa membaca dan menulis, melainkan orang yang tidak mampu belajar, tidak mau belajar dan tidak kembali belajar*
Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang gaya belajar ada baiknya kita memahami terlebih dahulu untuk apa anak-anak ini harus belajar.
Ada 4 hal penting yang menjadi tujuan anak-anak belajar yaitu :
a.Meningkatkan Rasa Ingin Tahu anak ( Intellectual Curiosity)
b. Meningkatkan Daya Kreasi dan Imajinasinya ( Creative Imagination)
c. Mengasah seni / cara anak agar selalu bergairah untuk menemukan sesuatu ( Art of Discovery and Invention)
d.Meningkatkan akhlak mulia anak-anak ( Noble Attitude)
Fokuslah kepada 4 hal tersebut selama mendampingi anak-anak belajar. Buatlah pengamatan secara periodik, apakah rasa ingin tahunya naik bersama kita/selama di sekolah? Apakah kreasi dan imajinasinya berkembang dengan bagus selama bersama kita /selama di sekolah? Apakah anak-anak suka menemukan hal baru, dan keluar *Aha! Moment*( teriakan “Aha! Aku tahu sekarang” atau ekspresi lain yang menunjukkan kebinaran matanya) selama belajar?
Apakah dengan semakin banyaknya ilmu yang anak-anak dapatkan di rumah/di sekolah semakin meningkatkan akhlak mulianya?
Setelah memahami tujuan anak-anak belajar baru kita memasuki tahapan-tahapan memahami berbagai gaya belajar anak-anak.Gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar anak. Jika diberikan strategi yang sesuai dengan gaya belajarnya, anak dapat berkembang dengan lebih baik.
Gaya belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar. Artinya, setiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda.
Modalitas belajar adalah cara informasi masuk ke dalam otak melalui indra yang kita miliki.
Tiga macam modalitas belajar anak:
☘Auditory : modalitas ini mengakses segala macam bunyi, suara, musik, nada, irama, cerita, dialog, dan pemahaman materi pelajaran dengan menjawab atau mendengarkan lagu, syair, dan hal-hal lain yang terkait.
☘ Visual : modalitas ini mengakses citra visual, warna, gambar, catatan, tabel diagram, grafik, serta peta pikiran, dan hal-hal lain yang terkait.
☘ Kinestetik: modalitas ini mengakses segala jenis gerak, aktifitas tubuh, emosi, koordinasi, dan hal-hal lain yang terkait.
Mari kita pahami gaya belajar tersebut secara detil, kita pahami ciri-cirinya dan bagaimana strategi kita untuk mendampingi anak-anak dengan gaya belajarnya masing-masing.
📌GAYA BELAJAR VISUAL ( Belajar dengan cara melihat)
Lirikan keatas bila berbicara, berbicara dengan cepat. Bagi anak yang bergaya belajar visual, mata / penglihatan (visual) memegang peranan penting dalam belajar, dalam hal ini metode pengajaran yang digunakan ibu/guru sebaiknya lebih banyak / dititikberatkan pada peragaan / media, ajak mereka ke obyek-obyek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut, atau dengan cara menunjukkan alat peraganya langsung pada siswa atau menggambarkannya di papan tulis.
Anak yang mempunyai gaya belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya/ibunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video.
📌 Ciri-ciri gaya belajar visual :
🌷Bicara agak cepat
🌷Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi
🌷Tidak mudah terganggu oleh keributan
🌷Mengingat yang dilihat, dari pada yang didengar
🌷Lebih suka membaca dari pada dibacakan
🌷Pembaca cepat dan tekun
🌷Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata
🌷Lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato
🌷Lebih suka musik
🌷Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya.
📌Strategi untuk mempermudah proses belajar anak visual :
📝Gunakan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta.
📝Gunakan warna untuk menghilite hal-hal penting.
📝Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi.
📝Gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video).
📝Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar.
📌GAYA BELAJAR AUDITORI (belajar dengan cara mendengar)
Lirikan kekiri/kekanan mendatar bila berbicara. Anak yang bertipe auditori mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga ( alat pendengarannya ), untuk itu maka ibu/ guru sebaiknya harus memperhatikan siswa/anaknya hingga ke alat pendengarannya. Anak yang mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru/ibu katakan.
Anak auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi anak auditori dibandngkan dengan mendengarkannya.
Anak-anak seperi ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset.
📌Ciri-ciri gaya belajar auditori :
🌷Saat bekerja suka bicara kepada diri sendiri
🌷Penampilan rapi
🌷Mudah terganggu oleh keributan
🌷Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat
🌷Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
🌷Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca
🌷Biasanya ia pembicara yang fasih
🌷Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
🌷Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik
🌷Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan Visual
🌷Berbicara dalam irama yang terpola
🌷Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara
📌 Strategi untuk mempermudah proses belajar anak auditori :
📝Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas maupun di dalam keluarga.
📝Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras.
📝Gunakan musik untuk mengajarkan anak.
📝Diskusikan ide dengan anak secara verbal.
📝Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan dorong dia untuk mendengarkannya sebelum tidur.
📌 GAYA BELAJAR KINESTETIK (belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh)
Lirikan kebawah bila berbicara, berbicara lebih lambat. Anak yang mempunyai gaya belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Anak yang bergaya belajar ini belajarnya melalui gerak dan sentuhan
📌 Ciri-ciri gaya belajar kinestetik :
🌷Berbicara perlahan
🌷Penampilan rapi
🌷Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan
🌷Belajar melalui memanipulasi dan praktek
🌷Menghafal dengan cara berjalan dan melihat
🌷 Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca
🌷Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita
🌷Menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca
🌷Menyukai permainan yang menyibukkan
🌷Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada di tempat itu
🌷Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi.
📌Strategi untuk mempermudah proses belajar anak kinestetik:
📝Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam.
📝Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya (contohnya: ajak dia baca sambil bersepeda, gunakan obyek sesungguhnya untuk belajar konsep baru).
📝Izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar.
📝Gunakan warna terang untuk menghilite hal-hal penting dalam bacaan.
📝 Izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik
Ketika belajar memahami anak-anak, sejatinya kita sedang belajar memahami diri kita sendiri. Apabila bunda semuanya bisa melihat gaya belajar anak-anak karena sering mengamati perkembangan mereka, maka kitapun akan dengan mudah mengamati gaya belajar kita, gaya mengajar kita dan gaya bekerja kita.
Hal ini akan lebih membuat kita bahagia menjalankan proses belajar. Dijamin proses belajar juga tidak akan pernah berhenti dari buaian sampai ke liang lahat.
Anak-anak sangat menyukai bermain, karena energi yang dimunculkan ketika bermain tidak akan pernah habis. Apabila kita bisa memaknai belajar dan bekerja selayaknya anak-anak bermain, sudah dapat dibayangkan betapa asyiknya belajar dan bekerja dalam kehidupan ini. Karena setiap saat anak-anak akan menemukan energi yang terbarukan dalam proses belajarnya dan kita akan mendapatkan energi yang terbarukan dalam proses bekerja.
*Don’t Teach me , I Love to Learn*
Salam Ibu Profesional,
/Tim Fasilitator Bunda Sayang/
📚Sumber Bacaan:
_Gordon Dryden and JeanetteVos, The Learning Revolution, ISBN-13: 978-1929284009_
_Barbara Prashing, The Power of Learning Styles, Kaifa, 2014_
_Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Memahami Gaya Belajar Anak, GazaMedia, 2016_
_Kelas Bunda Sayang Materi #4_
*MEMAHAMI GAYA BELAJAR ANAK, MENDAMPINGI DENGAN BENAR*
Dulu kita adalah anak/murid yang selalu menerima apa saja yang diberikan orangtua/guru kita, apabila ada hal-hal yang belum kita pahami, lebih cenderung diam, tidak berani untuk menanyakan kembali. Karena paradigma yang muncul saat itu, banyak bertanya dianggap bodoh atau mengganggu proses pembelajaran.
Itu baru tingkat pemahaman, guru/orangtua kita sangat sedikit yang mau memahami bagaimana cara kita bisa belajar dengan baik, yang ada kita harus menerima gaya orangtua/guru kita mengajar.
Sehingga anak yang gaya belajarnya tidak sesuai dengan gaya mengajar guru/orangtuanya, akan masuk kategori “siswa dengan tingkat pemahaman rendah” dan kadang mendapat label “bodoh”.
Jaman berubah, dan terus akan berubah. Sudah saatnya kita harus mengubah paradigma baru di dunia pendidikan.
Dari sisi orangtua/pendidik:
*Apabila anak tidak bisa belajar dengan cara/gaya kita mengajar, maka kita harus belajar mengajar dengan cara mereka BISA belajar*
Dari sisi anak/siswa:
*Setiap anak/siswa PASTI BISA belajar dengan baik, setiap anak akan belajar dengan CARA yang BERBEDA*
Sudah saatnya kita belajar memahami gaya belajar anak-anak ( Learning Styles) dan memahami gaya mengajar kita sebagai pendidik ( Teaching Styles ) karena kedua hal tersebut di atas akan berpengaruh pada gaya bekerja kita dan anak-anak ( Working Styles ).
Karena kalau tidak, kita dan anak-anak akan masuk kategori masyarakat buta huruf abad 20, yang didefinisikan Alvin Toffler sbb :
*Mereka yang dikategorikan buta huruf di abad 20 bukanlah individu yang tidak bisa membaca dan menulis, melainkan orang yang tidak mampu belajar, tidak mau belajar dan tidak kembali belajar*
Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang gaya belajar ada baiknya kita memahami terlebih dahulu untuk apa anak-anak ini harus belajar.
Ada 4 hal penting yang menjadi tujuan anak-anak belajar yaitu :
a.Meningkatkan Rasa Ingin Tahu anak ( Intellectual Curiosity)
b. Meningkatkan Daya Kreasi dan Imajinasinya ( Creative Imagination)
c. Mengasah seni / cara anak agar selalu bergairah untuk menemukan sesuatu ( Art of Discovery and Invention)
d.Meningkatkan akhlak mulia anak-anak ( Noble Attitude)
Fokuslah kepada 4 hal tersebut selama mendampingi anak-anak belajar. Buatlah pengamatan secara periodik, apakah rasa ingin tahunya naik bersama kita/selama di sekolah? Apakah kreasi dan imajinasinya berkembang dengan bagus selama bersama kita /selama di sekolah? Apakah anak-anak suka menemukan hal baru, dan keluar *Aha! Moment*( teriakan “Aha! Aku tahu sekarang” atau ekspresi lain yang menunjukkan kebinaran matanya) selama belajar?
Apakah dengan semakin banyaknya ilmu yang anak-anak dapatkan di rumah/di sekolah semakin meningkatkan akhlak mulianya?
Setelah memahami tujuan anak-anak belajar baru kita memasuki tahapan-tahapan memahami berbagai gaya belajar anak-anak.Gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar anak. Jika diberikan strategi yang sesuai dengan gaya belajarnya, anak dapat berkembang dengan lebih baik.
Gaya belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar. Artinya, setiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda.
Modalitas belajar adalah cara informasi masuk ke dalam otak melalui indra yang kita miliki.
Tiga macam modalitas belajar anak:
☘Auditory : modalitas ini mengakses segala macam bunyi, suara, musik, nada, irama, cerita, dialog, dan pemahaman materi pelajaran dengan menjawab atau mendengarkan lagu, syair, dan hal-hal lain yang terkait.
☘ Visual : modalitas ini mengakses citra visual, warna, gambar, catatan, tabel diagram, grafik, serta peta pikiran, dan hal-hal lain yang terkait.
☘ Kinestetik: modalitas ini mengakses segala jenis gerak, aktifitas tubuh, emosi, koordinasi, dan hal-hal lain yang terkait.
Mari kita pahami gaya belajar tersebut secara detil, kita pahami ciri-cirinya dan bagaimana strategi kita untuk mendampingi anak-anak dengan gaya belajarnya masing-masing.
📌GAYA BELAJAR VISUAL ( Belajar dengan cara melihat)
Lirikan keatas bila berbicara, berbicara dengan cepat. Bagi anak yang bergaya belajar visual, mata / penglihatan (visual) memegang peranan penting dalam belajar, dalam hal ini metode pengajaran yang digunakan ibu/guru sebaiknya lebih banyak / dititikberatkan pada peragaan / media, ajak mereka ke obyek-obyek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut, atau dengan cara menunjukkan alat peraganya langsung pada siswa atau menggambarkannya di papan tulis.
Anak yang mempunyai gaya belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya/ibunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video.
📌 Ciri-ciri gaya belajar visual :
🌷Bicara agak cepat
🌷Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi
🌷Tidak mudah terganggu oleh keributan
🌷Mengingat yang dilihat, dari pada yang didengar
🌷Lebih suka membaca dari pada dibacakan
🌷Pembaca cepat dan tekun
🌷Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata
🌷Lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato
🌷Lebih suka musik
🌷Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya.
📌Strategi untuk mempermudah proses belajar anak visual :
📝Gunakan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta.
📝Gunakan warna untuk menghilite hal-hal penting.
📝Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi.
📝Gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video).
📝Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar.
📌GAYA BELAJAR AUDITORI (belajar dengan cara mendengar)
Lirikan kekiri/kekanan mendatar bila berbicara. Anak yang bertipe auditori mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga ( alat pendengarannya ), untuk itu maka ibu/ guru sebaiknya harus memperhatikan siswa/anaknya hingga ke alat pendengarannya. Anak yang mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru/ibu katakan.
Anak auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi anak auditori dibandngkan dengan mendengarkannya.
Anak-anak seperi ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset.
📌Ciri-ciri gaya belajar auditori :
🌷Saat bekerja suka bicara kepada diri sendiri
🌷Penampilan rapi
🌷Mudah terganggu oleh keributan
🌷Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat
🌷Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
🌷Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca
🌷Biasanya ia pembicara yang fasih
🌷Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
🌷Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik
🌷Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan Visual
🌷Berbicara dalam irama yang terpola
🌷Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara
📌 Strategi untuk mempermudah proses belajar anak auditori :
📝Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas maupun di dalam keluarga.
📝Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras.
📝Gunakan musik untuk mengajarkan anak.
📝Diskusikan ide dengan anak secara verbal.
📝Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan dorong dia untuk mendengarkannya sebelum tidur.
📌 GAYA BELAJAR KINESTETIK (belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh)
Lirikan kebawah bila berbicara, berbicara lebih lambat. Anak yang mempunyai gaya belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Anak yang bergaya belajar ini belajarnya melalui gerak dan sentuhan
📌 Ciri-ciri gaya belajar kinestetik :
🌷Berbicara perlahan
🌷Penampilan rapi
🌷Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan
🌷Belajar melalui memanipulasi dan praktek
🌷Menghafal dengan cara berjalan dan melihat
🌷 Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca
🌷Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita
🌷Menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca
🌷Menyukai permainan yang menyibukkan
🌷Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada di tempat itu
🌷Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi.
📌Strategi untuk mempermudah proses belajar anak kinestetik:
📝Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam.
📝Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya (contohnya: ajak dia baca sambil bersepeda, gunakan obyek sesungguhnya untuk belajar konsep baru).
📝Izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar.
📝Gunakan warna terang untuk menghilite hal-hal penting dalam bacaan.
📝 Izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik
Ketika belajar memahami anak-anak, sejatinya kita sedang belajar memahami diri kita sendiri. Apabila bunda semuanya bisa melihat gaya belajar anak-anak karena sering mengamati perkembangan mereka, maka kitapun akan dengan mudah mengamati gaya belajar kita, gaya mengajar kita dan gaya bekerja kita.
Hal ini akan lebih membuat kita bahagia menjalankan proses belajar. Dijamin proses belajar juga tidak akan pernah berhenti dari buaian sampai ke liang lahat.
Anak-anak sangat menyukai bermain, karena energi yang dimunculkan ketika bermain tidak akan pernah habis. Apabila kita bisa memaknai belajar dan bekerja selayaknya anak-anak bermain, sudah dapat dibayangkan betapa asyiknya belajar dan bekerja dalam kehidupan ini. Karena setiap saat anak-anak akan menemukan energi yang terbarukan dalam proses belajarnya dan kita akan mendapatkan energi yang terbarukan dalam proses bekerja.
*Don’t Teach me , I Love to Learn*
Salam Ibu Profesional,
/Tim Fasilitator Bunda Sayang/
📚Sumber Bacaan:
_Gordon Dryden and JeanetteVos, The Learning Revolution, ISBN-13: 978-1929284009_
_Barbara Prashing, The Power of Learning Styles, Kaifa, 2014_
_Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Memahami Gaya Belajar Anak, GazaMedia, 2016_
Sabtu, 15 April 2017
Aliran Rasa Game Projek Keluarga Fitri Purbasari Depok
Aliran Rasa Game Projek Keluarga
Kuliah Bunda Sayang #3
Ini Kuliah Kerja Nyata!
Alhamdulillah, nilai utama yang saya dapat dari game #3 dalam Kuliah Bunda Sayang ini adalah Memaknai Aktivitas Keluarga. Kami memulai dengan kegiatan sederhana. Alhamdulillah si sulung Rafifa (5 th) ketagihan. Dia antusias mengusulkan projek tiap harinya. Saya belajar untuk mengesampingkan ego dan selera saya dalam memilih atau menjalankan projek nya. Hihihiii... Saya selalu mengaktifkan alarm bahwa family project ini spesial untuk anak-anak, bukan orang tuanya. Jadi aktornya ya mereka. Hehe..
Jujur saya masih meraba-raba makna dari setiap kegiatan yang kami lakukan, juga untuk bagian apresiasinya. Selan itu, tahap master mind nya masih belum sempurna. Semoga semakin hari semakin baik. Dan family project kami bisa diperluas scope nya agar lebih bermanfaat.
Saya pun masih mengunyah terus materi-materi keren yang disajikan. MasyaaAllah, semakin bikin kening berkerut. Hehee.. Ini benar-benar kuliah kerja nyata! 😍
Terima kasih, founders and team!
Semoga Allah membalas kebaikan Anda semua dengan kebahagiaan dunia-akhirat. Aamiin.
Kuliah Bunda Sayang #3
Ini Kuliah Kerja Nyata!
Alhamdulillah, nilai utama yang saya dapat dari game #3 dalam Kuliah Bunda Sayang ini adalah Memaknai Aktivitas Keluarga. Kami memulai dengan kegiatan sederhana. Alhamdulillah si sulung Rafifa (5 th) ketagihan. Dia antusias mengusulkan projek tiap harinya. Saya belajar untuk mengesampingkan ego dan selera saya dalam memilih atau menjalankan projek nya. Hihihiii... Saya selalu mengaktifkan alarm bahwa family project ini spesial untuk anak-anak, bukan orang tuanya. Jadi aktornya ya mereka. Hehe..
Jujur saya masih meraba-raba makna dari setiap kegiatan yang kami lakukan, juga untuk bagian apresiasinya. Selan itu, tahap master mind nya masih belum sempurna. Semoga semakin hari semakin baik. Dan family project kami bisa diperluas scope nya agar lebih bermanfaat.
Saya pun masih mengunyah terus materi-materi keren yang disajikan. MasyaaAllah, semakin bikin kening berkerut. Hehee.. Ini benar-benar kuliah kerja nyata! 😍
Terima kasih, founders and team!
Semoga Allah membalas kebaikan Anda semua dengan kebahagiaan dunia-akhirat. Aamiin.
Langganan:
Postingan (Atom)
Resume Diskusi: Desain Global Sekolah Unggul
Bismillah.. alhamdulillah malam ini bisa bergabung di diskusi online Kelas 100 Guru PAUD berjudul Desain Global Sekolah Unggul. Pematerinya...
-
Tambah lagi aplikasi game bahasa Inggris untuk untuk bahan latihan anak-anak SMP-SMA yang ikut les di rumah. Namanya Ultimate English Spelli...
-
Aliran Rasa #1 Komunikasi Produktif Kuliah Bunda Sayang IIP KOMUNIKASI PRODUKTIF, IT'S A WOW WAY! Astaghfirullah, Subhanallah, M...
-
Alhamdulillah dengan tab yang diberikan suamiku ini saya bisa leluasa menggunakannya menjadi media pembelajaran khususnya bagi para murid le...




