Kamis, 09 Februari 2017

Komprod T10 Day#10 FITRI PURBASARI Depok/Jabar

Level 1: Tantangan 10 Hari Berkomunikasi Produktif
Kuliah Bunda Sayang IIP

Mensiasati Kebiasaan Menasehati & Mengancam

Dari 12 gaya populer yang menghambat komunikasi kita dengan anak, dua gaya ini yang cukup membuat saya mengernyitkan dahi. hehehe.. dan tertohok juga tentunya. 

Menasehati, seolah-olah bagus yaa, sangat baik, tapi ternyata nasihat yang disampaikan dengan cara, porsi dan waktu yang tidak tepat bisa berbahaya. Hmmm..empati main disini, kita juga kan kalo sering dinasehati orang atas apa yang kita lakukan suka kagak enak juga yaa..heu..mungkin anak akan merasakan hal yang sama. Jangan mentang-mentang kita guru/guru ngaji, kita main ceramahin anak dengan kalimat nasehat. hehehe (#selfnote). Baiklah, setelah tahu bahwa keseringan menasehati itu kurang baik, saya mencoba memakai strategi lain dalam "meluruskan" sikap anak. Cukup menantang, banget, hehehe. Refleksi dari pengalaman saya dan pengalaman dia adalah the closest way. Selain itu, mengaitkannya dengan kisah nabi dan cerita teladan lain. Baru itu yang saya lakukan dalam mensiasati cara menasehati yang keliru.

Hemm.. lalu cara mengancam. Untuk ancaman negatif, alhamdulillah saya sudah paham, tapi ternyata saya masih memberikan ancaman meskipun tujuannya baik. Contohnya. "Ayo kaka mandi dulu ya, kalo tidak, kaka tak boleh nonton kartun." Sebenarnya saya masih bingung, redaksi seperti ini boleh atau tidak. Tapi hati saya merasa tak nyaman mengungkapkan kalimat seperti itu. So, saya harus cari cara lain yang bersifat lebih baik, tidak mengancam. Yang sudah saya temukan adalah cara konsekuensi. Seperti ini, "Kaka mandi sekarang ya. Kalau tidak mandi, Kaka bisa gatal-gatal seperti kemarin." Again, mencari kalimat KISS cukup menantang. hehehe,, yaiyalaah.. kan ini program tantangan, dan hidup penuh tantangan heheh.. Semangaaat!!!! 😃

Alhamdulillah tiap hari semakin banyak belajar dan sedikit-sedikit berubah menjadi lebih baik. Setiap hari jadi lebih melek tantangan komunikasi dan semangat mencari the better strategy

Terima kasih, IIP.
Salam.

Rabu, 08 Februari 2017

Komprod T10 Day#9 FITRI PURBASARI Depok/Jabar

Level 1: Tantangan 10 Hari Berkomunikasi Produktif
Kuliah Bunda Sayang IIP

Komunikasi Produktif Dengan Batitaku

Selama ini saya fokuskan menerapkan materi komprod kepada suami dan anak sulungku (5th). Saya baru sadar beberapa hari ini ketika memperhatikan batitaku (1,5 th) yang sudah mulai banyak tingkah 😁. Ternyata kompro akan sangat bermanfaat jika mulai kuterapkan pada si bungsu sejak dini. hemh..tapi dia kan belum bisa diajak diskusi? deeeng!! saya bingung caranya. hahaha.. mulailah sy brainstorming dengan rekan-rekan di grup IIP. Yes, banyak pencerahan. 

Yaa..mungkin si dedek (1,5 th) belum mengerti banyak perkataanku, tapi dia tak akan salah meniru. Itu quote yang sangat aku suka akhir-akhir ini 😊. Baiklah..saya mencontohkan banyak kebiasaan baik padanya, seperti biasa sih, tapi kali ini dengan kesadaran bahwa ini bagian dari komunikasi produktif, aseeek. hehe.. Saat dia sakit kemarin, saat dia mulai lincah lagi dan memberantakan makanan ataupun mainan, saat dia bolak-balik kabur ke kamar mandi, atau saat dia naik kursi atau meja atau memasukkan apapun ke mulutnya pas saya meleng dikit,, waw.. diksi positif, KISS, intonasi, dan tatapan ramah serta doa minta kemudahan adalah senjata yang saya gunakan untuk memberinya pengertian. 

Alhamdulillah..semoga aplikasi ilmu ini segera menjadi kebiasaan baikku. Thanks a lot, bunda Septi dan rekan-rekan sayang di IIP. Semoga ALLAH SWT selalu merahmati kita semua. Salam ibu pembelajar! 😊


Senin, 06 Februari 2017

Komprod T10 Day#8 FITRI PURBASARI Depok/Jabar

Level 1: Tantangan 10 Hari Berkomunikasi Produktif
Kelas Bunda Sayang IIP

Oww! Memerintah Lagi

Astaghfirulloh, sangat sulit mengeliminasi kebiasaan populer yang satu ini. Memerintah, the fastest way agar anak cepat melakukan apa yang kita mau. Hari ini saya gagal mengendalikan diri dari kalimat seru yang tak bersahabat. Salah satu scenenya, saat si kaka ingin berdiplomasi untuk menambah jam mainnya, dengan cepat saya menolaknya dengan mengeluarkan perintah, "Nggak! Mau maghrib". Hemmh.. meski maksudnya baik agar anak menghormati waktu sholat dan bersiap diri untuk sholat maghrib, tapi ternyata saya menyesal meluncurkan kalimat itu. It means, I have done a wrong way of speaking.
Aduuuh,,,tak boleh lagi deh saya melakukannya. Saya pikir kebiasaan memerintah ini harus menjadi fokus di hari-hari selanjutnya. Again, ini menyangkut diksi dan intonasi. Yaah, secara gitu loh, kita juga gak nyaman dengan kelimat-kalimat perintah yang tak bersahabat disertai body language yang sok tegas padahal galak. heu 😧 So, mari berusaha menenpatkan diri dalam posisi orang lain, tenggang rasa.. hehee itu istilahnya yaa kalo gak salah. 

Hemmh.. di forum keluarga kami malam ini, selain ngobrol seperti biasa, kami juga mengizinkan si kaka untuk memillih mainan di online shop sebagai reward atas 40 bintang yang diraihnya dalam seminggu ini. 1 bintang mewakili 1 aktivitas harian yang dia lakukan sendiri. Di star chart nya kami mencantumkan 14 aktivitas/hari, termasuk mandi pagi-sore, makan, ngaji pagi-malam, sholat 5 waktu, membaca shiroh nabi, dan belajar. Alhamdulillah star chart nya cukup efektif membangun kemandirian si kaka. Cuma umminya saja yang kadang konsistensinya terganggu hehehe.. Semoga besok lebih baik.

Minggu, 05 Februari 2017

Komprod T10 Day#7 FITRI PURBASARI Depok/Jabar

Level 1: Tantangan 10 Hari Berkomunikasi Produktif
Kelas Bunda Sayang IIP

Kompro Ketika Anak Sakit

Well, setiap ibu mungkin akan merasakan kecemasan ketika anaknya sakit, apalagi anak yang baru berusia 1,5 tahun. Kenapa? Karena mereka belum bisa ngomong bagian mana yang sakit, atau apa yang dirasakannya. Bisanya cuma nangis. Ini terjadi dua hari ini pada si bungsu (1,5 th). Dia terserang demam batuk pilek. Baru kali ini dia sampe rewel, tidak mau makan, lemes banget, mata sayu, dan maunya tidur dipelukan saya. Jujur saya sangat cemas. Tapi, berbekal inspirasi dari ilmu komunikasi produktif, saya berusaha untuk tetap tenang. Saya lakukan kaidah 7-38-55. Saya berusaha menanamkan dalam benak saya, bahwa saya harus lebih sabar dan bugar meskipun lelah melanda, karena nyatanya si Dedek tentu lebih lelah dan tak nyaman dengan sakitnya daripada kami yang tidak sakit. Saya berusaha membuat dia senyaman mungkin dengan bisikan do'a, kata-kata penuh kasih, pijatan lembut dan belaian serta pelukan hangat baginya.

Selain itu, yang juga tak boleh luput dari perhatian adalah sikap saya terhadap suami dan si sulung yang tidak sedang sakit. Biasanya, karena perhatian dan energi saya tersita oleh yang sedang sakit, efek samping kelelahan berupa sikap emosional tertumpah kepada mereka yang bukan pasien. Naah, alhamdullillah saya sadar lebih awal kali ini sehingga saya pun berusaha adil dan menggunakan diksi positif, intonasi dan body language yang baik kepada suami dan si sulung (5 th). Terutama bagi si sulung, saya berusaha menjaga agar dia tak merasa kehilangan perhatian saat adiknya sedang sakit. Saya memberinya pengertian tentang kondisi yang sedang terjadi dan memintanya dengan tulus agar sama-sama menciptakan suasana yang nyaman buat adik yang masih kecil. Tapi sayang, saya masih belum bisa mengurangi sikap "memerintah & menasehati". Diksinya masih perlu diolah lebih cerdas nih.

Alhamdulillah momen anak sakit kali ini sungguh dirasa berbeda bagi kami. Suasana sabar tanpa panik, komunikasi yang baik terutama dari saya, dan ilmu tentang tritmen yang tepat bagi si pasien membuat everything run well, sepertinya. Alhamdulillah, si bungsu pun sekarang sudah mulai membaik dan sudah mulai mau makan dan bermain lagi. Hemmmh.. sungguh weekend yang tetep asik meski ada yang sakit. 😊


Sabtu, 04 Februari 2017

Komprod T10 Day#6 FITRI PURBASARI Depok/Jabar

Level 1: Tantangan 10 Hari Berkomunikasi Produktif
Kelas Bunda Sayang IIP

Jangan Lupa, Clear & Clarify!

Sabtu pagi tadi kami baru bisa berfamily forum, saya dan suami. Saya membuka pembicaraan tentang rencana investasi dan pembelian rumah. Tapi kemudian saya mengungkapkan kegalauan saya akan hal lain jika kami mengambil rumah saat ini. Ada satu hal yang menurut saya urgent untuk diatasi berkaitan dengan masalah keuangan ekstern. Bla..bla..bla..bla..bla.. saya mengemukakannya panjang lebar. Masalah ini sebenarnya cukup sering saya ungkapkan pada suami. Tapi ternyata ada satu hal yang salah dipahami suami, masalah yang urgent itu belum dipahami suami secara detail. Oleh karenanya, selama ini suami menganggap kegalauanku akan masalah tersebut agak "lebay". Tetapi setelah memahami utuh masalah urgent itu, suami jadi agak bengong. heuheu.. Dan diapun merasakan kegalauan yang sama dengan saya. Hemmh..disitu saya baru sadar, ternyata selama ini cara saya mengkomunikasikan masalah urgent itu pada suami kurang menyertakan kaidah 2C, clear & clarify

Selanjutnya kami mencoba mencari solusi terbaik untuk kondisi saat ini. Alhamdulillah bahasan yang biasanya sensitif ini berjalan damai dan nyaman. Pokoknya, dalam pernikahan itu: masalah aku, masalah kamu, adalah masalah kita! Use the right words in the right time! 😉

Kamis, 02 Februari 2017

Komprod T10 Day#5 FITRI PURBASARI Depok/Jabar

Level 1: Tantangan 10 Hari Berkomunikasi Produktif
Kelas Bunda Sayang IIP

Mengendalikan EGO sebagai Orang Tua

Saya masih sering merasa jengkel kalau keinginan saya tidak dituruti anak. Seperti pada kasus kasur tadi malam. Sang Kaka (5 th) seperti biasa kalau menjelang malam, dia akan menggelar kasur di tengah rumah: kasur normal dan kasur kecilnya. Dia sedang suka tidur disana karena langsung kena AC. Berhubung beberapa hari ini hujan lebat terus, maka saya perlu memasukkan jemuran baju yang besar ke dalam rumah. Diletakkanlah si jemuran yang penuh baju tepat di dinding bawah AC di ruang tengah kami yang tidak besar. Posisi sang jemuran tentu mengambil space kasur kecil yang biasa digelar disitu. Saya arahkan anak agar kali ini mengubah posisi si kasur kecil, dari yang tadinya di sebelah kiri kasur besar menjadi di sebelah kanannya. Karena kalau tetap di sebelah kiri kasur besar, si kasur kecil akan berada di kolong jemuran yang penuh baju. Menurut saya itu tidak indah, tapi ternyata menurut si Kaka itu lebih seru, "Kan jadi kaya tenda, Mi.", gitu katanya. Naaah mulailah kami berargumen. Saya keukeuh ingin dia mengikuti arahan saya, dia sambil bercucuran air mata ingin tetap pada kebiasaaannya atas si kasur. Mana adiknya (1,5 th) lagi agak demam, makin geramlah hati saya. Tapi saya berusaha menahan amarah. Saya mencoba mengunyah situasi itu sambil menyusui si adik dan melirik sang Kaka yang sedang membereskan ulang kasur yang sudah saya set pada posisi yang saya inginkan sebelumnya. "hemmh..ini bukan hal yang prinsip, ngapain berdebat, mau kasur disini, disana, gak dosa, ndak bahaya juga, toh baju-baju di jemurannya ga basah, karena sudah dikeringkan di mesin cuci. It's totally safe!. OK deh, tak usah memaksakan kehendak." batin saya.

Selesai menyusui si adik, saya menghampiri sang Kaka, dia mengajak bercanda tapi saya masih ogah tersenyum. Astaghfirulloh, kemudian saya menyesal saat melihat ekspresinya yang menyiratkan sesuatu. Saya harus mengendalikan ego saya sebagai orang tua. Pada hal yang tak melawan prinsip Islam, be flexible. Laa taghdob walakal jannah.

Aaaah..besok harus lebih baik!! Tantangan ini sungguh besar, tapi insyaAlloh bisa dikuasai. Allohumma yassir.

Selasa, 31 Januari 2017

Komprod T10 Day#4 FITRI PURBASARI DEPOK/JABAR

Level 1: Tantangan 10 Hari Berkomunikasi Produktif


Berpikir Sebelum Berucap

Praktek komunikasi produktif saya hari ini seputar seni pemakaian diksi yang positif. Sesadar mungkin menghindari kalimat dan pikiran negatif. Saya kemudian mentransfernya saat berkomunikasi dengan adik tercinta. Alhamdulillah semoga menjadi contoh yang baik.

Well, dengan anak, seni komprod yang terus dilatih masih seputar KISS (tentu bersinergi dengan seni diksi), intonasi dan bahasa tubuh yang ramah. Subhanalloh, setiap hari ada saja scene yang menjadi medan tempur saya dengan senjata komprod itu. hehehe.. Ya tentu saja itu semua di setting Allah sebagai fasilitas meraih keterampilan berkomunikasi produktif. hihiii.. so, senyumin saja. 😊

Pada forum keluarga, saya menceritakan episode siang tadi. Saya sampaikan betapa membanggakannya Sang Kaka saat tanggap terhadap adik yang kesulitan membuka kalung saat umi sedang sholat. Juga betapa kerennya kaka menemani adik bermain di kamar, saat umi sedang ngeles di ruang tengah. Saya curhat kepada suami bahwa saya memang harus kerja keras merecall materi komprod sebelum mengeluarkan kata-kata. Menggunakan kaidah 7-38-55. Friendly body language works better than words. Mikiiir dulu, baru ngomong. 😄 

Hemmh..mencoba menganalisis suasana harian kami di rumah: Suasana nyaman berkomunikasi dengan anak didapat jika Ibu sudah selesai dengan urusan dapur lebih dini.. hihiii.. So, saya harus disiplin melakukan jadwal yang sudah dibuat sejak matrikulasi. 
Bismillah..


Resume Diskusi: Desain Global Sekolah Unggul

 Bismillah.. alhamdulillah malam ini bisa bergabung di diskusi online Kelas 100 Guru PAUD berjudul Desain Global Sekolah Unggul. Pematerinya...