Selasa, 31 Januari 2017

Komprod T10 Day#4 FITRI PURBASARI DEPOK/JABAR

Level 1: Tantangan 10 Hari Berkomunikasi Produktif


Berpikir Sebelum Berucap

Praktek komunikasi produktif saya hari ini seputar seni pemakaian diksi yang positif. Sesadar mungkin menghindari kalimat dan pikiran negatif. Saya kemudian mentransfernya saat berkomunikasi dengan adik tercinta. Alhamdulillah semoga menjadi contoh yang baik.

Well, dengan anak, seni komprod yang terus dilatih masih seputar KISS (tentu bersinergi dengan seni diksi), intonasi dan bahasa tubuh yang ramah. Subhanalloh, setiap hari ada saja scene yang menjadi medan tempur saya dengan senjata komprod itu. hehehe.. Ya tentu saja itu semua di setting Allah sebagai fasilitas meraih keterampilan berkomunikasi produktif. hihiii.. so, senyumin saja. 😊

Pada forum keluarga, saya menceritakan episode siang tadi. Saya sampaikan betapa membanggakannya Sang Kaka saat tanggap terhadap adik yang kesulitan membuka kalung saat umi sedang sholat. Juga betapa kerennya kaka menemani adik bermain di kamar, saat umi sedang ngeles di ruang tengah. Saya curhat kepada suami bahwa saya memang harus kerja keras merecall materi komprod sebelum mengeluarkan kata-kata. Menggunakan kaidah 7-38-55. Friendly body language works better than words. Mikiiir dulu, baru ngomong. πŸ˜„ 

Hemmh..mencoba menganalisis suasana harian kami di rumah: Suasana nyaman berkomunikasi dengan anak didapat jika Ibu sudah selesai dengan urusan dapur lebih dini.. hihiii.. So, saya harus disiplin melakukan jadwal yang sudah dibuat sejak matrikulasi. 
Bismillah..


Pesan Cinta Bu Septi tentang Kompro

_Cemilan Rabu #1_

*12  Gaya Populer, Penghambat Komunikasi Kita*

πŸ“†  _Hari baru, Semangat Baru_

Satu minggu sudah kita memperdalam materi "Komunikasi Produktif". Dan teman-teman saat ini sedang melatih kekonsistenan diri dalam menjaga komunikasi dengan diri kita sendiri, dengan partner atau rekan kerja  dan dengan anak-anak kita. Banyak tantangan ya pasti, tapi seru. Di pekan pertama ini, kami ingin berbagi tentang 12 gaya populer, yang menghambat komunikasi kita.

Mungkin sebagian besar dari kita sudah sering mendengar tentang 12 gaya populer (parenthogenic).  Tanpa kita sadari, secara turun temurun 12 gaya komunikasi ini sering kita gunakan dalam percakapan sehari-hari.

Ketika anak sedang atau tidak bermasalah pun, jika kita sering meresponnya dengan menggunakan 12 gaya populer ini, anak akan merasa tidak percaya dengan emosi atau perasaannya sendiri.

Padahal sangat penting bagi anak untuk belajar percaya dengan perasaannya dan dirinya, hal tersebut akan mendukung perkembangan emosinya dan mendorong anak tumbuh menjadi percaya diri.

Jika perkembangan emosi anak baik, ia juga akan memiliki kontrol diri yang baik ketika menghadapi suatu masalah, bahkan ia akan mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.

Berikut adalah  contoh-contoh 12 gaya populer:

1⃣Memerintah,
contoh: “Mama tidak mau dengar alasan kamu, sekarang masuk kamar dan bereskan kamarmu!”

2⃣Menyalahkan,
contoh: Ketika anak tidak bisa mengerjakan soal PRnya, ayah berkata, “Tuh kan. Itulah akibatnya kalau kamu tidak mendengarkan Ayah dan malas belajar”

3⃣Meremehkan,
contoh: “Masak pakai sepatu sendiri saja tidak bisa, bisanya apa dong Kak?”

4⃣Membandingkan,
contoh: “Kok kamu diminta naik ke panggung saja tidak mau sih Kak, tuh lihat Andi saja mau”

5⃣Memberi cap,
contoh:”Dasar anak bodoh, disuruh beli ini saja salah!”

6⃣Mengancam,
 contoh: “Kalau kamu tidak mau makan lagi, kamu tidak akan dapat uang jajan selama seminggu!”

7⃣Menasehati,
contoh: “Makanya, kalau mau makan cuci tangannya dulu, nak… Tangan kan kotor banyak kumannya…”

8⃣Membohongi,
contoh: “Disuntik tidak sakit kok nak, seperti digigit semut aja kok”

9⃣Menghibur,
contoh: Ketika adik menemukan bahwa es krim nya dimakan oleh kakaknya tanpa sepengetahuannya, bunda berkata, “Sudah ya sayang, besok bunda belikan lagi es krimnya, lebih enak dari yang dimakan kakak tadi”

πŸ”ŸMengeritik,
contoh: “Lihat tuh! Masak mengepel masih kotor dimana-mana begitu. Mengepelnya yang benar dong!”

1⃣1⃣Menyindir,
contoh: “Hmmm… Pintar ya? Sudah mandi, sekarang main tanah dan pasir lagi”

1⃣2⃣Menganalisa,
contoh: “Kalau begitu, yang mengambil bukumu bukan temanmu, mungkin kamu tinggalkan di tempat lain…”

Aha! makin banyak yang harus kita perbaiki ya, ayo lanjutkan tantangan 10 hari teman-teman, dengan kualitas komunikasi yang semakin bagus.


Salam Ibu Profesional,



/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

_Sumber bacaan_:

_Elly Risman, Penghambat Komunikasi Dalam Keluarga, artikel, 2014_

_Tim Fasilitator Bunda sayang IIP, Hasil Tantangan 10 hari, komunikasi produktif, 2017_

Senin, 30 Januari 2017

Komprod T10 Day#3 FITRI PURBASARI Depok/Jabar

Level 1: Tantangan 10 Hari Berkomunikasi Produktif

Aku, Kamu Jadi Kita

Berkomunikasi dengan suami selalu menyenangkan. Saya bersyukur bisa mencurahkan segala hal kepada laki-laki yang sabar, penuh perhatian serta pengertian ini. Kami sudah menikah selama 6 tahun. So far, komunikasi kami sangat produktif. Cuma tantangan yang selalu membawa warna tersendiri adalah komunikasi menyangkut urusan keuangan ekstern. Seperti yang menjadi bahasan Ahad malam kemarin. Saya selalu galau memikirkan masalah keuangan yang membelit orang tua saya. Secara individu, saya belum bisa membantu, maka suami lah yang selalu menjadi harapan saya. Di saat seperti itu, saya selalu merasa inferior karena belum bisa mandiri dalam hal penghasilan. Alasan inilah yang kemudian membuat saya selalu bercucuran air mata saat membuka pembicaraan menyoal keuangan ekstern. Tapi alhamdulillah dengan niat baik membicarakan semuanya, hati yang siap menerima apapun keputusan sang imam, saya feel free menyampaikan segala kegalauan. Saya berbicara dengan bahasa yang baik setelah menemukan timing yang tepat. Saya membuka pembicaraan dengan pelukan. Suami membalas dengan belaian lalu menyimak dengan sabar dan penuh perhatian kalimat per kalimat yang meluncur dari lisan saya. Selanjutnya beliau mengajak saya brainstorming, baru mengemukakan pendapatnya yang selalu logis dan bijak. Alhamdulillah, pembicaraan menghasilkan kedamaian, sakinah selalu bersamanya. 😊

Mengkomunikasikan masalahku, masalahmu, menjadi masalah KITA, kami selalu berusaha menanamkan dalam benak dan jiwa bahwa kami adalah tim yang solid, harus siap menghadapi situasi apapun bersama-sama. 

Sabtu, 28 Januari 2017

Komprod T10H Day#2 FITRI PURBASARI Depok/Jabar

Level 1: Tantangan 10 Hari Berkomunikasi Produktif

ANAK CAPER

Di forum keluarga kami malam ini, saya meminta maaf kepada kedua anak tercinta. Saya menyesali sikap saya seharian ini yang cenderung kurang bersahabat pada mereka. Entah karena tingkah mereka yang over dari biasanya, atau karena saya yang kurang tidur semalam. Tapi sepenuhnya saya sadari itu karena kelemahan saya. 

Sore tadi adalah jadwal pengajian kelompok saya di rumah. Entah karena teman sebayanya tidak datang, Si Kaka (5 th) jadi caper alias cari perhatian kepada teman-teman ngaji saya. Saya merasa kalimat dan tingkah capernya itu agak mengganggu forum kami, maka beberapa kali saya memandangnya tajam sambil memperingatkannya dengan kalimat agak tegas, "Ka, tolong! Umi lagi ngaji dulu yaa, kaka di kamar dulu mewarnai atau main ya!" Si Kaka agak enggan, tapi mungkin berusaha mengalihkan perhatian ke mainannya agar tak mengganggu forum uminya. Selanjutnya, saya berusaha untuk tak menghiraukannya. Hemmh.. saya cukup menyesal bersikap demikian, dan tak antisipatif dengan sikapnya yang seperti itu. 

Selain itu, penyesalan pun saya rasakan dari pelitnya saya mengucapkan terima kasih pada Si Kaka. Padahal kuingat-ingat, hari ini dia cukup banyak membantu saya mengurus persiapan ngaji dan menghandle adiknya. Saya hanya bilang sekilas, "Ka, maafin umi ya tadi agak kasar ke kaka." Dan dijawabnya pula, "Iya mi, maafin Kaka juga yaa.". Sampai barusan dia tertidur cepat karena tidak bobo siang, saya belum bersikap ramah seperti seharusnya karena sibuk menjawab pesan yang masuk di hp. hemmh..menyesallah saya saat melihat raut wajahnya yang sudah terlelap.

Pun kepada adiknya. Barusan pas ngelonin Dede (1,5 th), saya minta maaf padanya atas sikap saya yang kasar tadi siang. Dia yang semakin aktif meraih ini itu, jumpalitan sana sini membuat saya kewalahan. Beberapa kali saya menariknya dengan kasar tadi siang, disertai nada tinggi yang menyakiti. Astaghfirulloh..

Sikap saya yang minus ini tak boleh terulang lagi besok. InsyaAlloh besok lebih baik lagi... lebih waras lagi.

Selasa, 24 Januari 2017

Komprod_T10H_day1_FITRI PURBASARI_DEPOK/JABAR

Level 1: Tantangan 10 Hari Berkomunikasi Produktif

KOMUNIKASI KELUARGAKU

Alhamdulillah selama ini, kami sudah memiliki forum keluarga setiap malam setelah suami sampai di rumah. Dan dengan ilmu komunikasi produktif dari Bunda Sayang ini insyaAllah akan semakin mengokohkan forum keluarga kami. 😊

Pada hari ini, alhamdulillah Allah memberi tantangan yang menjadi jalan saya mempraktekkan ilmu bunsay kali ini. Begini ceritanya. deng deng deng....
Sepulang sekolah, Si Kakak mengambil kertas kosong dan spidolnya. Katanya mau bikin peta mencari binatang. Mulailah dia menggambar. Daaan seperti biasa, Sang Adik ikut-ikutan. Adik mengambil satu spidol dan ikut menggambar di kertas kakaknya. "IIIIH ADEEEE!!" teriak Si Kakak. Dia marah, tak ridho, lalu mulai histeris. Saya pun beraksi. Saya perhatikan intonasi dan merangkai diksi dengan KISS. Saya sampaikan "Kakak sayang, ade pengen bantu kakak, ade pengen sama-sama gambarnya. Mungkin ade pengen belajar gambar sama kakak karena gambar kakak bagus." tentu dengan suara tenang sambil mengalihkan perhatian adiknya agar menjauh dari Si Kakak "Yuk, ade disini aja yaa gambarnya. Niih umi buatkan bunga." Si Kakak cukup tenang tapi ingin menngganti kertasnya dengan yang baru. Dan lima menit berlalu. Sang Adik menghampiri kakaknya lagi. Dan..cret! Dia mencoret lagi gambar kakaknya. Again... Sang Kakak teriak dan histeris lagi. Kali ini lebih kesal dari yang tadi. "ARRRRRRGHH ADEEEE! IHH SEBELLL!" sambil meremas kertasnya. Again pula saya menyampaikan ulang kalimat-kalimat babak pertama. Tapi Kakak udah kesel banget sama adiknya. Si Kakak memelukku dan menangis. Jurus kedua, saya peluuuuk dia dengan tulus, kali ini tak ada rasa emosi hehehe.. Saya ajak dia mendekat ke dinding yang penuh coretan yang Kakak buat waktu dia berumur 2 tahun. Saya ajak dia mengenang masa itu. "Adek itu lagi pengen belajar nulis, Ka. Sama kayak Kakak dulu. Kakak suka nulis di buku ngaji umi, umi biarin. Niih, ini gambar kakak waktu kecil. Kakak seneng bikin lolipop, umi biarin kakak belajar nulis di dinding ini, karena nanti bisa dicat lagi. Lihat, gambarnya kaya coretan kan ya? ini karena kakak baru belajar. Sama kaya ade sekarang. Jadi gak apa-apa yaa kalo adek mau belajar gambar sama kakak. Biar ade juga pintar kaya kakak. ok? Yuk gambar lagi, nanti umi bantuin." And..alhamdulillah..dia sangat menerima ucapanku. Dia pun mengambil kertas baru dan memulai lagi gambar ketiganya denga perasaan tenang meski nanti Adik nyamperin lagi. πŸ˜‰



So, hari ini saya belajar merubah sumbu emosi saya. Kali ini lebiiih panjang. Komunikasi saya kali ini cantik dengan intonasi kedamaian dan diksi yang positif. Alhamdulillah. 😍

Pas suami pulang, saya ceritakan kejadian menarik ini kepadanya. Dan memberikan apresiasi kepada Kakak yang sudah bersikap baik seharian ini. Perbincangan kami berlanjut pada kegiatan kakak siang tadi di sekolah. Lalu saya mengajarinya mendongeng dari balik gorden dengan boneka-boneka kecil. She loves storytelling! Setelah itu, dengan perasaan positif, anak sulung kami bersiap tidur, meminta diselimutin dan dicium keningnya. Tak lupa ritual baca shiroh Muhammad Teladanku sebagai pengantar tidurnya. 

Alhamdulillah..it was so beautiful!  

Minggu, 22 Januari 2017

BundaSayang#1

_Institut Ibu Profesional_
_Materi Kelas Bunda Sayang sesi #1_

*KOMUNIKASI PRODUKTIF*

Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif,  agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan,  baik kepada diri sendiri,  kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita.

*_KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI_*

Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadarinya bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif.

Kita mulai dari pemilihan kata yang kita gunakan sehari-hari.

*_Kosakata kita adalah output dari struktur berpikir  dan cara kita berpikir_*

Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya.

_Kata-kata anda itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata anda_

Kata  *masalah* gantilah dengan *tantangan*

Kata *Susah* gantilah dengan *Menarik*

Kata *Aku tidak tahu* gantilah *Ayo kita cari tahu*

Ketika kita berbicara “masalah” kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi.


Tapi jika kita mengubahnya dengan “TANTANGAN”, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi.


*_Pemilihan diksi (Kosa kata) adalah pencerminan diri kita yang sesungguhnya_*


Pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Maka kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan lebih bermakna.


 Jika diri kita masih sering berpikiran negatif, maka kemungkinan diksi (pilihan kata) kita juga kata-kata negatif, demikian juga sebaliknya.


*_KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN_*

Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa “aku dan kamu” adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu.


 Pasangan kita dilahirkaan oleh ayah ibu yang berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi hal lainnya.


Maka sangat boleh jadi pasangan kita memiliki *_Frame of Reference (FoR)_* dan *_Frame of Experience (FoE)_* yang berbeda dengan kita.


FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tatanilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, bukubacaan, pergaulan, indoktrinasi dll.


FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.


FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya.


Jadi jika pasangan memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR nya memang berbeda.


Komunikasi dilakukan untuk *MEMBAGIKAN* yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula SEBALIKnya.


*_Komunikasi yang baik akan membentuk FoE/FoR ku dan FoE/FoR mu ==> FoE/FoR KITA_*


 Sehingga ketika datang informasi akan dipahami secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan sesuatu,  pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan.


Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi *MEMAKSAKAN* pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.


Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI; *_bila Nalar panjang - Emosi kecil; bila Nalar pendek - Emosi tinggi_*


Komunikasi antara 2 orang dewasa berpijak pada Nalar.
Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua.


Maka bila Anda dan pasangan masih masuk kategori Dewasa --sudah bukan anak-anak dan belum tua sekali-- maka selayaknya mengedepankan Nalar daripada emosi, dasarkan pada fakta/data dan untuk problem solving.


Bila Emosi anda dan pasangan sedang tinggi, jeda sejenak, redakan dulu ==> agar Nalar anda dan pasangan bisa berfungsi kembali dengan baik.


Ketika Emosi berada di puncak amarah (artinya Nalar berada di titik terendahnya) sesungguhnya TIDAK ADA komunikasi disana, tidak ada sesuatu yang dibagikan; yang ada hanya suara yang bersahut-sahutan, saling tindih berebut benar.


Ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi Anda dan pasangan:


1. *Kaidah 2C: Clear and Clarify*

Susunlah pesan yang ingin Anda sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak.


Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.


2. *Choose the Right Time*

Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Anda yang paling tahu tentang hal ini. Meski demikian tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu yang nyaman baginya berkomunikasi dengan anda, suasana yang diinginkannya, dll.


3. *Kaidah 7-38-55*

Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi.


Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).

Anda tentu sudah paham mengenai hal ini. Bila pasangan anda mengatakan "Aku jujur. Sumpah berani mati!" namun matanya kesana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya mengambang maka pesan apa yang Anda tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang lebih Anda percayai?

Nah, demikian pula pasangan dalam menilai pesan yang Anda sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh Anda.

4. *Intensity of Eye Contact*

Pepatah mengatakan _mata adalah jendela hati_


Pada saat berkomunikasi tataplah mata pasangan dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa Anda terbuka, jujur, tak ada yang ditutupi. Disisi lain, dengan menatap matanya Anda juga dapat mengetahui apakah pasangan jujur, mengatakan apa adanya dan tak menutupi sesuatu apapun.


5. *Kaidah: I'm responsible for my communication results*

Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan.

Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya.


Perhatikan senantiasa responnya dari waktu ke waktu agar Anda dapat segera mengubah strategi dan cara komunikasi bilamana diperlukan. Keterlambatan memahami respon dapat berakibat timbulnya rasa jengkel pada salah satu pihak atau bahkan keduanya.


*KOMUNIKASI DENGAN ANAK*

Anak –anak itu memiliki gaya komunikasi yang unik.

*_Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng copy_*


Sehingga gaya komunikasi anak-anak kita itu bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya.

Maka kitalah yang harus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan kita yang memaksa anak-anak untuk memahami gaya komunikasi orangtuanya.

Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita yang harus memahami mereka.

Bagaimana Caranya ?

a. *Keep Information Short & Simple (KISS)*

Gunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu, dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu.


✅Kalimat Produktif :
“Nak, setelah mandi handuknya langsung dijemur ya”  ( biarkan aktivitas ini selesai dilakukan anak, baru anda berikan informasi yang lain)

b. *Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah*

Masih ingat dengan rumus 7-38-55 ? selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh

⛔Kalimat tidak produktif:
“Ambilkan buku itu !” ( tanpa senyum, tanpa menatap wajahnya)

✅Kalimat Produktif :
“Nak, tolong ambilkan buku itu ya” (suara lembut , tersenyum, menatap wajahnya)

Hasil perintah pada poin 1 dengan 2 akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan cemberut. Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku senang hati.

c.  *Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan*

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, Ibu tidak ingin kamu ngegame terus sampai lupa sholat, lupa belajar !”

✅Kalimat produktif :
“Nak, Ibu ingin kamu sholat tepat waktu dan rajin belajar”

d.  *Fokus ke depan, bukan masa lalu*

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nilai matematikamu jelek sekali,Cuma dapat 6! Itu kan gara-gara kamu ngegame terus,sampai lupa waktu,lupa belajar, lupa PR. Ibu juga bilang apa. Makanya nurut sama Ibu biar nilai tidak jeblok. Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, Ibu jengkel!”

✅Kalimat produktif :
“Ibu lihat nilai rapotmu, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ada yang bisa ibu bantu? Sehingga kamu bisa mengubah strategi belajar menjadi lebih baik lagi”

e. *Ganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”*

Otak kita akan bekerja seseai kosa kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul , maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.

f. *Fokus pada solusi bukan pada masalah*

⛔Kalimat tidak produktif :
“Kamu itu memang tidak pernah hati-hati, sudah berulangkali ibu ingatkan, kembalikan mainan pada tempatnya, tidak juga dikembalikan, sekarang hilang lagi kan, rasain sendiri!”

✅Kalimat produktif:
“ Ibu sudah ingatkan cara mengembalikan mainan pada tempatnya, sekarang kita belajar memasukkan setiap kategori mainan dalam satu tempat. Kamu boleh ambil mainan di kotak lain, dengan syarat masukkan mainan sebelumnya pada kotaknya terlebih dahulu”.


g. *Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan*

Berikanlah pujian dan kritikan dengan menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut.

⛔Pujian/Kritikan tidak produktif:

“Waah anak hebat, keren banget sih”
“Aduuh, nyebelin banget sih kamu”

✅Pujian/Kritikan produktif:
“Mas, caramu menyambut tamu Bapak/Ibu tadi pagi keren banget, sangat beradab, terima kasih ya nak”

“Kak, bahasa tubuhmu saat kita berbincang-bincang dengan tamu Bapak/Ibu tadi sungguh sangat mengganggu, bisakah kamu perbaiki lagi?”

h. *Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman*

⛔Kalimat Tidak Produktif:
“Makanya jadi anak jangan malas, malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal berangkat”

✅Kalimat Produktif:
“Ibu dulu pernah merasakan tertinggal barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa banget, makanya ibu selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari menjelang tidur.

I. *Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi*

⛔Kalimat tidak produktif :
“Belajar apa hari ini di sekolah? Main apa saja tadi di sekolah?

✅Kalimat produktif :
“ Ibu lihat matamu berbinar sekali hari ini,sepertinya  bahagia sekali di sekolah,  boleh berbagi kebahagiaan dengan ibu?”

j. *Ganti kalimat yang Menolak/Mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati*

⛔Kalimat tidak produktif :
"Masa sih cuma jalan segitu aja capek?"

✅kalimat produktif :
kakak capek ya? Apa yang paling membuatmu lelah dari perjalanan kita hari ini?

k. *Ganti perintah dengan pilihan*

⛔kalimat tidak produktif :
“ Mandi sekarang ya kak!”

✅Kalimat produktif :
“Kak 30 menit  lagi kita akan berangkat, mau melanjutkan main 5 menit lagi,  baru mandi, atau mandi sekarang, kemudian bisa melanjutkan main sampai kita semua siap berangkat



Salam Ibu Profesional,


/Tim Bunda Sayang IIP/

Sumber bacaan:
_Albert Mehrabian, Silent Message : Implicit Communication of Emotions and attitudes, e book, paperback,2000_

_Dodik mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015_


_Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 2014_


_Hasil wawancara dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi di Padepokan Margosari_

#NHW_11 MANAGE YOUR TEAM

IIP MATRIKULASI BATCH #2

ANDAIKATA AKU MENJADI KETUA RUMBEL IIP KOTA DEPOK

Member IIP Depok ini sungguh sangat dinamis. Sumber daya manusianya keren-keren. Banyak sekali potensi yang bisa digali dan disinergikan antar member IIP sehingga bisa memberikan kebermanfaatan yang massive bagi masyarakat Kota Depok. Rumbel IIP Kota Depok bisa menyasar berbagai kalangan dengan program penyuluhan parenting maupun pemberdayaan. 

Secara umum, program yang dibutuhkan masyarakat Kota Depok adalah sebagai berikut:
  • Kelas Parenting
    Selain mewadahi para ibu dalam matrikulasi atau kuliah online, saya pikir IIP perlu bergerak ke akar rumput melakukan penyuluhan parenting bekerja sama dengan  PKK. Sebenarnya pemerintah sudah memiliki program yang bagus melalui Posyandu, namun entah karena ketiadaan ahli atau bagaimana, program bina keluarga menjadi vacuum. Ini sangat disayangkan. Padahal masyarakat kalangan bawah sangat membutuhkan solusi pengasuhan ditengah beratnya masalah kehidupan mereka. Semoga dengan turun gunungnya para Bunda Sayang IIP Depok, peradaban kota ini akan semakin bangkit dengan kontribusi para bunda dari pelosok kelurahan.
  • Kelas Wirausaha
    Mengamati bahwa Kota Depok ini seperti kota pengusaha, diperlukan pelatihan khusus agar para pelaku usaha ini bisa meraih hasil maksimal dan menambah kebermanfaatan usahanya. Sehingga dengan begitu, insyaAlloh bukan tidak mungkin para pengusaha yang tergabung dalam IIP Depok mampu berkontribusi membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitarnya dan membantu pemerintah mengurangi kemiskinan khususnya di kota ini. 
  • Kelas Menulis
    Melalui program ini, IIP Depok bisa melahirkan para penulis penyebar inspirasi. Banyak sekali orang yang bisa dipengaruhi dengan tulisan kita baik sebagai pengusaha ataupun penyebar inspirasi. Maka bisa dibentuk kelas menulis di beberapa titik di kota Depok agar offline class yang rutin bisa dijalankan.
  • Kelas Crafting
    Industri kreatif semakin menggeliat. IIP Depok harus juga menangkap peluang ini dan mewadahi para crafter untuk bisa berbagi dengan para pecinta crafting yang membutuhkan penyuluhan. Di kelas ini mereka bisa saling berbagi manfaat.
  • Kelas Public Speaking
    Seni berbicara di depan khalayak perlu diasah oleh para member IIP Depok guna menunjang peran peradabannya berbagi dengan masyarakat sekitar. Alhamdulillah jika kemudian ada yang menjadi pembicara atau MC yang handal.


Selanjutnya, struktur organisasi RUMBEL IIP Depok yang tepat untuk menyokong program di atas adalah:
  1. Ketua
  2. Wakil Ketua
  3. Sekretaris
  4. Bendahara
  5. PJ Parenting
  6. PJ Wirausaha
  7. PJ Menulis
  8. PJ Crafting
  9. PJ Public Speaking
  10. Seksi Publikasi
Setiap pengurus saling bersinergi untuk memaksimalkan peran masing-masing. Semuanya berkontibusi mengembangkan IIP Depok agar mencapai kebermanfaatan yang lebih baik dan luas. Semuanya bersama-sama membangun komunitas untuk membangun peradaban. Oleh karena itu, agar terbangun chemistry dan rasa kekeluargaan yang mapan, diperlukan pertemuan offline secara rutin, bisa semacam arisan keluarga. 😊

Demikian rancangan program dan struktur andaikata saya menjadi Ketua RUMBEL IIP Kota Depok. Terima kasih.

NHW#10 MEMBANGUN KOMUNITAS, MEMBANGUN PERADABAN

IIP Matrikulasi Batch#2

KOORDINATOR KOMUNITAS MY PARENTING CLUB (MPC)

Sejak hijrah ke kota Depok ini, tiga tahun yang lalu, saya bergabung dengan komunitas parenting yang dikelola oleh seorang sales buku langganan saya. Kami sering difasilitasi belajar dengan para ahli yang mumpuni berkaitan dengan praktek pengasuhan. Sejak saat itu saya semakin haus belajar parenting karena ilmu itu sangat saya butuhkan dalam mendidik anak balita saya waktu itu. Selain itu, saya pun bergabung dengan sebuah yayasan di lingkungan saya yang concern dengan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Saya diamanahi membina kelas parenting ibu-ibu yang anak-anaknya bersekolah di yayasan kami. Saya pun mendorong diri membaca lebih banyak buku parenting dan mengikuti kajian-kajian/seminar parenting yang diadakan di sekitar kota Depok, termasuk yang diadakan oleh komunitas IIP Depok yang tercinta. Semakin hari saya semakin cinta parenting, selalu berbinar-binar mempelajari ilmu yang satu ini. Dan saya pun semakin mencintai kota ini karena di Depok saya bisa dengan mudah mendapatkan fasilitas belajar dalam rangka mengembangkan potensi diri. Ini sungguh sesuai dengan apa yang saya harapkan saat memilih Depok untuk menjadi kota tinggal keluarga kecil kami. Dulu saya berdo'a kepada Yang Maha Kuasa "Yaa Rabb, dekatkanlah saya dengan orang-orang hebat yang bisa mengembangkan potensi diri ini agar menjadi orang yang lebih bernilai dan bermanfaat. Aamiin." My dream comes true!! Dan saya malu jika dengan semua pihak yang amazing ini, saya tidak berubah lebih baik dan tak berkontibusi apa-apa kepada masyarakat.

Selanjutnya saya pun bergabung dengan IIP dengan penuh kesadaran dan tujuan yang clear. Setelah mengikuti program martikulasi batch#2, saya semakin jelas melihat potensi, bakat dan minat saya seperti apa. Saya yang basicnya mengajar Bahasa Inggris, sudah enjoy dengan kebiasaan berbagi ilmu. Jam terbang mengajar saya sudah mengantarkan saya berinteraksi dengan murid dari berbagai usia: anak-anak, remaja, hingga dewasa. Saat saya mengajar, saya selalu ingin menyelipkan nilai-nilai baik kehidupan (*mentoring). Setelah off mengajar di lembaga pendidikan pun saya tidak berhenti berbagi ilmu. Saya belajar mentransfer ilmu dalam majllis ta'lim, ngeles bahasa inggris dan iqra di rumah, dan menjadai fasilitator parenting binaan yayasan. So, dengan bakat yang telah Allah beri ini (menjadi fasilitator), saya tersulut untuk membentuk komunitas parenting bagi teman-teman saya di daerah yang belum bisa mendapatkan fasilitas belajar dengan para ibu keren seperti yang saya dapatkan di kota ini. Oleh karena itu, dalam rangka menularkan semangat menjadi ibu pembelajar, saya pun memberanikan diri membentuk komunitas My Parenting Club (MPC) secara online via whatsapp. 

Komunitas MPC ini terdiri dari para muslimah dengan latar belakang profesi yang beragam. Mereka sangat ingin tahu tentang ilmu parenting sebagai bekal mengasuh anak-anak mereka. Namun di daerahnya, jarang sekali ditemukan forum atau kajian yang membahas hal itu. Selain itu, banyak diantara mereka juga yang minat bacanya masih minim. Maka saat saya tawarkan untuk bergabung dengan MPC, mereka sangat antusias. Melalui MPC, saya share materi setiap hari Senin dan biasanya langsung berdiskusi tentang serba serbi materi tersebut. Setiap Jum'at pekan ke 1 & 3, saya mengundang pemateri tamu yang mumpuni untuk mengisi kajian di grup ini. Nah karena waktu luang kami berbeda-beda, seluruh peserta belum dapat ON semua pada saat jadwal diskusi dengan pemateri tamu. Tapi saya fleksible saja, kapanpun mereka ada pertanyaan tentang materi yang belum saya kuasai, saya akan forward ke ahlinya atau sang pemateri tamu. Dikarenakan kami tinggal di berbagai kota yang berjauhan, sangat sulit untuk mengadakan kopdar, kecuali saat kami pulang kampung karena sebagian besar dari kami berasal dari Priangan Timur. Saya berharap, komunitas ini dapat tumbuh dan berkembang dengan lebih baik sebagai Rumah Belajar para perempuan agar menjadi Ibu Profesional. Saya akan lebih serius mengelola MPC ini. Saya sadar betul bahwa MPC ini akan sangat bermanfaat bagi umat. Ini adalah peran peradaban yang Allah sematkan pada diri ini. Harapan saya dalam setahun ini, kegiatan belajar di MPC akan lebih mapan baik dari segi jadwal maupun materinya. Selanjutnya dengan beberapa teman saya di Ciamis dan Tasikmalaya, semoga bisa menjadi cikal bakal terbentuknya IIP di daerah itu. 

Demikian aliran rasa saya tentang peran dalam komunitas yang saya bentuk. Semoga Allah memudahkan saya menjadi pribadi yang lebih baik dan mampu mengumpulkan amal jariyah yang banyak sebagai bekal menghadapNya kelak. Aamiin. Terima kasih.



Resume Diskusi: Desain Global Sekolah Unggul

 Bismillah.. alhamdulillah malam ini bisa bergabung di diskusi online Kelas 100 Guru PAUD berjudul Desain Global Sekolah Unggul. Pematerinya...