Aku, Kamu Jadi Kita
Berkomunikasi dengan suami selalu menyenangkan. Saya bersyukur bisa mencurahkan segala hal kepada laki-laki yang sabar, penuh perhatian serta pengertian ini. Kami sudah menikah selama 6 tahun. So far, komunikasi kami sangat produktif. Cuma tantangan yang selalu membawa warna tersendiri adalah komunikasi menyangkut urusan keuangan ekstern. Seperti yang menjadi bahasan Ahad malam kemarin. Saya selalu galau memikirkan masalah keuangan yang membelit orang tua saya. Secara individu, saya belum bisa membantu, maka suami lah yang selalu menjadi harapan saya. Di saat seperti itu, saya selalu merasa inferior karena belum bisa mandiri dalam hal penghasilan. Alasan inilah yang kemudian membuat saya selalu bercucuran air mata saat membuka pembicaraan menyoal keuangan ekstern. Tapi alhamdulillah dengan niat baik membicarakan semuanya, hati yang siap menerima apapun keputusan sang imam, saya feel free menyampaikan segala kegalauan. Saya berbicara dengan bahasa yang baik setelah menemukan timing yang tepat. Saya membuka pembicaraan dengan pelukan. Suami membalas dengan belaian lalu menyimak dengan sabar dan penuh perhatian kalimat per kalimat yang meluncur dari lisan saya. Selanjutnya beliau mengajak saya brainstorming, baru mengemukakan pendapatnya yang selalu logis dan bijak. Alhamdulillah, pembicaraan menghasilkan kedamaian, sakinah selalu bersamanya. 😊
Mengkomunikasikan masalahku, masalahmu, menjadi masalah KITA, kami selalu berusaha menanamkan dalam benak dan jiwa bahwa kami adalah tim yang solid, harus siap menghadapi situasi apapun bersama-sama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar