Selasa, 24 Januari 2017

Komprod_T10H_day1_FITRI PURBASARI_DEPOK/JABAR

Level 1: Tantangan 10 Hari Berkomunikasi Produktif

KOMUNIKASI KELUARGAKU

Alhamdulillah selama ini, kami sudah memiliki forum keluarga setiap malam setelah suami sampai di rumah. Dan dengan ilmu komunikasi produktif dari Bunda Sayang ini insyaAllah akan semakin mengokohkan forum keluarga kami. 😊

Pada hari ini, alhamdulillah Allah memberi tantangan yang menjadi jalan saya mempraktekkan ilmu bunsay kali ini. Begini ceritanya. deng deng deng....
Sepulang sekolah, Si Kakak mengambil kertas kosong dan spidolnya. Katanya mau bikin peta mencari binatang. Mulailah dia menggambar. Daaan seperti biasa, Sang Adik ikut-ikutan. Adik mengambil satu spidol dan ikut menggambar di kertas kakaknya. "IIIIH ADEEEE!!" teriak Si Kakak. Dia marah, tak ridho, lalu mulai histeris. Saya pun beraksi. Saya perhatikan intonasi dan merangkai diksi dengan KISS. Saya sampaikan "Kakak sayang, ade pengen bantu kakak, ade pengen sama-sama gambarnya. Mungkin ade pengen belajar gambar sama kakak karena gambar kakak bagus." tentu dengan suara tenang sambil mengalihkan perhatian adiknya agar menjauh dari Si Kakak "Yuk, ade disini aja yaa gambarnya. Niih umi buatkan bunga." Si Kakak cukup tenang tapi ingin menngganti kertasnya dengan yang baru. Dan lima menit berlalu. Sang Adik menghampiri kakaknya lagi. Dan..cret! Dia mencoret lagi gambar kakaknya. Again... Sang Kakak teriak dan histeris lagi. Kali ini lebih kesal dari yang tadi. "ARRRRRRGHH ADEEEE! IHH SEBELLL!" sambil meremas kertasnya. Again pula saya menyampaikan ulang kalimat-kalimat babak pertama. Tapi Kakak udah kesel banget sama adiknya. Si Kakak memelukku dan menangis. Jurus kedua, saya peluuuuk dia dengan tulus, kali ini tak ada rasa emosi hehehe.. Saya ajak dia mendekat ke dinding yang penuh coretan yang Kakak buat waktu dia berumur 2 tahun. Saya ajak dia mengenang masa itu. "Adek itu lagi pengen belajar nulis, Ka. Sama kayak Kakak dulu. Kakak suka nulis di buku ngaji umi, umi biarin. Niih, ini gambar kakak waktu kecil. Kakak seneng bikin lolipop, umi biarin kakak belajar nulis di dinding ini, karena nanti bisa dicat lagi. Lihat, gambarnya kaya coretan kan ya? ini karena kakak baru belajar. Sama kaya ade sekarang. Jadi gak apa-apa yaa kalo adek mau belajar gambar sama kakak. Biar ade juga pintar kaya kakak. ok? Yuk gambar lagi, nanti umi bantuin." And..alhamdulillah..dia sangat menerima ucapanku. Dia pun mengambil kertas baru dan memulai lagi gambar ketiganya denga perasaan tenang meski nanti Adik nyamperin lagi. 😉



So, hari ini saya belajar merubah sumbu emosi saya. Kali ini lebiiih panjang. Komunikasi saya kali ini cantik dengan intonasi kedamaian dan diksi yang positif. Alhamdulillah. 😍

Pas suami pulang, saya ceritakan kejadian menarik ini kepadanya. Dan memberikan apresiasi kepada Kakak yang sudah bersikap baik seharian ini. Perbincangan kami berlanjut pada kegiatan kakak siang tadi di sekolah. Lalu saya mengajarinya mendongeng dari balik gorden dengan boneka-boneka kecil. She loves storytelling! Setelah itu, dengan perasaan positif, anak sulung kami bersiap tidur, meminta diselimutin dan dicium keningnya. Tak lupa ritual baca shiroh Muhammad Teladanku sebagai pengantar tidurnya. 

Alhamdulillah..it was so beautiful!  

Minggu, 22 Januari 2017

BundaSayang#1

_Institut Ibu Profesional_
_Materi Kelas Bunda Sayang sesi #1_

*KOMUNIKASI PRODUKTIF*

Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif,  agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan,  baik kepada diri sendiri,  kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita.

*_KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI_*

Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadarinya bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif.

Kita mulai dari pemilihan kata yang kita gunakan sehari-hari.

*_Kosakata kita adalah output dari struktur berpikir  dan cara kita berpikir_*

Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya.

_Kata-kata anda itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata anda_

Kata  *masalah* gantilah dengan *tantangan*

Kata *Susah* gantilah dengan *Menarik*

Kata *Aku tidak tahu* gantilah *Ayo kita cari tahu*

Ketika kita berbicara “masalah” kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi.


Tapi jika kita mengubahnya dengan “TANTANGAN”, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi.


*_Pemilihan diksi (Kosa kata) adalah pencerminan diri kita yang sesungguhnya_*


Pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Maka kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan lebih bermakna.


 Jika diri kita masih sering berpikiran negatif, maka kemungkinan diksi (pilihan kata) kita juga kata-kata negatif, demikian juga sebaliknya.


*_KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN_*

Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa “aku dan kamu” adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu.


 Pasangan kita dilahirkaan oleh ayah ibu yang berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi hal lainnya.


Maka sangat boleh jadi pasangan kita memiliki *_Frame of Reference (FoR)_* dan *_Frame of Experience (FoE)_* yang berbeda dengan kita.


FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tatanilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, bukubacaan, pergaulan, indoktrinasi dll.


FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.


FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya.


Jadi jika pasangan memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR nya memang berbeda.


Komunikasi dilakukan untuk *MEMBAGIKAN* yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula SEBALIKnya.


*_Komunikasi yang baik akan membentuk FoE/FoR ku dan FoE/FoR mu ==> FoE/FoR KITA_*


 Sehingga ketika datang informasi akan dipahami secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan sesuatu,  pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan.


Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi *MEMAKSAKAN* pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.


Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI; *_bila Nalar panjang - Emosi kecil; bila Nalar pendek - Emosi tinggi_*


Komunikasi antara 2 orang dewasa berpijak pada Nalar.
Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua.


Maka bila Anda dan pasangan masih masuk kategori Dewasa --sudah bukan anak-anak dan belum tua sekali-- maka selayaknya mengedepankan Nalar daripada emosi, dasarkan pada fakta/data dan untuk problem solving.


Bila Emosi anda dan pasangan sedang tinggi, jeda sejenak, redakan dulu ==> agar Nalar anda dan pasangan bisa berfungsi kembali dengan baik.


Ketika Emosi berada di puncak amarah (artinya Nalar berada di titik terendahnya) sesungguhnya TIDAK ADA komunikasi disana, tidak ada sesuatu yang dibagikan; yang ada hanya suara yang bersahut-sahutan, saling tindih berebut benar.


Ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi Anda dan pasangan:


1. *Kaidah 2C: Clear and Clarify*

Susunlah pesan yang ingin Anda sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak.


Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.


2. *Choose the Right Time*

Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Anda yang paling tahu tentang hal ini. Meski demikian tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu yang nyaman baginya berkomunikasi dengan anda, suasana yang diinginkannya, dll.


3. *Kaidah 7-38-55*

Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi.


Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).

Anda tentu sudah paham mengenai hal ini. Bila pasangan anda mengatakan "Aku jujur. Sumpah berani mati!" namun matanya kesana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya mengambang maka pesan apa yang Anda tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang lebih Anda percayai?

Nah, demikian pula pasangan dalam menilai pesan yang Anda sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh Anda.

4. *Intensity of Eye Contact*

Pepatah mengatakan _mata adalah jendela hati_


Pada saat berkomunikasi tataplah mata pasangan dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa Anda terbuka, jujur, tak ada yang ditutupi. Disisi lain, dengan menatap matanya Anda juga dapat mengetahui apakah pasangan jujur, mengatakan apa adanya dan tak menutupi sesuatu apapun.


5. *Kaidah: I'm responsible for my communication results*

Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan.

Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya.


Perhatikan senantiasa responnya dari waktu ke waktu agar Anda dapat segera mengubah strategi dan cara komunikasi bilamana diperlukan. Keterlambatan memahami respon dapat berakibat timbulnya rasa jengkel pada salah satu pihak atau bahkan keduanya.


*KOMUNIKASI DENGAN ANAK*

Anak –anak itu memiliki gaya komunikasi yang unik.

*_Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng copy_*


Sehingga gaya komunikasi anak-anak kita itu bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya.

Maka kitalah yang harus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan kita yang memaksa anak-anak untuk memahami gaya komunikasi orangtuanya.

Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita yang harus memahami mereka.

Bagaimana Caranya ?

a. *Keep Information Short & Simple (KISS)*

Gunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu, dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu.


✅Kalimat Produktif :
“Nak, setelah mandi handuknya langsung dijemur ya”  ( biarkan aktivitas ini selesai dilakukan anak, baru anda berikan informasi yang lain)

b. *Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah*

Masih ingat dengan rumus 7-38-55 ? selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh

⛔Kalimat tidak produktif:
“Ambilkan buku itu !” ( tanpa senyum, tanpa menatap wajahnya)

✅Kalimat Produktif :
“Nak, tolong ambilkan buku itu ya” (suara lembut , tersenyum, menatap wajahnya)

Hasil perintah pada poin 1 dengan 2 akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan cemberut. Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku senang hati.

c.  *Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan*

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, Ibu tidak ingin kamu ngegame terus sampai lupa sholat, lupa belajar !”

✅Kalimat produktif :
“Nak, Ibu ingin kamu sholat tepat waktu dan rajin belajar”

d.  *Fokus ke depan, bukan masa lalu*

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nilai matematikamu jelek sekali,Cuma dapat 6! Itu kan gara-gara kamu ngegame terus,sampai lupa waktu,lupa belajar, lupa PR. Ibu juga bilang apa. Makanya nurut sama Ibu biar nilai tidak jeblok. Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, Ibu jengkel!”

✅Kalimat produktif :
“Ibu lihat nilai rapotmu, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ada yang bisa ibu bantu? Sehingga kamu bisa mengubah strategi belajar menjadi lebih baik lagi”

e. *Ganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”*

Otak kita akan bekerja seseai kosa kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul , maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.

f. *Fokus pada solusi bukan pada masalah*

⛔Kalimat tidak produktif :
“Kamu itu memang tidak pernah hati-hati, sudah berulangkali ibu ingatkan, kembalikan mainan pada tempatnya, tidak juga dikembalikan, sekarang hilang lagi kan, rasain sendiri!”

✅Kalimat produktif:
“ Ibu sudah ingatkan cara mengembalikan mainan pada tempatnya, sekarang kita belajar memasukkan setiap kategori mainan dalam satu tempat. Kamu boleh ambil mainan di kotak lain, dengan syarat masukkan mainan sebelumnya pada kotaknya terlebih dahulu”.


g. *Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan*

Berikanlah pujian dan kritikan dengan menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut.

⛔Pujian/Kritikan tidak produktif:

“Waah anak hebat, keren banget sih”
“Aduuh, nyebelin banget sih kamu”

✅Pujian/Kritikan produktif:
“Mas, caramu menyambut tamu Bapak/Ibu tadi pagi keren banget, sangat beradab, terima kasih ya nak”

“Kak, bahasa tubuhmu saat kita berbincang-bincang dengan tamu Bapak/Ibu tadi sungguh sangat mengganggu, bisakah kamu perbaiki lagi?”

h. *Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman*

⛔Kalimat Tidak Produktif:
“Makanya jadi anak jangan malas, malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal berangkat”

✅Kalimat Produktif:
“Ibu dulu pernah merasakan tertinggal barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa banget, makanya ibu selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari menjelang tidur.

I. *Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi*

⛔Kalimat tidak produktif :
“Belajar apa hari ini di sekolah? Main apa saja tadi di sekolah?

✅Kalimat produktif :
“ Ibu lihat matamu berbinar sekali hari ini,sepertinya  bahagia sekali di sekolah,  boleh berbagi kebahagiaan dengan ibu?”

j. *Ganti kalimat yang Menolak/Mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati*

⛔Kalimat tidak produktif :
"Masa sih cuma jalan segitu aja capek?"

✅kalimat produktif :
kakak capek ya? Apa yang paling membuatmu lelah dari perjalanan kita hari ini?

k. *Ganti perintah dengan pilihan*

⛔kalimat tidak produktif :
“ Mandi sekarang ya kak!”

✅Kalimat produktif :
“Kak 30 menit  lagi kita akan berangkat, mau melanjutkan main 5 menit lagi,  baru mandi, atau mandi sekarang, kemudian bisa melanjutkan main sampai kita semua siap berangkat



Salam Ibu Profesional,


/Tim Bunda Sayang IIP/

Sumber bacaan:
_Albert Mehrabian, Silent Message : Implicit Communication of Emotions and attitudes, e book, paperback,2000_

_Dodik mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015_


_Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 2014_


_Hasil wawancara dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi di Padepokan Margosari_

#NHW_11 MANAGE YOUR TEAM

IIP MATRIKULASI BATCH #2

ANDAIKATA AKU MENJADI KETUA RUMBEL IIP KOTA DEPOK

Member IIP Depok ini sungguh sangat dinamis. Sumber daya manusianya keren-keren. Banyak sekali potensi yang bisa digali dan disinergikan antar member IIP sehingga bisa memberikan kebermanfaatan yang massive bagi masyarakat Kota Depok. Rumbel IIP Kota Depok bisa menyasar berbagai kalangan dengan program penyuluhan parenting maupun pemberdayaan. 

Secara umum, program yang dibutuhkan masyarakat Kota Depok adalah sebagai berikut:
  • Kelas Parenting
    Selain mewadahi para ibu dalam matrikulasi atau kuliah online, saya pikir IIP perlu bergerak ke akar rumput melakukan penyuluhan parenting bekerja sama dengan  PKK. Sebenarnya pemerintah sudah memiliki program yang bagus melalui Posyandu, namun entah karena ketiadaan ahli atau bagaimana, program bina keluarga menjadi vacuum. Ini sangat disayangkan. Padahal masyarakat kalangan bawah sangat membutuhkan solusi pengasuhan ditengah beratnya masalah kehidupan mereka. Semoga dengan turun gunungnya para Bunda Sayang IIP Depok, peradaban kota ini akan semakin bangkit dengan kontribusi para bunda dari pelosok kelurahan.
  • Kelas Wirausaha
    Mengamati bahwa Kota Depok ini seperti kota pengusaha, diperlukan pelatihan khusus agar para pelaku usaha ini bisa meraih hasil maksimal dan menambah kebermanfaatan usahanya. Sehingga dengan begitu, insyaAlloh bukan tidak mungkin para pengusaha yang tergabung dalam IIP Depok mampu berkontribusi membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitarnya dan membantu pemerintah mengurangi kemiskinan khususnya di kota ini. 
  • Kelas Menulis
    Melalui program ini, IIP Depok bisa melahirkan para penulis penyebar inspirasi. Banyak sekali orang yang bisa dipengaruhi dengan tulisan kita baik sebagai pengusaha ataupun penyebar inspirasi. Maka bisa dibentuk kelas menulis di beberapa titik di kota Depok agar offline class yang rutin bisa dijalankan.
  • Kelas Crafting
    Industri kreatif semakin menggeliat. IIP Depok harus juga menangkap peluang ini dan mewadahi para crafter untuk bisa berbagi dengan para pecinta crafting yang membutuhkan penyuluhan. Di kelas ini mereka bisa saling berbagi manfaat.
  • Kelas Public Speaking
    Seni berbicara di depan khalayak perlu diasah oleh para member IIP Depok guna menunjang peran peradabannya berbagi dengan masyarakat sekitar. Alhamdulillah jika kemudian ada yang menjadi pembicara atau MC yang handal.


Selanjutnya, struktur organisasi RUMBEL IIP Depok yang tepat untuk menyokong program di atas adalah:
  1. Ketua
  2. Wakil Ketua
  3. Sekretaris
  4. Bendahara
  5. PJ Parenting
  6. PJ Wirausaha
  7. PJ Menulis
  8. PJ Crafting
  9. PJ Public Speaking
  10. Seksi Publikasi
Setiap pengurus saling bersinergi untuk memaksimalkan peran masing-masing. Semuanya berkontibusi mengembangkan IIP Depok agar mencapai kebermanfaatan yang lebih baik dan luas. Semuanya bersama-sama membangun komunitas untuk membangun peradaban. Oleh karena itu, agar terbangun chemistry dan rasa kekeluargaan yang mapan, diperlukan pertemuan offline secara rutin, bisa semacam arisan keluarga. 😊

Demikian rancangan program dan struktur andaikata saya menjadi Ketua RUMBEL IIP Kota Depok. Terima kasih.

NHW#10 MEMBANGUN KOMUNITAS, MEMBANGUN PERADABAN

IIP Matrikulasi Batch#2

KOORDINATOR KOMUNITAS MY PARENTING CLUB (MPC)

Sejak hijrah ke kota Depok ini, tiga tahun yang lalu, saya bergabung dengan komunitas parenting yang dikelola oleh seorang sales buku langganan saya. Kami sering difasilitasi belajar dengan para ahli yang mumpuni berkaitan dengan praktek pengasuhan. Sejak saat itu saya semakin haus belajar parenting karena ilmu itu sangat saya butuhkan dalam mendidik anak balita saya waktu itu. Selain itu, saya pun bergabung dengan sebuah yayasan di lingkungan saya yang concern dengan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Saya diamanahi membina kelas parenting ibu-ibu yang anak-anaknya bersekolah di yayasan kami. Saya pun mendorong diri membaca lebih banyak buku parenting dan mengikuti kajian-kajian/seminar parenting yang diadakan di sekitar kota Depok, termasuk yang diadakan oleh komunitas IIP Depok yang tercinta. Semakin hari saya semakin cinta parenting, selalu berbinar-binar mempelajari ilmu yang satu ini. Dan saya pun semakin mencintai kota ini karena di Depok saya bisa dengan mudah mendapatkan fasilitas belajar dalam rangka mengembangkan potensi diri. Ini sungguh sesuai dengan apa yang saya harapkan saat memilih Depok untuk menjadi kota tinggal keluarga kecil kami. Dulu saya berdo'a kepada Yang Maha Kuasa "Yaa Rabb, dekatkanlah saya dengan orang-orang hebat yang bisa mengembangkan potensi diri ini agar menjadi orang yang lebih bernilai dan bermanfaat. Aamiin." My dream comes true!! Dan saya malu jika dengan semua pihak yang amazing ini, saya tidak berubah lebih baik dan tak berkontibusi apa-apa kepada masyarakat.

Selanjutnya saya pun bergabung dengan IIP dengan penuh kesadaran dan tujuan yang clear. Setelah mengikuti program martikulasi batch#2, saya semakin jelas melihat potensi, bakat dan minat saya seperti apa. Saya yang basicnya mengajar Bahasa Inggris, sudah enjoy dengan kebiasaan berbagi ilmu. Jam terbang mengajar saya sudah mengantarkan saya berinteraksi dengan murid dari berbagai usia: anak-anak, remaja, hingga dewasa. Saat saya mengajar, saya selalu ingin menyelipkan nilai-nilai baik kehidupan (*mentoring). Setelah off mengajar di lembaga pendidikan pun saya tidak berhenti berbagi ilmu. Saya belajar mentransfer ilmu dalam majllis ta'lim, ngeles bahasa inggris dan iqra di rumah, dan menjadai fasilitator parenting binaan yayasan. So, dengan bakat yang telah Allah beri ini (menjadi fasilitator), saya tersulut untuk membentuk komunitas parenting bagi teman-teman saya di daerah yang belum bisa mendapatkan fasilitas belajar dengan para ibu keren seperti yang saya dapatkan di kota ini. Oleh karena itu, dalam rangka menularkan semangat menjadi ibu pembelajar, saya pun memberanikan diri membentuk komunitas My Parenting Club (MPC) secara online via whatsapp. 

Komunitas MPC ini terdiri dari para muslimah dengan latar belakang profesi yang beragam. Mereka sangat ingin tahu tentang ilmu parenting sebagai bekal mengasuh anak-anak mereka. Namun di daerahnya, jarang sekali ditemukan forum atau kajian yang membahas hal itu. Selain itu, banyak diantara mereka juga yang minat bacanya masih minim. Maka saat saya tawarkan untuk bergabung dengan MPC, mereka sangat antusias. Melalui MPC, saya share materi setiap hari Senin dan biasanya langsung berdiskusi tentang serba serbi materi tersebut. Setiap Jum'at pekan ke 1 & 3, saya mengundang pemateri tamu yang mumpuni untuk mengisi kajian di grup ini. Nah karena waktu luang kami berbeda-beda, seluruh peserta belum dapat ON semua pada saat jadwal diskusi dengan pemateri tamu. Tapi saya fleksible saja, kapanpun mereka ada pertanyaan tentang materi yang belum saya kuasai, saya akan forward ke ahlinya atau sang pemateri tamu. Dikarenakan kami tinggal di berbagai kota yang berjauhan, sangat sulit untuk mengadakan kopdar, kecuali saat kami pulang kampung karena sebagian besar dari kami berasal dari Priangan Timur. Saya berharap, komunitas ini dapat tumbuh dan berkembang dengan lebih baik sebagai Rumah Belajar para perempuan agar menjadi Ibu Profesional. Saya akan lebih serius mengelola MPC ini. Saya sadar betul bahwa MPC ini akan sangat bermanfaat bagi umat. Ini adalah peran peradaban yang Allah sematkan pada diri ini. Harapan saya dalam setahun ini, kegiatan belajar di MPC akan lebih mapan baik dari segi jadwal maupun materinya. Selanjutnya dengan beberapa teman saya di Ciamis dan Tasikmalaya, semoga bisa menjadi cikal bakal terbentuknya IIP di daerah itu. 

Demikian aliran rasa saya tentang peran dalam komunitas yang saya bentuk. Semoga Allah memudahkan saya menjadi pribadi yang lebih baik dan mampu mengumpulkan amal jariyah yang banyak sebagai bekal menghadapNya kelak. Aamiin. Terima kasih.



Jumat, 16 Desember 2016

#FITRI PURBASARI_NHW9

 👰 BUNDA SEBAGAI AGEN PERUBAHAN 👰

Setelah digiring menemukan passion di Matrikulasi Ibu Profesional ini, sekarang kami dituntun untuk melangkah mencicipi ranah Bunda Shaleha melalui materi Bunda Sebagai Agen Perubahan (mau baca? klik disini!). Kami diminta melihat isu sosial di lingkungan sekitar dan belajar membuat solusi terbaik di keluarga dan masyarakat. Panduannya adalah sebagai berikut.
PASSION + EMPHATY = SOCIAL VENTURE
Social Venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan.

Sedangkan social enterpreneur adalah orang yang menyelesaikan isu sosial di sekitarnya menggunakan kemampuan enterpreneur.

Sehingga seorang ibu bisa membuat perubahan di masyarakat diawali dari rasa empati, membuat sebuah usaha berkelanjutan diawali dengan sebuah passion dan menjadi orang yang merdeka menentukan nasib hidupnya sendiri.

Hal ini akan membuat kita bisa menyelesaikan permasalahan sosial di sekitar kita dengan kemampuan enterpreneur yang dimiliki. Sehingga untuk melakukan perubahan tidak perlu menunggu dana dari luar, tapi cukup tekad kuat dari dalam.

Mulailah dari yang sederhana, lihat diri kita, apa permasalahan yang kita hadapi selama ini, apabila kita bisa menyelesaikan permasalahan kita, dan membagikan sebuah solusi, bisa jadi ini menjawab permasalahan yang dihadapi orang lain. 

Setelah selesai dengan permasalahan kita sendiri, baru keluar melihat isu sosial yang ada di sekitar kita.

hemmh.. bismillahirrohmanirrohiim. Passion yang saya ambil dari kuadran SUKA-BISA adalah mengedukasi masyarakat dalam hal PARENTING. Hal ini membuat mata saya paling berbinar karena kefakiran ilmu mengasuh kedua balita saya membuat saya antusias melahap ilmu parenting. Saya ingin mengasuh dan mendidik anak-anak saya dengan tepat. Isu ini juga yang saya amati di masyarakat. Fenomena menjadi ibu tanpa ilmu membuat hati saya tergerak untuk ikut berkontribusi mengokohkan sosok ibu dalam rangka mencetak generasi yang lebih baik, generasi yang "Tak Salah Asuhan".

Well, inilah bagan projek sosial saya.


Semoga Allah swt memudahkan misi saya ini. aamiin..

BUNDA SEBAGAI AGEN PERUBAHAN

RESUME MATERI DAN DISKUSI
_Matrikulasi IIP batch #2 sesi #9_

*BUNDA SEBAGAI AGEN PERUBAHAN*

Perempuan khususnya seorang ibu adalah instrumen utama yang sangat berperan sebagai agen perubahan. Dari sisi individu untuk menjadi agen perubahan adalah hak semua orang tidak berbatas gender. Karena semua memiliki potensi dasar yang sama berupa akal, naluri dan kebutuhan fisik. Sedangkan dalam konteks masyarakat, keberadaan ibu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan keluarga, dimana keduanya memiliki porsi prioritas yang sama.
Keberadaan Ibu di masyarakat akan meningkatkan kualitas pendidikan keluarga di rumah, demikian juga pendidikan keluarga di rumah akan memberikan imbas positif pada peningkatan kualitas masyarakat.
Maka berkali-kali di Ibu Profesional kita selalu mengatakan betapa pentingnya mendidik seorang perempuan itu. Karena
*“mendidik 1 perempuan sama dengan mendidik 1 generasi”*
Maka apabila ada 1 ibu membuat perubahan maka akan terbentuk perubahan 1 generasi yaitu generasi anak-anak kita. Luar biasa kan impactnya.
Darimanakah mulainya?
Kembali lagi, kita harus memulai perubahan di ranah aktivitas yang mungkin menjadi
*“MISI SPESIFIK HIDUP KITA”*
Kita harus paham *JALAN HIDUP* kita ada dimana. Setelah itu baru menggunakan berbagai *CARA MENUJU SUKSES*.
Setelah menemukan jalan hidup, segera lihat lingkaran 1 anda, yaitu keluarga. Perubahan-perubahan apa saja yang bisa kita lakukan untuk membuat keluarga kita menjadi *CHANGEMAKER FAMILY*.
Mulailah dengan perubahan-perubahan kecil yang selalu konsisten dijalankan. Hal ini untuk melatih keistiqomahan kita terhadap sebuah perubahan.
Maka gunakan pola _kaizen_( Kai = perubahan , Zen = baik) Kaizen adalah suatu filosofi dari Jepang yang memfokuskan diri pada pengembangan dan penyempurnaan secara terus menerus dan berkesinambungan.
Setelah terjadi perubahan-perubahan di keluarga kita, mulailah masuk lingkaran 2 yaitu masyarakat /komunitas sekitar kita. Lihatlah sekeliling kita, pasti ada misi spesifik Allah menempatkan kita di RT ini, di Kecamatan ini, di kota ini atau di negara ini. Lihatlah kemampuan anda, mampu di level mana. Maka jalankan perubahan-perubahan tersebut, dari hal  kecil yang kita bisa.
*START FROM THE EMPHATY*
Inilah kuncinya.
_Mulailah perubahan di masyarakat dengan membesarkan skala perubahan yang sudah kita lakukan di keluarga_.
Sehingga aktivitas kita di masyarakat tidak akan bertabrakan dengan kepentingan keluarga. Bahkan akan saling mendukung dan melengkapi.
_Setelah EMPHATY maka tambahkan PASSION  , hal ini akan membuat kita menemukan banyak sekali SOLUSI di masayarakat_
KELUARGA tetap no 1, ketika bunda aktif di masyarakat dan suami protes , maka itu warning lampu kuning untuk aktivitas kita, berarti ada yang tidak seimbang. Apabila anak yang sudah protes, maka itu warning keras, LAMPU MERAH. Artinya anda harus menata ulang tujuan utama kita aktif di masyarkat.
Inilah indikator bunda shalehah, yaitu _bunda yang keberadaannya bermanfaat bagi dirinya, keluarganya dan lingkungan sekitarnya_.
Sehingga sebagai makhluk ciptaan Allah, kita bisa berkontribusi kebermanfaatan peran kita di dunia ini dengan “Rasa TENTRAM”.
Salam
/Tim Matrikulasi IIP/
Sumber Bacaan :
_Masaaki Ima, Kaizen Method, Jakarta , 2012_
_Ashoka Foundation, Be a Changemaker: Start from the Emphaty,  2010_
_Materi-materi hasil diskusi keluarga bersama Bapak Dodik Mariyanto, Padepokan Margosari,  2016_
*Fasil:*
Link Video Matrikulasi IIP Sesi 9 : Bunda Sebagai Agen Perubahan
https://www.youtube.com/watch?v=tDKZAKpH-GI&t=68s
*Fasil:*
Silakan dinikmati hidangan terakhir kita, jika ada pertanyaan silakan wapri mb Tria Novita
_________________________________________________________
*Host:*
Alhamdulillah sampai juga kita di pekan terakhir matrikulasi, sbg penutup kita akan membahas ttg ibu sebagai agen perubahan (tahapan bunda shalehah)
Silakan jika ada pertanyaan
1⃣ Wita
Mbak, saya mohon penjelasan untuk pernyataan yang ini
"Bila suami protes berarti warning lampu kuning dan bila anak2 yang protes berarti warning lampu merah"
Logika saya, 'kepemilikkan' yang paling tinggi utk seorang wanita menikah kan di suaminya, kenapa warning nya suami dikalahkan oleh warning nya anak anak ?
🔉1⃣ Mb Wita, dalam usaha kita belajar menjadi seorang IBU profesional tentu ijin tertinggi ada pada suami tapi saat menjalani proses tersebut customer utama kita adalah anak2, jadi saat customer kita protes atas proses yg kita jalani maka itulah lampu merah bagi kita ✅
2⃣ Tria
Bagaimanakah kita sebagai ortu membimbing anak2 menjadi orang yang memiliki 'keinginan utk bermanfaat' bagi umat/masyarakat?
🔉2⃣ "Children see children do" mb Tria, jadi aktiflah di berbagai kegiatan sosial supaya mereka melihat contoh nyata yg dilakukan ortu mereka, lalu ajaklah mereka terlibat dalam aktivitas tersebut.
Saat anak ada di usia pra baligh buatlah project2 sosial keluarga dengan mereka sbg motornya, in syaa allah bisa mengasah kepekaan sosial mereka ✅
3⃣ Ardiani Putri
Anak saya masih 19m, pernah suatu ketika saya ikut sebuah kelas sertifikasi untuk menambah jam terbang saya sehingga harus meninggalkan anak saya dgn keluarga lebih dari 8 jam. Ternyata sesampainya dirumah anak saya sedang menangis sambil memeluk jilbab dan baju saya, tidak mau dipegang oleh siapapun. Apakah ini termasuk lampu merah bagi saya untuk berhenti menambah jam terbang di luar rumah? Adakah tipsnya untuk melatih anak mandiri ketikan saya sedang beraktifitas diluar? Atau baiknya saya selesaikan tahapan bunda sayang dan bunda cekatan terlebih dahulu?
🔉3⃣ Melatih kemandirian anak ada dalam materi bunda sayang mb putri. Itulah kenapa bunda produktif/bunda shalehah harus melewati tahapan bunda sayang dan bunda cekatan dulu, supaya tidak terjadi hal2 yg mengusik ketentraman hati 😊
4⃣ Poppy
Saya pernah berbincang dengan salah satu ibu, yg saya lihat punya potensi untuk aktif di lingkungan. Tapi keluar pernyataan dari beliau bahwa: "beberapa orang meragukan saya krn terlihat tidak pandai mengurus rumah tangga".
Pertanyaan saya, apa standarnya/indikatornya seorang ibu BOLEH aktif di luar rumah, selain restu suami dan anak2nya?
Misalnya, apakah usia anak bungsu harus minimal 14 tahun? dsb.
🔉4⃣ Menanggapi pernyataan teman mb poppy di atas: The only reality is OUR PERCEPTION, maka buatlah persepsi positif terlebih dahulu dengan diri kita, setelah yakin, masukkan persepsi positif dengan orang-orang di sekitar kita.
Di IIP Indikator seorang ibu dipersilahkan aktif di luar rumah selain restu suami dan anak adalah sudah punya pijakan yg kuat di tahapan bunsay dan buncek. ✅
5⃣ Nira
Bagaimana nasib kuadran suka tpi tidak bisa,  ketidakbisaan karena manajemen waktu misalnya, bagaimana proporsi waktunya,
🔉5⃣ BISA itu berkaitan dengan kemampuan.
SUKA berkaitan dengan rasa.
Jika MAU sedikit berdisiplin di manajemen waktu in syaa allah mb Nira pasti BISA produktif di bidang tersebut, semangat yaaaa... ✊🏼✅
6⃣ Dinda
Ada peribahasa bilang perempuan itu tidak akan bisa fokus kerja di ranah publik jika pekerjaan di ranah domestik belum tuntas. Dan lelaki itu tidak akan bisa fokus di urusan keluarga jika pekerjaan nya di kantor belum tuntas.
Bagaimana ya menyeimbangkan keduanya agar bisa sukses dirumah dan bisa menambah jam terbang jg di ranah publik.
Adalah tips n triks berbagi tugas dgn suami d agar bisa sukses di keduanya juga.
Karena kesuksesan keluarga akan terjadi jika suami istri bisa berkolaborasi dgn tepat.
🔉6⃣ Tips dari pak Dodik saat kopdar 2 minggu lalu adalah banyak2lah ngobrol dan melakukan berbagai aktivitas bersama keluarga (suami dan anak2). Sehingga komunikasi bisa cair dan kolaborasi antar anggota keluarga lebih mudah dilakukan. ✅
7⃣ Marie
Bagaimana menyikapi keadaan dimana kita berada di lingkungan yang bisa dibilang individualistis dan sulit untuk bekerja sama? Bagaimana menumbuhkan empati di lingk spt itu? Mengingat sudah bbrp kali dicoba untuk menggerakkan lingkungan tsb namun hasilnya tidak signifikan. Apakah mencari lingkungan lain atau bagaimana? Terima kasih.😊
🔉7⃣ Menurut saya poin utama dalam menjadi agen perubahan adalah kontribusi apa yg bisa kita bagikan untuk lingkungan sekitar mb Marie, shg kita fokus ke dalam bukan terpengaruh dg kondisi lingkungan luar.
Emphaty ditumbuhkan dari perubahan2 yang sudah kita buat dalam lingkup keluarga kita.
Misal kita sudah sukses menjalankan 3R di rumah kita, semua anggota keluarga fasih melakukan 3R. Kemudian kita lihat lingkungan sekitar belum aware dg program tsb. Kita ingin meluaskan kegiatan tsb ke lingkungan RT kita, maka kita akan dg senang hati merintis usaha tsb, bisa juga dg melibatkan anggota keluarga shg keluarga tdk ditinggalkan.
Banyak sedikitnya tetangga yg ikut kegiatan ini bukan tujuan utama kita.
Apalagi jika ditambah passion maka akan bermunculan ide2 kreatif untuk menemukan solusi dari setiap tantangan yg muncul. ✅
8⃣ Wiwit :
Ibu sebagai Agen Perubahan! Saya sepakat sekali dg statement tsb. Ingin sekali berbagi kebaikan dg ibu2 di lingkungan sekeliling saya. Hanya sy ingin mendapat ilmu  lebih bgmn cara berkomunikasi yg lebih baik dlm menyampaikan pesan.Mohon pencerahan,apakah IIP mempunyai materi/pelatihan/saran media utk ilmu komunikasi yg efektif utk masuk di lingkungan yg heterogen (latar belakang & sosial yg berbeda2)?. Krn menurut sy hal ini sgt membantu peran kita Ibu sbg agen perubahan.
Jazakillah Khairan Katsira 😊🙏🏼
‬ 🔉8⃣ Saya baru 10 bulan bergabung dg IIP, dalam waktu yg singkat ini saya belum sepenuhnya mengikuti semua materi yg ada di IIP. Yang saya tahu beberapa kota memiliki rumah belajar public speaking disana member bisa menggali ilmu ttg cara berkomunikasi yg baik.
Usulan mb wiwit sangat bagus, bisa menjadi masukan bagi iip depok untuk membuka kelas minat dg materi komunikasi efektif untuk tahapan bunda sholehah 🙏🏼✅
9⃣ Asti
Bu Septi,, mohon maaf sebelumnya,, terus terang hingga saat ini saya sangat "berbinar-binar" mengikuti tahap demi tahap matrikulasi ini. Dari sejak materi pertama (Adab sebelum ilmu) ibu sudah mengajak saya (dan kami, peserta matrikulasi) untuk menuntut ilmu dengan cara mulia supaya meningkatkan kemuliaan hidup.. membuat saya juga semakin bersemangat mempelajari Islam.
Banyak sekali ilmu tentang manajemen waktu yang "nyantol" di saya, misalnya di sesi 6: Demi masa,semoga kita semua tidak termasuk golongan orang yang menyia-nyiakan waktu.
Kali ini saya "tergelitik" untuk bertanya, kenapa di sesi ke sembilan ini ibu malah menggunakan prinsip dan pola Kaizen? Di materi ke 9 ibu menyatakan bahwa Kaizen adalah suatu filosofi dari Jepang yang memfokuskan diri pada pengembangan dan penyempurnaan secara terus menerus dan berkesinambungan.
Apakah di Islam tidak ada filosofinya? Misalnya di Surat Al Ashr yang tersirat pada sesi 6, atau di surat Al-Hasyr ayat 18 yang mengajak orang beriman untuk memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok,, atau mungkin manajemen waktu bila ditilik dari filosofi dalam sholat: tepat waktu, bersih, rapi dan rapat dalam barisan shaf?
Mohon penjelasannya ya bu. Terimakasih sebelumnya
🔉9⃣ Pertanyaan ini ditujukan untuk bu Septi jadi saya forwardkan langsung ke beliau. Jika sudah dijawab akan saya sampaikan di grup ini ya mb Asti 😊
🔟 Tantia
Terkadang ketika kita aktif d masyarakat kadang ada kalanya anak protes, apakah ini termasuk lampu merah (warning keras), apa yg harus d kuatkan akan berjalan dengan selaras?
🔉 🔟 Mohon lihat jawaban no.4 ya mb Tantia ✅
*Host:*
Alhamdulillah sdh 9 pertanyaan yg terjawab teman temans...
Ada yg mau sharing atau menanggapi kah??
Msh ada waktu 15 menit lagi😋😋
Tantia:
Berarti kl sesuai point 4⃣, bunsay n buncek ya? Apakah itu harga mati? Ketika itu belum kuat qt tdk bisa keluar, berperan d masyarakat?
🔉Bukan harga mati mbak, itu idealnya
Jika memang kita harus ada di ranah publik maka konsekuensinya harus mengejar tahapan bunsay dan buncek supaya hati tentram
Tantia: Baik mba
Berbicara tentang tentram, apakah indikator tentram itu?
🔉Imho, Tentram itu jika semua berjalan selaras dan harmoni sesuai yg kita kehendaki
Bisa juga kita berperan keluar dg tetap melibatkan anak2 sehingga waktu kita membersamai mereka tdk berkurang
Saya cuplikan tanya jawab pada matrikulasi batch 1 ttg ketentraman sbb:
_Kenapa Ibu menekankan kata tenteram?_ -_Adakah berkontribusi kebermanfaatan seseorang tapi ia tidak tenteram? Dalam konteks kasus positif maksud saya._
Jawaban:
Ketika dasar mulainya kebermanfaatan ini bukan didasari sebuah niat kuat untuk memperbaiki keluarga kita. Contoh saya merasa sudah bermanfaat untuk banyak orang dengan membuka kelas untuk ibu-ibu. Namun selama menjalankan kebermanfaatan ini, anak-anak saya merasa terlantar, karena ibunya asyik sendiri dengan “kelas  yang rasanya sebagai program kebermanfaatan”.  Lama-lama hati kecil kita pasti akan terusik, karena melihat kondisi anak-anak kita. Hal ini membuat kita TIDAK TENTRAM. Karena sebuah ketidakseimbangan.
Saya tambahkan sedikit, biasanya program kebermanfaatan yang membuat kita TIDAK TENTRAM itu bermula dari sebuah PELARIAN. Lari dari kenyataan hebohnya menjadi ibu, lari dari kenyataan kondisi penindasan di dalam rumah sendiri, lari dari kenyataan “tidak sukanya kita terhadap anak-anak. Lari dari kenyataan “Status seorang ibu rumah tangga dan lain-lain.
Kaizen merupakan aktivitas harian yang pada prinsipnya memiliki dasar sebagai berikut:
Berorientasi pada proses dan hasil.
Berpikir secara sistematis pada seluruh proses.
Tidak menyalahkan, tetapi terus belajar dari kesalahan yang terjadi di lapangan.
[Materi ini ada di Bunda Cekatan secara lengkapnya, saya ambil beberapa point penting]
Beberapa point penting dalam proses penerapan KAIZEN yaitu :
❤Konsep 3M (Muda, Mura, dan Muri) dalam istilah Jepang. Konsep ini dibentuk untuk mengurangi kelelahan, meningkatkan mutu, mempersingkat waktu dan mengurangi atau efsiensi biaya. Muda diartikan sebagai mengurangi pemborosan, Mura diartikan sebagai mengurangi perbedaan dan Muri diartikan sebagai mengurangi ketegangan.
❤Gerakkan 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu dan Shitsuke) atau 5R. Seiri artinya membereskan tempat kerja. Seiton berarti menyimpan dengan teratur. Seiso berarti memelihara tempat kerja supaya tetap bersih. Seiketsu berarti kebersihan pribadi. Seiketsu berarti disiplin, dengan selalu mentaati prosedur ditempat kerja. Di Indonesia 5S diterjemahkan menjadi 5R, yaitu Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin
❤Konsep PDCA dalam KAIZEN. Setiap aktivitas usaha yang kita lakukan perlu dilakukan dengan prosedur yang benar guna mencapai tujuan yang kita harapkan. Maka PDCA (Plan, Do, Check dan Action) harus dilakukan terus menerus.
❤Konsep 5W + 1H. Salah satu alat pola pikir untuk menjalankan roda PDCA dalam kegiatan KAIZEN adalah dengan teknik bertanya dengan pertanyaan dasar 5W + 1H ( What, Who, Why, Where, When dan How).
___________
*Host:*
Alhamdulillah,, mksh jawaban nya mba diah...
Sudah  pukul 21:01
Kita tutup dengan ucapan hamdalah dan doa kafaratul majelis
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
“Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allailahailla anta astaghfiruka wa’atubu ilaik” Artinya : “Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada tiada Tuhan melainkan Engkau, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.” (HR. Tirmidzi, Shahih).
Kami yang bertugas mohon maaf atas segala salah dan khilap..
Terimakasih atas perhatiannya dan terimakasih atas sharing ilmunya...
Kami undur pamit yaa...
Wassalamu'alaikum Wr. Wb...

Sabtu, 10 Desember 2016

#FITRI PURBASARI_NHW8

MISI HIDUP DAN PRODUKTIVITAS

YA, SAYA SUKA SEKALI PARENTING!

Tengah malam kemarin, ketika membaca materi MISI HIDUP DAN PRODUKTIVITAS (mau tahu? klik disini!) dan tugas NHW#8, saya cukup bingung untuk memilih aktivitas mana yang akan saya ambil dari kuadran kegiatan SUKA-BISA. Pikiran saya menerawang membandingkan antara kegiatan mengajar bahasa Inggris dan kegiatan parenting. Pendidikan bahasa Inggris adalah background pendidikan saya, tetapi parenting adalah ilmu yang akhir-akhir ini membuat saya selalu haus. Saya membayangkan masa depan les privat yang ingin saya bangun, tapi saya juga memetakan rencana besar tentang project hidup saya di dunia parenting. Saya dengan mudah bisa mendapatkan ilmu dan komunitas parenting di kota ini, tapi tidak dengan saudara dan teman-teman saya di daerah. Tiba-tiba ada BBM masuk. Seorang sahabat lama dari daerah menyapa dan bilang ingin curhat, tentang parenting katanya. Wooooow!! THIS IS IT!! Sambil melayani curhatnya, saya merasakan hati saya berbunga-bunga dan mata saya berbinar-binar! 😍 Ya, saya mantap memilih bidang ini untuk dieksekusi! PARENTING, I DO LOVE THIS!! 😊


Berikut ini adalah 3 dimensi waktu berkenaan dengan misi hidup dan produktivitas saya dalam dunia parenting.
  1. Lifetime Purpose
    Dalam kurun waktu kehidupan saya, saya ingin menjadi sebaik-baik manusia, yaitu yang memberi manfaat luas kepada masyarakat dengan menjadi agent of change demi terbentuknya keluarga muslim yang kokoh. Saya merasakan manfaat yang hebat dari ilmu parenting yang saya peroleh dari berbagai sumber. Saya ingin keluarga-keluarga lain pun merasakan hal yang sama, bisa membersamai dan mendidik anak-anak dengan ilmu pengasuhan yang baik dan benar. Dengan menjadi Konselor Parenting dalam Rumah Keluarga Indonesia (RKI) dan komunitas lain, insyaAlloh saya dapat membagikan ilmu ini dengan lebih terorganisir. Saya sangat berharap dengan produktivitas ini, saya bisa mengumpulkan sebanyak-banyaknya amal jariyah untuk saya, keluarga, guru dan leluhur yang kemudian berbuah surga. Aamiin. 😊
  2. Strategic Plan
    Dalam kurun waktu 5-10 tahun kedepan, saya ingin meraih Master Ketahanan Keluarga melalui pendidikan formal di salah satu universitas negeri, menjadi konselor parenting yang sudah menerbitkan buku best-seller, memiliki komunitas parenting dan Rumah Belajar Keluarga yang well-organized, serta melakukan parenting road show ke berbagai daerah. 
  3. New-Year Resolution
    Dalam setahun ini, saya ingin menjadi konselor parenting yang aktif dalam kegiatan Rumah Keluarga Indonesia (RKI) khususnya di wilayah Beji, Depok. Selain itu, saya juga ingin aktif menulis tentang parenting baik dalam bentuk artikel maupun cerita di blog pribadi dan media sosial lain.
Demikian catatan saya mengenai salah satu kegiatan yang ada di kuadran SUKA-BISA. Ya, Saya Suka Sekali Parenting! Do'akan ya agar bisa mencapai misi ini dengan baik! 😉


Resume Diskusi: Desain Global Sekolah Unggul

 Bismillah.. alhamdulillah malam ini bisa bergabung di diskusi online Kelas 100 Guru PAUD berjudul Desain Global Sekolah Unggul. Pematerinya...