☕🍪 _cemilan rabu #2_ 🍪☕
*BERTANGGUNG JAWAB TERHADAP HASIL KOMUNIKASI KITA*
Bulan ini bagi teman-teman yang sudah bisa menyelesaikan tantangan 10 hari, akan mendapatkan badge yang bertuliskan
_I'm responsible for my communication result_
Artinya apabila hasil komunikasi kita dengan pasangan hidup, dengan anak-anak, dengan teman-teman di komunitas, rekan kerja dan masyarakat sekitar kita, tidak sesuai harapan, maka jangan salahkan penerima pesan, kitalah yang bertanggung jawab untuk mengubah strategi komunikasi kita.
Contoh kasus saya pernah jengkel dengan assisten rumah tangga saya yang biasa dipanggil budhe. Berkali-kali diberitahu cara setrika yang benar, tapi hasilnya selalu salah.
Kondisi seperti ini biasanya akan menyulut emosi kita ke penerima pesan.
Maka saya harus segera mencari orang ketiga untuk cari solusi lain.
Saya ceritakan kondisi ini ke pak dodik, beliau hanya menjawab simple
"Kalau sekali saja diberitahu langsung paham, maka budhe itu sudah pasti jadi manager sebuah bank, bukan kerja di rumah ini"
(😀 beginilah salah satu gaya komunikasi pak dodik)
Hmmm....sayalah yang harus mengubah strategi komunikasi saya, artinya gaya komunikasi saya tidak tepat saat itu, bukan salah budhe.
Akhirnya ketemulah pola, kalau berkomunikasi dengan budhe harus diberi contoh, tidak hanya diberitahu lewat omongan saja.
Ini baru satu contoh komunikasi kita dengan assisten rumah tangga, belum lagi kasus komunikasi kita dengan ibu kita atau dengan ibu mertua kita, pasti makin kompleks. Dan yakinlah semua itu membuat kita makin terampil berkomunikasi, selama kita tidak menyalahkan hasil komunikasi kepada orang yang kita ajak bicara.
_There is NO failure, only WRONG RESULT, so we have to CHANGE our strategy_
Tidak ada kegagalan berkomunikasi itu yang ada hanya hasil yang berbeda, tidak sesuai harapan, untuk itu segera ubah strategy komunikasi anda.
Ingat satu hal ini, pada dasarnya kebutuhan manusia yang paling dalam adalah keinginan agar perasaannya didengar, diterima, dimengerti dan dihargai.
Jadi dalam komunikasi, kita perlu meningkatkan kemampuan kita dalam mencoba memahami perasaan orang lain, apakah itu teman, pasangan hidup, rekan kerja, atasan, anak atau siapapun juga yang menjadi lawan bicara kita.
Untuk anak-anak, seringkali mereka belum mampu untuk mengatakan apa yang mereka rasakan, bisa jadi karena perbendaharaan kata mereka yang belum banyak.
Maka mereka akan menggunakan bahasa tubuh bahkan jauh ketika mereka belum pandai berbicara.
Sebagai orang tua maka kita harus meningkatkan kepekaan kita dalam menangkap makna dibalik bahasa tubuh dan perasaan apa yang mendasari sehingga kita bisa memahami perasaan yang ingin disampaikan si anak.
Rasa kurang percaya diri biasanya muncul karena kita “menidakkan perasaan” sehingga lawan bicara menjadi bingung, kesal, tidak mengenali perasaannya sendiri akhirnya tidak percaya pada perasaannya sendiri.
Jadi ingat dialog saya dan ibu waktu kecil
Saya : “Ibu, aku benci sama pak Guru. Tadi aku dimarahi di depan kelas”
Ibu : “Pasti kamu melakukan kesalahan makanya pak Guru marah sama kamu. Tidak mungkin kan pak Guru tiba-tiba marah”
Kalimat itu membuat saya jengkel sekali karena ibu seakan-akan justru membela pak guru dan otomatis menyalahkan saya.
Padahal saya hanya ingin di dengarkan. Sehingga kalimat
"Mbak jengkel banget ya sama pak guru, sini duduk sebelah ibu, minum teh hangat, dan mbak lanjutkan ceritanya"
Selamat melanjutkan tantangan komunikasi anda, jangan pernah menyerah walau kadang anda merasa lelah.
Salam Ibu Profesional,
/Septi Peni/
Sumber bacaan :
_Pengalaman pribadi dalam menghadapi tantangan komunikasi sehari-hari_
Kamis, 16 Februari 2017
Kamis, 09 Februari 2017
Komprod T10 Day#10 FITRI PURBASARI Depok/Jabar
Level 1: Tantangan 10 Hari Berkomunikasi Produktif
Kuliah Bunda Sayang IIP
Kuliah Bunda Sayang IIP
Mensiasati Kebiasaan Menasehati & Mengancam
Dari 12 gaya populer yang menghambat komunikasi kita dengan anak, dua gaya ini yang cukup membuat saya mengernyitkan dahi. hehehe.. dan tertohok juga tentunya.
Menasehati, seolah-olah bagus yaa, sangat baik, tapi ternyata nasihat yang disampaikan dengan cara, porsi dan waktu yang tidak tepat bisa berbahaya. Hmmm..empati main disini, kita juga kan kalo sering dinasehati orang atas apa yang kita lakukan suka kagak enak juga yaa..heu..mungkin anak akan merasakan hal yang sama. Jangan mentang-mentang kita guru/guru ngaji, kita main ceramahin anak dengan kalimat nasehat. hehehe (#selfnote). Baiklah, setelah tahu bahwa keseringan menasehati itu kurang baik, saya mencoba memakai strategi lain dalam "meluruskan" sikap anak. Cukup menantang, banget, hehehe. Refleksi dari pengalaman saya dan pengalaman dia adalah the closest way. Selain itu, mengaitkannya dengan kisah nabi dan cerita teladan lain. Baru itu yang saya lakukan dalam mensiasati cara menasehati yang keliru.
Hemm.. lalu cara mengancam. Untuk ancaman negatif, alhamdulillah saya sudah paham, tapi ternyata saya masih memberikan ancaman meskipun tujuannya baik. Contohnya. "Ayo kaka mandi dulu ya, kalo tidak, kaka tak boleh nonton kartun." Sebenarnya saya masih bingung, redaksi seperti ini boleh atau tidak. Tapi hati saya merasa tak nyaman mengungkapkan kalimat seperti itu. So, saya harus cari cara lain yang bersifat lebih baik, tidak mengancam. Yang sudah saya temukan adalah cara konsekuensi. Seperti ini, "Kaka mandi sekarang ya. Kalau tidak mandi, Kaka bisa gatal-gatal seperti kemarin." Again, mencari kalimat KISS cukup menantang. hehehe,, yaiyalaah.. kan ini program tantangan, dan hidup penuh tantangan heheh.. Semangaaat!!!! 😃
Alhamdulillah tiap hari semakin banyak belajar dan sedikit-sedikit berubah menjadi lebih baik. Setiap hari jadi lebih melek tantangan komunikasi dan semangat mencari the better strategy.
Terima kasih, IIP.
Salam.
Rabu, 08 Februari 2017
Komprod T10 Day#9 FITRI PURBASARI Depok/Jabar
Level 1: Tantangan 10 Hari Berkomunikasi Produktif
Kuliah Bunda Sayang IIP
Kuliah Bunda Sayang IIP
Komunikasi Produktif Dengan Batitaku
Selama ini saya fokuskan menerapkan materi komprod kepada suami dan anak sulungku (5th). Saya baru sadar beberapa hari ini ketika memperhatikan batitaku (1,5 th) yang sudah mulai banyak tingkah 😁. Ternyata kompro akan sangat bermanfaat jika mulai kuterapkan pada si bungsu sejak dini. hemh..tapi dia kan belum bisa diajak diskusi? deeeng!! saya bingung caranya. hahaha.. mulailah sy brainstorming dengan rekan-rekan di grup IIP. Yes, banyak pencerahan.
Yaa..mungkin si dedek (1,5 th) belum mengerti banyak perkataanku, tapi dia tak akan salah meniru. Itu quote yang sangat aku suka akhir-akhir ini 😊. Baiklah..saya mencontohkan banyak kebiasaan baik padanya, seperti biasa sih, tapi kali ini dengan kesadaran bahwa ini bagian dari komunikasi produktif, aseeek. hehe.. Saat dia sakit kemarin, saat dia mulai lincah lagi dan memberantakan makanan ataupun mainan, saat dia bolak-balik kabur ke kamar mandi, atau saat dia naik kursi atau meja atau memasukkan apapun ke mulutnya pas saya meleng dikit,, waw.. diksi positif, KISS, intonasi, dan tatapan ramah serta doa minta kemudahan adalah senjata yang saya gunakan untuk memberinya pengertian.
Alhamdulillah..semoga aplikasi ilmu ini segera menjadi kebiasaan baikku. Thanks a lot, bunda Septi dan rekan-rekan sayang di IIP. Semoga ALLAH SWT selalu merahmati kita semua. Salam ibu pembelajar! 😊
Senin, 06 Februari 2017
Komprod T10 Day#8 FITRI PURBASARI Depok/Jabar
Level 1: Tantangan 10 Hari Berkomunikasi Produktif
Kelas Bunda Sayang IIP
Kelas Bunda Sayang IIP
Oww! Memerintah Lagi
Astaghfirulloh, sangat sulit mengeliminasi kebiasaan populer yang satu ini. Memerintah, the fastest way agar anak cepat melakukan apa yang kita mau. Hari ini saya gagal mengendalikan diri dari kalimat seru yang tak bersahabat. Salah satu scenenya, saat si kaka ingin berdiplomasi untuk menambah jam mainnya, dengan cepat saya menolaknya dengan mengeluarkan perintah, "Nggak! Mau maghrib". Hemmh.. meski maksudnya baik agar anak menghormati waktu sholat dan bersiap diri untuk sholat maghrib, tapi ternyata saya menyesal meluncurkan kalimat itu. It means, I have done a wrong way of speaking.
Aduuuh,,,tak boleh lagi deh saya melakukannya. Saya pikir kebiasaan memerintah ini harus menjadi fokus di hari-hari selanjutnya. Again, ini menyangkut diksi dan intonasi. Yaah, secara gitu loh, kita juga gak nyaman dengan kelimat-kalimat perintah yang tak bersahabat disertai body language yang sok tegas padahal galak. heu 😧 So, mari berusaha menenpatkan diri dalam posisi orang lain, tenggang rasa.. hehee itu istilahnya yaa kalo gak salah.
Hemmh.. di forum keluarga kami malam ini, selain ngobrol seperti biasa, kami juga mengizinkan si kaka untuk memillih mainan di online shop sebagai reward atas 40 bintang yang diraihnya dalam seminggu ini. 1 bintang mewakili 1 aktivitas harian yang dia lakukan sendiri. Di star chart nya kami mencantumkan 14 aktivitas/hari, termasuk mandi pagi-sore, makan, ngaji pagi-malam, sholat 5 waktu, membaca shiroh nabi, dan belajar. Alhamdulillah star chart nya cukup efektif membangun kemandirian si kaka. Cuma umminya saja yang kadang konsistensinya terganggu hehehe.. Semoga besok lebih baik.
Minggu, 05 Februari 2017
Komprod T10 Day#7 FITRI PURBASARI Depok/Jabar
Level 1: Tantangan 10 Hari Berkomunikasi Produktif
Kelas Bunda Sayang IIP
Kelas Bunda Sayang IIP
Kompro Ketika Anak Sakit
Well, setiap ibu mungkin akan merasakan kecemasan ketika anaknya sakit, apalagi anak yang baru berusia 1,5 tahun. Kenapa? Karena mereka belum bisa ngomong bagian mana yang sakit, atau apa yang dirasakannya. Bisanya cuma nangis. Ini terjadi dua hari ini pada si bungsu (1,5 th). Dia terserang demam batuk pilek. Baru kali ini dia sampe rewel, tidak mau makan, lemes banget, mata sayu, dan maunya tidur dipelukan saya. Jujur saya sangat cemas. Tapi, berbekal inspirasi dari ilmu komunikasi produktif, saya berusaha untuk tetap tenang. Saya lakukan kaidah 7-38-55. Saya berusaha menanamkan dalam benak saya, bahwa saya harus lebih sabar dan bugar meskipun lelah melanda, karena nyatanya si Dedek tentu lebih lelah dan tak nyaman dengan sakitnya daripada kami yang tidak sakit. Saya berusaha membuat dia senyaman mungkin dengan bisikan do'a, kata-kata penuh kasih, pijatan lembut dan belaian serta pelukan hangat baginya.
Selain itu, yang juga tak boleh luput dari perhatian adalah sikap saya terhadap suami dan si sulung yang tidak sedang sakit. Biasanya, karena perhatian dan energi saya tersita oleh yang sedang sakit, efek samping kelelahan berupa sikap emosional tertumpah kepada mereka yang bukan pasien. Naah, alhamdullillah saya sadar lebih awal kali ini sehingga saya pun berusaha adil dan menggunakan diksi positif, intonasi dan body language yang baik kepada suami dan si sulung (5 th). Terutama bagi si sulung, saya berusaha menjaga agar dia tak merasa kehilangan perhatian saat adiknya sedang sakit. Saya memberinya pengertian tentang kondisi yang sedang terjadi dan memintanya dengan tulus agar sama-sama menciptakan suasana yang nyaman buat adik yang masih kecil. Tapi sayang, saya masih belum bisa mengurangi sikap "memerintah & menasehati". Diksinya masih perlu diolah lebih cerdas nih.
Alhamdulillah momen anak sakit kali ini sungguh dirasa berbeda bagi kami. Suasana sabar tanpa panik, komunikasi yang baik terutama dari saya, dan ilmu tentang tritmen yang tepat bagi si pasien membuat everything run well, sepertinya. Alhamdulillah, si bungsu pun sekarang sudah mulai membaik dan sudah mulai mau makan dan bermain lagi. Hemmmh.. sungguh weekend yang tetep asik meski ada yang sakit. 😊
Sabtu, 04 Februari 2017
Komprod T10 Day#6 FITRI PURBASARI Depok/Jabar
Level 1: Tantangan 10 Hari Berkomunikasi Produktif
Kelas Bunda Sayang IIP
Kelas Bunda Sayang IIP
Jangan Lupa, Clear & Clarify!
Sabtu pagi tadi kami baru bisa berfamily forum, saya dan suami. Saya membuka pembicaraan tentang rencana investasi dan pembelian rumah. Tapi kemudian saya mengungkapkan kegalauan saya akan hal lain jika kami mengambil rumah saat ini. Ada satu hal yang menurut saya urgent untuk diatasi berkaitan dengan masalah keuangan ekstern. Bla..bla..bla..bla..bla.. saya mengemukakannya panjang lebar. Masalah ini sebenarnya cukup sering saya ungkapkan pada suami. Tapi ternyata ada satu hal yang salah dipahami suami, masalah yang urgent itu belum dipahami suami secara detail. Oleh karenanya, selama ini suami menganggap kegalauanku akan masalah tersebut agak "lebay". Tetapi setelah memahami utuh masalah urgent itu, suami jadi agak bengong. heuheu.. Dan diapun merasakan kegalauan yang sama dengan saya. Hemmh..disitu saya baru sadar, ternyata selama ini cara saya mengkomunikasikan masalah urgent itu pada suami kurang menyertakan kaidah 2C, clear & clarify.
Selanjutnya kami mencoba mencari solusi terbaik untuk kondisi saat ini. Alhamdulillah bahasan yang biasanya sensitif ini berjalan damai dan nyaman. Pokoknya, dalam pernikahan itu: masalah aku, masalah kamu, adalah masalah kita! Use the right words in the right time! 😉
Kamis, 02 Februari 2017
Komprod T10 Day#5 FITRI PURBASARI Depok/Jabar
Level 1: Tantangan 10 Hari Berkomunikasi Produktif
Kelas Bunda Sayang IIP
Kelas Bunda Sayang IIP
Mengendalikan EGO sebagai Orang Tua
Saya masih sering merasa jengkel kalau keinginan saya tidak dituruti anak. Seperti pada kasus kasur tadi malam. Sang Kaka (5 th) seperti biasa kalau menjelang malam, dia akan menggelar kasur di tengah rumah: kasur normal dan kasur kecilnya. Dia sedang suka tidur disana karena langsung kena AC. Berhubung beberapa hari ini hujan lebat terus, maka saya perlu memasukkan jemuran baju yang besar ke dalam rumah. Diletakkanlah si jemuran yang penuh baju tepat di dinding bawah AC di ruang tengah kami yang tidak besar. Posisi sang jemuran tentu mengambil space kasur kecil yang biasa digelar disitu. Saya arahkan anak agar kali ini mengubah posisi si kasur kecil, dari yang tadinya di sebelah kiri kasur besar menjadi di sebelah kanannya. Karena kalau tetap di sebelah kiri kasur besar, si kasur kecil akan berada di kolong jemuran yang penuh baju. Menurut saya itu tidak indah, tapi ternyata menurut si Kaka itu lebih seru, "Kan jadi kaya tenda, Mi.", gitu katanya. Naaah mulailah kami berargumen. Saya keukeuh ingin dia mengikuti arahan saya, dia sambil bercucuran air mata ingin tetap pada kebiasaaannya atas si kasur. Mana adiknya (1,5 th) lagi agak demam, makin geramlah hati saya. Tapi saya berusaha menahan amarah. Saya mencoba mengunyah situasi itu sambil menyusui si adik dan melirik sang Kaka yang sedang membereskan ulang kasur yang sudah saya set pada posisi yang saya inginkan sebelumnya. "hemmh..ini bukan hal yang prinsip, ngapain berdebat, mau kasur disini, disana, gak dosa, ndak bahaya juga, toh baju-baju di jemurannya ga basah, karena sudah dikeringkan di mesin cuci. It's totally safe!. OK deh, tak usah memaksakan kehendak." batin saya.
Selesai menyusui si adik, saya menghampiri sang Kaka, dia mengajak bercanda tapi saya masih ogah tersenyum. Astaghfirulloh, kemudian saya menyesal saat melihat ekspresinya yang menyiratkan sesuatu. Saya harus mengendalikan ego saya sebagai orang tua. Pada hal yang tak melawan prinsip Islam, be flexible. Laa taghdob walakal jannah.
Aaaah..besok harus lebih baik!! Tantangan ini sungguh besar, tapi insyaAlloh bisa dikuasai. Allohumma yassir.
Langganan:
Postingan (Atom)
Resume Diskusi: Desain Global Sekolah Unggul
Bismillah.. alhamdulillah malam ini bisa bergabung di diskusi online Kelas 100 Guru PAUD berjudul Desain Global Sekolah Unggul. Pematerinya...
-
Tambah lagi aplikasi game bahasa Inggris untuk untuk bahan latihan anak-anak SMP-SMA yang ikut les di rumah. Namanya Ultimate English Spelli...
-
Aliran Rasa #1 Komunikasi Produktif Kuliah Bunda Sayang IIP KOMUNIKASI PRODUKTIF, IT'S A WOW WAY! Astaghfirullah, Subhanallah, M...
-
Alhamdulillah dengan tab yang diberikan suamiku ini saya bisa leluasa menggunakannya menjadi media pembelajaran khususnya bagi para murid le...

