Sabtu, 26 November 2016

MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FITRAH (MATERI #4)

MATERI MATRIKULASI IBU PROFESIONAL SESI #4  DAN DISKUSI TANYA JAWAB*
_Selasa, 8 November 2016, Pukul 20.00-21.00_
_Matrikulasi IIP Depok Batch 2_
➖➖➖➖➖➖➖
*MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FITRAH*
Bunda, setelah kita memamahi bahwa salah satu alasan kita melahirkan generasi adalah untuk membangun kembali peradaban dari dalam rumah kita, maka semakin jelas di depan mata kita, ilmu-ilmu apa saja yang perlu kita kuasai seiring dengan misi hidup kita di muka bumi ini. Minimal sekarang anda akan memiliki prioritas ilmu-ilmu apa saja yang harus anda kuasai di tahap awal, dan segera jalankan, setelah itu tambah ilmu baru lagi. Bukan saya, sebagai teman belajar anda di IIP selama ini, maupun para ahli parenting lain yang akan menentukan tahapan ilmu yang harus anda kuasai, melainkan *_DIRI ANDA SENDIRI_*
Apakah mudah? TIDAK.  Tapi yakinlah bahwa kita bisa membuatnya menyenangkan. Jadilah diri anda sendiri, jangan hiraukan pendapat orang lain. Jangan silau terhadap kesuksesan orang lain. Mereka semua selalu berjalan dari KM 0, maka mulai tentukan KM 0 perjalanan anda tanpa rasa “galau”.
Inilah sumber kegalauan diri kita menjalankan hidup, kita tidak berusaha memahami terlebih dahulu apa“misi hidup” kita sebagai individu dan apa “misi keluarga” kita sebagai sebuah komunitas terkecil. Sehingga semua ilmu kita pelajari dengan membabi buta dan  tidak ada yang dipraktekkan sama sekali. Semua seminar dan majelis ilmu offline maupun online kita ikuti, karena kekhawatiran tingkat tinggi akan ketertinggalan ilmu kekinian, tapi tidak ada satupun yang membekas menjadi jejak sejarah perjalanan hidup anda.
Check List harian sudah anda buat dengan rapi di Nice Homework#2, surat cinta sudah anda buat dengan sepenuh hati  di Nice Homework #3. Bagi yg sudah menemukan misi hidup dan misi keluarga, Misi tersebut sudah kita tulis besar-besar di dinding kamar, tapi anda biarkan jadi pajangan saja. Maka “tsunami informasilah” yang anda dapatkan, dan ini menambah semakin tidak yakinnya kita kepada “kemampuan fitrah” kita dalam mendidik anak-anak. 
“ *Just DO It*”,
_lakukan saja meskipun anda belum paham, karena Allah lah yang akan memahamkan anda lewat laku kehidupan kita_.
Demikian juga dengan pendidikan anak-anak. Selama ini kita heboh pada _Apa yang harus dipelajari anak-anak kita_,  bukan pada _Untuk apa anak-anak mempelajari hal tersebut_ Sehingga banyak ibu-ibu yang bingung memberikan muatan-muatan pelajaran ke anak-anaknya tanpa tahu untuk apa anak-anak ini harus melakukannya. 
Ada satu kurikulum pendidikan yang tidak akan pernah berubah hingga akhir jaman, yaitu 
PENDIDIKAN ANAK DENGAN KEKUATAN FITRAH
Tahap yang harus anda jalankan adalah sbb:
a.Bersihkan hati nurani anda, karena ini faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan anda.
b. Gunakan Mata Hati untuk melihat setiap perkembangan fitrah anak-anak. Karena sejatinya sejak lahir anak-anak sudah memiliki misi spesifik hidupnya, tugas kita adalah membantu menemukannya sehingga anak-anak tidaka kan menjadi seperti kita, yang telat menemukan misi spesifik hidupnya.
c. Pahami Fitrah yang dibawa anak sejak lahir itu apa saja. Mulai dari fitrah Ilahiyah, Fitrah Belajar, Fitrah Bakat, Fitrah Perkembangan, Fitrah Seksualitas dll. 
d. Upayakan proses mendidik yang sealamiah mungkin sesuai dengan sunatullah tahap perkembangan manusia. Analogkan diri anda dengan seorang petani organik.
e. Selanjutnya tugas kita adalah MENEMANI, sebagaimana induk ayam mengerami telurnya dengan merendahkan tubuh dan sayapnya, seperti petani menemani tanamannya. Bersyukur atas potensi dan bersabar atas proses. 
Semua riset tentang pendidikan ternyata menunjukkan bahwa semakin berobsesi mengendalikan, bernafsu mengintervensi, bersikukuh mendominasi dsbnya hanya akan membuat proses pendidikan menjadi semakin tidak alamiah dan berpotensi membuat fitrah anak anak kita rusak.
f. Manfaatkan momen bersama anak-anak, bedakan antara WAKTU BERSAMA ANAK dan WAKTU DENGAN ANAK. Bersama anak itu anda dan anak berinteraksi mulai dari hati, fisik dan pikiran bersama dalam satu lokasi. Waktu dengan anak, anda dan anak secara fisik berada dalam lokasi yang sama, tapi hati dan pikiran kita entah kemana.
g. Rancang program yang khas bersama anak, sesuai dengan tahap perkembangannya, karena anak anda “very limited special edition” 
Bunda, mendidik bukanlah menjejalkan, mengajarkan, mengisi dsbnya. Tetapi pendidikan, sejatinya adalah proses membangkitkan, menyadarkan, menguatkan fitrah anak kita sendiri.
Lebih penting mana membuat anak bergairah belajar dan bernalar atau menguasai banyak pelajaran, lebih penting mana membuat mereka cinta buku atau menggegas untuk bisa membaca.
Jika mereka sudah cinta, ridha, bergairah maka mereka akan belajar mandiri sepanjang hidupnya. 
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

Sumber bacaan :
_Irawati Istadi, Mendidik dengan Cinta, Jogjakarta, 2013_
_Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016_
_Antologi, Komunitas Ibu Profesional, Bunda Sayang, Surakarta, 2014_
_Materi Matrikulasi sesi #3, Membangun Peradaban dari Dalam Rumah, 2016_
➖➖➖➖➖➖➖
➖➖➖➖➖➖➖
*Sesi Tanya Jawab*
1⃣ Bunda Wiwit :
utk materi ke 4 ini Mendidik dg Kekuatan Fitrah.
Welk noted utk KM0,Tsunami informasi,tahapan ilmu serta yg paling intinya
Pahami Fitrah yg dibawa anak sejak lahir: Fitrah Ilahiyah,Fitrah Belajar,Fitrah Bakat,Fitrah perkembangan,Fitrah seksualitas dll.
Saya ingin sekali bisa memahami aspek2 fitrah yg ada pada anak kita,krn saya msh awam.
Mohon berkenan utk penjelasannya lebih detail mengenai fitrah2 yg ada pada anak kita tsb msg2 :
Fitrah Ilahiyah,Fitrah Belajar,Fitrah Bakat,Fitrah perkembangan,Fitrah seksualitas dll.
Jazakillah khairan katsiraa 😊🙏🏼
1⃣bunda Wiwit
*Fitrah Ilahiyah (keimanan)*
meliputi spiritualitas, moralitas dan religiusitas. Setiap anak dilahirkan untuk mencintai Tuhannya yang selanjutnya akan membentuk karakternya (akhlakul karimah). Pada usia dibawah 7 tahun, fitrah ini sangat mudah dibangkitkan dengan imajinasi dan abstraksi tentang Allah, Rasul, kebaikan dan segala ciptaan-Nya.
*Fitrah belajar*
adalah keinginan untuk mempelajari sesuatu secara alami, tidak perlu diajarkan secara khusus.
Kita hanya perlu menemani dan mengarahkan, hal apa yang disukai anak. Jika anak suka sains, fasilitasi dengan buku, bisa juga melihat dan mengamati tumbuhan atau makhluk hidup disekitarnya.
Dalam bukunya Origins, Annie Murphy Paul membuktikan bahwa bayi selama 9 bulan dalam kandungan telah mampu menyerap apa yang terjadi diluar tubuh ibunya.
Dalam sebuah penelitian tahun 1999 di kawasan kumuh di India, dilakukan eksperimen dengan meletakkan sebuah komputer di tempat umum yang memungkinkan di sentuh anak-anak. Walau tanpa diajarkan, ternyata anak-anak itu mampu mengoperasikan komputer. Bahkan jika komputer itu menggunakan bahasa asing.
*Fitrah Bakat*
meliputi Talent, Passion & Strength. Setiap anak adalah unik dan memiliki sifat bawaan masing-masing yang kemudian akan berkembang menjadi karakternya. Dengan karakternya, akan berkembang bakat yang akan menjadi misi hidup yang spesifik untuk bisa berperan dalam peradaban.
Masa-masa keemasan untuk mengembangkan fitrah bakat ini adalah usia 10-14
Biasanya di usia ini anak sudah mulai menentukan satu bidang yg dia sukai dengan lebih serius.
*Fitrah Perkembangan*
Segala yang ada di muka bumi memiliki sunnatullah tahapan pertumbuhannya masing-masing yang berkorelasi dengan dimensi waktu dan dimensi kehidupan.
Ada masa dimana benih atau biji ditanam dan disemai, ada masanya benih bertunas, ada masanya tumbuh cabang dan daun, ada masanya berbunga, ada masanya berbuah begitu seterusnya.
Untuk setiap masa itu ada cara dan tujuannya masing-masing. Dalam sunnatullah perkembangan atau pertumbuhan ini maka tidak berlaku kaidah “makin cepat makin baik”, juga jangan terlalu terlambat untuk tiap tahapannya. Segala sesuatunya akan indah bila tumbuh pada saatnya.
*Analogikan diri anda seperti petani organik*
Petani organik itu tidak pernah menggegas dengan menambahkan berbagai macam hal2 yg tidak alamiah. Para petani ini ingin menemani tanaman itu tumbuh sesuai dgn kehendakNya. Tidak memaksakan proses sehingga hasilnya dipaksakan sesuai kehendak kita sang perawat.
*Fitrah Seksualitas*
Secara fitrah seksualitas, anak lelaki mulai lebih didekatkan kepada ayah agar tumbuh fitrah kelelakiannya secara alamiah, begitupula anak perempuan mulai lebih didekatkan pada ibu agar tumbuh fitrah keperempuanannya secara alamiah baik individu maupun sosial. Pada puncak tumbuhnya fitrah seksualitas ini, maka fitrah peran seksualitas ini akan menjadi adab pada orangtua, adab pada perannya sebagai lelaki, adab pada perannya sebagai perempuan dalam skala personal maupun komunal. ✅
2⃣ Bunda Laela
Mendidik anak sealamiah mungkin, saya blm begitu paham tentang itu, bisa dijelaskan lbh detil? Apakah yg dimaksud sealamiyah itu  sesuai tahapan nya jangan terlalu terburu buru mengajarkan ini itu atau bagaimana?
Trimakasih sebelumnya
2⃣bunda Laela
Betul..
buatlah pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan buat anak. Jangan pernah memaksa anak untuk bisa semua hal. Tapi kuatkan di bidang yg anak kuasai.. maka itu akan lebih bermakna.
"jangan paksakan anak burung untuk jago berenang, karena dia hanya jago terbang.
Dan jangan paksakan ikan untuk jago terbang, karena dia hanya jago berenang.
Jadi fokus pada kelebihan anak bukan pada kekurangannya.✅
3⃣ bunda Nira
pada point d mendidik anak dengan fitrah,  mendidik anak dengan sunatullah,  realnya seperti apa
3⃣ bunda Nira
Pertanyaannya sama seperti bunda Laela.
Saya tambahkan lagi ya..
Tugas kita sebagai orangtua hanya menemani proses pembelajarannya, tumbuh kembangnya.. Jika ingin melihat indikatornya, bandingkan dengan dirinya sendiri dimasa yg lalu. Jangan pernah membandingkan anak kita dengan anak yang lain.
Contoh: sekarang anak kita senang membaca buku. Padahal setahun yang lalu dia belum bisa membaca.
Sekarang anak kita sudah bisa merapihkan sepatunya sendiri. Padahal setahun yg lalu masih melepas sepatu sembarangan.
Bersyukur dan beri pujian atas pencapaiannya.
Buat hal2 yg ingin dicapai lebih baik lagi oleh anak kita tapi dimulai dari yang sederhana dulu dalam kegiatan sehari-hari sesuai usianya. Jangan terlalu memaksakan.✅
4⃣bunda Ika
Di poin G: Rancang program yang khas bersama anak.
Ini seperti apa ya? apakah setiap hari kita membuat aktivitas khusus untuk masing-masing anak? atau bagaimana ya? Terima kasih..
4⃣bunda Ika
Iya. Buatlah rencana kegiatan.. misal minggu ini kita mau main apa ya? Mau kemana dan nanti disana ada nilai pembelajarannya.
Karena sampai usia 12 tahun selama anak belum aqil baligh maka pasti anak akan senang bermain atau menghabiskan waktu bersama keluarga.
Dan setelah aqil baligh, biasanya anak tidak lagi selalu ingin berada disamping kita. Lanjutkan dengan menjadikan anak sebagai *sahabat* ✅
5⃣ Ibu insiyah
Mba saya ibu 3 anak,yg pertama 12 thn alhamdulillah msk pesantren,yg kedua umur 3 thn 10 bln,yg ketiga 4 bln.,yang ingin saya tanyakan apakah salah jika yang menentukan pilihan sekolah itu orang tua,anak saya yg kedua itu aktif banget makanya saya memasukkan sekolah TK dari umur 3 thn,apa itu terlalu dini?
5⃣bunda Insiyah
Sebaiknya dalam menentukan sekolah, kita berikan beberapa pilihan kepada anak kita, mau masuk kemana? Ajarkan anak berdiskusi dan belajar menentukan pilihan.
Diberikan anak yang aktif itu anugerah sebenarnya. Dan sebagai orangtua kita harus berlatih sabar dalam menghadapinya.
Kalau menurut bunda sendiri, anak kedua bunda nyaman kah disekolahkan sejak dini? Pernah kah dia mengeluh capek atau bilang kalau dia maunya dirumah aja sama bunda dan adiknya?
Coba ditanyakan bun..
Kalau si anak tengah merasa senang dan nyaman, menurut saya sih tdk masalah.
Tapi kalau ternyata dia merasa dijauhkan dari adik dan bundanya sebaiknya jangan disekolahkan dulu.. berarti dia belum mau. ✅
6⃣bunda Azay
Bagaimana cara membersamai/ menemani di waktu bersama anak yg ideal bagi seorang ibu yg aktif di ranah publik(tidak bisa 24jam bersama anak) agar tetap bisa mendidik anak sesuai fitrahnya?
6⃣bunda Azay
Kalau saya pribadi selalu meluangkan waktu di hari minggu khusus untuk anak-anak.
Karena ketiga anak saya mondok di pesantren.
Dihari minggu itulah kami orangtua berusaha *Membersamai* anak-anak.. karena hanya diberi waktu dari pukul 9 pagi sampai 5 sore.
Terserah anaknya mau dibawa kemana untuk lepas kangen kangenan 😅
Biasanya saya selalu ajak *ngobrol*.
Membawakan makanan atau buah kesukaan mereka. Sambil makan atau sambil jalan-jalan. Sekedar menanyakan perasaannya, bercanda, bermain, baca buku, dan melepas lelah dan kejenuhan mereka selama 6 hari dengan aktifitas yang padat.
Saya selalu merancang waktu untuk 3 hal:
*me time* waktu saya untuk sendiri
*we time* waktu saya hanya berduaan dengan suami, dan
*family time* waktu bersama keluarga.
Semua waktu itu berusaha kami penuhi sekali dalam satu minggu.
Bagaimana dengan bunda?
Bunda pasti punya waktu kosong.
misal dimalam hari sebelum tidur,
saat makan malam bersama,
Silahkan gunakan untuk *ngobrol* bareng keluarga.
Jangan sampai kita berguna bagi orang lain tapi anggota keluarga sendiri merasa kehilangan.
Coba berusaha buat manajemen waktu yang baik.
Hal ini bisa juga ditanyakan ke mba nia yang punya pengalaman dalam membersamai anaknya saat sepulang kerja dimalam hari. Karena beliau juga bekerja diranah publik.✅
Nia ➡ Menambahkan penjelasan dari mbak Zy, setelah bunda memahami apa saja jenia fitrah maka kita terapkan diri kita sebagai "Manajer Keluarga". Manajer berarti kita yang mengatur dan mengelola apa saja yang keluarga kita butuhkan termasuk soal menjaga fitrah anak dan pendidikannya.
Nah sebagai ibu bekerja di ranah publik, ibu sebagai seorang manajer keluarga dapat mendelegasikan tugas tersebut. Sehingga tugas kita untuk menyampaikan atau mengedukasi pihak yang kita berikan tanggung jawab dalam menjaga anak kita selama kita bekerja. Diskusikan dan obrolkan bersama.
Bu Septi juga bercerita, dulu ketika anak-anak bu Septi kecil ada asisten untuk mengurus anak, bu Septi ajarkan berbagai cara yang telah dipikirkan Bu Septi contoh: cara berkomunikasi dengan anak, cara mendampingi membaca buku. Bu Septi mengajak asistennya ikut seminar parenting dsb. Dan pada akhirnya asistennya tersebut saat ini sudah memiliki sekolah tk sendiri. 😊
Dan jika saya pribadi saya juga punya waktu komitmen diantaranya:
1. Pada saat jam istirahat saya selalu sempatkan telfon anak saya untuk mengobrol.
2. Saat sampai rumah, setelah siap sudah mandi makan sholat menghela nafas, saya serahkan sepenuh jiwa raga saya untuk anak. Kegiatan apapun yang ia inginkan. Mengejar ketertinggalan saya di ranah Bunda Sayang dan Bunda Cekatan
3. Weekend full untuk anak menjalankan family project or family trip. Main bersama. Jika ada kelas iip 2 jam, maka akan dikondisikan kembali.
Kelihatan berat? Pada awalnya iya. Saya pun demikian tapi ini konsekuensi saya memilih ranah publik. Saya gak mau anak ketinggalan karena excuse saya bekerja.
InsyaAllah bagi saya ini investasi, mumpung masih ada umur dan rizki tenaga.
Kadang beberapa hari dalam sebulan apabila saya pulang lebih larut atau saya lelah amat sangat saya minta maaf pada anak karena tidak optimal. Itu saja. Agar anak ridho.

7⃣Bunda Nurul
Assalamualaikum. Apakah ada tips yg mudah kita terapkan manakala ada  perasaan apa yg kita lakukan dalam mendidik anak kita tidak sebaik keluarga yang lain.  Niat awal untuk menjadi gambaran atau contoh,  namun seringkali malah jadi merasa terintimidasi. Merasa banyak kurang...merasa jauh tertinggal.Terima kasih
7⃣ bunda Nurul
Rumput tetangga memang terlihat lebih hijau ya 😅 Sebaiknya kita segera merenung.
Model pendidikan keluarga kita sebaiknya berdasarkan gaya belajar anak2 kita sendiri. Kita tdk bisa terus menerus meniru gaya belajar orang lain. Karena sudah pasti kebutuhannya berbeda beda.
Mengambil sisi positif dari orang lain itu boleh boleh saja.
Bahkan di Ibu Profesional kita mengenalnya dengan istilah ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi)
Jadi.. bunda bisa saja melihat model pendidikan dari keluarga lain.. asalkan di modifikasi dengan kebutuhan masing2 anak kita. ✅
8⃣ Bunda Diyan
Menilik tahapan2 dlm mendidik anak dg kekuatan fitrah menurut saya sesuai modelnya bila dilakukan dg  sistem homeschooling. Saya berminat sekali dg sistem ini tapi anak saya cenderung ingin masuk sekolah formal. Tahun ini blm saya daftarkan coz saya baru saja resign dan ingin PDKT lg sama anak. Bagaimana saya harus bersikap? Tetap sounding tentang HS atau menuruti dl keinginannya sambil tetap sounding?
(Duuh maksa banget saya ya)
8⃣bunda Diyan
Bu Septi pernah menawarkan kepada anak2nya. Beliau memberikan 3 pilihan sekolah terbaik yang cocok dengan value keluarganya atau belajar dirumah bersama ibu dan bapaknya.
Dan setahu saya si sulung mba Enes pernah sekolah di sekolah swasta pilihannya sebelum akhirnya homeschooling juga.
Jadi memang sebaiknya berikan pilihan dengan segala konsekuensinya dan dengarkan pilihan anak.
Jika ditengah jalan akhirnya dia memutuskan ingin HS jangan pernah menyalahkan pilihannya. Karena semua itu terjadi karena kehendakNya. Dan pasti ada pelajaran yang bisa diambil.
Pengalaman saya, anak pertama dan kedua pindah sekolah sampai 2x dan baru memilih mondok dipesantren dengan keinginannya sendiri.. dan saya sebagai orangtua tidak pernah menyesali perjalanan itu.. karena banyak hikmah yang bisa kami jadikan pelajaran dalam hidup ini. ✅
9⃣bunda Marie
Pertanyaan : Bagaimana cara memahami fitrah anak sejak lahir? Dan bagaimana meyakinkan diri kita sebagai ortu dan anak kita bahwa itu adalah fitrahnya.
9⃣bunda Marie
Fitrah berasal dari akar kata fa-ta-ro dalam bahasa Arab yang berarti membuka atau menguak.
Fitrah sendiri mempunyai makna asal kejadian, keadaan yang suci dan kembali ke asal. Dalam Islam terdapat konsep bahwa setiap orang dilahirkan dalam keadaan fitrah.
*Sumber: wikipedia*
Jadi sebagai orangtua, kita hanya mengarahkan agar si anak tetap menjadi makhluk ciptaanNya yang harus taat dengan melewati tahapan dalam hidupnya hingga kembali padaNya. ✅
*Diskusi tambahan*
❓❓Gimana membuat anak eksplorasi dg alam tp d lingkungan rmh susah dpt kebun atw kolam aplg sawah hehee. Ada kebun orang lain.
⏩Ijin aja ke kebun orang jika dibolehkan asal jangan merusak hehe
❓❓Mba Zy, mengembangkan fitrah Ilahiyah itu bagaimana caranya ya? Fitrah ini cenderung terlewati, padahal merupakan dasar. apakah fitrah-fitrah ini bentuknya bertingkat ya? maksud saya, fase-fasenya seperti piramida.
⏩Tetap sesuai usia mba.
0-7 tahun perbanyak main dengan alam terbuka untuk menanamkan nilai ketuhanan.
7-14 tahun mulai mendisiplinkan ibadah dengan konsisten
14-21 pendalaman keimanan untuk mempersiapkan anak menjadi makhluk sosial yang bermanfaat untuk sesama dan mempersiapkan anak memasuki tahap menjadi manusia dewasa #imho
❓❓Mba.. Cara utk menguatkan rasa ingin tau anak gmn ya? Anak saya yg pertama di usia balitanya saya rasa banyak sekali ingin tau, dilihat dgn banyak tanya. Sekarang di usia yg mau tujuh tahun, porsi bertanya nya agak melemah. Memang begitu fitrahnya atau ada pola yg salah ya?
⏩Rasa ingin tahu yg besar dan banyak bertanya adalah ciri2 anak yg cerdas. Jadi sediakan waktu untuk menjawab pertanyaan anak.
Ada kemungkinan anak merasa diacuhkan atau dibentak saat bertanya itu juga bisa menyebabkan anak jadi enggan bertanya lagi..
⏩Husnudzon saya, dia kadang sudah menemukan jawabannya sendiri sebelum akhirnya banyak tanya 😂 Tapi ya saya kangen sama dia yg cerewet tanya ini itu.. Memang kompleks sih pertanyaannya jd kadang mungkin anak kurang terpuaskan dgn jawaban ibunya. Smg Allah selalu bimbing kami.. Trm ksh mba Zy 😇
⏩Aamiin.. sebagai orangtua.. kita memang harus pintar menjawab pertanyaan anak. Jika memang tidak tahu, ajak anak mencari jawabannya dengan bertanya kepada orang lain yg lebih tahu atau cari di google 😂
❓❓Hampir mirip pertanyaan sy... bedanya kemandirian... usia dini kemandiriannya sdh terlihat, usia bertambah malah semakin menurun dan selalu minta dilayani... 😰
⏩Menurut saya bundanya kurang "tega" dalam mendisiplinkan anak.
Karena untuk melatih kemandirian anak butuh ketegasan. Jika bunda atau ayahnya pernah melanggarnya. Maka anak akan kendor kedisiplinannya
❓❓Mba zy, jika anak usia pra sekolah yg blm bisa menentukan apa2 yg menyenangkannya (menurut saya sih ini 😬), kira2 butuh brp x atau brp lama kita coba di satu hal, smpai kita tau dia suka atau tidak. Misal kita sedang mencoba mengenalkan renang, diperjalanan dia bilang gak suka. Apa kita langsung turuti beralih ke yg lain atau lihat perkembangan smpai brp lama?
⏩Menurut ippho santosa 90 hari waktu yang cukup untuk menentukan apakah kita memang masih menyukai kegiatan tersebut atau tidak. Jika ia dlm waktu tersebut sdh bosan bisa diganti dgn kegiatan lain. Jika tetap menyukainya. Teruskan..bisa jadi itu passionnya
❓❓Saya mau tanya..Saya suka khawatir karena curriosity anak saya seperti tidak ada habisnya. (usianya 7 tahun). Kemarin pulang sekolah dia minta diajarin perkalian. 🙈 (Alhamdulillaah penjumlahan dan pengurangan sudah mampu dikuasai). Tapi saya agak khawatir, kalo perkembangan secara kognisinya terlalu cepat. Seperti hal nya dulu, di usianya menjelang 5 tahun, saya belum mau mengajarinya membaca tapi dia sudah banyak bertanya dan minta diajari membaca. (mungkin karena hampir setiap hari dia melihat saya membaca buku saya sendiri atau membacakannya cerita).  Padahal saya hampir tidak pernah membahas pelajaran sekolah saat di rumah. Jikapun bertanya hanya melakukan review sesekali tentang pengalaman belajarnya, apa yang baru dia tahu dll. Tapi lebih sering dia duluan yang cerita. 🙈Ummi.. Tadi aku belajar ini, tapi aku masih bingung. Padahal udah dijelasin. Ummi ajarin aku ya..? Saya lebih banyak bertanya tentang dengan siapa dia bermain? Apa yang seru di sekolah hari ini? Dll.. Karena orientasi saya saat ini, yang penting anak saya senang belajar, dan senang berteman. Apa yang sebaiknya saya lakukan..?
⏩Curriosity anak yang besar sangat bagus. Jadi tdk perlu dikhawatirkan.
Yang tdk boleh, kita memaksakan kehendak kita agar anak bisa ini bisa itu.
Tapi kalau anak yg meminta mengapa tidak diajarkan bun? Barangkali memang itu kebutuhannya. Cepat dalam belajar.. sehingga bisa terjadi sebaliknya jika dia sudah banyak tahu tapi tidak ditambah pengetahuannya nanti dia akan bosan..#imho
Penutup
Ingat..
Jadilah diri anda sendiri, jangan hiraukan pendapat orang lain. Jangan silau terhadap kesuksesan orang lain. Mereka semua selalu berjalan dari KM 0, maka mulai tentukan KM 0 perjalanan anda tanpa rasa “galau”.
😊😊😊😊😊
Alhamdulillah..
Terima kasih mba Ika.. dan bunda-bunda semua..
Semoga kita semua selalu sehat dan bahagia bersama keluarga.
Wassalamu'alaikum wr wb

#FITRI PURBASARI_NHW6

👰 IBU MANAJER KELUARGA HANDAL 👰

Yes! Sekarang saatnya belajar menjadi bunda cekatan niih..Menjadi Manajer Keluarga Handal!
Menurut IIP, kita perlu mempelajari tahap ini untuk mempermudah menemukan peran hidup kita dan juga untuk mempermudah kita mendampingi anak-anak dalam menemukan peran hidupnya. Namun, ada hal-hal yang kadang mengganggu proses kita menemukan peran hidup, diantaranya adalah RUTINITAS.
Bener banget kata IIP, menjalankan pekerjaan rutin yang tidak selesai, membuat kita "Merasa Sibuk" sehingga kadang tidak ada waktu lagi untuk menemukan diri.
Naaah, berikut adalah tahapan-tahapan yang akan membantu kita menemukan diri yang tersembunyi..
  1. Kita perlu menuliskan 3 aktivitas yang paling penting dan 3 aktivitas yang paling tidak penting.
    3 Aktivitas Paling Penting buat saya: 
    1) Mengurus Anak
    2) Merapikan Rumah
    3) Menulis artikel/buku cerita

    3 Aktivitas Paling Tidak Penting:
    1) Browsing saat bersama anak
    2) Nonton TV
    3) Stalking media sosial
  2. Jawablah pertanyaan ini: "Waktu Anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?
    Jawabanku adalah stalking media sosial , sering hawatir ketinggalan chat di grup, astaghfirulloh. 😞
  3. Jadikan 3 "aktivitas paling penting" menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk menambah jam terbang peran hidup kita: Bunda Sayang, Bunda Cekatan, dan Penulis.
  4. Kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan "kandang waktu", dan patuhi cut off time. Kandang waktu aktivitas rutin saya adalah jam 04.00-07.00 dan jam 19.00-21.00. 
  5. Jangan izinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian.
  6. Buatlah jadwal harian yang paling mudah dikerjakan.
    Saya mengkandangkan jadwal rutin di jam 04.00-07.00, jadwal dinamis (memperbanyak jam terbang) dari jam 07.00-19.00, dan kembali ke aktivitas rutin mulai jam 7 malam.
    Asiik.. saya punya 7 to 7 professional time dan akan mencoba tip dari Bunda Septi Sang Founder IIP untuk tampil chic saat bekerja. 👰
  7. Amati selama seminggu pertama, apakah terlaksana dengan baik? Jika tidak, segera revisi, jika baik, lanjutkan sampai 3 bulan.
    Berikut ilustrasi jadwal harian saya. 
Bismillah..semoga semakin kokoh dan konsisten dalam kebaikan. aamiin. 😇

IBU MANAJER KELUARGA HANDAL

Materi Matrikulasi IIP Depok sesi #6 dan hasil diskusi Selasa, 22 Januari 2016 Pukul 20.00-21.00 

*Motivasi Bekerja Ibu*
Ibu rumah tangga adalah sebutan yang biasa kita dengar untuk ibu yang bekerja di ranah domestik. Sedangkan Ibu Bekerja adalah sebutan untuk ibu yang bekerja di ranah publik. Maka melihat definisi di atas, sejatinya semua ibu adalah *_ibu bekerja_* yang wajib professional menjalankan aktivitas di kedua ranah tersebut, baik domestik maupun publik.
Apapun ranah bekerja yang ibu pilih, memerlukan satu syarat yang sama, yaitu
kita harus “SELESAI” dengan management rumah tangga kita.
Kita harus merasakan rumah kita itu lebih nyaman dibandingkan aktivitas dimanapun. Sehingga anda yang memilih sebagai ibu yang bekerja di ranah domestik, akan lebih professional mengerjakan pekerjaan di rumah bersama anak-anak. Anda yang Ibu Bekerja di ranah publik, tidak akan menjadikan bekerja di publik itu sebagai pelarian ketidakmampuan kita di ranah domestik.
Mari kita tanyakan pada diri sendiri, apakah motivasi kita bekerja ?
🍀Apakah masih *ASAL KERJA*, menggugurkan kewajiban saja?
🍀Apakah didasari sebuah *KOMPETISI* sehingga selalu ingin bersaing dengan orang/ keluarga lain?
🍀Apakah karena *PANGGILAN HATI* sehingga anda merasa ini bagian dari peran anda sebagai Khalifah?
Dasar motivasi tersebut akan sangat menentukan action kita dalam menangani urusan rumah tangga dan pekerjaan kita
.
🍀Kalau anda masih “ASAL KERJA” maka yang terjadi akan mengalami tingkat kejenuhan yang tinggi, anda menganggap pekerjaan ini sebagai beban, dan ingin segera lari dari kenyataan.
🍀Kalau anda didasari “KOMPETISI”, maka yang terjadi anda stress, tidak suka melihat keluarga lain sukses
🍀Kalau anda bekerja karena “PANGGILAN HATI” , maka yang terjadi anda sangat bergairah menjalankan tahap demi tahap pekerjaan yang ada. Setiap kali selesai satu tugas, akan mencari tugas berikutnya, tanpa _MENGELUH_.

*Ibu Manajer Keluarga*
Peran Ibu sejatinya adalah seorang manager keluarga, maka masukkan dulu di pikiran kita "Saya Manager Keluarga"
kemudian bersikaplah, berpikirlah selayaknya seorang manager.
🍀Hargai diri anda sebagai manager keluarga, pakailah pakaian yang layak (rapi dan chic) saat menjalankan aktivitas anda sebagai manager keluarga.
🍀Rencanakan segala aktivitas yang akan anda kejakan baik di rumah maupun di ranah publik, patuhi
🍀Buatlah skala prioritas
🍀Bangun Komitmen dan konsistensi anda dalam menjalankannya.

*Menangani Kompleksitas Tantangan*
Semua ibu, pasti akan mengalami kompleksitas tantangan, baik di rumah maupun di tempat kerja/organisasi, maka ada beberapa hal yang perlu kita praktekkan yaitu :
*_a. PUT FIRST THINGS FIRST_*
Letakkan sesuatu yang utama menjadi yang pertama. Kalau buat kita yang utama dan pertama tentulah anak dan suami. - Buatlah perencanaan sesuai skala prioritas anda hari ini - aktifkan fitur gadget anda sebagai organizer dan reminder kegiatan kita.
*_b.ONE BITE AT A TIME_*
Apakah itu one bite at a time?
-Lakukan setahap demi setahap -Lakukan sekarang -Pantang menunda dan menumpuk pekerjaan
*_c. DELEGATING_*
Delegasikan tugas, yang bisa didelegasikan, entah itu ke anak-anak yang lebih besar atau ke asisten rumah tangga kita.
*_ Ingat anda adalah manager, bukan menyerahkan begitu saja tugas anda ke orang lain, tapi anda buat panduannya, anda latih, dan biarkan orang lain patuh pada aturan anda_*
_Latih-percayakan-kerjakan-ditingkatkan-latihlagi-percayakan lagi-ditingkatkan lagi begitu seterusnya_
Karena pendidikan anak adalah dasar utama aktivitas seorang ibu, maka kalau anda memiliki pilihan untuk urusan delegasi pekerjaan ibu ini, usahakan pilihan untuk mendelegasikan pendidikan anak ke orang lain adalah pilihan paling akhir.

*Perkembangan Peran*
Kadang ada pertanyaan, sudah berapa lama jadi ibu? Kalau sudah melewati 10.000 jam terbang seharusnya kita sudah menjadi seorang ahli di bidang manajemen kerumahtanggaan. Tetapi mengapa tidak? Karena selama ini kita masih
*_SEKEDAR MENJADI IBU_*
Ada beberapa hal yang bisa bunda lakukan ketika ingin meningkatkan kualitas bunda agar tidak sekedar menjadi ibu lagi, antara lain:
🍀Mungkin saat ini kita adalah kasir keluarga, setiap suami gajian, terima uang, mencatat pengeluaran, dan pusing kalau uang sudah habis, tapi gajian bulan berikutnya masih panjang.
Maka tingkatkan ilmu di bidang perencanaan keuangan, sehingga sekarang bisa menjadi “managjer keuangan keluarga.
🍀Mungkin kita adalah seorang koki keluarga, tugasnya memasak keperluan makan keluarga. Dan masih sekedar menggugurkan kewajiban saja. Bahwa ibu itu ya sudah seharusnya masak.Sudah itu saja, hal ini membuat kita jenuh di dapur.
Mari kita cari ilmu tentang manajer gizi keluarga, dan terjadilah perubahan peran.
🍀Saat anak-anak memasuki dunia sekolah, mungkin kita adalah tukang antar jemput anak sekolah. Hal ini membuat kita tidak bertambah pintar di urusan pendidikan anak, karena ternyata aktivitas rutinnya justru banyak ngobrol tidak jelas sesama ibu –ibu yang seprofesi antar jemput anak sekolah.
Mari kita cari ilmu tentang pendidikan anak, sehingga meningkatkan peran saya menjadi “manajer pendidikan anak”.
Anak-anakpun semakin bahagia karena mereka bisa memilih berbagai jalur pendidikan tidak harus selalu di jalur formal.
🍀Cari peran apalagi, tingkatkan lagi…..dst
Jangan sampai kita terbelenggu dengan rutinitas baik di ranah publik maupun di ranah domestik, sehingga kita sampai lupa untuk meningkatkan kompetensi kita dari tahun ke tahun.
Akhirnya yang muncul adalah kita melakukan pengulangan aktivitas dari hari ke hari tanpa ada peningkatan kompetensi.  Meskipun anda sudah menjalankan peran selama 10.000 jam lebih, tidak akan ada perubahan karena kita selalu mengulang hal-hal yang sama dari hari ke hari dan tahun ke tahun.
Hanya ada satu kata
BERUBAH atau KALAH
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/
_SUMBER BACAAN_:
_Institut Ibu Profesional, Bunda Cekatan, sebuah antologi perkuliahan IIP,  2015_
_Hasil diskusi Nice Homework Matrikulasi IIP Batch #1, 2016_
_Irawati Istadi, Bunda Manajer Keluarga, halaman featuring, Success Mom's Story: Zainab Yusuf As'ari, Amelia Naim, Septi Peni, Astri Ivo, Ratih Sanggarwati, Okky Asokawati,Fifi Aleyda Yahya, Oke Hatta Rajasa, Yoyoh Yusroh, Jackie Ambadar, Saraswati Chasanah, Oma Ary Ginanjar, Pustaka Inti, 2009_
----------------------------------------------------------------------------
*Tanya Jawab*
1⃣ *mimil*
Bun, seringkali ketika saya telah membuat schedule dan menjalankannya, kadang merasa seperti terjebak dalam rutinitas, ada rasa bosan, bagaimana cara mengubah kegiatan yg sudah rutin agar tidak hanya menggugurkan kewajiban dan kita tidak merasa monoton?
Contoh, memasak, mengantar anak ke sekolah, padahal saya tau dan niatnya sudah bulat. Tp kadang diri masih merasakan ada kebosanan. Bagaimana memelihara niat agar bekerja dengan hati? Bahwa semua ini bukan beban dan bukan rutinitas yg bikin bosan sehingga timbul keinginan menghindarinya
Terimakasih
➡1⃣ Jenuh dg rutinitas itu hal yg sgt wajar mb mimil, saya pun kadang mengalaminya. Yg saya lakukan adalah tafkiyatun nafs, mengingat kembali peran hidup saya di dunia ini, lalu saya melihat lg jadwal harian saya, apakah ada yg perlu diapdet spy saya lbh nyaman terutama menyangkut tugas2 rutin harian, apakah saya bisa membuat rutinitas tsb menjadi aktivitas yg menyenangkan, apakah saya sdh alokasikan waktu untuk refreshing sejenak dr rutinitas, dsb ✅
2⃣ *siti muslihah*
Pertanyaan:  Bagaimana cara meningkatkan kompetensi diri pada periode galau (misalnya saat fisik drop, tanpa ART utk delegasi , sementara suami jg sibuk kerja atau kerja nya LDR) kadang manusiawi merasa jenuh dengan rutinitas ranah domestik, bahkan kadang teringat juga ingin kembali bisa kerja  di ranah publik (bidang yg juga membuat mata berbinar). ?
➡2⃣ Lihat jawaban no.1 ya ☺
Saya ingin menanggapi pertanyaan no. 1&2
Jenuh itu sangat wajar, maka saat kita jenuh, kita coba *berhenti sejenak*  (berpikir) untuk mengatur strategi yang lebih kreatif dan menyenangkan.
Lalu bagaimana jika mengalami kelelahan?
Maka silahkan bunda cek dan ricek, pasti ada *ketidakseimbangan* disana..
Entah itu kita kurang istirahat, asupan kita kurang sementara energi banyak terbuang habis, pikiran kita butuh di _refresh_ atau kita butuh _me time_. Coba diskusikan dengan suami dan anak-anak tentang hal ini.
3⃣ *ulfa*
Mengenai pendelegasian tugas. Yang ingin saya tanyakan adalah tentang pendelegasian tugas domestik kepada ART.
Bertahun tahun kemarin, saya bekerja hampir full day. Karena selain mengajar di full day school juga mengelola sebuah yayasan. Saya punya ART di rumah yang hanya membantu saya dalam tugas domestik.
Sementara urusan anak, sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya dan suami.
Sekarang saya resign dan merasa sangat tidak terampil dalam melaksanakan tugas domestik. 😔
Akhirnya saya memutuskan memberhentikan ART dengan hormat karena ingin belajar kembali menghandle pekerjaan rumah.
Tapi suami saya berharap kami tetap punya ART karena beliau berharap saya lebih fokus dengan pengembangan diri saya
(seperti yang saya tulis di NHW#1).
Mohon saran..
Apakah saya harus mengikuti keinginan suami saya memilki ART (pulang pergi) atau saya tetap berusaha berlatih agar target saya tercapai (menjadi buncek) ?
Jazaakillaah khayran katsir..
➡3⃣ teh ulfa, menjadi bunda cekatan bukan berarti semua harus ditangani sendiri ☺
Kalo sanggup (=mampu dan mau) akan lbh baik , krn kita akan walk the talk.
Tapi kalo tidak sanggup dan butuh bantuan, maka kita harus meningkatkan peran kita dg mendelegasikan tugas kpd ART, tantangannya adalah bgmn mendidik ART spy bisa melaksanakan tugasnya sesuai dg standar kita, itu juga salah satu target buncek. ✅
4⃣ *Wiwit*
Saya merasa tertampar dg materi sesi ke-6 ini. Deeply Question! Apa motivasi ibu bekerja..
Tetapi saya masih merasa kesulitan utk cara yg ke-3 menangani kompleksitas tantangan menjadi ibu,yaitu Delegating..terkadang saya ingin sesuai dg standar saya saja (cenderung perfeksionis).mhn pencerahan dr tim fasilitator?
Jazakillah khairan katsiraa 😊🙏🏼
➡4⃣ Lakukan pendelegasian tsb secara bertahap mb wiwit, sama spt kita melatih anak kita.
Latih -percayakan - kerjakan -tingkatkan - latih lagi -percayakan lagi - tingkatkan lagi dst sampai mencapai standar yg kita mau ✅
5⃣ *maria susanti*
Apakah tolak ukur kita BERUBAH atau KALAH itu mesti 10.000 jam terbang dulu ya?Kalau masih seperti itu juga aktifitas kita tiap hari berulang2 sampe bertahun berarti kita sudah dibilang KALAH ya mba. Bisa tolong dijelaskan mba?
➡5⃣ Kalo menunggu 10rb jam terbang baru tersadar kalo KALAH kok ya sayang banget ya mba 😅
Bisa kita cek dari milestones yg sdh kita buat, jika tidak ada peningkatan segera evaluasi ✅
6⃣ *Nana*
Saya tertarik dengan penjelasan ibu septi di bagian pengembangan peran. Apakah ada tips nya, bagaimana agar kita bisa memulai, menemukan dan memperbanyak peran peran yang bisa kita perkaya bagi seorang ibu?
➡6⃣ Peran seorang ibu itu sangaat banyak, mengurus finansial, guru, koki, perawat dsb.
Pilih slh satu dr peran tsb , lalu tingkatkan levelnya secara bertahap mulai dari sekarang ✅
7⃣ *Diyan*
saat masih bekerja saya lebih saklek dg kerapihan rumah, jadi sering ngomel kl saat pulang rumah berantakan, terutama saat suami di rumah bersama anak. Saat sudah resign, saya berusaha untuk menurunkan target kerapihan rumah, lebih santai dan tidak pake ngomel-ngomel lagi. Tapi dalam hati saya ngedumel sendiri, saya jadi merasa ini tidak sehat, tapi ga mau pake ngomel jg. Saya cenderung cepat naik darah kalo kata orang.  Jadi bagaimana saya sebaiknya bersikap ya mbak?
➡7⃣ Pilih kondisi yg paling nyaman buat mb Diyan 😘
8⃣ *tantia*
Bagaimana menyikapi/ apa yg harus qt lalukan jika ada tamu yg tdk d undang, misal tetangga tanpa janjian datang, dan ngobrol panjang lebar sementara agenda qt belum selesai? D sisi lain tetangga tersebut juga butuh bantuan dr qt
➡8⃣ Kalo ini terjadi pada saya, saya akan luangkan sejenak waktu untuk tetangga tersebut , katakan 15-30 menit. Setelah itu saya akan katakan kalo ada urusan yg harus saya selesaikan, ngobrolnya disambung lain waktu ✅
9⃣ *Nia*
apakah bunda sebagai manajer keluarga harus bisa melakukan semua hal dengan tangannya sendiri? Di saat anak2 masih balita dan kndisi yg ga memungkinkan utk ada asiten rumah tangga atau sarana bantuan lainnya dlm rangka pendelegasian tugas, gmn mengatur semua tugas ibu? Skala prioritasnya bgmn?
➡ 9⃣ Prioritaskan yg paling PENTING dan MENDESAK dulu mb Nia , bertahap sampai yg paling TIDAK PENTING dan TIDAK MENDESAK

🔟 *laela*
"Pendidikan anak sebagai aktivitas utama seorang ibu , jika harus mendelegasikan ke orang lain adalah pilihan terakhir"
Apakah disini bisa diartikan sebagai Home schooling adalah pilihan yang terbaik?
Atau tergantung pada anak, dan bagaimana melihat anak lbh cocok HS atau sekolah utk anak usia preschool (4-6 th)
🔟 Menurut saya bukan soal HS atau sekolah formal, pd dasarnya amanah yg kita emban sbg org tua adalah "Mendidik Anak" dengan ilmu dan akhlak yg baik. Jika kita merasa ilmu kita kurang, maka tugas kita untuk selalu upgrade kemampuan tsb ✅
*diskusi tambahan*
🔉 *Tria*
Jd sebenarnya, apakah kita yg menentukan kita sanggup utk HS atau anak yg menentukan dia mao sekolah formal atau HS dg kita di rumah?
➡Saya juga sempat galau menginginkan pendidikan yg terbaik utk anak2,, di saat pilihan utk hs menggiurkan.
Tapi mmg benar schooling atw unscholling,, mendidik adalah kewajiban ortu,, home education adalah keharusan bagi kita
➡Saya pribadi menyerahkan pilihan tsb kepada anak. Jika dia senang dg sekolah formalnya maka saya ajan berkolaborasi dg guru2nya, saling melengkapi , itu yg saya lakuian skrg
➡Ibu madrasah utama dan pertama,, sekolah hanya ikhtiar utk mengisi waktu anak saat sy tinggal bekerja di ranah publik.

Resume Diskusi: Desain Global Sekolah Unggul

 Bismillah.. alhamdulillah malam ini bisa bergabung di diskusi online Kelas 100 Guru PAUD berjudul Desain Global Sekolah Unggul. Pematerinya...