Kuliah Bunda Sayang IIP
Mensiasati Kebiasaan Menasehati & Mengancam
Dari 12 gaya populer yang menghambat komunikasi kita dengan anak, dua gaya ini yang cukup membuat saya mengernyitkan dahi. hehehe.. dan tertohok juga tentunya.
Menasehati, seolah-olah bagus yaa, sangat baik, tapi ternyata nasihat yang disampaikan dengan cara, porsi dan waktu yang tidak tepat bisa berbahaya. Hmmm..empati main disini, kita juga kan kalo sering dinasehati orang atas apa yang kita lakukan suka kagak enak juga yaa..heu..mungkin anak akan merasakan hal yang sama. Jangan mentang-mentang kita guru/guru ngaji, kita main ceramahin anak dengan kalimat nasehat. hehehe (#selfnote). Baiklah, setelah tahu bahwa keseringan menasehati itu kurang baik, saya mencoba memakai strategi lain dalam "meluruskan" sikap anak. Cukup menantang, banget, hehehe. Refleksi dari pengalaman saya dan pengalaman dia adalah the closest way. Selain itu, mengaitkannya dengan kisah nabi dan cerita teladan lain. Baru itu yang saya lakukan dalam mensiasati cara menasehati yang keliru.
Hemm.. lalu cara mengancam. Untuk ancaman negatif, alhamdulillah saya sudah paham, tapi ternyata saya masih memberikan ancaman meskipun tujuannya baik. Contohnya. "Ayo kaka mandi dulu ya, kalo tidak, kaka tak boleh nonton kartun." Sebenarnya saya masih bingung, redaksi seperti ini boleh atau tidak. Tapi hati saya merasa tak nyaman mengungkapkan kalimat seperti itu. So, saya harus cari cara lain yang bersifat lebih baik, tidak mengancam. Yang sudah saya temukan adalah cara konsekuensi. Seperti ini, "Kaka mandi sekarang ya. Kalau tidak mandi, Kaka bisa gatal-gatal seperti kemarin." Again, mencari kalimat KISS cukup menantang. hehehe,, yaiyalaah.. kan ini program tantangan, dan hidup penuh tantangan heheh.. Semangaaat!!!! 😃
Alhamdulillah tiap hari semakin banyak belajar dan sedikit-sedikit berubah menjadi lebih baik. Setiap hari jadi lebih melek tantangan komunikasi dan semangat mencari the better strategy.
Terima kasih, IIP.
Salam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar