Jumat, 04 November 2016

FITRI PURBASARI_NHW3

NICE HOME WORK #3 MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH

"Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya."-- IIP

Pada minggu ketiga belajar bersama kelas matrikulasi IIP ini, kami disuguhkan materi tentang kiat-kiat awal Membangun Peradaban Dari Dalam Rumah. Subhanalloh! Materinya sungguh menyadarkan! Kami dituntun untuk memikirkan dan menemukan "misi spesifik" yang Allah lekatkan pada diri kami, pada keluarga kami. Karena sesungguhnya setiap kita adalah khalifatul fil ardh yang bertugas mengelola bumi, memakmurkan bumi, dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas tugas itu. 

Oleh karena itu, agar kami 'ngeuh', sadar sesadar-sadarnya akan amanah itu dan tidak menyia-nyiakan karunia hidup, sekarang kami ditugaskan untuk menemukan dan menuliskan dengan jelas Misi Spesial, Peran Spesifik Keluarga kami di bumi ini.
  • Keunikan Suami
Saya sepenuhnya menyadari bahwa Allah Yang Maha Pengasih pasti mempunyai maksud spesial mempertemukan saya dengan laki-laki istimewa bernama Yusup Setiadi. Laki-laki yang sebelumnya tidak saya kenal, eh tiba-tiba datang melamar dan menikahi saya (melalui proses ta'aruf singkat). Dalam proses saling mengenal yang terus berlanjut hingga kini (6 tahun usia pernikahan), saya memahami bahwa Allah menjodohkan kami untuk saling melengkapi. Mulai dari beberapa sifat yang berbeda, minat, bakat dan jurusan keilmuan yang berbeda, dan latar belakang keluarga yang berbeda kami kombinasikan agar dapat mewujudkan keluarga baru yang sesuai kehendak Allah SWT. Keluarga Taqwa, adalah Misi Pernikahan yang dia tulis dalam proposal pernikahannya yang saya terima 6 tahun yang lalu dan menjadi misi besar pernikahan kami sekarang. Suami saya adalah lelaki unggul pilihan Tuhan untuk saya, maka sejak kami dipersatukanNya, saya bertekad untuk mencintainya karena Allah saja. Saya telah menulis surat cinta untuknya. Meskipun penulisannya berlatar belakang tugas NHW#3 (hehe), tapi ini sangat membantu saya mengingat kembali keistimewaan lelakiku ini. Dia orang yang sangat sabar, tak banyak bicara, penuh pertimbangan, lembut, hampir tak pernah marah, sangat pengertian, tak mau merepotkan orang lain, tahu benar perannya sebagai imam di keluarga, demokratis, sangat well-organized, family-man, mampu mengasuh anak kecil dan pekerja cerdas. Dia tak pernah melarangku bekerja di luar rumah (sebagai guru sekolah). Dia mengizinkan saya melakukan apa yang saya inginkan selama saya enjoy dan tak kelelahan. Bahkan saat saya mulai faham kodrat wanita sesuai syari'at dan mulai galau untuk melepaskan karir keguruan saya, dia tak pernah tegas menyuruh saya untuk stay di rumah. Dengan sabar dia menerima segala analisis dan harapan yang saya cerna atas perintah syari'at itu dan memberikan support serta affirmasi atas pilihan saya untuk membangun karir sejati dari rumah. Dia memfasilitasi saya dengan mengizinkan saya mengikuti berbagai seminar yang saya minati, berlangganan majalah muslimah dan membelikan buku-buku bergizi. Lelakiku ini adalah my biggest mood booster, bahu yang selalu siap kusenderi, tangan yang selalu siap memeluk dan menghilangkan segala kegelisahan. Alhamdulillah, thank you Allah. By the way, setelah membaca surat cinta yang penuh pujian dari saya, sang suami merespon dengan pelukan sembari mendo'akan berbagai kebaikan untuk saya. He also said, "Abi juga sayang umi karena Allah." Cuit cuiiit it's romantic! :-D
  • Keunikan Anak-Anak
Alhamdulillah Allah juga mengkaruniai saya dengan anak-anak sehat dan hebat. Dua orang putri yang sedang tumbuh dan berkembang dengan baik: Rafifa (4y11m) dan Fatimah (14m). Allah membekali mereka dengan kemampuan belajar yang cepat. Karena kami membuat lingkungan buku di rumah, mereka jadi pecinta buku. Selain itu, karena saya hobi storytelling dan seringkali membacakan buku cerita kepada mereka, anak-anak kami pun jadi suka bercerita. Si Sulung, kosakatanya begitu banyak, sehingga sering membuat saya dan keluarga amazed dengan kemampuannya bermain peran atau mengarang lagu. Dia berminat sekali belajar berbagai bahasa. Dia selalu antusias belajar bahasa Inggris karena selalu mendampingi saya ngeles bahasa Inggris di rumah, belajar bahasa Sunda karena lingkungan keluarga besar kami adalah Sundanese, dan bahasa Jawa yang menjadi bahasa kedua di kampung halaman sang ayah (perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah). Mungkin karena atmosfer keluarga besar kami itu pendidikan, anak kami jadi lebih cenderung bergaya "guru" juga (hehe). Kata guru TK nya, Rafifa sudah seperti ibu guru cilik, suka memimpin dan mengajarkan apa saja yang dia tahu kepada teman-temannya. Menurut pengamatan saya, anak saya yang pertama itu potensi menonjolnya ada di wilayah interpersonal, linguistic, dan bodily-kinesthetic. Oleh karena itu, dia tak pernah capek jika saya ajak bermain drama dengan gerakan seru dari buku-buku cerita favoritnya (salah satunya adalah Muhammad Teladanku). 
  • Keunikan Diri Saya
Saya orang yang visioner, selalu penuh harapan dan optimis. Saya tipe aktivis sosial. Saya selalu bersemangat untuk berbagi, berbagi apa saja yang saya miliki: uang saku, makanan, ilmu, pengalaman, fasilitas, ataupun informasi. Contohnya, saya belum mahir memasak, tapi tiap kali saya masak makanan yang rasanya sesuai harapan, saya seringkali membaginya dengan tetangga meskipun sedikit. Pokoknya saya selalu merasa orang lain harus merasakan kebahagiaan yang saya rasakan. Ini ternyata, saya sadari betul, adalah warisan tak ternilai dari almarhumah Mamah saya. Beliau senang berbagi dengan apa saja yang beliau punya: mulai dari berbagi beras hasil panen kepada para janda sekitar rumah dan rekannya sesama guru, membekali anak-anak tetangga yang akan berangkat karya wisata, sampai mengongkosi siapapun yang dia kenal saat bareng naik angkot. Selain itu, saya juga sangat cinta dunia pendidikan. Karena menurut saya, pendidikan adalah jalan utama menuju peradaban gemilang. Menjadi agent of change for a better future adalah passion besar saya di muka bumi ini. Saya bersyukur sekali dengan keberadaan saya ditengah suami dan akan-anak. Saya pikir Allah mengirimkan saya pada mereka agar kami bisa menjadi kombinasi yang lengkap dalam mewujudkan keluarga yang bersih dan bermanfaat bagi ummat. Saya mendampingi suami yang seorang ahli tata kota agar menjadi ahli yang menghasilkan karya yang Allah ridhoi tanpa korupsi. Pekerjaannya seputar analisis properti semoga bisa menyebarkan ilmu positif yang bermanfaat bagi lingkungan dan khususnya ummat Islam. Sebagai ibu dari anak-anak yang lucu, saya mengemban misi membersamai, menyiapkan, dan mendidik mereka menjadi prajurit-prajurit Islam yang bermanfaat bagi peradaban. Saya harus memfasilitasi mereka agar menguasai multi bahasa sehingga kelak mereka bisa berdakwah lintas negara. Mereka mampu berteman dengan baik dengan orang-orang luar negeri dan berdakwah melalui passion mereka. Saya menjadi storyteller yang menanamkan nilai-nilai kehidupan dengan menyenangkan pada anak-anak saya; because life is full of stories and we can learn many things from stories joyfully. Storytelling will be meaningful for everyone, especially for children. I'm here to be a good storyteller and storywriter. Saya juga berniat menjadi penulis buku, terutama buku cerita anak yang memuat nilai hidup Islami, untuk investasi dunia-akhirat. :-)
  • Misi Spesifik Keluarga Kami
Hmmh.. Saya sangat bersyukur lahir di keluarga yang menjadi "tokoh" di masyarakat. Hal ini menjadi energi tersendiri untuk saya berdakwah di lingkungan tanah kelahiran saya, Kecamatan Cihaurbeuti Kabupaten Ciamis. Dengan menampakkan diri sebagai muslimah berpendidikan, saya berusaha menjadi figur positif generasi muda disana: aktif di berbagai majlis ta'lim, bergabung sebagai kader desa, membentuk komunitas ngaji alumni SMP, dan membuka kelas bahasa Inggris gratis sekaligus mentoring bagi remaja. Alhamdulillah respon masyarakat sangat baik, karena sesungguhnya mereka membutuhkan sarjana seperti saya yang terlibat aktif membangun masyarakat. Namun sayang, belum lama berkiprah di desa tercinta, saya harus hijrah ke kota mendampingi suami. Di Kota Depok ini saya berlabuh. Kota yang membuat saya merasa menjadi orang baru. Tapi dimanapun, saya tetap harus bermanfaat. Allah ingin kita mendapat kebaikan dan menebar kebaikan dimanapun kita ditempatkan. Lalu saya bergabung dengan Yayasan Tunas Ilmu (YTI), sebuah yayasan sosial yang concern di bidang pendidikan untuk keluarga tidak mampu. YTI menyediakan TK gratis yang mewajibkan ibu-ibu wali muridnya mengikuti pembinaan parenting dan saya menjadi salah satu mentor parentingnya. Dari situ saya pun mulai menganalisis. Masalah terbesar yang saya lihat adalah seputar ketahanan keluarga dan pendidikan anak. Tantangan terbesar yang menarik minat saya adalah seputar pemberdayaan perempuan dan kegiatan anak-remaja. Oleh karena itu, dengan sifat saya yang begitu cinta berbagi, saya bercita-cita menjadikan rumah sebagai learning club yang memfasilitasi masyarakat sekitar untuk belajar banyak hal. Dalam rangka mendorong ketahanan keluarga, saya ingin memfasilitasi ibu-ibu untuk mempelajari ilmu dan keterampilan yang mereka butuhkan. Saya dapat bekerja sama dengan berbagai pihak dalam melakukan ini. Kemudian menyoal pendidikan, saya akan fokus pada pendidikan nonformal. Membuka les bahasa Inggris yang terjangkau dan kelas keterampilan lainnya agar anak-anak dan remaja punya kegiatan alternatif yang positif dan berguna agar mereka dapat bersaing dan survive di era globalisasi ini. Selain itu, learning club ini berfungsi juga sebagai taman baca yang akan mengkampanyekan budaya membaca. Keluarga kami harus menjadi duta membaca demi generasi Islam yang cerdas dan penuh manfaat. Rumah kami harus menjadi home base bagi anak-anak untuk ikut mewarnai dunia anak di lingkungan kami: dunia anak yang ceria, aman, dan penuh inspirasi kebaikan. Kami harus mewarnai lingkungan dengan warna kebaikan sebelum warna keburukan menodainya. Di rumah, anak-anak kami bisa bermain, belajar, dan berkarya bersama teman-temannya. Pokoknya rumah kami harus menjadi rumah belajar bagi orang-orang di lingkungan kami: belajar segala macam ilmu kebaikan yang bermanfaat.

Semoga Allah SWT memudahkan jalan kami melaksanakan misi spesifik keluarga kami, yaitu "Rumah Belajar". Kami berharap amal baik ini bisa menjadi amal jariyah bagi kami, leluhur kami, dan juga guru-guru kami, termasuk semua pihak yang terlibat dalam Matrikulasi IIP ini. Aamiin. Terima Kasih. :-)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Resume Diskusi: Desain Global Sekolah Unggul

 Bismillah.. alhamdulillah malam ini bisa bergabung di diskusi online Kelas 100 Guru PAUD berjudul Desain Global Sekolah Unggul. Pematerinya...