Para bunda cantik di grup ini mengangkat issue urgensi "kehadiran" ayah dalam pengasuhan dan mengambil judul Peran Ibu Sebagai Teman Belajar Ayah Dalam Membangkitkan Fitrah Seksualitas.
Maraknya fenomena anak-anak yang BLAST (Bored, Lonely, Angry/Anxiety, Stressed, Tired) adalah akibat dari fenomna ayah ada ayah tiada yang berimbas pada tidak kokohnya fitrah seksualitas anak-anak mereka. Parahnya, ini bermuara pada penyimpangan seksual yang berjudul LGBT.
Berikut materi yang Empat-i haturkan.
🌱 PERAN IBU SEBAGAI TEMAN BELAJAR AYAH DALAM MEMBANGKITKAN
FITRAH SEKSUALITAS 🌱
HASIL DISKUSI KELOMPOK Empat-iTampaknya kita semua bersepakat bahwa membangkitkan fitrah seksualitas itu penting banget. Alasannya karena fitrah seksualitas yang tidak mewujud dengan baik dan benar akan menimbulkan berbagai gesekan sosial maupun psikologis. Kita bicara tentang LGBT, pedofilia, dan berbagai penyimpangan seksual lainnya. Begitu pula dengan kegamangan seorang ayah atau ibu saat menjalankan perannya dalam keluarga, semua karena fitrah seksualitas yang tidak terbangkitkan dengan baik dan benar. Hanya itukah?
Mari kita sejenak melihat kembali sejarah Nabi Adam AS, manusia pertama ciptaan Allah. Bagaimana Allah membangkitkan fitrah seksualitas beliau?
Nabi Adam dan Hawa memakan buah terlarang hingga mereka berdua bisa saling melihat. Mufassir menafsirkannya bahwa aurat mereka berdua terlihat. Diceritakan bahwa mereka kaget dan merasa malu. Mungkin inilah bentuk fitrah seksualitas kita pada tahap awal. Rasa malu saat aurat terekspos.
Yang menarik, Allah tidak murka sebagaimana Dia murka pada iblis yang menolak sujud. Allah hanya menyuruh mereka turun ke bumi. Itu saja.
Menurut kami, turun ke bumi bukan hukuman. Bukankah dari awal Allah memang menciptakan manusia untuk menjadi khalifah di bumi? Lalu bagaimana mungkin turun ke bumi adalah hukuman?
Adam AS turun ke bumi untuk mengemban tugas penciptaannya sebagai manusia.
Dan sebelum ia mengemban tugas itu, maka ia harus punya tools untuk menjalankan tugas ini terlebih dulu. Tentu mudah bagi Allah untuk menciptakan manusia lalu langsung saja diturunkan ke bumi. Tapi Allah melakukan coaching dulu di surga. Dan pelatihan terakhir adalah membangkitkan fitrah seksualitas. Inilah bagian penting.
terakhir yang membuat Adam AS dan Hawa siap mengemban amanah sebagai khalifah di muka bumi.
Jadi seberapa penting membangkitkan fitrah seksualitas? Menurut kami, sama pentingnya dengan menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi.
Sekarang bagaimana membangkitkannya?
peran ayah dan ibu sangat penting sebagai role model. Sebagaimana yang terjadi pada Adam AS dan Hawa, memaparkan pada fitrah seksualitas yang benar adalah jalan terbaik.
Untuk itu ayah dan ibu harus memiliki fitrah seksualitas yang benar terlebih dahulu.
Lalu seperti apa fitrah seksualitas sebagaimana yang diciptakan Allah?
Fitrah seksualitas adalah bagaimana seseorang berpikir, merasa dan bersikap sesuai dengan fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati.
Dalam bukunya Fitrah Based Education, Harry Santosa menjelaskan Fitrah Peran ayah VS Fitrah Peran ibu
dari kedua fitrah peran ini, kita bisa melihat fenomena sekarang, berbagai penyimpangan seksual marak terjadi karena fitrah seksualitas tidak terbangun sempurna di keluarga. Setelah mengulik berbagai tulisan dan berbagai kasus dari para ahli, sebagian besar fenomena masalah seksual terutama pada anak usia 10-14 tahun, adalah karena kurang hadirnya sosok ayah dalam keluarga.
Ayah Irwan Rinaldi, penggiat Fathering menjelaskan bahwa Indonesia sedangm mengalamisituasi ‘Father Hunger’ yaitu kerusakan psikologis pada anak-anak karena tidak mengenal ayahnya. “Itulah yang menyebabkan anak-anak kita rendah diri dan terlalu bergantung pada orang lain,” kata Ayah Irwan, di sesi kedua Kajian Tematik Sekolah MoMMee, di Jakarta, Minggu 25 September 2016.
Fenomena tersebut juga yang menyebabkan anak-anak kesulitan menetapkani identitas seksualnya, seperti anak lelaki yang menjadi feminim atau anak perempuan menjadi hipermaskulin. Bagi anak perempuan, kekurangan sosok ayah juga membuatnya sulit menentukan pasangan yang tepat ketika dewasa, karena tidak ada rolemodel dalam kehidupan semasa kecilnya.
Karena itu, peran ayah sangat besar dalam pengasuhan anak. Bahkan, menurut Ayah Irwan, dunia pengajaran di sekolah seharusnya didominasi oleh guru laki-laki. “Jadi selama ini ada paradigma masyarakat yang salah terhadap anak-anak. Guru justru 90% perempuan,” ujar Ayah Irwan.
Karena ayah sibuk bekerja, ayah menjadi ada tapi tiada, bisa disentuh fisiknya tapi tidak bisa disentuh jiwanya. Padahal anak adalah takdir dari Allah (QS 42;49), anak adalah amanah Allah (QS 27, 28), dan kita semua akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak (QS 13;21).
Idealnya, seorang ayah menjadi Roiyah atau Penggembala, memberikan makan dan minum yang halal yang berpengaruh pada karakter anak. Ayah menjadi Qudwah atau teladan yang lebih baik dari ribuan kata-kata. Ayah menjadi Muajjahan atau pengarah yangtahu potensi anak dan mengawasinya ke jalur yang baik. Ayah adalah Murabbiyah atau pendidik yang bisa memberikan yang terbaik di saat yang terbaiks sesuai tahap perkembangan anak. Ayah adalah Nasihah atau pemberi nasihat karenas semua anak memiliki fitrah baik, tugas Ayah mengembalikan fitrah tersebut. Terakhir Ayah adalah Maroji atau Rujukan yang berbicara agar anak mau mendengar dan mau mendengar agar anak mau berbicara.
Besarnya pengaruh ayah pada kehidupan keluarga, membuat kita sebagai ibu harus mampu menjadi teman belajar ayah dalam segala hal. Agar ayah yang sudah peduli, sedikit peduli, tidak pedli sama sekali terhadap perkembangan anak, bisa terpacu rasai ingin belajarnya untuk menjadi ayah yang sesuai dengan peran keayahan yang seharusnya
Maksud menjadi teman belajar ayah adalah menjadi teman seperti teman yang relasinya unik. Sangat unik, bersifat intimate dan harus serileks mungkin. Visi belajary yangdibawanya adalah visi belajar akhirat.
Ada 4 hal yang harus dipahami ibu untuk menjadi teman belajar ayah:
1. tugas besar ayah
2. kesempatan belajar
3. seni menjadi advisor
4. ruang privasi
dijlaskan sesuai isi blog : https://sofianaindraswari.com/teman-belajar-ayah-serialsosok-penting-bernama-ayah-bagian-3/
Mari menjadi teman belajar ayah dalam membangkitkan fitrah seksualitas anak-anak kita.
Sumber Materi:
1. https://sofianaindraswari.com/teman-belajar-ayah-serial-sosok-penting-bernamaayah-bagian-3/
2 . https://www.mommee.org/kuliah-tematik-sesi-2-ayah-ada-ayah-tiada/
3. Fitrah Based Education, ver 3.0 Harry Santosa, penerbit Yayasan Cahaya Mutiara
Timur, cetakan ketiga 31 Maret 2017
4.https://ceritaleila.wordpress.com/2017/05/22/lagi-menyimak-bahasan-fitrah-anakbersama-ustadz-harry/
5. Fitrah Seksualitas & Fitrah Estetika Anak
Harry Santosa – Millenial Learning Center
6. Hasil Diskusi Kelompok Empat-i
Seru sekali diskusi tentang peran keayahan ini. Betapa penting sosok ayah bagi kekokohan fitrah seksualitas anak-anak. Banyak contoh pengalaman yang beharga yang menjelaskan hal tersebut. Dalam keluarga IIP, sosok founder Pak Dodik dan Bu Septi adalah contoh terdekat. Betapa ayah adalah konseptor dan ibu adalah pelaksana. Poin penting lain yang dibahas dalam diskusi kelompok Empat-i diantaranya: Pemberian nama harus sesuai gender, penting banget mengenalkan serba-serbi fase remaja kepada anak, lalu ada contoh negara Jepang yang kini mengalami fenomena pemuda yang cenderung tak membutuhkan wanita, mereka tak bisa bersikap sebagaimana lelaki sejati, yang ini ternyata imbas dari fenomena generasi laki-laki sebelumnya yang workaholic, jarang ada di rumah.
Ada oleh-oleh cerita dan puisi buat kita dari kelompok ini.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar