Sabtu, 19 November 2016

BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR

Materi Matrikulasi IIP Batch #2 Sesi #5

Bunda dan calon bunda yang selalu semangat belajar, 
Bagaimana sudah makin mantap dengan jurusan ilmu yang dipilih? kalau sudah, sekarang mari kita belajar bagaimana caranya belajar. Hal ini akan sangat bermanfaat untuk lebih membumikan kurikulum yang teman-teman buat. Sehingga ketika teman-teman membuat kurikulum unik (customized curriculum) untuk anak-anak, makin bisa menerjemahkan secara setahap demi setahap karena kita sudah melakukannya. Inilah tujuan kita belajar.

Sebagaimana yang sudah kita pelajari di materi sebelumnya, bahwa semua manusia memiliki fitrah belajar sejak lahir. Tetapi mengapa sekarang ada orang  yg senang belajar dan ada yang tidak suka belajar. 
Suatu pelajaran yang menurut kita berat jika dilakukan dengan senang hati maka pelajaran  yang berat itu akan terasa ringan, dan sebaliknya pelajaran yang ringan atau mudah jika dilakukan dengan terpaksa maka akan terasa berat atau sulit.
Jadi suka atau tidaknya kita pada suatu pelajaran itu bukan bergantung pada berat atau ringannya suatu pelajaran. Lebih kepada rasa. 

Membuat BISA itu mudah, tapi membuatnya SUKA itu baru tantangan

Melihat perkembangan dunia yang semakin canggih dapat kita rasakan bahwa dunia sudah berubah dan dunia masih terus berubah.
Perubahan ini semakin hari semakin cepat sekali.
Anak kita sudah tentu akan hidup di jaman yang berbeda dengan jaman kita. Maka teruslah mengupdate diri, agar kita tidak membawa anak kita mundur beberapa langkah dari jamannya.
Apa yang perlu kita persiapkan untuk kita dan anak kita ? Kita dan anak-anak perlu belajar tiga hal : 
1⃣Belajar hal berbeda      
2⃣ Cara belajar yang berbeda
3⃣Semangat Belajar yang berbeda

🍀 Belajar Hal Berbeda

Apa saja yang perlu di pelajari ?
yaitu dengan belajar apa saja yang bisa:
🍎Menguatkan Iman,
ini adalah dasar yang amat penting bagi anak-anak kita untuk meraih masa depannya
🍎Menumbuhkan karakter yang baik.
🍎Menemukan passionnya (panggilan hatinya)

Cara Belajar Berbeda

Jika dulu  kita dilatih untuk terampil menjawab, maka latihlah anak kita untuk terampil bertanya Keterampilan bertanya ini akan dapat membangun kreatifitas anak dan pemahaman terhadap diri dan dunianya.
Kita dapat menggunakan jari tangan kita sebagai salah satu cara untuk melatih keterampilan anak2 kita untuk bertanya.
Misalnya :
👍Ibu jari : How
👆Jari telunjuk : Where
✋Jari tengah : What
✋Jari manis : When
✋Jari kelingking : Who
👐Kedua telapak tangan di buka : Why
👏Tangan kanan kemudian diikuti tangan kiri di buka : Which one.

Jika dulu kita hanya menghafal materi, maka sekarang ajak anak kita untuk mengembangkan struktur berfikir. Anak tidak hanya sekedar menghafal akan tetapi perlu juga dilatih untuk mengembangkan struktur berfikirnya
Jika dulu kita hanya pasif mendengarkan, maka latih anak kita dg aktif mencari. Untuk mendapatkan informasi tidak sulit hanya butuh kemauan saja.
Jika dulu kita hanya menelan informasi dr guru bulat-bulat, maka ajarkan anak untuk berpikir skeptik
Apa itu berpikir skeptik ?
Berpikir Skeptik yaitu tidak sekedar menelan informasi yang didapat bulat-bulat. Akan tetapi senantiasa mengkroscek kembali kebenarannya dengan melihat sumber-sumber yang lebih valid.

Semangat Belajar Yang Berbeda

Semangat belajar  yang perlu ditumbuhkan pada anak kita adalah :
🍀Tidak hanya sekedar mengejar nilai rapor akan tetapi memahami subjek atau topik belajarnya.
🍀Tidak sekedar meraih ijazah/gelar tapi kita ingin meraih sebuah tujuan atau cita-cita.

Ketika kita mempunyai sebuah tujuan yang jelas maka pada saat berada ditempat pendidikan kita sudah siap dengan sejumlah pertanyaan-pertanyaan. Maka pada akhirnya kita tidak sekedar sekolah tapi kita berangkat untuk belajar (menuntut ilmu).

Yang harus dipahami,
Menuntut Ilmu bukan hanya saat sekolah, tetapi dapat dilakukan sepanjang hayat kita.
Bagaimanakah dengan Strategi Belajarnya?
Strategi belajar nya adalah dengan menggunakan Strategi Meninggikan Gunung bukan meratakan lembah.
Maksudnya adalah dengan menggali kesukaan, hobby, passion, kelebihan, dan kecintaan anak-anak kita terhadap hal2 yg mereka minati dan kita sebagai orangtuanya mensupportnya semaksimal mungkin.
Misalnya jika anak suka bola maka mendorongnya dengan memasukkannya pada club bola, maka dengan sendirinya anak akan melakukan proses belajar dengan gembira.
🚫 Sebaliknya jangan meratakan lembah yaitu dengan menutupi kekurangannya,
Misalnya apabila anak kita tidak pandai matematika justru kita berusaha menjadikannya untuk menjadi pandai matematika dengan menambah porsi belajar matematikanya lebih sering (memberi les misalnya).
Ini akan menjadikan anak menjadi semakin stress.

Jadi ketika yang kita dorong pada anak-anak kita adalah keunggulan / kelebihannya maka anak-anak kita akan melakukan proses belajar dengan gembira.
Orang tua tidak perlu lagi mengajar atau menyuruh-nyuruh anak untuk belajar akan tetapi anak akan belajar dan mengejar sendiri terhadap informasi yang ingin dia ketahui dan dapatkan. Inilah yang membuat anak belajar atas kemauan sendiri, hingga ia melakukannya dengan senang hati.
Bagaimanakah membuat anak menjadi anak yang suka belajar ?
Caranya adalah :
1⃣ Mengetahui apa yang anak-anak mau / minati
2⃣Mengetahui tujuannya, cita-citanya
3⃣Mengetahui passionnya
Jika sudah mengerjakan itu semua maka anak kita akan meninggikan gunungnya dan akan melakukannya dengan senang hati.

  Good is not enough anymore we have to be different.
Baik saja itu tidak cukup,tetapi kita juga harus punya nilai lebih (yang membedakan kita dengan orang lain).
Peran kita sebagai orang tua :
👨👩👧👧Sebaga pemandu : usia 0-8 tahun.
👨👩👧👧Sebagai teman bermain anak-anak kita : usia 9-16 tahun.
kalau tidak maka anak-anak akan menjauhi kita dan anak akan lebih dekat/percaya dengan temannya
👨👩👧👧sebagai sahabat yang siap mendengarkan anak-anak kita : usia 17 tahun keatas.
Cara mengetahui passion anak adalah :
1⃣  Observation (pengamatan)
2⃣  engage (terlibat)
3⃣  watch and listen (lihat dan dengarkan suara anak)

Perbanyak ragam kegiatan anak, olah raga, seni dan lain-lain.
Belajar untuk telaten mengamati, dengan melihat dan mencermati terhadap hal-hal yang disukai anak kita dan apakah konsisten dari waktu ke waktu.
Diajak diskusi tentang kesenangan anak, kalau memang suka maka kita dorong.
Cara mengolah kemampuan berfikir Anak dengan :
1⃣Melatih anak untuk belajar bertanya,
Caranya: dengan menyusun pertanyaan sebanyak-banyaknya mengenai suatu obyek.
2⃣Belajar menuliskan hasil pengamatannya Belajar untuk mencari alternatif solusi atas masalahnya
3⃣Presentasi yaitu mengungkapkan akan apa yang telah didapatkan/dipelajari
4⃣Kemampuan berfikir pada balita bisa ditumbuhkan dengan cara aktif bertanya pada si anak.

Selamat belajar dan menjadi teman belajar anak-anak kita,
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/

Sumber bacaan :
_Dodik Mariyanto, Learning How to Learn, materi workshop, 2014_
_Joseph D Novak, Learning how to learn, e book, 2009_

Sabtu, 12 November 2016

#FITRI PURBASARI_NHW4

MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FITRAH

  • Setelah melihat kembali Nice Home Work #1 dan merenung melalui proses IQRO tentang misi hidup dan misi keluarga, saya telah menambah jurusan ilmu yang ingin saya tekuni di Universitas Kehidupan ini. Selain akan fokus mempelajari ilmu Islamic Parenting seputar Bunda Sayang dan Bunda Cekatan, saya juga akan menekuni dunia Menulis artikel dan buku cerita anak sebagai pendukung dan penguatan materi Bunda Sayang dan Bunda Cekatan. Seiring dengan itu, saya juga akan terus memperkokoh keahlian saya sebagai fasilitator bahasa Inggris untuk anak dan remaja.
  • Di Nice Home Work #2 saya dibimbing untuk membuat checklist sebagai sarana untuk untuk memantaskan diri menjadi seorang "Ibu Profesional". Namun, saya masih belum konsisten melaksanakan checklist yang saya buat dengan sepenuh hati itu. Ada kalimat yang sangat memotivasi dari IIP: "Latih dengan keras diri Anda agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri Anda!". Mulai hari ini saya akan bersungguh-sungguh!
  • Berdasarkan Misi Kehidupan dan Misi Keluarga yang saya temukan melalui NHW#3, saya menjadi paham akan poin-poin penting ini dalam diri saya:
    • Misi Hidup        : Memberikan edukasi dan inspirasi kepada orang lain
    • Bidang              : Pendidikan Ibu dan Anak (Islamic Parenting & Bahasa Inggris)
    • Peran               : Fasilitator
  • Untuk menjadi ahli di bidang Islamic Parenting, saya harus menjalani tahapan ilmu berikut:
    1. Bunda Sayang  : Ilmu-ilmu seputar pengasuhan anak
    2. Bunda Cekatan : Ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga
    3. Bunda Menulis  : Ilmu seputar kepenulisan dan cara menerbitkan artikel & buku cerita
    4. Miss English      : Ilmu seputar metode pengajaran English for Young Learners dan manajemen les rumahan
  • Dalam dunia parenting, KM 0 saya adalah saat saya diamanahi kelas parenting untuk ibu-ibu binaan Yayasan Tunas Ilmu Depok (pertengahan 2014). Sedangkan KM 0 sebagai fasilitator bahasa Inggris rumahan baru sekitar setahun ini.
    Untuk mengokohkan peran saya sebagai fasilitator belajar ibu dan anak, saya berkomitmen untuk mendedikasikan waktu saya 8 jam/hari untuk mempelajari, mempraktekkan, menuliskan, dan membagikan ilmu dan pengalaman seputar parenting dan bahasa Inggris baik kepada keluarga, binaan, maupun teman-teman.
    Berikut saya tetapkan milestonenya:

    KM 0 - KM 1 (tahun 1: Nov 2016-Nov 2017) : Menguasai ilmu Bunda Sayang dan menerbitkan buku cerita bertema itu, serta mengokohkan program les Bahasa Inggris yang sudah berjalan.
    KM 1 - KM 2 (tahun 2: Nov 2017-Nov 2018) : Menguasai ilmu Bunda Cekatan dan menerbitkan buku cerita tentang itu dan lanjut study S2 jurusan Ketahanan Keluarga.
    KM 2 KM 3 (tahun 3)                                     : Menjadi aktivis di Rumah Keluarga Indonesia dibawah naungan partai dan menjadi storyteller dari buku cerita yang saya buat.
Bismillahi tawakkaltu 'alallohi laa haula walaa quwwata illa billah. Ini awal sejarahku. Semoga Allah meridhoi dan memudahkan langkahku. Aamiin. ;-)

Jumat, 04 November 2016

FITRI PURBASARI_NHW3

NICE HOME WORK #3 MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH

"Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya."-- IIP

Pada minggu ketiga belajar bersama kelas matrikulasi IIP ini, kami disuguhkan materi tentang kiat-kiat awal Membangun Peradaban Dari Dalam Rumah. Subhanalloh! Materinya sungguh menyadarkan! Kami dituntun untuk memikirkan dan menemukan "misi spesifik" yang Allah lekatkan pada diri kami, pada keluarga kami. Karena sesungguhnya setiap kita adalah khalifatul fil ardh yang bertugas mengelola bumi, memakmurkan bumi, dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas tugas itu. 

Oleh karena itu, agar kami 'ngeuh', sadar sesadar-sadarnya akan amanah itu dan tidak menyia-nyiakan karunia hidup, sekarang kami ditugaskan untuk menemukan dan menuliskan dengan jelas Misi Spesial, Peran Spesifik Keluarga kami di bumi ini.
  • Keunikan Suami
Saya sepenuhnya menyadari bahwa Allah Yang Maha Pengasih pasti mempunyai maksud spesial mempertemukan saya dengan laki-laki istimewa bernama Yusup Setiadi. Laki-laki yang sebelumnya tidak saya kenal, eh tiba-tiba datang melamar dan menikahi saya (melalui proses ta'aruf singkat). Dalam proses saling mengenal yang terus berlanjut hingga kini (6 tahun usia pernikahan), saya memahami bahwa Allah menjodohkan kami untuk saling melengkapi. Mulai dari beberapa sifat yang berbeda, minat, bakat dan jurusan keilmuan yang berbeda, dan latar belakang keluarga yang berbeda kami kombinasikan agar dapat mewujudkan keluarga baru yang sesuai kehendak Allah SWT. Keluarga Taqwa, adalah Misi Pernikahan yang dia tulis dalam proposal pernikahannya yang saya terima 6 tahun yang lalu dan menjadi misi besar pernikahan kami sekarang. Suami saya adalah lelaki unggul pilihan Tuhan untuk saya, maka sejak kami dipersatukanNya, saya bertekad untuk mencintainya karena Allah saja. Saya telah menulis surat cinta untuknya. Meskipun penulisannya berlatar belakang tugas NHW#3 (hehe), tapi ini sangat membantu saya mengingat kembali keistimewaan lelakiku ini. Dia orang yang sangat sabar, tak banyak bicara, penuh pertimbangan, lembut, hampir tak pernah marah, sangat pengertian, tak mau merepotkan orang lain, tahu benar perannya sebagai imam di keluarga, demokratis, sangat well-organized, family-man, mampu mengasuh anak kecil dan pekerja cerdas. Dia tak pernah melarangku bekerja di luar rumah (sebagai guru sekolah). Dia mengizinkan saya melakukan apa yang saya inginkan selama saya enjoy dan tak kelelahan. Bahkan saat saya mulai faham kodrat wanita sesuai syari'at dan mulai galau untuk melepaskan karir keguruan saya, dia tak pernah tegas menyuruh saya untuk stay di rumah. Dengan sabar dia menerima segala analisis dan harapan yang saya cerna atas perintah syari'at itu dan memberikan support serta affirmasi atas pilihan saya untuk membangun karir sejati dari rumah. Dia memfasilitasi saya dengan mengizinkan saya mengikuti berbagai seminar yang saya minati, berlangganan majalah muslimah dan membelikan buku-buku bergizi. Lelakiku ini adalah my biggest mood booster, bahu yang selalu siap kusenderi, tangan yang selalu siap memeluk dan menghilangkan segala kegelisahan. Alhamdulillah, thank you Allah. By the way, setelah membaca surat cinta yang penuh pujian dari saya, sang suami merespon dengan pelukan sembari mendo'akan berbagai kebaikan untuk saya. He also said, "Abi juga sayang umi karena Allah." Cuit cuiiit it's romantic! :-D
  • Keunikan Anak-Anak
Alhamdulillah Allah juga mengkaruniai saya dengan anak-anak sehat dan hebat. Dua orang putri yang sedang tumbuh dan berkembang dengan baik: Rafifa (4y11m) dan Fatimah (14m). Allah membekali mereka dengan kemampuan belajar yang cepat. Karena kami membuat lingkungan buku di rumah, mereka jadi pecinta buku. Selain itu, karena saya hobi storytelling dan seringkali membacakan buku cerita kepada mereka, anak-anak kami pun jadi suka bercerita. Si Sulung, kosakatanya begitu banyak, sehingga sering membuat saya dan keluarga amazed dengan kemampuannya bermain peran atau mengarang lagu. Dia berminat sekali belajar berbagai bahasa. Dia selalu antusias belajar bahasa Inggris karena selalu mendampingi saya ngeles bahasa Inggris di rumah, belajar bahasa Sunda karena lingkungan keluarga besar kami adalah Sundanese, dan bahasa Jawa yang menjadi bahasa kedua di kampung halaman sang ayah (perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah). Mungkin karena atmosfer keluarga besar kami itu pendidikan, anak kami jadi lebih cenderung bergaya "guru" juga (hehe). Kata guru TK nya, Rafifa sudah seperti ibu guru cilik, suka memimpin dan mengajarkan apa saja yang dia tahu kepada teman-temannya. Menurut pengamatan saya, anak saya yang pertama itu potensi menonjolnya ada di wilayah interpersonal, linguistic, dan bodily-kinesthetic. Oleh karena itu, dia tak pernah capek jika saya ajak bermain drama dengan gerakan seru dari buku-buku cerita favoritnya (salah satunya adalah Muhammad Teladanku). 
  • Keunikan Diri Saya
Saya orang yang visioner, selalu penuh harapan dan optimis. Saya tipe aktivis sosial. Saya selalu bersemangat untuk berbagi, berbagi apa saja yang saya miliki: uang saku, makanan, ilmu, pengalaman, fasilitas, ataupun informasi. Contohnya, saya belum mahir memasak, tapi tiap kali saya masak makanan yang rasanya sesuai harapan, saya seringkali membaginya dengan tetangga meskipun sedikit. Pokoknya saya selalu merasa orang lain harus merasakan kebahagiaan yang saya rasakan. Ini ternyata, saya sadari betul, adalah warisan tak ternilai dari almarhumah Mamah saya. Beliau senang berbagi dengan apa saja yang beliau punya: mulai dari berbagi beras hasil panen kepada para janda sekitar rumah dan rekannya sesama guru, membekali anak-anak tetangga yang akan berangkat karya wisata, sampai mengongkosi siapapun yang dia kenal saat bareng naik angkot. Selain itu, saya juga sangat cinta dunia pendidikan. Karena menurut saya, pendidikan adalah jalan utama menuju peradaban gemilang. Menjadi agent of change for a better future adalah passion besar saya di muka bumi ini. Saya bersyukur sekali dengan keberadaan saya ditengah suami dan akan-anak. Saya pikir Allah mengirimkan saya pada mereka agar kami bisa menjadi kombinasi yang lengkap dalam mewujudkan keluarga yang bersih dan bermanfaat bagi ummat. Saya mendampingi suami yang seorang ahli tata kota agar menjadi ahli yang menghasilkan karya yang Allah ridhoi tanpa korupsi. Pekerjaannya seputar analisis properti semoga bisa menyebarkan ilmu positif yang bermanfaat bagi lingkungan dan khususnya ummat Islam. Sebagai ibu dari anak-anak yang lucu, saya mengemban misi membersamai, menyiapkan, dan mendidik mereka menjadi prajurit-prajurit Islam yang bermanfaat bagi peradaban. Saya harus memfasilitasi mereka agar menguasai multi bahasa sehingga kelak mereka bisa berdakwah lintas negara. Mereka mampu berteman dengan baik dengan orang-orang luar negeri dan berdakwah melalui passion mereka. Saya menjadi storyteller yang menanamkan nilai-nilai kehidupan dengan menyenangkan pada anak-anak saya; because life is full of stories and we can learn many things from stories joyfully. Storytelling will be meaningful for everyone, especially for children. I'm here to be a good storyteller and storywriter. Saya juga berniat menjadi penulis buku, terutama buku cerita anak yang memuat nilai hidup Islami, untuk investasi dunia-akhirat. :-)
  • Misi Spesifik Keluarga Kami
Hmmh.. Saya sangat bersyukur lahir di keluarga yang menjadi "tokoh" di masyarakat. Hal ini menjadi energi tersendiri untuk saya berdakwah di lingkungan tanah kelahiran saya, Kecamatan Cihaurbeuti Kabupaten Ciamis. Dengan menampakkan diri sebagai muslimah berpendidikan, saya berusaha menjadi figur positif generasi muda disana: aktif di berbagai majlis ta'lim, bergabung sebagai kader desa, membentuk komunitas ngaji alumni SMP, dan membuka kelas bahasa Inggris gratis sekaligus mentoring bagi remaja. Alhamdulillah respon masyarakat sangat baik, karena sesungguhnya mereka membutuhkan sarjana seperti saya yang terlibat aktif membangun masyarakat. Namun sayang, belum lama berkiprah di desa tercinta, saya harus hijrah ke kota mendampingi suami. Di Kota Depok ini saya berlabuh. Kota yang membuat saya merasa menjadi orang baru. Tapi dimanapun, saya tetap harus bermanfaat. Allah ingin kita mendapat kebaikan dan menebar kebaikan dimanapun kita ditempatkan. Lalu saya bergabung dengan Yayasan Tunas Ilmu (YTI), sebuah yayasan sosial yang concern di bidang pendidikan untuk keluarga tidak mampu. YTI menyediakan TK gratis yang mewajibkan ibu-ibu wali muridnya mengikuti pembinaan parenting dan saya menjadi salah satu mentor parentingnya. Dari situ saya pun mulai menganalisis. Masalah terbesar yang saya lihat adalah seputar ketahanan keluarga dan pendidikan anak. Tantangan terbesar yang menarik minat saya adalah seputar pemberdayaan perempuan dan kegiatan anak-remaja. Oleh karena itu, dengan sifat saya yang begitu cinta berbagi, saya bercita-cita menjadikan rumah sebagai learning club yang memfasilitasi masyarakat sekitar untuk belajar banyak hal. Dalam rangka mendorong ketahanan keluarga, saya ingin memfasilitasi ibu-ibu untuk mempelajari ilmu dan keterampilan yang mereka butuhkan. Saya dapat bekerja sama dengan berbagai pihak dalam melakukan ini. Kemudian menyoal pendidikan, saya akan fokus pada pendidikan nonformal. Membuka les bahasa Inggris yang terjangkau dan kelas keterampilan lainnya agar anak-anak dan remaja punya kegiatan alternatif yang positif dan berguna agar mereka dapat bersaing dan survive di era globalisasi ini. Selain itu, learning club ini berfungsi juga sebagai taman baca yang akan mengkampanyekan budaya membaca. Keluarga kami harus menjadi duta membaca demi generasi Islam yang cerdas dan penuh manfaat. Rumah kami harus menjadi home base bagi anak-anak untuk ikut mewarnai dunia anak di lingkungan kami: dunia anak yang ceria, aman, dan penuh inspirasi kebaikan. Kami harus mewarnai lingkungan dengan warna kebaikan sebelum warna keburukan menodainya. Di rumah, anak-anak kami bisa bermain, belajar, dan berkarya bersama teman-temannya. Pokoknya rumah kami harus menjadi rumah belajar bagi orang-orang di lingkungan kami: belajar segala macam ilmu kebaikan yang bermanfaat.

Semoga Allah SWT memudahkan jalan kami melaksanakan misi spesifik keluarga kami, yaitu "Rumah Belajar". Kami berharap amal baik ini bisa menjadi amal jariyah bagi kami, leluhur kami, dan juga guru-guru kami, termasuk semua pihak yang terlibat dalam Matrikulasi IIP ini. Aamiin. Terima Kasih. :-)

Kamis, 03 November 2016

Assalamu'alaikum, Sayang...

Dear Suami,
Aku sangat bersyukur Allah Sang Pemilik Rasa mengirimkanmu padaku, Cinta.
Kamu, lelaki yang sebelumnya sama sekali tak pernah kulihat, tak pernah kukenal.
Kamu, datang dalam sebuah proposal manis yang menawarkan sebuah harapan.
Harapan dalam ikatan indah yang akan dilimpahi berkah.

Sayangku,
Terima kasih atas setiap cinta dalam imanmu.
Cintamu yang membawa namaNya telah dan akan selalu membuatku jatuh cinta.
Cinta yang insyaAllah akan terus merekah indah mewarnai langkah.
Cinta Karena Allah, tak lagi sekedar kata mutiara bagiku.
Cinta Karena Allah ini sungguh benar kurasa denganmu.
Cinta yang memancar karena keimanan, kepasrahan, dan ketulusan ini kuharap kian menyemburkan amal baik yang melejitkan kedudukan kita di hadapan Sang Pemilik Semesta.

Cintaku,
Tak pula bosan aku meminta ridhomu atas kekuranganku yang menyesakkan dadamu.
Kamu yang sungguh melengkapiku, mungkin sering kecewa karena aku sering tak sempurna melengkapimu.
Maaf, ya Sayangku.
Aku malu begitu.
Kamu selalu melakukan titah Allah atasku dengan sempurna sesuai kemampuanmu.
Kamu kerahkan semua peluh tanpa keluh untuk membuatku tersenyum.
Tapi aku seringkali lupa akan itu.
Aku seringkali kamu ingatkan untuk sabar dan bersyukur.
Memanglah itu yang selalu kubutuhkan, sikap sabar dan syukur.

Lelakiku,
Kamu, yang penuh sifat sabar, penuh kasih, lembut, penuh pertimbangan, tenang, dan pengertian, tak suka menyusahkan orang lain terutama aku, istrimu.
Kamu begitu paham peranmu sebagai lelaki.
Kamu begitu mengerti bagaimana memperlakukan tulang rusuk yang Allah amanahkan.
Terima kasih, ya Sayang..
Mohon maaf seringkali sikapku tak memahaminya.
Maaf, sikapku seolah tak mengizinkan kau melepas lelah atas penat yang sebenarnya kau pikul.
Maaf, sikapku sering mengganggu istirahatmu karena rasaku yang inginkan perhatianmu.
Maaf dan terima kasih atas binar pengorbananmu.
Semoga Allah Yang Maha Segalanya senantiasa melimpahimu surga dunia akhirat atas setiap perjuanganmu untukku dan buah hati kita.

Imamku,
Membangun Rumah Taqwa adalah misi pernikahan kita.
Kamu menuliskannya dalam proposalmu dulu.
Taqwa adalah kunci menuju kesuksesan sejati yang selalu kita idamkan.
Semoga Yang Maha Kuasa memudahkan langkah kita mencapainya. Aamiin.

Sayangku, suamiku, Pak Yusup Setiadi, aku mencintaimu karena Allah.




MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH

*RESUME DISKUSI DAN TANYA JAWAB*
MATERI#3
MATRIKULASI IIP DEPOK
BATCH#2*
_Materi Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch#2 Sesi #3_

👨👩👦👦 *MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH*👨👩👧👧
“ _Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya  menuju peran peradabannya_ ”
Bunda, rumah kita adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi Amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh.
Maka tugas utama kita sebagai pembangun  peradaban adalah mendidik anak-anak sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.
Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “ _misi spesifiknya_ ”, tugas kita memahami kehendakNya.
Kemudian ketika kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, tidak hanya sekedar untuk melanjutkan keturunan, atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita. Lebih dari itu, kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak, adalah untuk lebih memahami apa sebenarnya “ _peran spesifik keluarga_” kita di muka bumi ini.
Hal ini yang kadang kita lupakan, meski sudah bertahun-tahun menikah.
Darimana kita harus memulainya?
🙋 *PRA NIKAH*
Buat anda yang masih dalam taraf memantaskan diri agar mendapatkan partner membangun peradaban keluarga yang cocok, mulailah dengan tahapan-tahapan ini:
a. Bagaimana proses anda dididik oleh orangtua anda dulu?
b. Adakah yang membuat anda bahagia?
c. Adakah yang membuat anda “sakit hati/dendam’ sampai sekarang?
d. Apabila ada, sanggupkah anda memaafkan kesalahan masa lalu orangtua anda, dan kembali mencintai, menghormati beliau dengan tulus?
Kalau empat pertanyaan itu sudah terjawab dengan baik, maka melajulah ke jenjang pernikahan.
Tanyakan ke calon pasangan anda ke empat hal tersebut, minta dia segera menyelesaikannya.
Karena,
*ORANG YANG BELUM SELESAI DENGAN MASA LALUNYA , AKAN MENYISAKAN BANYAK LUKA  KETIKA MENDIDIK ANAKNYA KELAK*
👨👩👧👧 *NIKAH*
Untuk anda yang sudah berkeluarga, ada beberapa panduan untuk memulai membangun peradaban bersama suami anda dengan langkah-langkah sbb:
🍀Pertama temukan potensi unik kita dan suami, coba ingat-ingat mengapa dulu anda memilih “dia” menjadi suami anda? Apa yang membuat anda jatuh cinta padanya? Dan apakah sampai hari ini anda masih bangga terhadap suami anda?
🍀Kedua, lihat diri kita, apa keunikan positif yang kita miliki? Mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Sampai kita berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita? Apa pesan rahasia Allah terhadap diri kita di muka bumi ini?
🍀Ketiga, lihat anak-anak kita, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahim kita yang dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersama kita? Mengapa kita yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini? Punya misi spesifik apa Allah kepada keluarga kita, sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?
🍀Keempat, lihat lingkungan dimana kita hidup saat ini. Mengapa kita bisa bertahan hidup dengan kondisi alam dimana tempat kita tinggal saat ini? Mengapa Allah menempatkan keluarga kita disini? Mengapa keluarga kita didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekeliling kita saat ini?
Empat pertanyaan di atas, apabila terjawab akan membuat anda dan suami memiliki “ _misi pernikahan_” sehingga membuat kita layak mempertahankan keberadaan keluarga kita di muka bumi ini.
👩👧👧 *ORANGTUA TUNGGAL (SINGLE PARENT)*
Buat anda yang saat ini membesarkan anak anda sendirian, ada pertanyaan tambahan yang perlu anda jawab selain ke empat hal tersebut di atas.
a. Apakah proses berpisahnya anda dengan bapaknya anak-anak menyisakan luka?
b. Kalau ada luka, sanggupkah anda memaafkannya?
c. Apabila yang ada hanya kenangan bahagia, sanggupkah anda mentransfer energi tersebut menjadi energi positif yang bisa menjadi kekuatan anda mendidik anak-anak tanpa kehadiran ayahnya?
Setelah ketiga pertanyaan tambahan  di atas terjawab dengan baik, segeralah berkolaborasi dengan komunitas pendidikan yang satu chemistry dengan pola pendidikan anda dan anak-anak.
Karena,
*IT TAKES A VILLAGE TO RAISE A CHILD*
_Perlu orang satu kampung untuk mendidik satu orang anak_
Berawal dari memahami peran spesifik keluarga kita dalam membangun peradaban, kita akan makin paham apa  potensi unik produktif keluarga kita, sehingga kita bisa senantiasa berjalan di jalanNya.
Karena
*_Orang yang sudah berjalan di jalanNya, peluanglah yang akan datang menghampiri kita, bukan justru sebaliknya, kita yang terus menerus mengejar uang dan peluang_*
Tahap berikutnya nanti kita akan makin paham program dan kurikulum pendidikan semacam apa yang paling cocok untuk anak-anak kita, diselaraskan dengan bakat tiap anak, potensi unik alam sekitar, kearifan lokal dan potensi komunitas di sekitar kita.
Kelak, _anda akan membuktikan bahwa antara *pekerjaan*, *berkarya* dan *mendidik anak*, bukanlah sesuatu yang terpisahkan, sehingga harus ada yang dikorbankan_
Semuanya akan berjalan beriring selaras dengan harmoni irama kehidupan.
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/
_SUMBER BACAAN_
_Agus Rifai, Konsep,Sejarah dan Kontribusi keluarga dalam Membangun Peradaban, Jogjakarta, 2013_
_Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016_
_Muhammad Husnil, Melunasi Janji Kemerdekaan, Jakarta, 2015_
_Kumpulan artikel, Membangun Peradaban, E-book, tanggal akses 24 Oktober 2016_
*Sesi tanya jawab:*
1⃣ Bunda Yeni
Jika luka masa lalu masih ada dalam kehidupan kita. Bagaimana cara paling efektif untuk memaafkan yang orang yang membuat luka di masa lalu kita?
1⃣ Bunda Yeni
Bunda Yeni, luka yang kita alami bisa jadi itu akibat dari perilaku yang tidak baik. Perilaku itu bisa terjadi karena banyak sebab, bisa karna khilaf atau karena kefakiran ilmu, maka MAAFKANLAH SETULUSNYA.
Tidak ada jalan yang lebih melegakan selain memaafkannya. Sampaikan padanya bahwa kita sudah memaafkan perbuatannya. Doakan ia yang melukai kita diberikan hidayah Allah agar menemukan hikmah dari kejadiannya kepada kita dan disampaikan ilmu kepadanya bahwa hal itu tidak baik.
Lalu move on! Ganti peta pikiran kita yang bilang: "Dia orang yang melukai kita!" Menjadi: "Dengan apa yang dilakukannya aku menjadi lebih kuat!", karena nyatanya hingga detik ini kita masih dapat melanjutkan hidup bukan?.
Maka selesaikan urusan yang belum selesai ini, sehingga kita akan melangkah dengan lebih ringan, tanpa beban.✅

2⃣ Bunda Wiwit
Subhanallah stelah menyimak materi pekan ke 3 ini,yg paling saya garis bawahi yaitu
Membangun peradaban dari Rumah dengan mendidik anak sesuai Kehendak-Nya,bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.
Bagaimana langkah2 konkrit yg hrs kita tempuh utk mewujudkannya?. Utk mengarahkan anak kita sesuai Kehendak Nya 😊
2⃣ Bunda Wiwit, kuncinya jangan pernah menitipkan mimpi kita sebagai orang tua kepada anak. Biarkan anak anak mengeksplore rasa dan minatnya sesuai fitrahnya. Fitrah keimanannya, fitrah perkembangannya, fitrah belajar dan fitrah lainnya. Di materi berikutnya akan kita pelajari bagaimana kita bisa belajar cara belajar. Sehingga kita bisa menggali potensi anak secara _inside out_ bukan_outside in_. ✅
3⃣ bunda Tantia
Bagaimana cara mendidik anak-anak  sesuai kehendakNya bukan mencetak sesuai keinginan kita?
3⃣ mbak Tantia, pertanyaannya senada dengan Bunda Wiwit ya, sekali lagi tidak menitipkan mimpi kita kepada anak anak.
Misal: Saya ingin anak anak jadi dokter karena dulu saya kepingin jadi dokter tapi karena tidak ada biaya maka gak bisa.
Kalo anak memang mau jadi dokter harus tumbuh dari keinginannya sendiri itulah _inside out_ ✅
4⃣ bunda Dinda
Bagaimana cara membuat visi misi keluarga? Apakah perlu dibuat checklist juga? Selama ini kami hanya membicarakan saja,, blm menuangkan dalam tulisan,, hehehe,, terkadang autopilot,, let it flow saja,, bagaimana caranya mengembalikan ke fungsi dan harapan keluarga kami kembali?
Sungguh ketika saya memutuskan utk menikah usia muda,, banyak menaruh harapan terbaik,, usia pernikahan kami hampir 11 tahun dan setelah mengikuti martikulasi ini saya merasa diingatkan kembali atas cita dan niatan awal kami,, masih banyak yg tertinggal dibelakang😭
4⃣ Mbak Dinda, saatnya dimulai lagi untuk dituliskan, jika sekarang anak anak sudah hisa diajak berdiskusi maka libatkan juga anak-anak.  Dengan input bersama dan ditulis maka nanti akan ketemu apakah visi misi kita sudah on track sejak 11 tahun lalu, jika terasa adanya perlambatan maka cek kembali. Apakah strategi keluarga kita dalam menjalankannya sudah tepat. Karena pesan bu Septi dalam keluarga:
*"There is NO FAILURE, only WRONG RESULT, so we have to CHANGE our strategy."* ✅
5⃣ bunda Yekti
saya dididik dlm lingkungan yg cukup keras dgn ortu saya. dmn saya hrs disiplin, tdk blh lemah dan mengeluh. waktu saya kecil sgt sedih krn teman2 bebas bermain, namun saya sdh punya rutinitas yg sdh di plot dr awal.sesudah memiliki anak saya merasa apa yg diajarkan ortu saya ada benarnya krn membentuk mental saya. namun suami saya sebaliknya. dibesarkam dr keluarga yg santai sekali. kira2 bagaimanakah menyatukan visi misi kami yg mungkin keduanya memiliki kekurangan dan kelebihan. trims
5⃣ Bunda Yekti, begitulah manusia diciptakan oleh Allah beragam latar belakang dari banyak hal termasuk pola asuh. Ketika pernikahan terjadi maka Allah telah ridho terhadap penyatuan dua insan yang berbeda dan pasti Allah memiliki maksud kita dipertemukan dengan pasangan kita.
Maka perbanyaklah ngobrol dan beraktivitas bersama, ini dua hal yang selalu ditekankan oleh Pak Dodik dan bu Septi dalam implementasi visi misi keluarganya. Dengan ngobrol, heart to heart talk, pillow talk dengan pasangan maka akan muncul poin pendidikan keluarga apa yang bunda lebih unggul dan apa yang suami lebih unggul lalu bersinergilah.
Saya kutip pernyataannya bu Septi relevan dengan hal ini:
_"Menurut pengalaman saya dan pak Dodik, ternyata kuncinya adalah di nomor satu, penerimaan kita terhadap pasangan. Ketika secara lahir dan batin kami berdua sudah saling menghargai kehebatan masing-masing, menyiasati kekurangan-kekurangan yang ada pada kami. Hal tersebut memudahkan jalan kami untuk menemukan misi spesifik keluarga."_ ✅
6⃣ bundaPoppy
Alhamdulillah saya dan suami sudah sejalan utk masalah pengasuhan anak. Begitu juga saya merasa sudah selesai dengan masa lalu saya. Bagaimana jika malah orangtua kami yg belum selesai menitipkan harapan mereka kepada kami (saya terutama) ?. Contoh kasus. orangtua yg masih ingin saya melanjutkan karier di luar rumah.
6⃣ Mbak Poppy, yang diajarkan oleh bu Septi yaitu dengan mendengarkan dengan senyuman apa yang disampaikan oleh orang tua kita, hargailah pendapatnya dan keinginannya. Lalu kemudian pelan pelan utarakan visi misi keluarga mbak Poppy kepada orang tua. Komunikasikan secara produktif, karena sebetulnya ini masalah komunikasi. Keberhasilan komunikasi manakala _frame of reference_ dengan _frame of experience_ sudah sama dengan orang tua, komunikasi akan lebih nyaman. Setelah itu cobalah pelan pelan diyakinkan bahwa ini adalah jalan hidup yang telah kita yakini dan minta doa padanya sehingga akan kita buktikan keberhasilannya.
Kebanyakan orangtua hanya khawatir saja anaknya tidak berhasil terhadap pilihan tersebut
Saya coba tulis ulang yang pernah disampaikan  bu Septi, ketika ibunya ragu atas pilihan bu Septi menjadi Ibu Rumah Tangga (redaksi tidak persis sama):
_"Ibu, Ketika perempuan belum menikah ridho Allah terletak pada ridho orangtua. Setelah menikah, bagi seorang perempuan ridho Allah terletak pada ridho suami. Izinkan saya untuk dapat mentaati suami dalam bidang yang telah kami pilih sehingga Allah ridho pada saya dan Ibu beroleh pahala dengan ketaatan saya pada suami."_
Lalu ibu bu Septi mengatakan
_"Buktikan."_
Dan bu Septi telah membuktikannya 😊
Demikian semoga ada inspirasi ✅
7⃣ bunda Tria
Saya masih bingung dengan panduan 4 langkah memulai peradaban bersama suami 😁.
Adakah tipsnya agar dpt menjawab pertanyaan2 tsb?
7⃣ mbak Tria, coba direnungkan mendalam dan berdiskusi dengan suami. Karena semua yang terjadi pada kita selalu ada tujuan dan maksud dari Allah. ✅
8⃣ bunda iya
Yang di maksud dengan "peran spesifik keluarga" dimuka bumi itu apa? Bukanya kita berkeluarga memang buat meneruskan keturunan dan melengkapi satu sama lain antara suami istri
8⃣ Mbak Iya, betul. Namun jika hanya meneruskan keturunan saja apa bedanya dengan makhluk lain seperti hewan dan tumbuhan. Allah katakan manusia adalah kalifatul fil 'ardh.
Setiap manusia sudah dibekali program untuk memberikan peran yang spesifik dari dirinya untuk mengumpulkan bekal pulang ke kampung Akhirat.
Spesifik karena setiap keluarga tidak akan sama. Keluarga bu Septi menjadi inspirator dan motivator. Nah kita coba gali yuk keluarga kita akan memberi peran apa dalam kehidupan ini, karena keahlian dan kondisi masing masing keluarga berbeda. ✅
9⃣ bunda Arum
Bagaimana cara menentukan visi unik keluarga dalam membangun peradaban?
9⃣ Mba Arum, diselaraskan dengan keunikan dan passion keluarga kita.
Setiap anggota keluarga pasti unik namun dalam keunikannya masing masing memberi benang merah "ciri" keluarga kita. Maka gali passion bersama keluarga kita. ✅
🔟 bunda Febi
Bagaimana cara terbaik menghilangkan "luka hati" pada anak karena kesalahan kita dalam mendidik di masa lalu, misalnya karena dulu blm bisa berkomunikasi dengan baik pada anak?
🔟 Mba Febi, minta maaf setulusnya pada anak. Tatap matanya dan sampaikan secara verbal kesalahan kita. Peluk dan cium lalu berkomitmen untuk memperbaiki kesalahan.
Selalu upgrade diri kita dengan tambahan ilmu terus menerus demi _continous improvement_ bukan lagi _continous mistakes_. ✅
Yang bertugas :
Host : Dinda Permatasari
Co-host : Ardiani Putri
Narasumber - Nia Nio
/Tim Matrikulasi Ibu profesional/

Resume Diskusi: Desain Global Sekolah Unggul

 Bismillah.. alhamdulillah malam ini bisa bergabung di diskusi online Kelas 100 Guru PAUD berjudul Desain Global Sekolah Unggul. Pematerinya...